Vika

Vika
Usaha Ardi


__ADS_3

Di depan Universitas Jayabaya, terlihat Ardi menghampiri Pakde Joko, “Pa Joko,” Ucap Ardi ketika pade Joko telah berganti tugas dengan temannya.


“Iya Dek Ar, ada apa?” Tanya Pade bingung karena Ardi tiba-tiba menemuinya di saat ia selesai bertugas, biasanya ia berurusan dengan Ardi ketika ia sedang bekerja. Ia mengenal Ardi karena Ardi anak yang humble pada siapapun.


“Boleh saya mengobrol dengan Bapak?” Tanya Ardi, dan Pade Joko menyetujuinya. Merekepun pergi ke cafe dekat kampus.


“Ini tentang Vika pakde, apa dia baik-baik saja?” Tanya Ardi memulai percaakapan setelah mengambil pesanan mereka, ia terdengar ragu mengatakannya, namun ia tak ada pilihan lain.


“Dek Ar kenal dengan Vika?” Pade bingung kenapa Ardi mengenal Vika.


“Dia pernah membantu saya.” Ucap Ardi, “Tapi sepertinya saya telah menyinggung perasaannya, jadi saya khawatir tentang nya.” Sambung Ardi.


“Kalau boleh tahu, De Ar, menyinggung Vika tentang apa ya?” Pade ingin tahu, karena sepengetahuannya Vika terlihat baik-baik saja.


“Saya memberikan gantungan kunci padanya karena Vika telah membantu saya, tapi Vika terlihat aneh dan pergi, dan ketika saya menemuinya, Vika minta saya untuk tidak menemuinya lagi. Saya menyetujuinya, tapi entah kenapa saya khawatir padanya.” Jelas Ardi terlihat kecewa.


“Saya jarang sekali bertemu dengannya ketika pulang kerja, tapi dia melakukan aktivitasnya seperti biasa di pagi hari, jadi sepertinya Vika baik-baik saja..” Ucap Pade Joko.


“Boleh saya tahu alasan dia tidak melanjutkan sekolahnya?” Ucap Ardi menanyakan pertanyaan yang terlintas dibenaknya ketika tahu kalau Vika putus sekolah. Dan Pade Joko terlihat ragu mengatakanbya, “Saya tidak bermaksud jahat, saya hanya ingin membantunya.” Ardi meyakinkan Pade.


“Kalau itu…sebenarnya itu adalah urusan pribadi Vika yang saya sendiri tidak tahu alasannya. Jujur saja, yang saya tahu, ayahnya sudah meninggal dan sepertinya dia tidak punya keluarga lagi, jadi…” Pakde bingung harus berkata apa, sementara ia sendiri tidak tahu alasan pasti tentang itu, bukan ia tak pernah menanyakannya, tapi sudah berkali-kali namun Vika tidak pernah menjawabnya.


“Jadi, bapak dan bude maryam bukan keluarganya?” Ardi kaget, ia mengira kalau pa Joko dan Bude Maryam adalah kerabatnya.


“Bukan, Vika pernah menyelamatkan Cucu saya, Davin. Dan tanpa sengaja saya bertemu dengannya dalam keadaan pingsan. Saat sembuh Vika sempat ingin pergi meski kami melarangnya, tapi karena Davin menangis terus, Vika akhirnya mau tinggal bersama kami.” Jelas Pade Joko, “Masalah sekolah sendiri, saya pernah menawarkannya pada Vika, tapi dia tidak menginginkannya.” Sambungnya kemudian.


“Vika anak yang cerdas, dia bahkan membantu mengajari saya kalkulus, pelajaran yang cukup sulit bahkan untuk anak kuliah seperti saya. Sangat disayangkan kalau dia tidak melanjutkan sekolahya. Jadi saya menemui bapak untuk meminta tolong sesuatu.” Ardi mengutarakan maksudnya menemui Pade Joko.


Keesokan harinya di mes kampus, setelah Vika selesai menyapu halaman kampus.


“Vik, boleh pade minta tolong sama kamu?” Tanya Pade.


“Iya Pade, boleh.” Jawab Vika.


