
Kian tersenyum lembut pada Vika, “Aku kira kakak melupakanku.’’ Ucap Kian sambil melangkahkan kakinya kemudian memeluk Vika, “Tadi kakak melewatiku begitu saja, tapi sekarang… untunglah kakak mengingatku.’’ Ucapnya masih dalam pelukan Vika.
Vika tak bisa berkata-kata, ketika adiknya itu melepaskan pelukannya, ia hanya memandang Kian tak percaya.
“Kakak tidak senang bertemu denganku?’’ Tanya Kian sambil menatap wajah kakaknya yang memerah.
Perlahan tangan Vika menggapai wajah kian dan Kian menyambutnya dengan senyum. Seketika itu tangis Vika pecah, ia segera memeluk adiknya erat.
“Maaf kak.’’ Ucap Kian dalam pelukan Vika, “Maaf karena aku, kakak diusir oleh nenek.’’ Sambungnya, membuat Vika tersentak.
“A, apa yang kamu katakan de?’’ Vika melepaskan pelukannya, ia tak pernah membayangkan Kian akan mengatakan hal itu.
“Aku mengingat semuanya, aku ingat semua yang terjadi dulu. Aku minta maaf ka, kalau saja dulu aku tidak…’’ Ucapnya berkaca-kaca.
“Hei, tidak, tidak, tidak seperti itu. Ini, tidak seperti yang kamu bayangkan. Kakak, pergi untuk melanjutkan sekolah. Jadi…’’ Vika memotong kata-kata Kian.
“Aku tahu semuanya kak, aku mengingatnya. Kakak tidak perlu menyembunyikan apapun dariku. Aku, aku sudah besar sekarang dan mengerti semuanya!’’ Kali ini Kian yang memotong kata-kata Vika.
“Kian,’’
“Dua bulan yang lalu aku melihat kakak di Lomba O2SN. Saat itu aku ingin menemui kakak, tapi aku tidak bisa, berulang kali aku ingin menemui kakak di sekolah kakak, tapi aku juga tak bisa.’’ Ucap Kian.
“Ka, kamu ke sekolah kakak?’’ Vika kaget mendengarnya, Kian datang kesekolahnya, Ja, jangan-jangan… ia mengingat kalau ia beberapa kali di panggil ke ruang piket karena ada yang ingin menemuinya, tapi setiap kali ia kesana, orang yang ingin menemuinya sudah pergi.
“Aku hanya bisa memandang kakak dari jauh, aku minta maaf kak, aku benar-benar minta maaf!’’ Perlahan air mata Kian mengalir deras.
“De,’’ Vika kembali memeluk erat Kian, “Kakak baik-baik saja, kakak benar-benar baik-baik saja.’’ Ucap Vika kemudian melepaskan pelukannya, “Kamu lihat pertandingan kakak hari ini kan? Bukankah permainan kakak cukup bagus?’’ Tanyanya kemudian sambil tersenyum, “Di babak pertama tadi kakak memang tidak sempat menembak. Tapi di babak kedua nanti, kakak akan membuat banyak angka.’’ Ucap Vika.
“Aku, tidak bisa melihat pertandingan ini sampai selesai. Aku harus pergi ke stasiun sekarang karena keretaku berangkat pukul 3. Jadi, bisakah kakak berjanji padaku kalau kakak akan memenangkan pertandingan ini agar aku bisa melihat pertandingan kakak selanjutnya?’’ Tanya Kian.
“Owh, tentu saja kakak akan memenangkan pertandingan ini.’’ Ucap Vika, meski di wajahnya terlihat keraguan ia tetap mengembangkan senyumnya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu kak.’’ Pamit Kian.
“Owh, berhati-hatilah.’’ Ucap Vika.
Kian pergi, sesekali ia menoleh kebelakang dan melambaikan tangannya pada Vika. Setelah itu…
“Vik, pertandingan akan segera di…’’ Ucap Rian namun terpotong ketika melihat Vika terduduk lemas dilantai, “Hei, kenapa? Kamu baik-baik saja?’’ Tanya Rian bingung ketika melihat tangis Vika pecah, “Vika?’’
“Bisakah aku melakukannya kak?’’ Tanya Vika, mendengarnya Rian terkejut, “Bisakah aku…’’
“Tentu saja. Tentu saja kamu bisa melakukannya. Kamu sudah melakukannya dengan baik di babak pertama tadi. Jadi di babak kedua nanti, aku yakin kamu bisa melakukannya dengan lebih baik lagi!’’ Rian meyakinkan Vika.
