Vika

Vika
Andi Saputra


__ADS_3

Siang itu di cafe milik Ardi...


“Ada tambahan pesanan nona?” Tanya Vika kepada seorang gadis yang lebih muda darinya dan merupakan salah seorang pelanggan dari café milik Rian yang tadi melambaikan tangan kepadanya.


“Bisa aku bicara dengan kakak?” Tanya gadis itu.


“Maaf?” Vika aga bingung dengan permintaan gadis itu.


“Aku Vega, Vega Naveska Prenata Putri!” Ucap Gadis itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya kearah Vika, “Adik dari ka Ardi!” Sambungnya sambil tersenyum ketika melihat Vika yang sepertinya menyadari siapa dirinya, “Bisa kita bicara sebentar?” Tanyanya lembut.


“Ka Ardi baik-baik saja bukan?” Tanya Vika merasakan ada sesuatu yang buruk yang telah terjadi.


“Emm,” Vega terlihat ragu, ia hanya tersenyum, “Aku ke sini mewakili kak Ardi dan orang tuaku ingin minta maaf sama kakak,” Ucap Vega membuat Vika bingung, “Karena kami, kakak terluka. ami benar-benar minta maaf!” Sambungnya.


“Ma, Maksudnya?” Vika tetap tidak mengerti.


“Aku sudah lama mencari kakak, setelah mendengar cerita dari ka Ardi, aku ingin segera menemui kakak,” Ucap Vega.


“Bagaimana kabar ka Ardi?” Tanya Vika lagi karena ia belum mendapatkan jawaban dari Vega, ia rasa Vega mengalihkan pembicaraan tadi.


“Setelah ka Ardi pulang ke rumah, ia banyak beristirahat dan kondisinya semakin membaik.” Jelas Vega, mendengarnya Vika senang, tapi ia menyadari ada sesuatu yang aneh.


“Lalu dimana ka Ardi sekarang?” Tanya Vika.


Vega tersenyum, “Ka, apa yang akan aku sampaikan ini, aku harap tidak membebani kakak. Aku...”


“Apa yang terjadi pada ka Ardi?” Vika merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.


“Saya yakin dulu ayah pernah memberitahukannya pada kakak, bahwa kecelakaan yang terjadi pada kakak dan kak Ardi itu adalah ulah dari seseorang yang membenci ayah saya karena profesinya. Kecelakaan seperti itu biasa terjadi di keluarga kami, tapi kami sangat menyesalinya karena kakak ikut terlibat.” Vega terlihat menyesal, namun hal itu membuat Vika terkejut karena bagaimana bisa ia menyebut kecelakaan seperti itu biasa terjadi? Batin Vika.


“Ka Ardi baik-baik saja bukan?” Tanya Vika lagi, memastikan hal dibenakknya tidak terjadi.


“Ayah sungguh menyesal karena tidak segera mengusut kecelakaan itu, hingga sebulan setelah ka Ardi siuman, ia kembali mengalami kecelakaan dan...” Vega menatap Vika tak tega, “Ka, Ka Ardi sudah berada di tempat yang lebih baik, jadi aku harap kakak juga bisa hidup lebih baik lagi.” Vega menggenggam tangan Vika yang ada di atas meja untuk menguatkannya. Ia sangat tahu meski Vika baru mengenal kakaknya, tapi hubungan mereka sangat dekat sama seperti hubungannya dengan Ardi.


“Aku tahu ini berat untuk kakak, tapi aku yakin kakak bisa melaluinya.’’ Ucap Vega mengakhiri percakapan mereka dan pamit, ‘‘Kak,’’ Sambungnya sambil menghentikan langkahnya, ‘‘Tunggulah sebentar lagi, dia akan segera datang!’’ Vega pun meninggalkan Vika yang tengah bingung memikirkan kata-katanya.


Sebulan setelahnya…


“Maaf kami belum bu…” Vika tak percaya dengan apa yang ia lihat, “Ka Ardi.” Ucapnya kaget karena melihat Ardi didepannya.


