Vika

Vika
Takkan Kulepaskan Lagi


__ADS_3

Malam itu entah kenapa Rian merindukan Vika, ia pun memutuskan untuk pergi kerumah sakit untuk menemui Vika.


“Sorry, Vika nya mana ya?” Tanya Rian pada Riva yang sedang duduk di kasurnya ketika ia tak bisa menemukan Vika dimana pun.


“Tadi sore Vika pulang ka,” Jawab Riva.


“Pulang? Lho, bukannya kondisi Vika belum vit betul ya?” Rian khawatir, dia tahu betul kalau cedera di pergelangan kaki Vika belum membaik, dan sesuai pengalamannya seharusnya Vika beristirahat selama 2 minggu full.


“Iya, tapi dia ingin pulang! Aku tidak tahu kenapa, tapi dia bersikeras untuk pulang meski dokter melarangnya.” Jelas Riva.


“Oh gitu. Emmm, dia pulang kemana? Kamu tahu alamat rumahnya?” Rian penasaran.


“Eh, itu...” Riva bingung mengatakannya, hingga ia pun hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu, ia memang benar-benar tak tahu di mana alamat rumah Vika.


“Oh... ya udah, makasih ya.” Ucap Rian kemudian ia pergi ke bagian informasi untuk menanyakannya, tapi...


“Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi tentang itu,” Ucap penjaga informasi.


“Tapi ini benar-benar penting pak, saya harus menemuinya sekarang.” Rian berusaha untuk membujuknya.


“Maaf saya tetap tidak bisa!” Ucap penjaga itu kemudian.


Rian yang kecewa pun kembali ke kamar tempat Vika dirawat, ia terduduk di kasur dan terdiam.


“Kakak mendapatkannya?” Tanya Riva yang sebenarnya bisa tahu jawaban pertanyaanya itu dari wajah Rian.


Rian menggelengkan kepalanya, “Kamu, apa kamu teman sekolah Vika?” Tanya Rian ketika ia melihat sebuah seragam tergantung di sudut kamar dekat tempat tidur Riva.


Mendengarnya Riva sedikit terkejut, “Ye? Emm, itu...” Riva tak meneruskan kata-katanya, ia terlihat ragu untuk mengatakannya.


Melihat ekspresi Riva, Rian tahu kalau mereka benar-benar satu sekolah, “Tidak bisakah kamu memberitahukan kepadaku dimana kalian bersekolah?” Tanya Rian.


“Itu...maaf ka, aku tidak bisa memberitahukannya,” Riva merasa tidak enak, tapi apa daya, dirinya sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada Rian. Ya, sebelum pergi Vika memintanya melakukan itu, dan Riva tidak bisa menolak permintaan Vika yang telah menolongnya.


“Apa Vika memintamu untuk tidak mengatakannya padaku?” Rian menebak.


“Maaf ka,” Ucap Riva tak mengelak karena memang itu permintaan Vika.


“Tidak, tidak. Itu tidak masalah kok. Aku yakin tanpa kamu memberitahukannya pun tidak lama lagi takdir akan memepertemukan kami.” Rian tersenyum, “Kalau begitu aku permisi.” Ucapnya kemudian sambil tersenyum, dan ia pun segera pergi.


***


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Rian ketika melihat seorang siswi yang menggunakan di tempatnya mengajar terjatuh.


“Terima kasih, saya baik…” Riva terkejut karena melihat Rian yang pernah ia temui di rumah sakit kini berada di hadapannya, bertempat di depan sekolah.


Rian tersenyum, “Apa kabar?” Tanya Rian ramah.


“Saya baik,” Jawab Riva tak enak karena teringat kejadian di rumah sakit, “Tapi maaf, kenapa kakak ada disini?” Tanya penasaran.


“Saya guru pengganti untuk mata pelajaran olahraga.” Jawab Rian sambil tersenyum.


“Ye?” Riva kaget.


Sementara Rian hanya tersenyum, dan Riva tentunya tahu arti senyumannya itu.


“Kalau begitu saya permisi.” Ucap Rian kemudian pergi setelah Riva menjawab dengan senyum.

__ADS_1


“Itu siapa Riv?” Tanya Liana yang baru datang.


