Vika

Vika
Pertemuan


__ADS_3

Babak Final Lomba O2SN se-provinsi dimulai antara dua sekolah, yaitu SMU Khusus Perempuan Kusuma Bangsa dan SMU Kusuma Negara, dengan ramainha para pendukung masing masung sekolah.


“Baiklah semuanya mari kita sambut kedua peserta kita di babak Final ini.” Ucap seorang bapak moderator kemudian memanggil kedua peserta itu masuk.


“Ini dia Vika Alvarado dari SMU Wanita Kusuma Bangsa.” Kemudian Vika masuk, “Dan lawannya kali ini adalah Shila Hermawan Saputri dari SMU Kusuma Negara,” Panggilnya kemudian, membuat Vika terkejut melihat Shila yang keluar, karena yang ia tahu, lawannya di final bukannya Shila.


Pertandingan pun dimulai Shila bisa menjawab pertanyaan dengan mudah, ia menjawab semua pertanyaan dengan cepat. Tapi Vika tak satupun pertanyaan yang bisa ia jawab. Shila meminta izin sebentar kepada moderator itu, dan...


“Saya ingin minta maaf karena apa yang akan saya lakukan.” Shila membungkukkan badannya kemudian perlahan ia berjalan ke depan Vika. Tiba-tiba...


Plaakk


Tangan mungil Shila mendarat di pipi Vika, membuat semua orang terkejut dengan apa yang Shila lakukan.


“Tidak bisakah kamu bermain dengan serius?” Tanya Shila dan Vika hanya diam tanpa bisa menatapnya, “Kamu tahu bukan, kalau aku paling tidak suka dengan orang yang melakukan sesuatu setengah-setengah. Apalagi mengalah untukku!” Ucap Shila sambil menatap tajam Vika.


Saat itu Vika benar-benar bingung, ia tidak tahu harus berkata apa.


l


“Tidakkah kamu mendengarku?” Tanya Shila, “Vika Alvarado!” Ucapnya meninggikan suara, namun Vika tetap diam.


“Shila,” Seorang guru perempuan menghampiri Shila, ia menghentikan Shila yang marah.


“Mohon maaf semua, sepertinya pertandingan ini akan ditunda untuk 30 menit kedepan. Jadi silakan beristirahat terlebih dahulu!” Ucap pembawa acara O2SN menghentikan perlombaan.


“Ada apa Bu?” Tanya Shila ketika ia sedang disuangan tempat peserta dari sekolahnya beristirahat.


“Kamu apa-apaan tadi?” Tanya Bu Sarah bingung.


“Aku, menamparnya. Itu saja!” Jawab Shila singkat dengan santai.


“Maksud ibu kenapa kamu menamparnya?” Tanya Bu Sarah lagi.


“Tidak ada alasan. Hanya ingin menamparnya saja.” Jelas Shila kemudian sambil duduk.


“Tapi Shila, kamu menamparnya didepan semua orang, itu akan menjadi masalah kalau anak itu sampai menuntut sekolah kita. Itu...”


“Ibu tidak usah khawatir, itu tidak akan terjadi. Yah...meski itu terjadi tentu saja bukan karena anak itu yang menuntutku.” Ucap Shila.


“Shila,” Bu Sarah marah.


“Ibu tenang saja. Aku jamin, kalau itu sampai terjadi dia pasti akan membelaku.” Ucap Shila tenang.


“Tidak bisa, kita pergi keruangannya sekarang dan kamu harus minta maaf padanya!” Pinta Bu Sarah.


“Minta maaf? Aku?” Ucap Shila tidak terima, “Tentu saja itu tidak mungkin bu. Aku tidak akan pernah melakukannya.” Sambung Shila.


Sementara di ruangan lain...


“Ibu, gawat bu,” Ucap Liana pada Bu Anna yang baru datang membuat sang kepala sekolah itu bingung, “Vika, dia pergi ke ruangan gadis yang tadi menamparnya, aku khawatir kalau dia marah-marah disana!” Liana khawatir, ia sangat tahu tabiat Vika yang cepat sekali naik darah.


Mendengar itu Sang kepala sekolah pun segera pergi menyusul Vika.


Lalu di ruangan Shila...


“Tapi Shila, ibu tidak ingin gara-gara ini hubungan antar sekolah menjadi buruk. Ibu...”

