
Sinar mentari yang hangat itu masuk kedalam ruang rawat Shila, namun dari kejauhan terlihat sebuah awan hitam yang mulai mendekat.
“Kenapa sayang?” Tanya bunda karena melihat anaknya yang terlihat gusar karena dari tadi Shila yang duduk di tempat tidur mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya dan memegangi HP.
“Hp Vika nggak bisa di hubungi bun, aku sudah coba berulang kali, tapi tetap tidak bisa.” Shila khawatir, semalaman ia tak bisa memejamkan matanya, hatinya sungguh tak tenang karena terus memikir kan Vika.
“Kamu sudah menghubungi rumahnya?” Tanya bunda menenangkannya.
Senyum mengembang di bibir Shila, ia sama sekali tak berpikir kearah sana. Dengan segera ia menghubungi nomor rumah Vika.
"Bunda keluar sebentar ya sayang." Ucap bunda pelan saat Shila menunggu telponnya tersambung. Shila tersenyum sambil mengangguk.
“Halo, dengan keluarga Rahman. Ada yang bisa saya bantu?” Ucap seorang wanita di telpon.
Mendengarnya Shila agak bingung juga karena baru kali ini ia mendengar suara wanita itu, terlebih wanita itu bilang keluarga Rahman. Aneh. Pikir Shila, ia pun segera memeriksa nomor yang tertera di layar handpone, Benar, ini nomor telpon rumah Vika, tapi kenapa... Benak Shila penuh tanya.
“Maaf, bukankah ini nomor keluarga Varado?” Tanya Shila ingin memastikannya, bagaimanapun juga nomor benar-benar nomor telpon rumah Vika.
“Oh, iya betul. Dulu ini memang nomor keluarga Varado, tapi sudah seminggu ini saya beserta keluarga saya tinggal disini,” Jelas ibu itu dari telpon.
“Maaf? Tinggal disana?” Shila bingung maksud dari perkataan Ibu itu, Susah seminggu tinggal disana? Batinnya.
“Maksud saya kami membeli rumah ini beserta semua asset disini.” Jelas Ibu itu kemudian, membuat Shila mengerti maksudnya namun segera dirundung pertanyaan lainnya.
“Oh, begitu bu. Lalu apakah ibu tahu keluarga Varado sekarang tinggal dimana?” Tanya Shila, ia berusaha untuk tenang, seperti bagaimana Vika mengajarinya ketika ia panik. Shila memang tipikal anak yg cepat panik, tapi sejak ia mengenal Vika, ia belajar untuk tenang.
“Maaf saya tidak tahu mereka pindah kemana!” Jawab Ibu itu terdengar menyesal.
“Oh iya bu, tidak apa-apa. Terimakasih banyak bu, maaf saya menggangu.” Ucap Shila ia pun menutup telponnya.
__ADS_1
“Kenapa sayang?” Tanya Bunda yang baru masuk kembali sambil membawa sekantung buah-buahan ketika terlihat guratan kekecewaan di wajah putrinya.
Shila terdiam, kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak tahu harus ia ajukan pada siapa.
“Shila,” Bunda menyadarkan Shila dari lamunannya.
“Eh, I, iya?” Shila kaget, ia baru menyadari kalau bundanya sudah datang.
“Ada apa?” Tanya bunda kemudian, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
“Ti, tidak bun, aku...” Ia terdiam kembali, “Vika menghilang bun, keluarganya menjual rumah beserta aset di dalamnya. Aku kehilangan kontak dengan Vika." Sambung Shila, Bundanya dapat melihat kalau Shila berusaha tenang, "Paman diluarkan bun?” Tanyanya ketika teringat sesuatu, ia akan minta tolong pamannya untuk mencari tahu keberadaan Vika dan keluarganya.
Bunda hanya mengangguk, ia juga khawatir tentang Vika, bagaimanapun ia menyayangi Vika seperti ia menyayangi Shila. Di matanya Vika adalah sahabat yang selalu menemani Shila sejak mereka duduk di kelas 5 SD, saat Shila pindah ke Sekolah Vika. Sementara Shila adalah anak yang manja, semaunya sendiri dan selalu mendapatkan apa yang ia mau karena neneknya sangat memanjakannya. Tapi persahabatannya dengan Vika membuatnya belajar banyak hal, ia jadi lebih tenang, sabar, lapang dada dan pemikiran yang terbuka sehingga Shila banyak berkontribusi di perusahaan ayahnyadan sekarang ia adalah konssulan kecil kebanggaan keluarga.
