
Di taman Universitas Jayabaya yang rindang...
“Duhh...gimana lagi ni caranya? Aneh banget, ini kesini udah bener, kesini juga bener. Apa coba yang salah?” Salah seorang mahasiswa sedang duduk dan berkutik dengan buku kalkulus yang kebingungan seorangd iri.
“Harusnya itu diubah dulu satuannya!” Ucap seorang gadis yang tengah asik menyapu.
Mahasiswa itu menoleh keasal suara, memperhatikan gadis itu dengan seksama.
“Eh, ma, maaf ka. Sa, saya...”
“Kamu, tadi bilang apa?” Tanya mahasiswa itu.
“Ah, ti, tidak ada. Ma, maaf!” Ucap gadis itu kemudian beranjak pergi.
“Tunggu, tunggu!” Mahasiswa menghentikan langkah gadis itu, “Tidak bisakah kamu memberitahuku apa yang salah?” Mahasiswa itu terdengar putus asa, “Besok aku ada Ujian bab ini dan aku sama sekali tidak mengerti, tidak bisakah kamu membantuku?” Tanyanya kemudian.
“Eh?” Gadis itu bingung, ia merasa kasihan juga mendengar kata-kata mahasiswa itu.
Mahasiswa itu menatapnya dengan penuh harapan, perlahan langkah gadis itu mendekati meja tempat buku itu diletakkan.
“Seharusnya kakak mengubah satuan ini menjadi inci, dan ini dikalikan kesini, lalu yang ini, ini adalah titik awal dan seharusnya titik akhrinya 10. Jadi hasilnya sama dengan kunci jawabannya.” Papar gadis itu.
“Oh, jadi aku salah disini! Ya ampun...**** banget sih!” Ucap si mahasiswa, “Oh iya, kamu mahasiswa tingkat berapa?” Tanyanya.
“Eh, a, anu. A, aku...” Gadis itu bingung harus menjawab apa, ia hanya menunjukan sapu yang ia pegang.
“Maksud kamu, kamu yang suka bersih bersih disini?” Tanya mahasiswa itu kaget, dan gadis itu hanya mengangguk, “Tapi kamu terlalu muda untuk bekerja seperti itu. Berapa usiamu? Sepertinya kamu juga terlalu muda untuk menjadi mahasiswi.” Ucap mahasiswa itu.
“Ye? Itu, aku...” Gadis itu terlihat bingung.
“Vika!” Terdengar suara seseorang memanggil.
“Maaf, aku harus pergi!” Ucap gadis itu kemudian berlari pergi meninggalkan mahasiswa yang penasaran karena belum ada jawaban yang ia harapkan.
“Vika, jadi namanya Vika!” Ucap Mahasiswa itu dengan senyuman mengembang di bibirnya.
***
“Vika!” Ucap seseorang yang tengah berjalan perlahan dibelakang seorang gadis.
Gadis yang dipanggil Vika itu membalikkan badannya, “Ka, kakak?” Ucapnya terkejut ketika melihat orang yang memanggilnya adalah mahasiswa yang tadi pagi ia temui, “A, ada perlu apa?” Tanyanya kemudian.
“Hanya ingin mendengar jawaban dari pertanyaanku yang belum kamu jawab!” Ucap sang Mahasiswa.
Mendengar perkataan itu Vika terlihat bingung, “I, itu...” Ia terlihat ragu.
“Tenanglah, aku tidak berniat jahat. Namaku Ardi Herdiansyah, mahasiswa tingkat pertama fakultas Kedokteran.” Papar mahasiswa bernama Ardi itu memperkenalkan diri, ia kemudian tersenyum, “Aku sebenarnya hanya ingin meminta bantuanmu untuk mengajariku Kalkulus, tidak bisakah kamu membantuku?” Tanya Ardi ketika melihat Vika ragu untuk berkomunikasi dengannya.
“Aku tidak akan menanyakan apapun, asal kamu mau membantuku!” Sambungnya, “Atau bisakah kamu menjadi guru lesku? Dari pada kamu bekerja ditoko itu sampai selarut ini, aku akan membayar seperti kamu dibayar ditoko itu. Bagaimana? Tidak bisakah?” Tanya Ardi, ia terlihat sangat berharap Vika mau membantunya.
