Vika

Vika
Salahku? Lagi?


__ADS_3

Mendapat hasil sempurna di ujian paket ini membuat Vika senang. Sebenarnya Vika bukanlah anak yang pintar, hanya saja, waktu yang ia gunakan selama ini, selain mengantar Davin bersekolah dan bermain, juga bekerja paruh waktu ketika malam, Vika banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku yang di bawa pade Joko dan Bude Maryam. Ketika mereka tahu Vika sangat suka membaca buku, mereka terus meminjam buku di perpustakaan untuk Vika, berbagai macam buku, sehingga Vika punya kemampuan diatas anak seusianya.


“Nih, buku yang gue janjiin.” Ardi menyerah lima buah buku tentang pengetahuan dasar.


“Asikkk.” Vika senang, “Ini buku yang kemaren aku pinjem. Makasih lho ka, seneng banget bacanya.” Sambung Vika sambil menyerahkan 3 buah buku tebal yang kemarin ia pinjam.


“Heran deh gue. Elo kapan bacanya sih, lo kan sibuk sama Davin dan kerjaan lo.” Ardi yang sudah terbiasa tetap menanyakan hal yang sama pada Vika. Semenatara Vika hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.


“Oiya, gimana tawaran gue?” Tanya Ardi, “Keponakan gue baik kok.” Sambung Ardi, ia sebelumnya menawarkan Vika menjadi guru les keponakannya, Neyla.


“Tapi aku tidak yakin bisa menjadi guru yang baik untuknya.” Vika ragu, ia belum pernah mengajari siapapun.


“Kan lo pernah ngajarin gue, dan gue langsung ngerti kok. Jadi, gue yakin lo bisa ngajarin Neyla dengan baik.” Ardi terdengar lebih yakin dari Vika.


“Vik, elo jangan kerja di toko lagi ya!” Pinta Ardi, “Lo tahu kan maksud gue!” Sambungnya, dan Vika mengangguk, ia sangat tahu alasan Ardi melarangnya.


Akhirnya Vika mengikuti saran Ardi untuk berhenti dari toko, ia sekarang mengajar les beberapa kenalan Ardi, mulai dari keponakan, adik dari temennya dan teman keponakanya. Selain itu ia juga mempersiapkan test masuk SMA, ia merasa apa yang Ardi katakan ada benarnya, ia harus melanjutkan study untuk masa depannya. Agar bunda tidak khawatir padanya. Pikirnya.


Vika melakukan kegiatan seperti biasa, membantu bude menyapu halaman kampus, mengantar Davin ke sekolah dan siang harinya mengajar les, dan ia beristirahat di malam hari karena tidak bekerja di toko lagi. Tapi tentu saja sesekali ia bertemu dengan Ardi untuk membantu Ardi dengan mata kuliah kalkulusnya.


***


Saat itu Ardi menawarkan diri mengantar Vika karena hari sudah larut dan Ardi khawatir kalau Vika pulang sendiri. Vika yang tahu kegigihan Ardipun, akhirnya menyetujuinya. Dengan sepeda motor milik adiknya, Ardi mengantar Vika.


“Sorry ya Vik, gue nggak tahu kalau Neyla ada study tur. Elo jadi nunggu lama and kemaleman.” Ucap Ardi tak enak pada Vika.


“Nggak apa-apa kok ka. Sebenernya tadi aku keasikan baca buku, sampai tau tau udah malam.” Vika juga tak enak. Vika memang kerap kali lupa waktu ketika membaca buku, bahkan ketika hari liburnya ia pernah kali mengunjungi perpustakaan di pagi hari kemudian pulang di malam hari, itupun setelah di ingatkan penjaga perpus kalau perpusnya mau tutup.


“Memang tadi lo baca buku apa?” Ardi bingung.


“Buku yang kakak kasih pinjam ke aku.”Jawab Vika.

__ADS_1


“Seru?” Tanya Ardi penasan.


“Seru kok.” Jawab singkat Vika.


Ardi agak terkejut dengan jawaban Vika yang cepat dan terdengar meyakinkan. Bagaimana tidak, ke lima buku yang ia pinjamkan pada Vika semua tentang pengetahuan seputar dunia psikologi yang ia pernah paca ketika semester pertama ia berkuliah.