Shila segera menuju beranda kamarnya. Kemudian mengeluarkan HP dan menekan tombol 4, dan terlihat tulisan ‘Paman’ di layar Handphonenya.
“Hallo paman, aku ingin meminta tolong sesuatu, bisakah keruanganku sebentar?” Tanyanya pada Paman yang merupakan sekretaris pribadinya, yang mengurusi banyak hal, terutama pekerjaan Shila di perusahaan ayahnya.
"Baiklah, akan paman carikan." Jawab paman singkat.
***
“Sayang, kamu yakin tidak apa-apa kalau Bunda pergi sekarang?” Tanya Bunda, ia khawatir karena harus meninggalkan putrinya sendiri.
“Tentu saja Bun, aku akan baik-baik saja. Lagi pula bunda pergi untuk pasien-pasien bunda, pergilah. Paman akan segera kembali dan akan menemaniku, jadi bunda tidak usah khawatir! Aku juga sudah sehat sekarang.” Shila menenangkan Bunda yang menghawatirkan dirinya, ia merasa dirinya sudah besar dan sangat mengerti akan profesi bundanya yang seorang dokter, bagaimanapun juga pekerjaan bundanya itu adalah pekerjaan yang mulia. Yah... meski ia tahu kalau bundanya tidak punya banyak waktu untuknya, tapi ia tahu kalau bundanya itu sangat menyayanginya lebih dari apapun.
“Maafkan bunda ya sayang!” Pinta bunda, ia sangat menyesal tak bisa menemani putrinya itu.
Shila tersenyum, “Tak apa bunda. Pergilah, pasien-pasien bunda sudah menunggu!” Ucap Shila.
__ADS_1
“Kalau begitu bunda pergi dulu ya. Akan bunda usahakan pulang lebih cepat.” Ucap Bunda.
“Tidak Bunda, rawatlah mereka dengan baik seperti bunda merawatku saat sakit!” Pinta Shila, ia tak ingin dirinya menjadi penghalang bunda untuk menyembuhkan pasien-pasien yang membutuhkan pengobatan.
Bundanyapun pergi, sementara Shila siang itu menunggu informasi dari pamannya, ia menunggu tak sabar karena ingin menemui Vika secepatnya. Lalu...
“Apa? Paman yakin? Paman sudah mencari informasinya dengan pasti kan?” Shila tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ‘ini sangat mustahil. Kemana Vika pergi sampai paman tidak bisa melacaknya?’ Batin Shila.
“Kalau begitu aku akan pergi kesekolah, pasti dia tetap sekolah meski rumahnya pindah kan paman?” Tanyanya pada paman, ia berusaha tenang dan meyakinkaninya.
“Tentang itu, sebenarnya...” Paman pun melanjutkan menceritakan informasi hasil penyelidikan dengan terperinci.
“Apa maksud paman di keluarkan? Bagaimana bisa? Ke, kenapa?” Shila kaget dengan penuturan pamannya, ia tak bisa berkata lagi, ia tak mengerti apa yang terjadi selama ia koma.
“Nona baik-baik saja?” Paman mengkhawatirkan kondisi Shila yang mulai terlihat tidak stabil.
"Katakan padaku kenapa Vika sampai di keluarkan dari sekolah paman?" Tanya Shila tidak percaya.
"Disekolah beredar gosip kalau kamu koma karena Vika, sehingga para orang tua murid gusar dan meminta Vika diberhentikan. Dan yang menyebarkan gosip itu..." Jelas Paman tak bisa meneruskannya.
"Lisa. Itu pasti dia!" Shila menggebrak meja dengan keras, ia kesal dengan kakanya itu, ia tak habis pikir.
“Tidak bisa, aku harus ke sekolah. Antarkan aku paman!” Pintanya kemudian melepaskan infus yang terpasang di tangan kirinya.
“Tidak nona, anda...”
“Tidakkah paman mendengarku?” Tanya Shila serius.
Ditengah ke khawatirannya akan kondisi Shila, paman tetap mengantarkan Shila ke sekolah. Ia tak bisa berbuat apapun karena perintah Shila adalah mutlak, ia harus melakukannya apapun yang terjadi.
__ADS_1
Alasan Shila
***