“Begitukah?’’ Tanya Vika, ia masih merasa tidak percaya diri.
“Ya, itu pasti!’’ Rian menjawabnya dengan yakin.
Babak kedua dimulai, sambil berjalan menuju lapangan sesekali ia melirik kearah Rian dan ia mulai meyakinkan dirinya ketika Rian tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
“Bisakah kamu mengoper bola rendah padaku Riv?’’ Tanya Vika pada Riva yang ada di sampingnya.
“Bola rendah?’’ Riva terlihat bingung.
“Owh, kalau ada kesempatan yang bagus, tolong berikan operan rendah padaku!’’ Pinta Vika.
Mendengar hal itu Riva tersenyum, mengiyakan permintaan Vika. Sementara yang lain yang medengarnya dibelakang mereka…
“Tadi, aku salah denger nggak sih? Dia beneran bilang tolong?’’ Tanya Angel tidak percaya, begitupun batin yang lainnya.
Pertandingan itu diawali dengan Kick Off dari team lawan, saat itu dengan mudah Vika dapat mengambil bola sehingga teamnya bisa menguasai jalannya pertandingan. Vika mengoper bolanya pada teman satu teamnya, mereka berusaha keras untuk menyamakan kedudukan dan berhasil melakukannya di menit ke 15 babak kedua.
“Ini dia, ini baru permainan Vika seperti biasanya,’’ Shila terlihat senang melihat Vika mengatur permainan dengan baik seperti yang biasa dilakukannya ketika SMP.
“Dia, biasa bermain seperti ini?’’ Tanya Silvi tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Tentu saja, dia bahkan bisa bermain lebih bagus dari ini kalau kalian semua mempercayainya. Dia bisa membawa team ini…’’
“Shila,’’ Silvi kaget ketika melihat Shila sempoyongan sambil memegangi keningnya.
“Sorry, sepertinya aku terlalu bersemangat melihatnya bermain. Ini akan lebih menyenangkan kalau aku bisa bermain bersamanya.’’ Ucap Shila.
“Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan,’’ Ucap Rian, ketika melihat wajah Shila yang semakin pucat.
“Tidak kak, aku baik-baik saja. Aku ingin melihat...’’
“Dia akan berusaha sebaik mungkin, kamu mempercayainya kan? Jadi untuk sekarang lebih baik kamu beristirahat di ruang kesehatan agar kondisimu cepat pulih dan bisa bermain dengannya.’’ Ucap Rian memotong kata-kata Shila.
“Ya, berhasil. Bagus Ra,’’ Lidia senang karena Rara berhasil mencetak sebuah gol dengan operan yang diberikan oleh Vika.
“Riv, apa kamu merasakannya?’’ Tanya Rara pada Riva yang ada di depannya, “Saat kamu menerima operan dari Vika, apa kamu merasakannya juga?’’ Tanyanya kemudian seakan tidak percaya.
“Owh,’’ Jawab Riva singkat ketika mendengar pertanyaan Rara.
Rara tersenyum, “Ini, sangat menyenangkan. Entah kenapa jadi sangat bersemangat.’’ Ucap Rara sambil berlari senang ke posisinya dan berharap mendapat operan dari Vika lagi.
Pada menit ke 30, Team Vika kebobolan sehingga skor menjadi seri. Ia dan teman-temannya berusaha keras untuk mencetak angka kembali. Namun…
Priit, priit suara peluit itu menghentikan pertandingan ini. Saat itu Liana mengalami cedera dan harus keluar lapangan.
“Bagaimana ini? Kita tidak punya pemain cadangan lagi, pelatih.’’ Silvi bingung harus bagaimana.
“Kita tak punya pilihan lain.’’ Rian pun menceritakan kondisi team nya pada dewan juri dan mereka akhirnya harus bermain dengan 10 pemain.
“Mereka akan melakukannya dengan baik, aku yakin itu.’’ Ucap Rian pada Silvi yang mengkhawatirkan teman-temannya.
“Riva, bisa bicara sebentar.’’ Pinta Vika kemudian ia membisik sesuatu pada Riva.
“Ye, kamu akan mundur menjadi back?’’ Riva kaget dengan apa yang Vika katakana.
__ADS_1
“Em, kita tak punya pilihan lain. Sejak pemain nomor 12 itu masuk, daya serang mereka sangat baik jadi aku rasa itu jalan satu-satunya untuk menghentikan mereka, jadi kalian akan lebih focus untuk mencetak angka.’’ Jelas Vika.