Orang itu menggelengkan kepalanya tanda kalau ia bukanlah Ardi, “Namaku Andi Saputra, saudara kembar Kak Ardi. Aku kesini ingin minta maaf sama kamu Vik.” Ucap Andi.

__ADS_1


“Kakak, yang di taman dan di bioskop waktu itu bukan?” Ucapnya mengingat suara yang lebih berat dari suara kak Ardi. Dulu ia memang menyadari hal aneh karena terkadang Ardi terasa berbeda, seperti orang lain. Tapi ia mengira kalau hal itu hanya perasaannya saja sehingga ia tidak pernah memikirkannya.


“Senang karena kamu mengingatku.” Andi tersenyum, “Aku minta maaf, harusnya aku datang lebih awal agar kamu tidak menderita seperti ini.” Andi menyesal, ia tidak bisa meninggalkan kewajibannya sebagai pasukan khusus sehingga tak bisa segera mencari Vika sesuai permintaan Ardi..


“Kak Andi?” Rian kaget ketika melihat Andi yang sedang bercakap dengan Vika.


“Apa kabar, Ian?” Tanya Andi menyapa Rian yang keluar dari dapur.


“Aku baik. Kakak sendiri?” Tanya Rian.


“Seperti yang kamu lihat, sangat baik.” Jawabnya.


“Oya, terimakasih untuk bantuan kakak. Dulu aku bahkan tak sempat berterimakasih pada kakak.” Ucap Rian menyesal.


“Kalian saling mengenal?” Vika bingung.


“Em, Kak Andi yang memberitahukan keberadaanmu padaku,” Jawab Rian, mengenang kembali ke masa itu, “Saat itu aku hapir putus asa karena tak kunjung menemukanmu.” Masih terlihat keputusasaan di mata Rian, namun melihat Vika di hadapannya hal itu sirna.


“Akan kubawakan minum dan camilan untuk kakak.” Rian terlihat bersemangat.


“Tidak tidak, itu tidak perlu. Aku ke sini hanya untuk menyampaikan surat dari Ka Ardi," Andi menyerahkan sepucuk surat untuk Vika dengan senyumnya yang sama dengan kak Ardi.


"Semua yang terjadi bukan salahmu Vika, malah aku sangat berterimakasih karena kamu, hari-hari Kak Ardi jadi menyenangkan, ” Ucap Andi merasa bersyukur, ia mengakhiri percakapannya dengan Vika, "Vika," Sambungnya sambil tersenyum, "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Bolehkah aku mengambilnya kesini?” Tanyanya.


“Seseorang? Siapa ka?” Vika bingung.


“Akan kupanggilkan.” Jawab Andi sambil mengeluarkan HP dan menelpon seseorang, “Masuklah!” Ucapnya singkat.


Pintu itu terbuka perlahan, dan Vika terkejut karena orang itu adalah… “Kak Lisa?” Ucapnya.


Lisa mendekat sambil tertunduk, “Maafkan aku Vik,” Ucapnya sambil berdiri dihadapan Vika, "Aku benar-benar minta maaf, atas apa yang kulakukan dulu." Sambungnya, ia menatap Vika dengan penuh harap, dimatanya terlihat ketulusan, perlahan air matanya mengalir.


Vika berdiri, ia mendekati Lisa kemudian tersenyum, “Tidak ka, jangan begitu." Ucapnya kemudian memeluk Lisa dan menepuk punggungnya lembut untuk menenangkan Lisa, "Tidak perlu kak, tidak perlu minta maaf. Saat itu kita masih kecil dan belum dewasa. Akan lebih baik kalau kita melupakan semuanya.” Sambungnya, ia baru menyadari kalau selama ini bukan hanya dirinya yang menderita, tapi orang-orang di sekelilingnya, Rian, Shila, Bunda, juga Lisa dan adiknya. Mengingat itu hatinya lebih sakit dibanding hal lain yang sudah ia lalui. Meskipun memutuskan untuk melupakan kejadian itu, namun ia ingin memetik pelajaran dari semua yang pernah ia alami.


Andi dan Rian meninggalkan Lisa dan Vika, agar bisa bercakap berdua untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Percakapan antara Lisa dan Vika tidak berlangsung lama, karena...


