
Pagi itu di asrama Sekolah Taruma Negara…
“Shil, Shila!’’ Vika panik ketika mendapati Shila mengigau dan suhu badannya sangat tinggi. Dengan segera Vika mengambil air dan handuk untuk mengkompres Shila.
“Tunggulah, aku akan mengambilkan obat untukmu.’’ Ucap Vika kemudian pergi ke UKS.
“Kamu sedang mencari apa Vik?’’ Tanya Dokter Lina ketika melihat Vika yang tengah mencari sesuatu di kotak obat di UKS.
“Obat tante, Shila demam. Jadi aku aku kesini untuk mengambil obat untuknya.’’ Jawab Vika, ia sedikit terkejut karena tantenya itu ada di sekolah sepagi ini.
“Demam?’’ Tanya Dokter Lina.
“Iya, sepertinya karena kehujanan ketika bertanding sepak bola kemarin!’’ Jelas Vika singkat.
“Kalau begitu, biar tante periksa dia!’’ Ucap Dokter Lina menawarkan diri, Vika pun setuju dan mereka segera menuju ke asrama.
“Dia harus istirahat penuh selama 3 hari. Jadi untuk pertandingan hari ini, tante sarankan dia tidak mengikutinya.’’ Ucap Dokter Lina.
Mendengar hal itu Vika sedikit terkejut dan bingung kenapa tantenya itu tahu kalau hari ini ada pertandingan sepak bola.
“Jangan terkejut begitu, tante tahu karena kemarin Sarah meminta tolong tante untuk mengirimkan salah seorang dokter kepertandingan sepak bola untuk mengawasi kondisi para pemain selama seminggu kedepan.’’ Jelas Dokter Lina menjawab pertanyaan dibenak Vika.
“Ini resep obatnya, kamu bisa mengambilnya di…’’ Kata-kata Dokter Lina terputus karena melihat Vika sudah memegang obat yang ia tulis diresep, “Kamu tahu obat-obat itu?’’ Tanya tante bingung.
“Em,’’ Ucap Vika singkat, “Kalau begitu aku akan membuatkannya bubur.’’ Sambungnya.
“Tante juga harus pergi ke rumah sakit, kalau begitu tante tinggal ya.’’ Ucap tante kemudian beranjak pergi.
“Tante,” Ucap Vika menghentikan langkah Dokter Diana, “Terimakasih.’’ Ucapnya kemudian.
Senyum mengembang di wajah Dokter Lina, meski ia sedikit terkejut Vika mau berterimakasih seperti itu, tapi ia senang karena Vika perlahan-lahan mulai berubah.
“Shil, bangunlah. Kamu harus minum obat, jadi kamu makan dulu ya!’’ Pinta Vika kemudian membatu Shila untuk duduk kemudian menyuapinya dan membantunya untuk minum obat. Setelah selesai Vika pergi untuk membersihkan dapur. Lalu saat ia kembali…
“Lho, dia kemana?’’ Vika bingung ketika melihat kasur Shila kosong, ia pun mengeceknya ke kamar mandi namun tak menemukannya.
‘Jangan-jangan…’ Vika segera meraih HP yang ada di kasurnya dan menghubungi Shila namun bunyi HP Shila ada di ruangannya, ya tepatnya di bawah bantal.
Ia pun dengan cepat memencet nomor seseorang dan…
“Vika, kalian dimana? Pertandingan sebentar lagi akan dimulai. Cepatlah kita kekurangan pemain.’’ Ucap Riva di seberang sebelum Vika mengatakan sesuatu.
“Ye? Owh, aku…’’ Belum Vika menyelesaikan perkataannya, Riva sudah menutup telponnya. Sepertinya pertandingannya sudah dimulai pikir Vika. Ia pun segera berlari menuju stadion.
Di stadion tempat pertandingan Bola…
“Maaf aku terlambat, tadi macet banget.’’ Ucap Shila dengan peluh membasahi tubuhnya.
“Shila, kamu terlihat pucat. Kamu baik-baik saja?’’ Riva khawatir melihat wajah pucat Shila.
