Vika

Vika
Tante Lina


__ADS_3

Di ruang kepala sekolah SMU khusus perempuan, terjadi perdebatan hebat antara Vika dan kepala sekolah.


"Maaf bu, dari awal saya sudah mengatakannya kepada ibu, kalau saya tidak suka belajar berkelompok. Jadi saya tidak bisa mengikuti perlombaan berkelompok seperti itu!” Jelas Vika, ia tak bermaksud tidak sopan, ia juga tahu maksud kepala sekolah melakukannya. Tapi ia hanya ingin kepala sekolah menepati janjinya. Janji kalau kepala sekolah mengizinkan Vika lomba perorangan.


“Tapi kamu tidak bisa seperti itu terus, Vika. Saya memahami kalau selama ini kamu masih beradatasi dengan lingkungan sekolah. Tapi ini sudah hampir satu semester, kamu tidak bisa terus menyendiri. Mulai sekarang kamu harus bisa belajar berkelompok, kamu harus mengikuti pelajaran olahraga dan kamu harus bisa bergaul dengan teman-temanmu, atau dengan terpaksa ibu...” kepala sekolah tak bisa meneruskan kata-katanya.


“Ibu mau mencabut beasiswa saya?” Vika melanjutkan lalu terdiam sejenak menunggu jawaban dari kepala sekolah, “Silahkan bu, saya tidak keberatan! Saya akan bayar uang sekolah saya mulai bulan ini. Kalau begitu saya permisi!” Sambung Vika, ia memang sudah mendapatkan penghasilan dari pekerjaan part timenya sebagai seorang penulis, ia mengikuti berbagai perlombaan menulis dan mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah satu blog lomba yang ia juarai.


Kepala sekolah terlihat terkejut dengan apa yang Vika ucapkan.


"Oiya bu, satu hal lagi, bisakah ibu menggunakan nama orang lain ketika pengumuman pemenang lomba diumumkan jumat ini?” Pintanya kemudian, ia benar-benar tak ingin menjadi pusat perhatian, selama setahun bersekolah disini ia berusaha sebaik mungkin agar kesalahannya tak terulang.


“Apa maksud kamu? Itu adalah hak kamu sebagai pemenang lomba, ibu...”


“Tolonglah bu,” Pinta Vika sangat, ia terpaksa memotong kata-kata kepala sekolah, “Aku permisi!” ucapnya kemudian ia beranjak pergi, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang wanita paruh baya yang ia kenal dibalik pintu yang ia buka.


“Vika!” Wanita itu kaget.


“Apa kabar tante?” Ucap Vika berusaha setenang mungkin, ia sangat kaget, tapi ia tak bisa menunjukannya pada tantenya, Dokter Lina.


“Kamu sekolah disini?” Tanya wanita yang ternyata adalah tantenya Vika itu tidak percaya kalau ia melihat keponakannya –Vika- disini.


Vika hanya mengangguk, ia merasa tak ada yang perlu ia katakan pada tantenya.


“Ya ampun... kenapa kamu tidak menghubungi tante?” Sambungnya berusaha memulai percakapan.


“Aku tidak tahu kalau tante tinggal dikota ini.” Ucap Vika, “Apalagi berhungungan dengan sekolah ini.” Sambungnya dengan nada yang kecil, mengingat percakapan kepala sekolah di telpon tentang kedatangan ketua komite sekolah. “Harusnya aku tahu kalau pendengaranku sangatlah baik!” Batin Vika mengingat ia merasa pernah mendengar suara sang penelpon.


“Em, tante dan om sudah setahun tinggal di kota ini. Kapan-kapan jangan lupa mampir kerumah ya!” Ucap Tante, tak dapat di pungkiri dari wajahnya ia sangat senang bertemu dengan Vika, keponakan kesayangannya yang selama ini ia cari kini ada dihadapannya.

__ADS_1


“Lalu sekarang kamu tinggal dimana?” Tanya tante penasaran, “Bunda, Aldo dan Nenek bagaimana mereka?” Tanyanya kemudian karena Vika tak kunjung menjawab.


Vika tersenyum dingin, “Bukankah tante yang lebih mengetahui hal itu?” Tanya Vika, “Aku cukup yakin, kalau tante hanya ingin mengetahui apa yang ada di pikiranku sekarang.” Tanyanya kemudian sesaat sebelum tantenya akan mengatakan sesuatu, dokter Lina adalah dokter bedah umum, yang pernah kuliah psikologi, jadi Vika tahu maksud dari pertanyaan- pertanyaan yang ia dapatkan.