“Aku...maaf, aku tidak bisa membantu kakak. Aku hanya seorang anak SMP yang putus sekolah, bagaimana mungkin aku bisa membantu kakak!” Ucap Vika berusaha menolak dengan sopan.
“Ye? SMP? Kamu masih SMP?” Ardi bingung, dan Vika hanya mengangguk, ‘Iya sih anak SMP sekarang tumbuh lebih cepat dari pada angkatanku dulu! Tapi...’ batinya, “Tapi kamu bisa memecahkan soalku tadi pagi?” Tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Oh, itu, kalau itu, aku melihat kakak dari kemarin mengerjakan soal itu, jadi...jadi...” Vika bingung sendiri.
“Sorry sorry, aku pasti terlalu memaksamu, kalau begitu lupakan permintaanku tadi. Lebih baik kamu segera pulang ini sudah sangat malam, ayo aku akan mengantarmu, tidak baik seorang gadis pulang malam sendiri.” Ardi merasa tidak enak karena memaksa Vika.
“Tidak perlu ka, aku bisa pulang sendiri kok. Lagi pula tempat tinggalku dekat dari sini.” Ucap Vika.
“Tidak, biarkan aku mengantarmu.” Ucap Ardi kemudian beranjak pergi dengan diikuti oleh Vika dibelakangnya.
Saat sampai taman kampus, “Aku akan membantu kakak, kakak membawa bukunya bukan?” Tanya Vika, Ardi sedikit terkejut, tapi ia senang karena Vika mau membantunya, lalu Vika pun mengajari Ardi.
“Itu saja yang bisa aku ajarkan pada kakak,” Ucap Vika ketika selesai mengajari Ardi.
“Wah...penjelasanmu mudah dipahami, aku jadi mengerti soal-soal ini.” Ardi terlihat senang.
“Syukurlah kalau kakak mengerti.” Ucap Vika, “Kalau begitu aku pamit masuk ke mes!” Sambungnya.
“Tunggu,” Ardi menghentikan langkah Vika, “Apa besok kamu bisa mengejariku lagi?” Tanyanya.
Vika terdiam karena bingung harus bagaimana, ia ingin membantu Ardi, tapi ia...
“Bisakah kamu mempertimbangkan permintaan yang aku katakan tadi?” Sambung Ardi tahu kalau sebenarnya Vika ingin membantunya, “Dua jam saja,” Pintanya.
“Aku permisi!” Ucap Vika masih dalam bingungnya sehingga ia pun memutuskan untuk pergi tanpa menjawab pertanyaan Ardi.
***
“Gila, kok peringkat lo mendadak naik gini Di?” Seorang pemuda bernama Tony tidak percaya melihat peringkat Ardi naik dari peringkat 30 ke peringkat 5.
“Hayo, elo nyontek ya?” Pemuda lain bernama Pulung curiga.
“Enak aja nyontek. Gue usaha bro, usaha!” Ucap Ardi bangga.
“Wah, usaha apa lo? Nyepet?” Tanya Tony sambil tertawa disusul oleh tawaan Pulung.
“Sialan kalian,” Ucap Ardi sambil tertawa, ia tahu kalau kedua temannya itu hanya bercanda.
“Jadi usaha apa yang lo lakuin?” Tanya Pulung.
“Ge minta ajarin sama...” Ucap Ardi menggantung kata-katanya, “Ada deh...” Sambungnya membuat kedua temannya itu penasaran.
“Diajarin sama siapa sih?” Tanya Tony.
“Tentu saja sama seseorang yang, TOP!” Jawab Ardi samba mengacungkan jempolnya.
“Wah serius lo? Siapa?” Pulung penasaran.
“Ada deh, yang pasti gue baru ketemu dia kemaren, terus gue minta dia buat mengajarin, yah... awalnya dia nggak mau sih, tapi akhirnya tadi malam dia mau juga ngajarin gue. Penjelasannya gampang banget dimengerti. Sampe nggak percaya bisa naik ke peringkat lima.” Ucap Ardi senang.
“Wah, becanda ni? Masa baru diajarin kemaren lo udah bisa naek ke peringkat 5 sih?” Pulung tidak percaya.
“Ya udah kalau nggak percaya, gue kan nggak minta kalian percaya. Udah ah, gue mau ketemu guru gue dulu. Bye...” Ardi pun beranjak pergi dari ruang kelas.