"Kamu? Sedang apa kamu disini?" Tanya shila yang baru datang, ia terlihat marah.


"Shil," Lisa tak bisa berkata-kata.


"Shila..." Vika kaget dengan tingkah Shila terhadap kakaknya, Lisa.

__ADS_1


"Pergi, jangan ganggu Vika lagi. Pergi dari sini!" Bentak Shila, ia kini berhadapan dengan Lisa dan membelakangi Vika, seakan ia ingin melindungi Vika.


Rian dan Ardi segera keluar dari kantor ketika mendengar teriakan Shila, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena Lisa, Vika dan shila harus menyelesaikan permasalahan mereka.


"Shil," Ucap Vika lembut sambil memegang bahu Shila, "Jangan seperti itu. Kak Lisa kesini untuk meminta maaf." Vika berusaha meluruskan kesalahpahaman Shila.


"Minta maaf?" Shila tertawa, "Dia?" Tawanya semakin keras, "Nggak mungkin. Pasti kamu merencanakan sesuatu yang buruk untuk Vika, bukan?" Shila curiga, ia merasa Lisa tidak mungkin minta maaf.


Lisa hanya diam, ia tahu kalau semuanya adalah salahnya.


"Shila, sudah. Kamu nggak boleh kayak gini." Ucap Vika, ia tak mau Shila dan Lisa bertengkar gara-gara dia.


"Nggak, kali ini aku nggak akan diam. Aku tahu kalau dia merencanakan sesuatu." Shila bersikukuh, "Ah... pasti dia hanya ingin fasilitasnya di kembalikan. Jadi kamu jangan percaya pada..." Sambungnya


"Cukup Shil!" Vika tak bisa membiarkan Shila terus seperti itu, "Maaf ka, aku akan menjelaskan semuanya pada Shila," Vika tak enak.


"Nggak ko, aku memang salah," Ucap Lisa mengerti, "Maafkan kakak shil," Sambungnya.


Mendengar Lisa mengatakan itu, ada sesuatu yang hangat di hati Shila, ia juga bisa melihat mata Lisa yang tulus.


"Kalau begitu, aku pamit Vik." Lisa tahu maksud Vika, "Kakak, pergi Shil. Maafkan kakak." Sambungnya kemudian pergi dengan Andi setelah pamit pada Rian.


"Ikut aku." Ajak Vika, ia dan Shilapun pergi ke rooftop cafe Ardi, "Kenapa kamu bersikap seperti itu, Shil?" Vika terdwngar kecewa.


"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu.Kenapa kamu memaafkannya begitu saja?" Shila kesal.


"Shil, itu semua sudah berlalu. Saat itu kita semua belum dewasa dan..."


"Nggak, nggak bisa kayak gitu. Kamu terlalu baik, Vik. Kamu..." Kata-kata Shila terpotong oleh tawa Vika, ia merasa aneh karena baru pertama melihat Vika seperti itu.


"Aku, baik?" Vika masih tertawa, "Kayaknya kita perlu koreksi hal itu. Aku bukan Vika yang dulu, Shil." Sambungnya dengan mimik berbeda dari biasanya.


"Maksudnya?" Shila bingung.


"Aku yakin kamu mengerti." Vika menatap tajam Shila.


Shila mengalihkan pandangannya dari Vika, ia tahu yanh Vika maksud adalah rumor tentang dirinya di sekolah, dimana hampir setengah murid yang mengenal Vika membenci Vika. Tapi ia tak tahu alasannya kenapa, dan iapun tak bisa menanyakannya pada Vika.


"Semua orang bisa berubah, Shil. Kamu, aku, juga kak Lisa." Ucap Vika serius, "Aku yakin kamu juga merasakan ketulusan Kak Lisa. Jadi aku harap kamu juga bisa melupakan hal yang sudah berlalu, itu terjadi karena kita semua belum dewasa. Kita hanya perlu memetik pelajaran darinya." Sambung Vika karena tak ingin melihat sahabatnya berlaku seperti itu pada kakaknya, Lisa.


***

__ADS_1


__ADS_2