
Siang harinya...
"Em...anu, kamu Vika bukan?” Seorang siswi bernama Shinta terlihat ragu-ragu menghampiri Vika yang sedang terduduk di taman belakang sekolah.
“Iya. Ada apa?” Tanya Vika dengan nada dingin masih sambil duduk dan menenggelamkan wajah diantara kedua lututnya.
“Kamu dipanggil kepala sekolah,” Ucap Shinta terbata karena takut.
“Baiklah, terimakasih!” Ucap Vika melembut kemudian beranjak pergi menuju keruang kepala sekolah.
Menapaki taman sekolah yang cukup luas, Vika menerawang mengingat sesuatu yang membuatnya tersenyum dingin, ia... sangat tak suka ini, ia tahu maksud kepala sekolah memanggilnya kali ini sehingga memutuskan untuk membalikan badannya kemudian berjalan berlawanan arah dengan kantor kepala sekolah, melewati taman belakang sekolah dan ...
Prranngggg
Suara kaca pecah yang terjatuh dari lantai 3 gedung sekolah yang sedang dalam perbaikan.
‘‘Vi, ka.’’ Riva terkejut ketika mendapati Vika menghalau kaca yang terjatuh itu, membuat pecahan kaca melukai tangan dan kaki Vika.
‘‘Jangan bergerak, atau kamu akan terluka.’’ Ucap Vika memperingatkan Riva yang berusaha untuk berdiri.
Sesaat sebelum kaca berukuran hampir 1 m2 itu terjatuh, Riva yang sedang berjalan tiba-tiba terhenti, kaki kanannya terasa sakit dan iapun memeriksanya. Tapi ketika ia sedang berjongkok untuk memastikannya tiba-tiba seseorang meneriakinya untuk pergi dari sana. Saat itu Riva segera menoleh ke sumber suara, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat kaca yang terjatuh itu ada diatasnya. Ia pun segera pergi namun ia terpeleset dan malah terjatuh. Saat itulah Vika yang melihatnya menghalau kaca dengan punggungnya dan membuat kaca itu pecah dan berserakan disekitar mereka.
Vika membersihkan pecahan kaca yang ada di bajunya juga disekitar tempat ia dan Riva berada. Perlahan ia membantu Riva untuk berdiri dan membawanya ketempat aman.
‘‘Kamu tak apa?’’ Tanya Vika, tapi saat itu Riva masih shock dan tak menjawab pertanyaan Vika. Vika pun berusaha untuk menyadarkannya, ia memetikan jarinya di depan muka Riva, membuat Riva tersadar, ‘‘Kamu tak apa?’’ Tanyanya lagi untuk memastikan.
‘‘A, aku… aku tak apa,’’ Jawab Riva berusaha mengontrol nafasnya, ‘‘Kakimu, Vika, kakimu.’’ Riva terkejut ketika melihat pecahan kaca yang lumayan besar itu menancab di kaki Vika.
Vika melirik kearah kakinya, ‘‘Tak apa,’’ Ucapnya singkat.
‘‘Kalian baik-baik saja?’’ Tanya seorang pegawai yang tadi memperingatkan Riva dari lantai 3, ia pun mengecek keadaan Riva dan Vika, ‘‘Tunggulah sebentar, saya akan memanggil bantuan!’’ Ucapnya kemudian pergi.
‘‘Vika, kakimu,’’ Riva bingung harus berkata apa.
Vika membuka tas yang ia bawa, ia mengeluarkan sebuah obat semprot dari dalamnya dan mendekati Riva, mengecek keadaan kakinya dan menyemprotkan obat itu pada kaki Riva.
‘‘Jangan banyak bergerak, atau kakimu akan semakin parah!’’ Ucap Vika, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas dan mencabut kaca itu lalu menyiramkan alkohol buatannya kemudian membalutnya menggunakan perban.
‘‘Vika,’’ Riva bingung harus berbuat apa.
Beberapa saat kemudian pegawai itu datang bersama Dokter Lila.
‘‘Bagaimana keadaan kalian?’’ Tanya Dokter Lila, iapun menghamiri Vika dan Riva.
‘‘Saya baik-baik saja Dok, tapi kaki Riva terkilir, dia juga sepertinya cedera akibat pertandingan sepak bola kemarin lusa.’’ Jelas Vika kemudian Dokter Lila memeriksanya dengan seksama, sementara Vika beranjak pergi.
‘‘Vika kamu mau kemana? Kamu juga harus ikut untuk diobati!’’ Ucap Riva namun Vika tak menggubrisnya dan tetap pergi.
