
Pagi itu di SMU khusus Perempuan Taruna Bangsa...
‘‘Selamat pagi semua, perkenalkan namaku Nayshila Hermawan Saputri, aku pindahan dari SMA Kusuma Negara. Salam kenal!’’ Ucap Shila ketika ia tengah berada di depan kelas X IPA 1, di kelas Vika.
Beberapa orang terlihat berbisik-bisik, mereka adalah anak-anak yang ikut dalam pertandingan Final O2SN kemarin, yang melihat Shila menampar Vika.
‘‘Kalau begitu, kamu boleh duduk bersama Liana di meja keempat sana.’’ Ucap Ibu Lusi -Wali Kelas X IPA 1-
‘‘Maaf bu, bolehkah aku duduk disana?’’ Tanya Shila sambil menunjuk ke arah tempat duduk Vika, meja paling ujung, di belakang meja Liana.
‘‘Eh, itu. Bukan tidak boleh, tapi akan lebih baik kalau kamu duduk bersama Liana. Jadi nanti Liana akan membantu kamu mengelilingi sekolah.’’ Ucap Ibu Lusi sambil berusaha tersenyum.
Shila tersenyum, “Tapi aku akan merasa lebih baik kalau aku duduk disana bu. Jadi, biar Vika saja nanti yang menemaniku mengelilingi sekolah ini.’’ Ucap Shila.
Bu Lusi dan beberapa anak di sana terkejut karena Shila mengenal Vika, anak yang paling diam dan sombong di sekolah, itulah yang mereka pikirkan tentang Vika.
“Tapi dia tidak suka duduk dengan orang lain. Lebih baik kamu duduk bersama Liana saja.’’ Ucap Hanna, salah seorang murid di kelas.
“Ye? Begitukah?’’ Shila bingung dengan apa yang dikatakan Shila, “Em, aku rasa itu tidak mungkin. Kalau begitu aku akan duduk bu!’’ Ucap Shila kemudian menuju meja Vika dengan senyum yang lebar.
‘Apa yang sedang ia lakukan?’ Batin Shila, ketika melihat Vika yang tengah menatap keluar jendela, ‘Apa ada sesuatu di luar sana?’ Sambungnya sambil melirik ke luar jendela sesaat sebelum ia duduk di kursinya. ‘Apa dia benar-benar tidak menyadari kedatanganku?’ Shila kecewa ketika ia tahu Vika tak kunjung menyadari keberadaannya.
Pelajaran pun dimulai, hingga tiba waktu istirahat pertama dan Vika tetap tidak menyadari kedatangan Shila, ‘Apa yang sebenarnya di pikirkan sih? Kok tidak biasanya dia seperti ini.’ Batin Shila lagi, ‘Dia adalah tipe murid yang sangat menghargai gurunya, tapi kenapa dia melamun seperti ini dan tidak memperhatikan pelajaran?’ Sambungnya.
“Hai, namaku Hanna, ini Rani dan Bella.’’ Ucap Hanna yang mengajak kedua temannya untuk menemui Shila.
“Hallo, salam kenal Hanna, Rani dan Bella.’’ Ucap Shila senang karena mendapat teman baru.
“Kami mau ke kantin, kamu mau ikut?’’ Tanya Rani.
“Tidak terimakasih, nanti saja aku belum lapar.’’ Shila menolak dengan sopan.
“Baiklah, kami ke kantin duluan ya!’’ Ucap Bella, dan Shila membalasnya dengan senyuman.
Saat jam pelajaran selesai…
“Kami duluan ya Shil.’’ Ucap Rani lalu pergi bersama Hanna dan Bella.
Saat itu Shila menghela nafas panjang karena tak tahu harus berbuat apa, ‘Apa yang Vika pikirkan? Seharian ini dia tidak focus pada pelajaran juga tidak ke kantin atau kamar mandi.’ Pikirnya sambil sesekali menatap Vika yang terus saja memandang jendela kemudian mencoret-coret kertas. Ia membenamkan kepalanya diantara kedua tangannya di atas meja.
__ADS_1
“Shi, Shila, sejak kapan kamu disini?’’ Vika akhirnya tersadar dari lamunannya ketika mendengar bel makan malam berbunyi dan ia sangat kaget ketika melihat Shila ada di sampingnya.
“Ah, akhirnya kamu selesai juga dengan lamunamu itu.’’ Ucap Shila lega, “Apa sih yang kamu pikirkan sampai-sampai kamu tidak mendengarkan pelajaran hari ini, bahkan kamu tidak menyadari keberadaanku.’’ Shila terdengar kesal.
“Maaf, maaf. Hanya saja ada beberapa hal yang harus di selesaikan, jadi tanpa sadar aku memikirkannya.’’ Ucap Vika, ia sangat tidak menyangka kalau Shila akan datang secepat ini.
“Selama itu?’’ Tanya Shila.
“Maaf ya.’’ Ucap Vika sambil menelengkupkan kedua tangannya.
Shila tersenyum lebar, “Aku senang karena sekarang kamu benar-benar ada di hadapanku seperti ini.’’ Ucapnya sambil memeluk erat Vika.