“Kamu kenal denganya Riv?” Tanya Rara terengah-engah seperti habis berlari.


“Kamu kenapa?” Riva dan Liana kaget melihat Rara yang terengah-engah.


“Orang itu menjatuhkan sebuah foto tadi. Jadi aku mengejarnya untuk mengembalikannya.” Jelas Rara.


“Foto?” Riva bingung dan Rarapun menunjukannya.


“Vika.” Riva sangat terkejut karena melihat Vika yang tersenyum sangat manis di foto itu.


“Vika?” Rara bingung kemudian melihat kembali foto yang sedang Riva pegang, ia sangat yakin bukan Vika yang ada di foto yang ia ambil tadi.


“Ia, dia tersenyum.” Liana terpesona dengan foto itu.


“Masa sih?” Rara bingung, ia juga sedikit terkwjut karena Riva dan Liana bisa langsung mengenali Vika dalam sekali lihat.


"Biar aku yang mengembalikannya Ra." Ucap Riva dan Rarapun memberikannya pada Riva.


“Maaf pa, saya kesini untuk mengembalikan ini.” Ucap Riva ketika jam istirahat, ia menyempatkan ke kantor untuk mengembalikan foto Vika.


“Wah, syukurlah tidak hilang.” Rian mengambil foto itu, ia lega karena foto satu-satunya dirinya dengan Vika tidak hilang, “Terimakasih, tapi kenapa foto ini…” Rian bingung.


“Oh, tadi teman saya yang tak sengaja melihat foto ini terjatuh dari buku yang bapak bawa.” Jelas Riva.


“Kalau begitu sampaikan terimakasih juga untuk temanmu.” Ucap Rian bersyukur.


“Baik pa.” Ucap Riva, “Kalau begitu saya permisi.” Sambungnya kemudian pergi setelah Rian mempersilakannya.


***


“Nah semuanya, hari ini saya ingin mengadakan test tertulis tentang pelajaran minggu lalu, makanya saya meminta kalian untuk kembali ke kelas.” Ucap Rian.


Melihat Rian yang ada di depan kelas, Vika sangat terkejut.


“Sebelum itu saya ingin mengabsen terlebih dahulu.” Ia pun melakukan presensi, hingga nama terakhir, “Vika Alvarado,” Ucapnya.


“Vik, kamu di panggil,” Bisik Liana yang duduk di depan meja Vika.


“Hadir,” Ucapnya ragu, ia hanya mengangkat tangannya tanpa menatap Rian yang ada didepan kelas.


Kemudian test tertulispun dimulai. Lalu…


“Bisa saya minta tolong?” Tanya Rian pada Vika yang sedang mengumpulkan lambar jawabannya di depan.


“Ye?” Vika kaget.


“Bisa bantu saya untuk membawa ini ke kantor?” Tanya Rian merapikan lembar jawaban dan menyerahkan pada Vika.


Vika pun mengangguk mengambil lembar jawaban itu.


“Baiklah, terima kasih untuk hari ini, sampai bertemu minggu depan.” Ucap Rian kemudian pergi dan Vika mengikuti Rian dari belakang.


“Kamu lihat ekspresinya? Nggak biasanya banget,” Ucap Vivi heran melihat ekpresi Vika yang tak biasa.


“Iya, iya. Dia juga mau membantu guru membawakan lembar jawaban itu.” Reni terheran-heran, karena baru kali ini ia mau membantu guru. Padahal sih pada kenyataannya, bukannya Vika tak mau membantu, hanya saja tidak ada guru yang meminta bantuan Vika dan akhirnya citra Vika jadi seperti itu di kalangan murid, juga guru tentunya.

__ADS_1


“Aku senang kamu sekolah disini.” Ucap Rian senang memecah keheningan antara dirinya dengan Vika yang sedang berjalan di lorong kelas yang agak sepi karena sekarang waktunya istirahat, “Aku khawatir banget lho pas tahu kamu tiba-tiba pulang dari rumah sakit. Dan yang lebih parah, kamu juga belum memberikan kontakmu padaku.” Rian terdengar kecewa, “Tapi syukurlah, aku menemukanmu lagi.” Rian tersenyum cerah.