“Kemarin ada seorang mahasiswa yang menjatuhkan KTM di parkiran. Tadinya bapak ingin menyampaikannya sendiri, tapi bapak ada shif pagi, dan kartu ini harus segera di berikan pada pemiliknya karena tanpa kartu ini dia tidak bisa mengikuti ujian.” Jelas Pade Joko.


“Oh, baiklah pade.” Vikapun mengambil kartu itu.


“Oiya satu lagi Vik, temen pakde lagi kebingungan ngerjain soal masuk SMP untuk adiknya, dan Pakde keingetan sama kamu, apa kamu bisa membantu temen pade itu?” Tanya Pakde kemudian.


“Soal masuk SMP?” Vika bingung.


“Iya, kamu hanya perlu merekam pengisiannya saja. Jadi tidak perlu bertemu langsung dengan adenya temen pade. Gimana? Kamu bisa?” Pade penasaran dengan jawaban Vika.


“Gimana ya pade.” Vika terlihat ragu, namun melihat Pakde yang penuh harap, “Baiklah.” Jawabnya.

__ADS_1


“Pakde simpen soalnya di meja ya, kamu bisa memakai HP Bukde untuk merekam videonya. ” Sambung Pakde.


“Iya Pakde, kalau begitu, Vika pergi mengembalikan KTM ini dulu ya.” Ucap Vika kemudian beranjak pergi, Ardi Saputra? Ka Ardi? Batin Vika, ia sedikit kaget, namun Vika segera mencari Ka Ardi di Fakultas psikologi, sesuai denga keterangan di kartu, agar Ardi dapat mengikuti ujiannya.


Di taman kampus depan fakultas psikologi, terlihat Ardi yang sedang kebingungan dan tengan menelpon seseorang.


“Nggak ada de? Ok Ok. Kakak akan cari di kelas kalau gitu. Makasih de,” Ardi menutup telponya, Ilang dimana ya? Ardi bingung.


“Kakak mencari ini?” Tanya Vika menghampiri Ardi.


“Vika?” Ardi terkejut, “Itu KTM ku?” Ardi merasa senang.


Vika mengangguk, dan Ardipun mengambil KTM nya dengan riang.


“Thank you, Vik. Thank you banget.” Ardi terlihat senang, kegelisahan yang terlihat sebelumnya hilang seketika.


Melihatnya, Vika ikut senang, tanpa ia sadari, senyum tipis tergambar di bibirnya. Ardi melihatnya ikut senang.


“Kalau gitu, aku permisi.” Vika pamit, dan Ardi tersenyum. Vikapun kembali ke mes untuk mengerjakan soal yang Pakde berikan karena hari ini Davin libur sekolah dan ikut bersama Bude ke kantin kampus.


***


Ketika Vika selesai bekerja di toko malam harinya, terlihat Ardi sedang menunggu Vika di depan toko sambil menikmati mie cup yang ia beli.


“Kamu sudah selesai?” Tanya Ardi saat melihat Vika keluar dari toko, ia terlihat cepat-cepat memakan mie yang ada dimulutnya, membuat Vika menahan senyumnya seketika.


“Kalau boleh jujur, gue orang yang pantang menyerah lho.” Jawab Ardi dengan tekadnya.


“Ye?” Vika bingung.


Ardi tersenyum, “Boleh gue jadi temen lo?” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Membuat Vika mengerti maksud Ardi, dari ucapan dan pembawaannya Ardi, Vika tahu kalau Ardi tidak punya maksud apapun. Sesaat Vika ragu, tapi ia tahu Ardi tidak akan menyerah seperti yang ia katakan, terlebih Vika menyadari kalau beberapa hari ini Ardi mengikutinya.


“Maaf atas perkataanku sebelumnya,” Ucap Vika menjabat tangan Ardi, ia memutuskan untuk memulai semuanya dari awal, seperti ia menerima Pade Joko, Bude Maryam dan Davin.


"Seneng kamu mau menerimaku sebagai temen." Ucap Ardi.


"Kalau gitu, aku duluan ka." Vika pamit, ia khawatir kalau pade, bude atau Davin mencarinya.


***


“Kenapa Ka?” Vika bingung melihat Ardi yang terus saja mencoret kertas dihadapannya.


