
“Lho, Vika kemana?’’ Shila terbangun dari tidurnya, iabingung ketika melihat Vika tidak ada di kamarnya.
Sementara itu…
“Ternyata selama ini aku salah. Aku bukan tidak bisa, tapi… . Benar-benar bodoh.’’
“Tapi akhirnya kamu bisa menemukan sekarang’’ Ucap Rian memotong kata-kata Vika.
“Ka, kakak, sedang apa kakak disini?’’ Tanya Vika bingung karena Rian berada di sekolah malam-malam begini.
“Aku hanya merindukanmu, sudah dua hari ini aku tidak melihatmu.’’ Ucap Rian sambil tersenyum dan menatap Vika lembut, membuat Vika tak tahu harus berkata apa.
“A, aku harus kembali ke kamar, Shila pasti mencariku.’’ Ucap Vika gugup.
“Owh, beristirahatlah.’’ Rianpun menatap kepergian Vika, kemudian pulang.
“Kamu dari mana?’’ Tanya Shila setengah terbangun.
“Mencari udara segar, sorry ya kamu jadi terbangun. Tidurlah lagi.’’ Ucap Vika sambil memperbaiki posisi selimut Shila kemudian berbaring di kasurnya.
Saat itu Vika masih mengingat kejadian tadi, kata-kata Rian masih terngiang di benaknya, membuat jantungnya berdetak kencang.
Esok harinya…
“Lho, Vika kemana pagi-pagi begini?’’ Shila bingung melihat Vika tidak ada padahal hari masih sangat pagi. Ia pun bangun dan melakukan pemanasan, ia berganti pakaian kemudian berlari kecil mengelilingi sekolah atau Jogging.
“Shila, apa yang kamu lakukan sepagi ini?’’ Tanya Riva pada Shila yang sedang Jogging ketika kembali dari ruangan klub.
“Eh kapten.’’ Ucap Shila sambil menghentikan aktivitas jogging nya, ia tersenyum pada Riva, “Lagi Jogging ni Kapten. Aku harus membiasakan diri agar kakiku tidak kaku lagi.’’ Sambungnya.
“Tidak perlu memanggilku seperti itu, panggil Riva saja.’’ Ucap Riva, “Hanya Liana yang biasa memanggilku seperti itu. Tapi yang lain biasa memanggilku Riva, panggil Riva saja.’’ Sambungnya.
“Oh, baiklah ka, eh, emm…’’ Ucap Shila, ia sepertinya sudah terbiasa memanggil seperti itu juga.
Riva tersenyum, “Kamu boleh memanggilku apa saja.’’ Ucapnya.
“Ok, kapten. Kalau begitu aku akan lanjut lari keliling sekolah ya kapten.’’ Shila pamit.
“Ye? Keliling sekolah?’’ Riva bingung dengan apa yang dikatakan Shila.
“Em, Vika membuatkan menu latihan agar kakiku tidak kaku lagi.’’ Jelas Shila namun Riva tetap tidak mengerti.
“Menu latihan?’’ Tanya Riva bingung.
“Em, sejak kami di Sekolah Dasar dulu, Vika selalu membuatkan menu latihan untuk kami dan dia selalu membuatkan menu latihan paling banyak untukku.’’ Jelas Shila dengan senang.
“Menu latihan seperti apa?’’ Riva penasaran.
“Bagaimana menjelaskannya ya?” Shila bingung, “Intinya sih latihannya seperti Jogging, Scot Jump, Plank dan Pool Up.” Sambungnya.