“Kamu sudah selesai baca semua bukunya?” Tanya Ardi, ia bermaksud memberikan beberapa buku yang pernah ia baca ketika SMA pada Vika.


“Baru tiga buku, dua lagi tadi aku tinggal di rumah.” Jawab Vika, menutup percakapan mereka tentang buku, “Eh udah sampe ya? Cepet banget.” Sambung Vika.


“Iya, selamat be…” Tiba-tiba sebuah mobil melaju kearah mereka berdua, membuat Ardi refleks memeluk Vika untuk menghindari mobil itu, namun…


“Kakak?” Vika tersadar, ia berada dalam pelukan Ardi yang penuh luka dan darah mengalir deras dari kepalanya.


“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Ardi dengan kekuatan terakhirnya, perlahan pandangannya mulai samar.


Vika melihat sekelilingnya, mobil yang tadi menabrak mereka pergi begitu saja.


5 menit kemudian, Padek joko bersama dua orang satpan kampus datang dengan mobil ambulan kampus.


“Kamu nggak apa-apa Vik?” Tanya Pade khawatir.


“Aku nggak apa-apa, tapi Ka Ardi.” Vika masih terlihat shok.


“Tenanglah, biar bu dokter yang memeriksanya dulu.” Ucap pa Yosef, salah satu satpam teman pade Joko.


Terlihat Dokter Ria yang merupakan Dokter kampus memeriksa Ardi. Pade Joko bertemu dengan Dokter Ria ketika akan meminjam mobil Dinas Kampus, saat itu Dokter Ria bersama seorang supir ambulans kebetulan ada kampus karena ada beberapa dokumen yang harus Dokter tandatangani.


“Pa Anto, tolong penyangga lehernya.” Dokter Ria meminta penyangga leher pada supir ambulan, pa Anto, “Bantu saya pelan-pelan memindahkannya kedalam ambulan.” Sambungnya.


***

__ADS_1


“Tenanglah, Dek Ardi pasti baik-baik saja.” Pade berusaha menenangkan Vika, ia baru kali ini melihat Vika yang gusar.


Vika terduduk sambil menggigiti kuku jari tangannya, kakinya bergerak tak berhenti dan sesekali ia bergumam sendiri.


“Vik, Vika.” Pade Joko memanggil Vika namun Vika sedang dalam lamunannya, “Vika,” Sambungnya sambil menepuk pundak Vika untuk memberi tahukan bahwa dokter sudah keluar.


“Bagaimana Dok?” Vika segera menghampiri Dokter, ia sangat cemas, banyak hal yang ada di benaknya saat ini.


“Operasinya berjalan dengan lancar, dan akan dipindahkan ke ruang rawat. Tapi ada yang harus saya bicarakan dengan wali beliau.” Ucap Dokter.


“Saya Teuku, ayah dari pasien, Dok,” Seorang pria paruh baya yang gagah datang, dari oerawakannya itu bisa dipastikan dia adalah seorang tentara.


“Bisa anda ikut saya sebentar?” Tanya Dokter, kemudian ayah Ardipun pergi ke ruangan dokter.


“Bagi yang ingin melihat pasien, bisa ikut saya,” Ucap Dokter yang membawa Ardi yang terbaring di ranjang untuk dibawa ke ruang rawat inap.


“Vik, pakde sama temen-teman yang lain harus pergi karna kami harus kembali bekerja.” Pakde Joko pamit.


"Iya pakde, terimakasih." Ucap Vika kemudian pakde dan teman-temannya pun pergi.


"Kamu pasti Vika?" Sapa Teuku, ayah dari Ardi.


Vika mengangguk kecil.


"Maaf ya. Karena kami, kamu jadi ikut terlibat." Sambungnya sambil duduk di samping Vika.


"Tidak, saya yang seharusnya minta maaf, gara-gara saya, ka Ardi terluka seperti itu." Vika terbata, tangisnya pecah.


"Tidak, tidak. Itu tidak benar. Kecelakaan ini terjadi karena orang-orang yang membenci saya. Saya yang seharusnya minta maaf."Ayah Ardi memeluk Vika, menepuk punggungnya lembut.


Tapi saat itu Vika dalam lamunannya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2