“Soal ini susah banget. Kayaknya ini bukan levelku deh?” Ardi terdengar putus asa.

__ADS_1


“Ini?” Tanya Vika dan Ardi mengangguk. Sesaat Vika melihat kearah Ardi, namun akhirnya ia mengalihkan pandangannya ketempat lain.


“Kamu bisa Vik?” Ardi curiga dengan tatapan Vika, namun Vika segera menggelengkan kepalanya, “Bohong banget. Gini gini aku mahasiswa psikologi lho.” Sambungnya, membuat Vika tersenyum sambil mengacungkan jari membentuk ‘V’.


“Ya udah aku ajarin kakak,” Ucap Vika ketika melihat tatapan minta tolong Ardi yang tidak bisa ditolak siapapun.


Ardi yang putus asapun langsung bersemangat, ia mendengarkan Vika dengan cermat dan segera mengerti. Kemudian Vika memberikan soal untuk mengukur kemampuan Ardi.


“Kamu makan apa sih Vik? Kok pinter banget?” Tanya Ardi, ia sudah tahu kalau Vika pintar, tapi ia tetap masih belum percaya dengan kepintaran Vika. Vika yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama bisa menyelesaikan soal kalkulus anak kuliahan. Batin Ardi.


“Tentu saja nasi, masa aku makan batu.” Vika bercanda, ia sudah terbiasa dengan pertanyaan aneh Ardi.


“Oh iya, ini.” Ardi menyerahkan sebuah kartu bertuliskan ‘Peserta Ujian’ dengan namanya dalam kartu itu, “Aku sudah mendaftarkanmu di ujian paket B. Suatu saat kamu harus melanjutkan studymu. Jadi akan lebih baik kalau mulai dari sekarang.” Sambungnya.


“Kayaknya aku nggak bisa deh ka.” Jawab Vika, wajahnya yang sedang becanda tadi seketika berubah.


“Vik, aku tahu kamu bukannya nggak bisa, tapi kamu nggak mau mencobanya.” Ucap Ardi lembut, “Cobalah dulu. Ya!” Bujuk Ardi.


Vika terdiam agak lama, dan sesekali melihat Ardi yang penuh harap, “Baiklah.” Jawabnya menyetujuinya.


***


“Ini dia hasilnya!” Ardi menunjukan kertas hasil ujian Vika setelah sebulan menunggu, Vika, Pade juga Buden tak sabar melihat hasilnya. Saat ini mereka ada di mes kampus.


“Wah.” Ucap singkat Ardi setelah membuka kertas hasil ujian itu kemudian meletakkannya di lantai.


“Kenapa jelek ya?” Tanya Vika sedikit kecewa karena melihat ekspresi Ardi. Membuat Vika ragu melihat hasil ujiannya.


“Beneran!” Ucap Pade dengan ekspresi yang sama diikuti oleh Bude.


“Sebenarnya gue udah tahu hasilnya bakalan kayak gini, tapi tetep aja nggak nyangka.” Ardi menyerahkan kertas ujiannya pada Vika.


Vika melihat hasil ujian yang semuanya nilai sempurna, dan menatap Vika dan Bade juga bude di hadapannya dengan aneh.


“Wah mencurigakan.” Ucap Ardi melihat mimik Vika, “Jangan-jangan elo nyoba buat ngejawab pertanyaan dengan salah agar tidak mendapat nilai sempurna.” Sambungnya, dan dilihat dari ekspresi Vika seprtinya dugaannya itu benar.


“Nggak ko. Masa aku kayak gitu. Aku kan berusaha untuk mendapat nilai sempurna.” Vika mengelak.


“Dari wajah lo, pasti elo ngejawab beberapa pertanyaan dengan asal!” Ardi masih curiga.


“Nggak ko, beneran!” Bantah Vika.


“Kayaknya gitu.” Ucap pade di ikuti anggukan Bude.


“Cuma dua soal doang ko yang dijawab asal!” Vika mengaku, sontak membuat Ardi, Bude dan Pade tertawa dengan tingkah lucu Vika.

__ADS_1


***


__ADS_2