__ADS_1


“Kalau masalah itu ibu tenang saja, bukankah aku pernah bilang kalau aku akan pindah sekolah. So...akan ku lakukan setelah pertandingan ini selesai.” Ucap Shila senanga.


“Shila, itu tidak akan...” Kata-kat bu Sarah terpotong oleh Shila.


“Bisa bu, tentu saja kepindahanku dapat merubah situasi ini. Ibu ingin tahu kenapa?” Tanya Shila membuat Bu Sarah semakin tidak mengerti, “Karena aku akan pindah ke sekolah itu!” Sambungnya singkat sambil berbisik pada Bu Sarah kemudian tersenyum.


Mendengar apa yang diucapkan Shila, Bu Sarah malah tidak mengerti, “Shil...”


“Ayolah. Sekarang aku sedang menunggu seseorang, jadi tenanglah!” Ucap Shila terus tersenyum, ia tersenyum sangat lebar karena senang.


“Kamu datang lebih lama dari dugaanku!” Ucap Shila ketika menyadari kedatangan orang yang ia tunggu-tunggu. Ia berdiri di belakang bu Sarah.


“Benarkan? Aku malah mengira aku datang terlalu cepat,” Ucap Vika pada Shila.


“Vika, apa yang kamu lakukan?” Tanya Bu Anna sambil terengah-engah karena lelah akibat berlari dari ruang istirahat sekolahnya ke ruang istirahat Kusuma Bangsa untuk mengejar Vika.


“Bukankah sudah aku bilang ibu tidak perlu ikut campur urusanku!” Ucap Vika dingin.


“Mohon maaf bu, kami sangat minta maaf atas apa yang siswi kami lakukan.” Ucap Bu Sarah pada Bu Anna yang ada di depan pintu.


“Oh tidak, saya rasa ada kesalahpahaman disini. Jadi...”


“Ibu, sudah ku bilang kan kita tidak perlu minta maaf.” Shila memotong kata-kata bu Anna.


“Shila apa yang kamu katakan? Kita...”


“Tentu saja tidak perlu. Lagi pula aku juga tidak akan menerima permintaan maafmu!” Ucap Vika memotong kata-kata Bu Sarah.


“Vika!” Bu Anna bingung harus berbuat apa pada muridnya yang satu ini.


Bu Sarah dan Bu Anna dibuat bingung oleh kedua muridnya. Mereka tak tahu harus bagaimana.


“Shila.”/“Vika.” Ucap bu Sarah dan bu Anna secara bersamaan ketika melihat Shila dan Vika saling berhadapan dan menatap tajam.


Seketika itu mata mereka beradu dan perlahan pandangan itu melembut.


“Maaf,” Ucap Vika sambil mengalihkan pandangannya, membuat Bu Anna aneh karena Vika tiba-tiba minta maaf.


“Hanya itukah yang bisa kamu katakan?” Tanya Shila dan berjalan perlahan menuju Vika, “Bukankah kamu berhutang penjelasan padaku?” Ucap Shila kemudian.


”Maaf, Shil.” Ucap Vika lagi, matanya berkaca-kaca, ia tak tahu berkata apa.


”Jahat, kamu jahat Vika.” Ucap Shila dengan tangis sambil memukul ringan Vika, “Kamu pergi begitu saja tanpa berkata apapun padaku, kamu bahkan pergi ke tempat dimana aku tidak bisa mencarimu. Kamu tega banget sama aku,” Ucap Shila manja dengan tangisan yang semakin deras.


Dan Vika hanya bisa memeluk sahabatnya itu dengan erat sambil menenangkannya tanpa bisa berkata-kata.


meski tak tahu permasalahan antara Vika dan Shila, tapi Bu Anna dan bu Sarahpun meninggalkan mereka dan pergi menemui panitia.


***


Pertandingan akhirnya di laksanakan setelah diskusi panjang antara panitia dengan Bu anna dan bu Sarah.


”Em, aku tidak akan mengalah. Aku akan berusaha sebisaku.” Ucap Vika pada Shila ketika mereka akan memulai lomba kembali.


Shila hanya mengangguk dengan senyumnya.


Lomba pun dimulai, Vika dengan sigap menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara tanpa terkecuali dan tak memberikan kesempatan pada Shila ketika babak rebutan. Vika selalu menekan bel itu sebelum Shila, bahkan sebelum pertanyaan selesai dibacakan sehingga ia pun memenangkan lomba itu.