‘‘Dokter, kakinya tertusuk pecahan kaca, dia juga harus mendapat perawatan. Jadi…’’
‘‘Tenanglah, kita tidak bisa memaksanya untuk pergi kalau dia tak mau. Ibu akan menghubungi kepala sekolah, semoga saja kepala sekolah bisa membujuknya! Untuk sekarang ayo ikut ibu ke Rumah Sakit.’’ Dokter Lila menenangkan Riva yang mencemaskan Vika.
Dengan bantuan supir sekolah, Dokter Lila membawa Riva kerumah sakit. Dia pun tak lupa menghubungi kepala sekolah dan menjelaskan kejadiannya setelah mendengarkan runtutan kejadian dari Riva.
***
“Kemana perginya anak itu? Kenapa dia begitu keras kepala?’’ Dokter Lina bingung dan khawatir dengan keadaan Vika, setelah mendengar cerita dari Kepala sekolah.
“Tenanglah Lin, dia mungkin ada di kamarnya, ya, pasti dia di kamarnya!’’ Ucap kepala sekolah menenangkan Dokter Lina.
__ADS_1
Mereka berduapun pergi ke kamar Vika dan akhirnya menemukan Vika yang terbaring di tempat tidur.
2 jam kemudian…
Sambil terengah-engah Vika terbangun, “Ru, rumah sakit?’’ Ucapnya bingung kenapa tiba-tiba ia berada di rumah sakit. Sial. Batinnya sambil memegangi dadanya yang sakit. Tiba-tiba Nafas Vika terus tersendat, dan …
“Vika kamu ke, Vika?’’ Riva terbangun dari tidurnya, ia berada di kamar yang sama dengan Vika.
“Dokter, Suster!’’ Sambil berteriak ia menekan tombol darurat yang ada di atas tempat tidurnya.
Dengan segera pada dokter dan susterpun datang dan menangani Vika.
Di ruangan lain…
“Maaf bu direktur,’’ Seorang suster masuk kedalam ruangan Dokter Lina yang sedang berbincang dengan kepala sekolah, kemudian menceritakan keadaan Vika.
“Apa? Bagaimana bisa?’’ Dokter Lina terkejut dan segera menuju ruang perawatan Vika dan Riva di lantai 2.
“Maaf Direktur!’’ Ucap Dokter Risa dengan penuh penyesalan karena tak bisa menyelamatkan Vika ketika Dokter Lina sampai diruangan itu.
“Apa maksud anda Dokter Risa?’’ Dokter Lina tak percaya dengan apa yang dia dengar, “Tadi dia baik-baik saja, bagaimana mungkin,’’ Dokter Lina dengan segera menghampiri Vika yang terbujir kaku, “Tidak, tidak mungkin. Minggir!’’ Pintanya kemudian ia melakukan CPR, “Vika, kamu bisa mendengar tante kan? Vika, ayolah. Ini nggak lucu. Vika!’’ Dokter Lina tak kuasa menahan tangis, ia terus melakukan CPR.
“Vika!’’ Riva juga tak percaya dengan apa yang telah terjadi, Tidak mungkin. Pikirnya. Tangisnya pecah ia bingung saat ini, ia tak tahu harus berbuat apa.
“VIKA!’’ Dokter Lina memukul keras dada Vika dan…
“Dokter,’’ Ucap suster Anna.
“Direktur, detak jantungnya kembali!’’ Ucap Dokter Risa. Mendengarnya Dokter Lina pun segera memeriksa Vika.
“Syukurlah,’’ Dokter Lina lega karena detak jantung keponakannya itu kembali.
“Siapkan suntikan!’’ Ucap Dokter Lina, tapi…
“Jangan berikan obat apapun padaku,’’ Ucap Vika sambil memegangi tangan Dokter Lina yang memegang suntikan dan akan menyuntikannya pada lengan Vika, ‘‘Aku baik-baik saja.’’ Ucap Vika yang baru sadar, ia berusaha menstabilkan nafasnya.
“Tenanglah Vika, suntikan ini untuk menstimulus jantungmu agar normal kembali.’’ Ucap Dokter Lina menenangkan Vika, kemudian mulai menyuntikan obat itu tapi…
“Sudah kubilang, jangan suntikan obat a, uhuk uhuk.’’ Vika tetap menolak suntikan itu kemudian terbatuk-batuk, “Aku ingin istirahat, jadi tolong pergilah tante!’’ Pinta Vika kemudian membaringkan badan dan memejamkan mata.
“Vika, kami memberikan suntikan ini agar kamu…’’
“Lina.’’ Kepala sekolah menghentika Lina dan memintanya untuk bersabar, kemudian mereka pun pergi.
***
Vika kembali terbangun, ia menghentikan suster yang ingin menyuntikan obat padanya, “Sudah kubilang jangan berikan obat apapun padaku.’’ Ucapnya tak kuasa menahan sakit pada tubuhnya, iapun melepaskan infuse yang terpasang di lengannya, namun suster itu melarang Vika.