“Bukankah itu menu biasa untuk kita para pecinta olahraga?” Riva bingung
“Emmm…ini sedikit berbeda karena menu latihan yang Vika buat itu ada 20 macam. Tergantung pada kondisi orang yang ingin menjalankanya. Contohnya menu latihanku, mengingat sejak kecil aku sudah melakukan menu latihan ini dan juga karena hanya bagian kakiku saja yang kaku. Jadi aku menjalankan menu latihan nomor 2 yang isinya itu aku harus lari keliling gedung asrama sekolah ini sebanyak 30 putaran, yang diawali dan diakhiri oleh Jogging masing-masing sebanyak 10 putaran, lalu aku harus melakukan Scot jump, Push Up, Plank dan Pool Up masing-masing sebanyak 50 kali. Lalu asupan makan yang harus kumakan adalah protein.’’ Jelas Shila, mendengar hal itu Riva sangat terkejut.
“Kamu melakukan itu sejak SD?’’ Tanya Riva.
“Tentu saja tidak, menu nomor 2 ini aku lakukan sejak kelas 1 SMP.’’ Jawab Shila, “Kalau begitu aku akan melanjutkan latihanku ya kapten.’’ Ucap Shila.
“Tunggu,’’ Riva menghentikan Shila yang akan berlari, “Bisakah, dia membuatkan menu latihan untukku dan teman-teman yang lain?’’ Tanya Riva.
“Eh?’’ Shila terkejut dengan apa yang diminta Riva, “Aku tidak tahu, Vika pasti sudah lama tidak melalukannya, tapi akan aku tanyakan.’’ Jawab Shila, ia pun melanjutkan menu latihannya. Semantara Riva, ia kembali ke asramanya.
“Lho, Vika. Aku kira kamu kemana tadi,’’ Shila khawatir, “Vik, kamu…’’ Ucap Shila ketika melihat Vika yang penuh peluh datang dari luar sekolah.
“Em, sudah sebulan 2 minggu ini aku melakukannya.’’ Vika mengerti maksud Shila.
“Kamu datang dari luar sekolah itu berarti..’’ Shila tidak percaya.
“Em, menu latihan nomor zero.’’ Ucap Vika.
__ADS_1
“Tapi Vika kaki kamu?’’ Shila khawatir.
“Sudah kukatakan aku baik-baik saja.’’ Jelas Vika.
***
“Kamu sudah selesai?’’ Tanya Vika ketika melihat Shila memasuki kamar.
“Em,’’ Jawab Shila singkat dengan penuh semangat.
“Kalau begitu bersiaplah, hari ini ada latihan tambahan di klub.’’ Ajak Vika.
“Benarkah? Waaaaa…’’ Shila sangat senang, “Baiklah, aku akan segera bersiap.’’ Ia pun segera mempersiapkan dirinya dengan cepat dan langsung menuju ke tempat latihan bersama Vika.
“Bagaimana Shil?’’ Tanya Riva ketika Shila dan Vika datang.
Shila terlihat bingung, “Ya ampun kapten aku lupa.’’ Ujar Shila, “Tapi Vika pasti mau kok, ia kan Vik?’’ Tanyanya kemudian pada Vika.
Namun Vika yang tidak mengerti menaikkan alisnya, “Kamu mau kan membuatkan menu latihan untuk anak-anak?’’ Tanya Shila tahu kalau pertanyaanya tadi itu pasti membuat Vika bingung.
Mendengar hal itu Vika terkejut, “Tapi aku sudah lama tidak melakukannya.’’ Ucapnya.
“Tapi penglihatanmu masih setajam dulu, dengan sekali lihat kamu bisa tahu kalau kaki kananku sangat kaku dan butuh latihan ekstra.’’ Ucap Shila, “Kamu mau kan?’’ Tanyanya kemudian.
Vika terdiam sejenak, ia melihat Shila menaruh harapan yang besar untuk itu, juga Riva yang memandangnya dengan penuh harap, “Baiklah.’’ Jawab Vika.
Mendengarnya Shila sangat senang, “Kalau begitu, kita adakan mini game seperti kemarin agar Vika bisa melihat kemampuan kalian semua.’’ Ucapnya.
“Melihat kemampuan kami? Apa maksudnya itu?’’ Tanya Riri, ia tersinggung dengan apa yang Shila katakana.