“Masa sih?’’ Tanya Shila sambil mengelap keringat menggunakan tangannya, “Sepertinya ini karena aku berlari dari ujung jalan sana tadi. Tapi aku baik-baik saja kok, aku akan segera berganti pakaian!’’ Ucap Shila kemudian pergi ke ruang ganti.
__ADS_1
Sementara itu Vika yang berusaha mencari taksi, tak kunjung menemukannya hingga iapun memutuskan berlari menuju stadion.
“Vika, kamu mau kemana?’’ Tanya tante ketika melihat Vika berlari di trotoar jalan.
“Tante,’’ Vika berhenti berlari, “Bisakah tante mengantarku ke stadion?’’ Tanya Vika sambil terengah-engah.
“Naiklah,’’ Ucap tante segera tanpa bertanya apa pun pada Vika karena melihat Vika yang seperti itu ia tahu kalau ada sesuatu yang terjadi.
Dengan cepat mobil Dokter Lina melaju menuju menuju stadion tempat pertandingan bola.
“Terimakasih tante, aku harus pergi.’’ Ucap Vika kemudian memasuki stadion.
“Shila.’’ Vika tak bisa berkata-kata, ia melihat Shila bermain dengan baik meski harus menahan sakitnya itu.
Sambil memandangi Shila yang tengah bermain, ia perlahan berjalan ke tepi lapangan.
“Vika!’’ Ucap Kak Rian ketika melihat Vika memasuki lapangan, ia segera menghampiri Vika, “Kamu disini,?’’ Tanya Rian pada Vika yang tertegun.
“Hentikan pertandingannya ka, hentikan Shila!’’ Pinta Vika.
“Ye? Maksud kamu?’’ Rian bingung mendnegar perkataan Vika.
“Shila sakit, dia nggak boleh bermain seperti ini!’’ Ucap Vika.
Sesaat matanya dan Shila beradu, tapi Shila tak bergeming, ia tetap melanjutkan permainannya meski tahu arti dari pandangan Vika.
“Pantas saja, permainannya…’’ Rian menyadari ada yang aneh dengan permainan Shila, “Vi, lakukan pe…’’ Rian tak bisa meneruskan perkataannya ketika melihat kaki Silvi yang diperban karena cedera di pertandingan sebelumnya, ia pun segera menyadari kalau tak ada lagi pemain yang bisa menggantikan Shila.Tapi kalau kondisi Shila tidak memungkinkan, akan lebih baik mereka bermain dengan sepuluh pemain.
"Baiklah." Ucap Rian.
“Tapi kita tak punya pemain cadangan yang lain, Kak!’’ Ucap Silvi bingung.
“Aku. Aku yang akan main. Bukankah aku ada dalam daftar pemain cadangan?’’ Ucap Vika sambil bertanya pada Rian, membuat Rian terkejut mendengarnya, “Aku yang akan menggantikannya!’’ Sambungnya.
“Vik.’’ Rian tak tahu harus berkata apa.
“Tolong pinjami aku seragam, Vi!’’ Pinta Vika pada Silvi yang terduduk di kursi cadangan.
“Kamu tak perlu meminjam seragam siapa pun, kamu anggota tim ini. Dan ini adalah seragammu!’’ Jelas Silvi sambil memberikan seragam dengan nomor punggung 28 yang masih terbungkus rapi.
Meski terlihat ragu, namu ia tetap mengambil seragam itu.
“Kamu bisa melakukannya Vik, kamu pasti bisa.’’ Rian memberi dukungan untuk Vika, bagaimanapun ia tak bisa melalukan apa-apa selain dukungan. Dan ia sangat yakin Vika bisa bermain dengan baik.
Dua menit kemudian Rian meminta pergantian pemain. Shila dan yang lainnya terkejut karena setahu mereka, mereka tidak punya pemain cadangan lain. Ke 5 anggota cadangan sudah masuk ke lapangan sementara anggota inti yang lain demam karena kehujanan di pertandingan 3 hari berturut-turut.
“Shila, keluarlah.’’ Ucap Rian pada Shila yang terdiam,.