“Lepas suster!’’ Pinta Vika.
“Jangan, anda harus menghabiskan infuse itu dulu sebelum melepasnya,’’ Bujuk suster itu.
Namun Vika tak mungkin membiarkan cairan infuse itu tetap masuk kedalam tubuhnya, ia pun menarik paksa infuse sampai jarum infusenya patah.
“Anda baik-baik saja?’’ Suster itu khawatir, kemudian berusaha untuk mengambil jarum yang tertinggal di tangan Vika, tapi Vika menolaknya dan langsung mengambil paksa jarum sampai lengannya berdarah, “Kenapa?’’ Suster itu bingung.
Vika turun dari tempat tidur, ia berusaha mencari sesuatu dalam lemari kecil pasien di samping tempat tidurnya.
“Apa yang sedang anda cari?’’ Suster berusaha membatu Vika.
__ADS_1
“Kotak kecil yang ada di saku pakaianku! Kemana kotak itu suster?’’ Tanya Vika dengan terengah-engah.
“Kotak? Oh kotak itu. Tadi saya simpan di si…’’ Ucap Suster itu kemudian membantu mengambilkan kotak itu namun…
“Mana suster? Kemana kotak itu?’’ Vika panic, ia memegang dadanya.
“Anda…’’
“Suster, mana kotak itu?’’ Vika memotong kata-kata suster, mukanya memerah padam dengan nafas yang semakin memberat.
“Ada apa ini?’’ Dokter Risa datang keruangan Vika, ia bingung melihat keadaan Vika yang ada dilantai.
“Dokter…’’
“Kotak kecil disaku pakaianku, kemana kotak itu dokter!’’ Vika kembali memotong kata-kata suster.
“Kotak?’’ Dokter Risa bingung, ia tak mengerti maksud Vika.
“Kamu mencari ini?’’ Tanya Tante sambil menunjukan kotak yang Vika maksud.
“Tante,’’ Vika bingung kenapa kotak itu ada pada tantenya, ‘‘Berikan padaku.’’ Ucap Vika sambil menghampiri dokter Lina yang ada didekat pintu, tapi saat ia akan mengambilnya… “Tante, berikan kotak itu padaku!’’ Pinta Vika lagi ketika dokter Lina tidak memberikan kota itu.
“Tidak sebelum kamu menjelaskan apa isi kotak ini!’’ Ucap Dokter Lina.
“Tante aku mohon berikan kotak itu, jantungku sudah tidak uhuk, uhuk…’’ Vika tak kuasa melanjutkan kata-katanya ia terbatuk-batuk dan nafasnya kembali tidak beraturan.
“Vika,’’ Dokter Lina khawatir, ia, dokter Lila dan suster segera menghampuri Vika. Tiba-tiba…
‘’Vika!’’ Dokter Lina semakin khawatir mendapati Vika yang batuk darah.
“Berikan tante, itu obatku!’’ Jelas Vika singkat.
“Obat?’’ Dokter Lina bingung.
“Dokter,’’ Dokter Lila membuyarkan kebingungannya kemudian Dokter Lina pun akhirnya memberikan kotak itu pada Vika.
Vika segera mengambil kotak itu, dan memasukan bubuk dalam botol mungil ke dalam teko berisi air di atas meja pasien kemudian meminumnya habis sambil sesekali terbatuk-batuk. “Suster, suntikan itu. Berikan suntikan kosong itu padaku!’’ Pinta Vika.
Suster pun melirik pada dokter Lina dan dokter Lina mengizinkannya kemudian memberikan suntikan kosong itu pada Vika.
Dengan segera Vika mengambil 1 botol mungil berisi cairan kemudian memasukannya kedalamsuntikan dan menyuntikannya di leher. Sambil terbatuk-batuk dan darah yang masih keluar sesekali, Vika terlihat lebih tenang.
“Vika,’’ ucap Dokter Lina namun…
“Aku ingin beristirahat tante, jadi…’’ Vika memotong kata-kata Dokter Lina.
“Tidak Vika, jelaskan dulu pada tante obat apa itu." Dokter Lina bersikukuh.
“Aku mohon,’’ Pinta Vika memotong kata-kata Dokter Lina lagi, ia tak sanggup kalau harus berdebat dengan tantenya itu.
“VIKA!’’ Dokter Lina meninggikan suaranya.
Vika terdiam, “Sudah ku bilang, jangan berikan obat apapun padaku.’’ Jelasnya singkat.
“Tapi kenapa?’’ Dokter Lina Bingung.
“Tante bertanya padaku?’’ Tanya Vika dan Dokter Lina pun tahu maksudnya.
***
__ADS_1