“Vik...”


“Tante, Kalau saja aku tahu tante tinggal di kota ini, tentu saja aku tidak akan datang kesini, apalagi bersekolah di sekolah ini!” Sambung Vika kemudian beranjak menuju kepala sekolah yang tengah duduk, “Maaf bu, tentang lomba yang ibu katakan tadi. Kalau Ibu tetap mendaftarkan saya, alangkah lebih baik bila ibu mengeluarkan saya dari sekolah ini karena saya tidak akan pernah mengikuti lomba itu. Apalagi saran yang ibu berikan tadi, saya...”


“Vika!” Suara tante Vika meninggi, ia tak percaya kalau keponakannya bersikap seperti itu pada seorang kepala sekolah.


“Tante, aku harap tante tidak mencampuri urusanku!” Ucap Vika berusaha menjernihkan pikirannya kemudian beranjak pergi namun lagi-lagi langkahnya terhenti.


“Vika, kita bisa membicarakannya baik-baik Vika, kita bisa menyelesaikan semuanya. Tapi kamu harus mendengarkan tante!” Ucap Tante lembut, “Tante janji akan berusaha sebaik mungkin, bunda kamu juga. Kamu tahu kan bagaimana khawatirnya bunda kamu? Jadi...”


“Kalau tante tahu hal itu, lebih baik tante tidak mengatakan sama bunda, kalau aku disini!” Ucap Vika, “Kalau begitu saya permisi, maaf atas ketidak sopanan saya!” kali ini Vika benar-benar pergi sedangkan tantenya bingung harus berkata apalagi. Ia menyesal karena sudah terlalu memaksa Vika seperti itu dipertemuan pertama mereka yang memang tidak pernah direncankannya, ia benar-benar menyesal.


“Apa yang sebenarnya terjadi Lin?” Tanya Kepala sekolah pada tante Vika –Lina- yang sekarang sedang terduduk di sofa, “Kamu kenal dengan Vika?” Tanyanya kemudian.


“Keponakan?” Mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu kepala sekolah sangat terkejut, banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya mengenai Vika, bagaimana mungkin seseorang seperti Vika... Benaknya membatin namun ia segera menghapus pertanyaan seperti itu. Tidak bisa, berpikirlah objektif An. Ya, kamu harus berpikir objektif. Pikirnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


“Oiya An, dulu Vika dikeluarkan dari Sekolahnya, dia tidak punya Izajah lalu bagaimana mungkin dia bisa masuk ke sekolah ini?” Tanya Lina kepada kepala sekolah –Ana- sambil menenangkan dirinya, ia harus berpikir jernih sekarang, ia harus tahu tentang Vika yang sekarang, Pikirnya.


“Dikeluarkan?” Ana bingung.


“Ya, dia dikeluarkan karena suatu hal!” Jawab Lina bingung harus mengatakan apa.


“Setahuku dia masuk dengan Izajah lengkap melalui tes mandiri dan mendapatkan nilai terbesar!” Jelas Kepala.


“Terbesar?" Lina bingung, "Tunggu, aku tahu Vika dari kecil, nilainya memang diatas rata-rata, tapi untuk mendapatkan nilai terbesar...” Lina ragu karena ia sangat tahu dengan kemampuan nilai keponakannya itu.

__ADS_1


“Tapi nilainya pada saat ujian masuk sempurna, dia benar-benar mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran dan mendapat beasiswa penuh dari sekolah.” Ucapan Ana itu menghilangkan keraguan dari benak Lina.


“Beasiswa ya. Mungkinkah karena itu?” Batin Lina kemudian dia duduk dikursi tamu ruangan itu.


“Apa yang sebenarnya terjadi Lin?” Ana penasaran dengan sikap Lina, namun Lina tetap diam, “Aku sejujurnya punya banyak pertanyaan tentang Vika, tapi aku tidak tahu harus bertanya pada siapa. Orang tua Vika, aku benar-benar tidak mengerti, setiap kali aku minta Vika membawa orang tuanya ke sekolah dia selalu mengatakan kalau mereka tidak bisa datang.” Ucap Anna bingung, “Sikapnya, perilakunya, aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya!” Sambung Anna kemudian ikut duduk disamping Lina.


“Apa yang dia lakukan?” Lina penasaran kenapa Anna terlihat putus asa karena Vika.