“Maksudnya adalah agar Vika dapat melihat kemampuan tubuh kalian, jadi dia bisa membuatkan menu latihan yang cocok untuk kalian semua.’’ Jelas Shila.
“Menu latihan? Apa lagi itu?’’ Riri mencibir.
“Menu latihan itu adalah daftar latihan yang harus kalian lakukan setiap hari agar kondisi badan kalian seimbang dan bisa bermain lebih baik lagi,’’ Jelas Shila kemudian.
“Maksudmu permainan kami…’’
“Gue emang nggak tahu apa yang temen loe ini pikirkan, tapi gue tahu apa yang…’’
“RIRI.’’ Riva memotong kata-kata Riri dengan nada tinggi, membuat Riri terdiam, “Aku yang memintanya membuatkan menu latihan. Aku pikir kalau kita bisa memperbaiki kondisi tubuh kita, kita bisa mengembangkan permainan kita menjadi lebih baik lagi. Jadi hentikanlah.’’Jelasnya.
“Tidak, tidak bisa seperti itu. Kita bahkan tidak tahu kemampuannya dalam bermain sepak bola, dan sekarang menu latihan? Tidakkah latihan kita cukup untuk mengembangkan semua itu?’’ Ucap Riri tetap tidak menerima keputusan Riva.
“Tidak, tentu saja latihan seperti yang kalian lakukan selama ini tidaklah cukup membuat kondisi tubuh kalian lebih baik lagi. Kalian tahu kenapa?’’ Tanya Vika menjawab pertanyaan Riri, “Karena kondisi tubuh kalian berbeda antara satu dan yang lainnya, sehingga kebutuhan latihanpun berbeda. Mau kuberi contoh?’’ Sambung Vika, “Kamu, permainanmu selama ini cukup bagus, bisa dibilang permainan mu itu diatas rata-rata anak usia SMA. Bahkan kalau kamu bisa mengendalikan tubuh bagian kananmu dengan baik, kemampuanmu itu bisa setara dengan Riva. Dan menu latihan yang cocok untukmu adalah menu latihan nomor 10, diantaranya mengelilingi gedung asrama sekolah sebanyak 10 putaran yang diawali dan di akhiri Jogging 2 putaran. Selain itu…’’
“Mengeliling gedung asrama 10 putaran? Kamu…’’
“Tidak, aku tidak seperti itu. Aku mengatakannya bukan karena aku membencimu, tapi itu memang kebutuhan tubuhmu. Bahkan Shila bisa mengelilingi gedung asrama sekolah sebanyak 30 putaran.’’ Vika memotong kata-kata Riri.
Mendengar hal itu Riri dan yang lain terkejut.
“Betul, aku melihat Shila mengelilingi asrama sekolah kemarin, itulah alasannya aku meminta Vika membuatkan menu latihan. Saat itu aku berpikir mengelilingi gedung asrama sekolah bukanlah hal mudah, tapi Shila bisa melakukannya. Itu berarti butuh pembiasaan dan mungkin menu latihan itu yang…’’
“OK, kalaulah betul begitu tapi itu kemampuan Shila, sementara anak ini? Hah. Ayolah, berpikir realistis aja sih, menu latihan apa coba yang kayak gitu? Kalau Shila melakukannya itu mungkin memang Shila berbakat tapi dia…’’
“Hentikan.’’ Shila memotong kata-kata Riri, “Kamu salah, aku sangat realistis dalam hal ini. Aku memang berbakat, tapi kemampuan Vika jauh diatasku. Dan aku seperti ini memang karena bantuan menu latihan itu, asal kalian tahu saja,’’ Shila tersenyum, “Aku punya penyakit asma kronis sejak kecil dan tidak bisa bermain sepak bola, tapi karena menu latihan itu, perlahan kondisiku membaik dan aku bisa bermain dengan leluasa.’’ Sambungnya.
Riri mencibir.