Lalu...
__ADS_1
Vika yang sedang membersihkan taman belakang yang sepi itu kaget melihat Ardi menghampirinya dan menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang dan pita di atasnya.
“Ucapan terimakasih, karena kamu mengajariku kemarin malam and peringkatku jadi naik!” Jelas Ardi tahu.
“Tapi kakak mendapatkan nilai itu karena usaha kakak sendiri.” Ucap Vika karena tak bisa menerima apa yang Ardi berikan padanya.
“Tapi kalau kamu tidak mengajariku, mana bisa aku mengerti dengan begitu mudah.” Ardi meletakkan kotak itu di meja taman di samping Vika, “Aku harus kembali ke kelas, nanti malam aku akan menunggumu selesai bekerja di toko.” Ucap Ardi kemudian pergi.
Malam harinya...
“Maaf ka aku tidak bisa menerimanya.” Ucap Vika menyerahkan kotak yang Ardi tinggalkan di taman ketika bertemu dengan Ardi sepulang ia bekerja di toko.
“Bukalah dulu, aku yakin kamu menyukainya.” Ucap Ardi yakin, “Kalau kamu memang tidak menyukainya, kamu boleh tidak menerimanya.” Sambungnya.
“Ta...”
“Bukalah.” Pinta Ardi.
Vika terdiam, dari tadi siang ia belum membuka kotak itu karena memang tak berniat menerimananya. Tapi mendengar Ardi berkata seyakin itu, ia penasaran juga apa isi kotak itu. Perlahan ia buka kotak itu dan...
“I, ini?” Vika melihat sebuah gantungan bola unik yang ia lihat di toko kemarin, ia bingung kenapa Ardi menghadiahkan gantungan itu padanya.
“Aku melihatmu memandangi gantungan itu kemarin, aku pikir kamu menyukainya. Jadi aku membelinya!” Jelas Ardi.
Perlahan jemari kecil Vika mencoba memegang gantungan itu, tapi entah kenapa jemarinya terhenti, ia terlihat ragu. Belum sempat Vika memegang gantungan itu, tangannya bergetar membuat kotak itu terjatuh. Vika pun ingin mengambil kotak itu namun...
“Kamu kenapa?” Tanya Ardi khawatir ketika melihat Vika yang akan mengambil kotak itu tiba-tiba terduduk di jalan.
Vika tidak menjawab, ia terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Vika,” Ucap Ardi khawatir, namun Vika tetap tidak menjawab, “Vika,” Ucapnya lagi, melihat Vika memejamkan mata dan mengigit bibirnya Ardi khawatir iapun memegang lengan Vika sambil mengguncangkan badan kecil didepannya.
“Ti, tidak.” Jawab Vika tersadar dalam lamunnya, “Aku tidak menyukainya, maaf.” Vika menyerahkan kotak ia ambil, kemudian berlari meinggalkan Ardi.
“Tunggu Vik, Vika!” Ardi mengambil gantungan yang belum Vika ambil kemudian mengejar Vika namun entah kenapa ia tak bisa mengejarnya.
Esok harinha...
"Bisa kita bicara?,” Tanya Ardi yang dari tadi sore menunggu Vika di depan toko.
“Ada apa?” Tanya Vika dingin.
“Kalau sikap ku menggangumu, aku minta maaf.” Ardi menyesal, ia tahu ia terlalu terburu-buru mendekati Vika, ia pikir Vika sangat menarik perhatian sehingga ia ingin berteman dengan Vika.
“Tak apa. Tapi aku harap kedepannya kakak tak menemuiku lagi.” Ucap Vika, saat itu terlihat kekecewaan di wajah Ardi. Tapi meski begitu Vika tak bisa berbuat apapun, ia hanya tak ingin berhubungan dengan siapapun lagi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, seperti yang terjadi pada Shila.
“Baiklah, terimakasih atas bantuanmu kemarin.” Ucap Ardi kemudian pergi.
Vika terdiam lama setelah Ardi pergi, ia terus terbayang wajak kecewa Ardi. Ia juga tahu Ardi adalah anak yang baik, tapi…
‘Nggak boleh,’ Pikirnya ketika ia ingin menghentikan Ardi, ‘Kamu tahu ini yang terbaik untuk semua orang.’ Sambungnya memantapkan hati.
***
__ADS_1