“Kenapa kakak menggantiku?’’ Shila bingung, ia tahu tak ada pemain cadangan lai .
“Kamu tidak bisa melanjutkan pertandingan ini, Vika memintamu untuk keluar.’’ Jawab Rian.
__ADS_1
“Tapi, kita tidak punya pemain cadangan lain Kak.’’ Ucap Shila, “Silvi juga sedang cedera, dia tidak mungkin…’’ Sambung Shila ketika melihat Silvi.
“Aku. Aku yang akan menggantikanmu.’’ Vika memotong kata-kata Shila.
“Vi, Vika.’’ Shila terkejut karena melihat Vika mengenakan seragam bola, begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Beristirahatlah.’’ Ucap Vika kemudian memasuki lapangan.
“Tapi Vik, kaki kamu…’’ Shila khawatir mengingat cedera yang diderita Vika.
“Shila,’’ Ucap Vika bernada tinggi dan dengan berat hati Shila pun keluar dari lapangan.
“Tenanglah, dia akan baik-baik saja!’’ Ucap Rian menenangkan Shila yang mengkhawatirkan kondisi Vika.
Pertandingan pun dimulai kembali, saat itu Vika berusaha menenangkan hatinya, meyakinkan dirinya dan berusaha bermain sebaik mungkin.
“Vika, kamu baik-baik saja?’’ Riva khawatir melihat wajah Vika yang penuh dengan peluh.
“Owh.’’ Jawabnya singkat.
Vika pun bermain sebaik mungkin. Meski sesekali dia melakukan kesalahan dalam mengoper, tapi dia mencoba sebisanya. Mendrible dan mengoper, dia terus melakukannya dengan baik.
“Kak, permainan Vika sangat aneh, dia tidak menembak meski saat itu mendapatkan posisi yang bagus. Ja, jangan-jangan cederanya…’’
“Dia baik-baik saja. Kamu tahu kan dia tidak akan memaksa bermain kalau memang dia tidak sanggup.’’ Rian kembali menenangkan Shila.
Babak pertama selesai dengan skor 1-2, tim Vika ketinggalan 1 point untuk itu. Mereka memang kecewa karenanya, namun mereka sudah berusaha sebisa mereka dan akan lebih berusaha lagi di babak kedua nanti.
“Kamu niat main nggak sih?’’ Riri marah pada Vika.
“Riri.’’ Ucap Riva.
“Aku melihatnya, beberapa kali dia dalam posisi bagus, tapi dia malah mengoper bolanya pada orang lain. Padahal…’’ Riri menyadari apa yang Shila sadari tadi.
“Perlukah hal itu kita bahas sekarang?’’ Tanya Riva, membuat Riri dan yang lain terdiam, “Yang menerima operannya adalah aku, jadi kalau kamu ingin menyalahkan seseorang, bukankah aku yang tidak bisa menendangnya dengan baik sehingga bolanya tidak masuk?’’ Tutur Riva.
“Apa yang kalian lakukan? Beristirahat dan isilah stamina kalian.’’ Ucap Rian berusaha mencairkan suasana.
“Vik,’’ Shila ingin mengatakan sesuatu pada Vika yang ada di depannya.
“Aku ke toilet dulu.’’ Ucap Vika kemudian pergi.
“Aku akan…’’
“Biarkan dia sendiri Shil,’’ Rian menghentikan Shila yang ingin menyusul Vika, “Ini pertama kalinya dia bermain setelah sekian lama, dia akan segera menyesuaikan diri.’’ Jelas Rian kemudian.
Mendengar hal itu Shila pun setuju dan tidak jadi menyusul Vika. Sementara Vika, ia terdiam dalam heningnya toilet, menatap dirinya dalam cermin besar, wajah dan seragam yang penuh peluh, semuanya terlihat jelas dalam cermin itu. Ia menghela nafas dan memalingkan pandangannya kearah lain kemudian pergi.
Seseorang dengan senyum yang mengembang di bibirnya menanti Vika di depan toilet, membuat Vika sangat terkejut, “Ki, Kian.’’ Ucap Vika singkat.
***
__ADS_1