Saat itu Vika tak bisa berkata apa-apa, ia senang tapi banyak hal yang ia pikirkan saat ini, bahkan dari pagi ia memikirkannya dan…
“Vika, aku lapar. Dari siang aku menunggumu, tapi kamu tak kunjung menyadari kedatanganku.’’ Ucap Shila membuyarkan lamunan singkat Vika.
“Kenapa kamu tidak ke kantin, tadi?’’ Tanya Vika, namun Shila hanya menjawabnya dengan cemberut, membuat Vika tersenyum karenanya. Momen ini adalah momen yang sangat ia rindukan, keceriaan Shila, kelucuannya, semua hal itu membuat Vika mengingat masa kecil mereka.
“Kenapa tersenyum? Aku lucu ya?’’ Tanya Shila manja, mendengarnya membuat senyuman Vika melebar, “Ayo ayo, aku lapar. Tadi bel makan malam kan? Ayo ke kantin sekolah!’’ Pinta Shila.
“Kantin?’’ Vika terlihat bingung. Ia tak bisa makan di kantin, ia …
“Vika…’’ Shila merengek dan Vika pun akhirnya menyetujuinya.
“Gue salah lihat nggak sih? Itu Vika? Seriusan?’’ Tanya Rani yang sedang makan dengan Bella dan Hanna.
“Iya, Vika sama Shila. Kok bisa ya?’’ Hanna tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Mereka kenapa? Kok melihat kita seperti itu?’’ Shila bingung saat melihat anak-anak di kantin itu melihat mereka dengan tatapan aneh.
“Entahlah, mungkin karena mereka baru melihatmu.’’ UcapVika santai, ia memutuskan untuk tak ambil pusing masalah ini.
“Oh gitu ya.’’ Shila percaya dengan kata-kata Vika, kemudian tersenyum kepada lebar pada semua yang ada disana.
Melihat Shila yang tersenyum seperti itu, anak-anak pun membalasnya dengan senyuman dan tak menatap aneh Shila dan Vika lagi.
“Jadi jadi, kamu mau makan apa?’’Tanya Shila saat sedang didepan dapur.
“Aku belum lapar, kamu saja yang makan.’’ Jawab Vika.
__ADS_1
“Lho, dari siang kan kamu juga belum makan Vik.’’ Ujar Shila khawatir.
Vika tidak tahu harus berkata apa, dia selalu masak makananya sendiri dan tidak pernah makan di kantin sebelumnya.
“Nak Vika. Ini makanannya!’’ Ucap Bu Jijah -Kepala Kantin- sambil membawakan bubur yang biasa di makan Vika, melihatnya Vika terkejut namun Bu Jijah hanya tersenyum.
“Bubur? Kamu makan bubur?’’ Tanya Shila bingung.
“Owh,’’ Jawab Vika singkat sambil memandang Bu jijah yang tersenyum seakan berkata ‘makanlah tidak apa-apa.’ Saat itu Vika hanya bisa membalas senyuman Bu Jijah tanda terimakasihnya.
“Kenapa? Kamu sakit?’’ Shila khawatir.
“Tidak, hanya saja pencernaanku sedang bermasalah jadi aku memakannya.’’ Jawab Vika, “Ayo kamu juga ambil makananmu.’’ Ajak Vika kemudian mengajak Shila ke meja dekat jendela untuk memakan makanannya.
***
“Tapi bu, aku ingin sekamar dengan Vika. Bukankah dia sendiri?’’ Pinta Shila keesokan harinya di asrama sekolah.
“Tidak bisa, dia meminta agar tidak ada orang lain yang tinggal di kamarnya.’’ Ucap Ibu Anggi, kepala asrama disana.
“Lho kenapa?’’ Shila bingung.
“Kepala sekolah sudah mengizinkan hal itu, jadi bagaimana kalau kamu di kamar 111 saja.’’ Ucap Ibu Anggi.
“Tidak tidak. Aku akan tetap tinggal di kamar 110, aku akan langsung berbicara dengannya.’’ Ucap Shila kemudian pergi ke kamar 110, kamar Vika.
“Shi, Shila, sedang apa kamu disini?’’ Vika bingung melihat Shila ada di depan kamarnya.
“Aku ingin tinggal di kamarmu. Kamu mengizinkannya kan?’’ Ucap Shila to the point.
“Ye? Kamu mau tinggal di sini? Di asrama?’’ Vika keget mendengarnya.
“Tentu saja, tidak mungkin kan aku ngecost di luar sekolah sendiri.’’ Jawab Shila, “Lagi pula disini ada kamu.’’ Sambung Shila dengan senyumannya.
“Maaf Vika, ibu sudah menjelaskan padanya kalau…’’
“Tidak apa-apa bu, dia akan tinggal disini bersamaku. Jadi bisakah ibu membawakan satu kasur lagi kesini?’’ Ucap Vika.
“Kamu yakin?’’ Tanya Bu Anggi.
__ADS_1
“Ayolah bu, Vika kan sudah mengizinkanku tinggal disini. Jadi tidak apa-apa kan?’’ Tanya Shila, dan Ibu Anggi pun mengizikannya, “Terimakasih bu.’’ Ucap Shila senang.
***