“Saya akan kembali ke kelas, ini lembar jawabannya, pak.” Pamit Vika ketika tiba di depan ruang guru, Rian terlihat kecewa, namun ia tahu kalau ini adalah sekolah dan ia harus menjaga profesionalismenya sebagai guru pengganti.


“Bukannya itu Vika ya?” Tanya Bu Elis, guru matematika.


“Iya bu, tadi saya minta tolong padanya untuk membawakan lembar jawaban test.” Tanya Rian bingung.


“Dan dia mau?” Bu Elis bingung.


“Em, kan saya minta tolong.” Ucap Rian.


“Wah,” Bu Elis kagum dan Rian terlihat bingung kenapa Bu Elis seperti itu.


Siangnya sepulang sekolah….


“Bagaimana Pak Rian, apakah ada kesulitan dalam mengajar di sekolah ini?” Tanya Pak Arnold yang merupakan wakil kepala sekolah.


“Tidak pak, anak-anak disini mudah untuk di ajari. Beberapa siswa terlihat memiliki bakat di bidang olahraga tertentu.” Jawab Rian.


“Owh begitu, syukur kalau begitu,” Pak Arnold senang mendengar jawaban Rian.


“Oiya pak, sebenarnya ada satu hal yang saya pikirkan.” Ucap Rian, “Tentang siswa bernama Vika Alvarado.” Sambung Rian.


“Owh anak itu ya. Saya harap anda memakluminya, dia sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dia tidak menyukai pelajaran olahraga,” Ucap Pak Arnold.


“Ye? Tidak mungkin pak, setahu saya dia sangat menyukai olahraga, semua jenis olahraga dia sangat menyukainya dan…” Rian merasa bodoh, dia keceplosan.


“Anda mengenal Vika?” Tanya Anna yang tanpa sengaja mendengar percakapan Rian dan Pak Arnold.


“Ke, kepala sekolah, selamat siang kepala sekolah. Anda sudah datang?” Sapa Pak Arnold, dan Anna tersenyum, “Ini Rian, guru pengganti Pak Widodo,” ia memperkenalkan Rian pada Kepala sekolah yang baru saja pulang dinas.


“Rian, beliau ini adalah kepala sekolah, beliau baru selesai pelatihan kepala sekolah di Kalimantan.” Pak Arnol memperkenalkan Anna pada Rian.


“Halo bu, saya Rian Herdiansyah.” Rian mempernalkan diri.


“Senang berkenalan dengan anda," Ucap Anna, "Oh iya, kamu mengenal Vika?” Tanya Anna lagi karena penasaran.


“Em, kebetulan saya mengenalnya sejak di bangku Sekolah Dasar.” Ucap Rian yang awalnya ragu-ragu.


“Rian,” Ucap Lina yang baru datang.


“Tante.” Rian kaget karena Lina ada disini.


Rian, tante Lina dan Anna berbincang di ruangan kepala sekolah. Tante Lina menceritakan semua yang ia tahu tentang Vika. Mendengar hal itu, Rian benar-benar tak bisa tidur. Ia tahu tentang dikeluarkannya Vika dari sekolah, namun ia benar-benar tidak pernah membayangkan kalau Vika… ia sendiri tak sanggup mengatakannya. Bagaimanapun juga, hanya separuh cerita tentang hidup Vika yang diketahui oleh Tante Lina, dan separuh lagi hanya Vika yang tahu.


Esok harinya Rian meminta Vika untuk pergi ke atap sekolah...


"Jangan menatapku seperti itu.” Ucap Vika marah, ia tak suka ketika ada orang yang menatapnya iba.


“Tapi kamu tahu arti tatapku, berbeda dengan orang lain.” Ucap Rian tahu maksud perkataan Vika.


“Tapi aku tetap tidak menyukainya.” Ucap Vika beranjak pergi.


Namun Rian tak membiarkannya, ia memeluk Vika dari belakang, “Sudah kukatakan, aku tidak akan melepaskanmu lagi, apapun yang terjadi.” Ucap Rian lembut, ia sangat menyesal karena tidak bisa menemani Vika selama ini.


***

__ADS_1


__ADS_2