__ADS_1


”Vika, kamu tak menyisakan satu pun pertanyaan untukku?” Tanya Shila dengan polosnya ketika lomba selesai.


”Oh, maaf. Habis jawabannya langsung terlintas dibenakku meaki soalnya belum selesai.” Vika merasa tak enak pada Shila karena ia menjawab semua pertanyaan rebutan.


Shila tersenyum melihat wajah Vika yang lucu, ia memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya.


”Kak Ian?” Shila kaget melihat Ian yang menghampiri mereka, ia melepaskan pelukannya pada Vika.


”Apa kabar Shil?” Tanya Rian pada Shila.


”Ba, baik. Kakak sendiri? Kakak sudah sembuh?” Tanya Shila.


”Em, seperti yang kamu lihat.” Jawab Rian.


”Sorry, Vik.” Liana menghentikan percakapan mereka, “Ibu sarah dan yang lainnya sudah menunggu di bis.” Ucapnya pada Vika.


”Yah, kamu harus pulang yah? Kok cepet banget?” Shila terlihat sedih.


”Kamu juga, teman-teman dan guru-gurumu pasti sudah menunggu. Pulanglah,” Ucap Vika.


”Yah…’’ Shila terlihat kecewa, ‘‘Baiklah kalau begitu aku pergi,’’ Ucapnya dengan senyuman yang lebar kemudian pergi dengan riang, ‘‘Sampai jumpa!’’ Sambungnya kemudian pergi.


“Kamu baik-baik saja?’’ Tanya Rian pada Vika yang terdiam, saat itu Vika masih tidak tahu harus berkata atau berbuat apa, “Vika,’’ Rian membuyarkan lamunannya.


"Ia ka. Aku, baik." Jawab Vika singkat.


Namun Rian tahu kalau Vika tidak baik-baik saja, "Vik, apa Shila pergi tanpa menanyakan nomor HPmu?" Tanya Rian.


“Iya." Vika tahu maksud pertanyaan Rian.


"Itu berarti Shila..."


"Em, dia akan segera pindah ke sekolah kita.’’ Ucap Vika lalu segera mengambil HP nya, “Hallo bu sarah, sepertinya aku tidak bisa ikut pulang dengan ibu dan yang lain, ada tempat yang harus aku kunjungi.’’ Ucap Vika, “Baik bu, terimakasih.’’ Ucapnya setelah menunggu beberapa detik bu sarah berbicara.


“Bisakah kakak mengantarku ke rumah sakit tante Lina?’’ Tanya Vika pada Rian.


“Tentu saja.’’ Jawab Rian.


Rian melajukan motornya perlahan tapi pasti menuju rumah sakit dokter Lina.


“Hallo tante, apa hari ini tante sibuk?’’ Tanya Vika di telpon.


“Tidak Vika, ada apa?’’ Tanya Dokter Lina di sebrang.


“Dokter yang tante bicarakan itu, bisakah aku bertemu dengannya hari ini?’’ Tanya Vika.


Dokter Lina sedikit terkejut karenanya, “Owh, tentu saja. Datang hari ini jam berapapun.’’ Ucap Dokter Lina.


“Baiklah, aku akan datang pukul 5 sore ini. Sekarang aku sedang dalam perjalanan kesana.’’ Ucap Vika.


“Owh, tante akan menunggumu.’’ Ucap Dokter Lina.


Sampai dirumah sakit, Vika segera memulai sesi konsultasi dengan Dokter Rita, sementara Rian menunggunya di luar ruangan dan Tante Lina kembali keruanganya karena ada janji dengan pasien.


“Terimakasih Dokter.’’ Ucap Vika setelah selesai wawancara.


“Bagaimana Dok?’’ Tanya Dokter Lina ketika Vika sudah pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Ini adalah rekaman hasil sesi konsultasi tadi. Jujur saja saya agak terkejut Dok, tak ada yang aneh dengan cara bicara maupun gerakan tubuhnya, dia bisa mengontrol emosinya dengan baik. Dan dia tahu bagaimana cara mengatasi semua masalahnya. Jadi yang bisa kita lakukan hanya memberikan morltivasi, terlebih dari orang terdekatnya. ’ Ucap Dokter Rita.


***


__ADS_2