“Dia selalu menjaga jarak dari teman-temannya, juga mendapat teguran dari para guru karena ia selalu mengerjakan tugas-tugas kelompok seorang diri, terlebih...dari guru olahraga karena ia tak pernah sekalipun mengikuti kelas olaraga sejak masuk ke sekolah ini.” Jelas Anna, “Awalnya aku kira ia melakukan itu karena sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya, tapi ini sudah akhir semester. Aku tidak bisa mentolelir sikapnya lagi meski memang dia banyak membantu untuk sekolah ini dengan memenangkan beberapa olimpiade sekolah, tapi...” Sambungnya kehabisan kata-kata.


Sementara Lina yang mendengarnya terus mencerna apa yang dikatakan sahabatnya itu, ia benar-benar mencerna setiap kata yang Anna ucapkan, namun ia sama sekali tidak mengerti.


“Lin, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dia...apa dia dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena masalah yang sama?” Tanya Anna berharap ia akan menemukan titik terang untuk masalah Vika.


Tapi Lina tidak menjawab, ia masih bergelut dengan batinnya.


“Lalu orang tuanya, kenapa mereka tak kunjung datang ke sekolah ini meski kami telah mengirimkan undangan resminya!” Sambung Anna.


“Lin, Lina!” Anna berusaha menyadarkan Lina yang terus bergelut dengan batinnya, “Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dulu sampai ia bersikap seperti itu. Aku, aku ingin membantunya.” Ucapnya ketika Lina menyadari keberadaan dan pertanyaan-pertanyaannya.


“Aku tidak tahu harus bagaimana!” Lina bingung.


“Kalau begitu ceritakan padaku dan aku akan berusaha membantu sebisa mungkin!” Ucap Anna meyakinkan Lina.


“Aku sudah tiga tahun ini mencarinya kemana-mana, kami kehilangan kontak dengannya, kami hampir putus asa karena tak kunjung menemukannya. Tapi syukurlah, akhirnya aku menemukannya, aku, tak akan membiarkannya pergi lagi!” Ucap Lina dalam harunya, ia benar-benar senang, tapi tak dapat dipungkiri ia juga sedih karena Vika sekarang berbeda dengan yang dulu.


“Vika, dia adalah anak dari kakakku –Varado- dan cucu perempuan pertama di keluarga besar kami. Semuanya menyambut kelahiran Vika dengan Sukacita, dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang sampai Vika tumbuh menjadi anak perempuan penurut dan baik, dia ceria, mudah bergaul hingga punya banyak teman.” Ucap Lina, sementara Anna terus mendengarkan cerita Lina.


“Kepergiannya dari rumah diawali oleh hobinya pada sepak bola yang diturunkan oleh ayahnya sendiri. Sejak kecil dia dan ayahnya senang sekali menonton pertandingan sepak bola, hingga ia mengikuti kegiatan klub di bangku sekolah dasar. Lalu suatu hari ketika dia dan ayahnya ingin menonton pertandingan sepak bola di stadion **** tiba-tiba stadion itu runtuh karena gempa dan ayahnya meninggal ketika melindunginya dari reruntuhan. Saat itu meski kesedihan melanda keluarga kami, kami bisa mengatasinya dengan cepat dan Vika juga bisa menerimanya meski berat. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan karena saat itu ia adalah seorang kakak dari bayi laki-laki lucu. Dia sangat menyayangi adiknya, ia ikut membesarkan adiknya dengan baik. Namun saat semester pertama di kelas 2 SMP, dia tiba-tiba dikeluarkan, dan itu membuatnya sangat sedih. Kami sekeluarga sejujurnya tidak begitu mengerti kenapa ia di keluarkan dari sekolahnya. Saat itu pihak sekolah hanya memberitahu kalau Vika adalah penyebab sahabatnya –Shila- menjadi koma, sehingga banyak orang tua murid yang menginginkan Vika dikeluarkan karena tak ingin anak-anak mereka menjadi korban seperti Shila. Vika pun dikeluarkan secara tidak hormat.” Lina kehabisan kata-kata.

__ADS_1


“Aku dan keluargaku tentu saja tidak menerima tuduhan itu. Kami memaksa pihak sekolah untuk menyelidikinya, kami yakin kalau itu adalah kesalahpahaman saja. Dan kami juga memaksa Vika untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi namun dia diam seribu bahasa. Saat itu ibuku, nenek Vika marah karena kebungkamannya dan ia juga terus mengurung diri dikamar, selama seminggu dia terus mengurung diri hingga...” pikiran Lina melayang ke kejadian saat Vika diusir dari rumah tahun lalu.


***


__ADS_2