“Riri, aku nggak tahu kenapa kamu kayak gini, tapi…’’
“Sorry Riv, lebih baik kita menghentikan perdebatan ini dan memulai latihan.’’ Ucap Vika memotong kata-kata Riva.
Riri tertawa sinis, beranggapan kalau Vika berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Liana,’’ Ucap Vika, pada Liana yang berada di sampingnya, “Bisakah kamu lemparkan bola itu padaku?’’ Pintanya, kemudian saat Liana melemparkan bola itu padanya, ia pun menendang bola itu melambung ke atas kemudian menukik dan masuk ke gawang, membuat semua yang ada dilapangan terkagum-kagum. Bagaimana tidak, saat itu posisi mereka ada di tengah lapangan dan bola itu masuk ke gawang dengan cara seperti itu.
“Jangan marah, itu hanyalah perselisihan biasa.’’ Bisik Vika pada Shila yang ingin marah pada perkataan dan sikap Riri, “Riv, mulailah latihan. Aku akan mengamati kalian dari tepi lapangan.’’ Sambungnya kemudian beranjak pergi, “Kalau kamu tidak mau melakukannya, itu teserah padamu.’’ Ucapnya kemudian ketika berpapasan dengan Riri.
__ADS_1
Mini game dimulai, mereka semua bermain dengan semangat dan melupakan perselisian sebelumnya. Vika mengamati dengan cermat setiap pergerakan yang dilakukan oleh masing-masing pemain. Setelah permainan selesai, Vika pun menghampiri mereka.
“Ini, aku sudah membuatkannya.’’ Ucap Vika sambil menyerahkan sebuah buku pada Riva.
“Tidak, kamu yang sampaikan. Bagaimana pun kamu yang membuatkannya untuk mereka.’’ Ucap Riva, meski sedikit terkejut Vika akhirnya menyetujuinya, “Baiklah semua, berkumpulah disini dan dengarkan intruksi Vika.’’ Pinta Riva pada yang lain.
“Ini adalah daftar menu latihan untuk kalian selama 2 minggu ke depan,’’Ucap Vika, “Bisa tolong kamu bagikan pada yang lain sesuai dengan nama yang ada diatasnya.’’ Ucap Vika sambil menyerahkan setumpuk kertas, kemudian Riva membagikannya.
“Akan kujelaskan satu persatu alasan kenapa aku membuat menu itu.’’ Vika pun menjelaskan menu latihan itu perorang beserta alasanya tanpa terkecuali.
Mendengar penjelasan Vika semuanya sangat terkejut, karena apa yang Vika katakan memang benar terjadi pada mereka, “Kalian bisa memulai latihannya malam ini dan besok pagi bersiaplah pukul 05.30 untuk menu tambahan.’’ Vika menutup penjelasannya.
“Menu tambahan?’’ Riva bingung.
“Em, selain menu wajib perorangan yang kalian pegang itu, aku juga membuat menu latihan tambahan untuk kalian semua yang dilakukan secara bersama-sama setiap pagi. Biasanya setiap dua hari sekali kalian mengelilingi lapangan ini sebanyak 5 putaran bukan?’’ Ucap Vika, “Mulai besok kalian harus membiasakan diri untuk mengelilingi gedung asrama sekolah sebanyak 5 putaran dan setiap seminggu akan bertambah 2 putaran. Itu saja.’’ Sambung Vika mengakhiri permbicaraan itu.
“Kalau menu tambahan itu dilakukan setiap pagi, lalu…’’
“Setiap malam, menu latihan kalian di lakukan setiap malam setiap harinya.’’ Jawab Vika.
“Baiklah semuanya, kalian bisa beristirahat sekarang.’’ Ucap Riva mengakhiri latihan kali ini.
“Ini sulit dimengerti, bagaimana dia melakukannya? Tendangan itu? Menu latihan ini? Semuanya sangat tidak masuk akal.’’ Ucap Lara ketika diruang klub.