“Apa maksudmu itu?’’ Riri yang mendengar percakapan Vika dan Riva marah, “Kamu pikir aku dan Angel tidak bisa menghadapinya, hah!’’ Sambung Riri.
“Bukan begitu, aku hanya…’’
“Lalu?’’ Tanya Riri memotong kata-kata Vika.
“Lupakan. Lupakan apa yang aku katakan barusan, pertandingan akan segera dimulai. Jadi kembalilah ke posisi masing-masing.’’ Ucap Vika, kemudian membisikan sesuatu lagi pada Riva.
Pertandingan pun dimulai dengan Kick Off dari Team mereka, saat itu Riva langsung memberikan operan rendah pada Vika yang langsung berlari di depan. Saat menerima operan itu Kaki kiri Vika segera menendang bola itu namun ketika kakinya akan mengenai bola, ia menghentikannya dan menggantinya dengan kaki kanan, membuat bola itu melesat lurus kearah gawang dan …
“Tak apa Vik, kita akan mencobanya lagi.’’ Ucap Riva yang masih terkejut dengan apa yang Vika lakukan, Tembakan itu, aku pernah melihatnya. Tapi dimana? Batinnya, ketika melihat tembakan Vika.
“Pelatih, apa ini karena cederanya?’’ Tanya Silvi pada Rian, “Aku melihatnya, tadi dia akan menendang menggunakan kaki kirinya, dan tiba-tiba dia mengubahnya menjadi kaki kanan. Apa cederanya belum sembuh?’’ Tanya Silvi kemudian.
“Tidak, dia baik-baik saja kok. Kamu tidak perlu khawatir.’’ Ucap Rian.
Pertandingan pun dilanjutkan kembali, saat ini waktu memasuki menit ke 40, mereka yang berada di lapangan terlihat cemas. Mereka berusaha keras untuk mencetak angka, namun mereka tak bisa mematahkan pertahanan team lawan.
‘Ini tidak bagus, stamina mereka semakin menurun. Kalau kami gagal menambah angka, kami harus bertanding di babak perpanjangan waktu. Bagaimana ini? Kian, kakak tidak bisa memasukan satu angka pun, Shila aku tidak bisa mengantikan tempatmu ini, Kak Rian,’ Vika membatin, ia memandang Rian yang ada di bangku mereka. Saat itu Rian tersenyum, ‘Tapi Kak,’ Vika kembali membatin, ia seakan tahu makna dari senyuman Rian.
Kali ini Rian metatapnya lembut, tatapnya itu seakan mengatakan ‘semuanya akan baik-baik saja, kamu pasti bisa melakukannya Vika’.
Mendekati menit terakhir, semua pemain sudah kelelahan, namun team lawan yang sudah lelah masih berusaha untuk mencetak angka dan team Vika terus bertahan.
“Ayo.’’ Ucap Riva sambil mendrible bola, kemudian mengoper pada Vika dan Vika kembali mengoper pada Riva, sampai saat di depan gawang ketika Riva akan menendang bola itu menuju gawang.
“Riva,’’ Ucap Vika menghentikan Riva.
Riva yang menyadari lawan yang akan menghadangnya segera mengubah tembakan menjadi operan kepada Vika.
“Vika, lakukanlah. Kamu pasti bisa!’’ Rian berteriak untuk meyakinkan Vika.
Mendengar itu, Vika yang akan menendang bola menggunakan kaki kanan segera mengubahnya menjadi kaki kiri, melesatkan bola itu menuju gawang dan…
“Berhasil, kita berhasil memenangkan pertandingan ini!’’ Ucap Riva senang ketika wasit meniup peluit tanda bola masuk dan tak lama pertandinganpun selesai.
Ditengah rasa senang dan haru teamnya, Vika terdiam tak bisa mempercayai apa yang barusan terjadi. Ia memandangi teman satu teamnya yang bahagia kemudian pergi.
“Vika, Vika.’’ Rian berusaha memanggil Vika yang terus berjalan menuju ruang ganti.
Vika yang berhenti membalikan badannya dan memandang Rian dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu melakukannya dengan baik Vika.’’ Ucap Rian.
Mendengar hal itu Vika melangkahkan kakinya mendekati Rian kemudian menundukan kepalanya di dada Rian dengan air matanya bercucuran deras.
“Kamu melakukannya dengan sangat baik.’’ Ucap Rian kemudian sambil menepuk lembut punggung Vika.
__ADS_1
Melihat hal itu anggota yang lain sedikit terkejut, apa yang dilakukan anak ini? Pikir sebagian dari mereka, kenapa dia menangis seperti itu? Pikir yang lain.
***