“Mungkin itu karena dia sudah bermain sepak bola dan membuat menu latihan sejak di bangku Sekolah Dasar.’’ Ucap Riva yang tentu saja sama seperti Lara, sejak pertama kali bertemu dengan Vika, ia memang merasa ada sesuatu yang menarik pada Vika.
“SD? Dia sudah melakukannya sejak SD?’’ Tanya Riri tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Ya, aku mendengarnya dari Shila. Sepertinya mereka berdua sangat menyukai sepak bola.’’ Jawab Riva.
“Aku bisa melihatnya pada Shila, tapi Vika? Itu sangat mustahil, dia, setiap kali dia melihat kita latihan…kalian juga merasakannya kan? Dia selalu menunjukan kalau dia sangat membenci sepak bola.’’ Ucap Riri.
“Entahlah, tapi kalian lihat tembakannya tadi bukan? Rasa cinta dan usahanya terlihat sangat jelas. Tidak mungkin seseorang yang membenci sepak bola bisa menembak seperti itu.’’ Jawab Riva membuat semuanya terdiam.
***
“Bukankah dia yang mengatakan kalau ini adalah latihan tambahan untuk semuanya. Tapi kenapa dia sendiri tidak datang untuk latihan tambahan ini?’’ Riri porters karena Vika tidak ikut dalam latihan tambahan ini.
“Mungkin karena cederanya dia masih belum bisa melakukan latihan ini.’’ Ujar Riva memberkan Riri pengertian.
“Tapi setidaknya dia harus melihat latihan ini kerena dia yang membuatnya bukan?’’ Riri tetap marah.
“Ta…Vika.’’ Riva terkejut melihat Vika sedang berjalan menuju kearah mereka sambil menyeka keringat yang ada di dahinya.
“Kalian masih disini?’’ Tanya Vika, “Bukankah seharusnya kalian sudah selelsai dari 10 menit yang lalu?’’ Sambungnya.
“Owh, itu…’’ Liana tak bisa meneruskan kata-katanya.
Vika melihat Riri menatapnya tajam, “Apa lagi? Kali ini kamu mengeluhkan apa lagi?’’ Tanya Vika pada Riri yang melihatnya dengan penuh Tanya, “Kamu protes karena aku tidak ikut latihan tambahan bersama kalian?’’ Sambungnya seakan tahu apa yang terjadi, kemudian tersenyum, “Ayolah, tidakah kamu lelah selalu seperti itu?’’ Tanya Vika.
“Apa aku salah? Kamu membuat menu tambahan ini untuk kita semua, tapi kamu sendiri?’’ Riripun mengeluhkannya langsung pada Vika.
“Tentu saja salah. Karena ikut tidaknya aku dalam latihan tambahan bukan urusanmu.’’ Ucap Vika kemudian pergi.
“Lho, tadi aku melihat Vika, apa dia sudah pergi ?’’ Tanya Shila yang baru datang.
“Owh, tadi dia disini. Tapi dia sudah masuk ke gedung asrama.’’ Jawab Riva.
“Ye? Dia sudah selelsai latihan?’’ Shila kaget.
“Latihan? Dia juga melakukannya?’’ Tanya Riva.
“Tentu, dia sudah sebulan ini melakukan Menu latihan nomor zero.’’ Jawab Shila.
“Nomor Zero? Apa itu?’’ Tanya Liana.
“Emmm, gimana ngejelasinnya ya?’’ Shila agak bingung, “Singkatnya sih menu paling utama dari menu latihan yang Vika buat. Aku juga tidak tahu pastinya sekarang, tapi waktu SMP dulu isinya itu diantaranya, mengelilingi gedung sekolah sebanyak 50 putaran, tapi biasanya jumlahnya bertambah seiring berjalannya waktu.’’ Jelas Shila.
“Mengeliling sekolah?’’ Riva kaget, begitu juga yang lain. Itu sebabnya tadi dia dari luar gerbang. Batin Riva.
__ADS_1
***