Vika

Vika
Akibat


__ADS_3

Malam itu, Desi -Nyonya kedua keluarga Hermawan, mama dari Lisa atau ibu tiri Shila selesai berkemas. Lalu...


“Tidak, pokoknya aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini. Berani sekali dia mengusir kita Ma, dia...”


“Hentikan, mama sudah tidak bisa mendengar omonganmu itu, kamu menghancurkan kepercayaan yang mama berikan padamu. Jadi diamlah dan kita pergi!” Ucap Mama, ia tak habis pikir pada anaknya. Lisa tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, ia bahkan dekat dengan adiknya, Shila. Tapi entah kenapa semakin menginjak masa SMA, Lisa semakin ke kanak-kanakan.


“Ma, mama dan Lisa akan pergi lusa ini ketika Bunda pulang. Jadi berkemaslah dengan santai!” Ucap Shila yang baru datang dan langsung menuju ke kamar Mama.


“Santai? Lo nggak salah ngomong, elo kira...”


“LISA!” Mama menghentikan kata-kata Lisa.


“Mama diamlah, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan tingkah anak ini. Mentang-mentang dia putri utama disini, dia mengusir kita begitu saja. Aku tidak akan tinggal diam, lihat saja kalau ayah pulang akan aku laporkan pada ayah!” Ucap Lisa.


“Kamu bilang apa?” Shila tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, “Tadi kamu bilang apa? Mentang-mentang putri utama? Aku?” Tanyanya kemudian dengan serius.


Mendengar pertanyaan itu Lisa tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh, entah kenapa ia tak bisa berkata-kata ketika menatap mata Shila, ia merasa takut. Ia memanh tak pernah melihat tatapan Shila yang seperti itu.


“Apa ayah dan bunda pernah membedakan antara aku dan kamu selama kamu tinggal disini? Apa aku pernah memperlakukanmu dengan tidak adil sebelum kamu menyakiti Vika? Apa aku, ayah dan bunda pernah memperlakukan kamu seperti orang asing?” Tanya Shila bertubi-tubi pada Lisa.


“I, itu...” Lisa terlihat bingung harus berkata apa, “Te, tetap saja. Kamu sekarang memperlakukanku seperti ini, kamu mengusirku seperti ini!” Sambung Lisa.


“Kamu pikir, kenapa aku melakukannya? Tidak sadarkah kamu, apa alasanku melakukan semua ini?” Tanya Shila.


“Heh? Tentu saja aku tahu. Kamu melakukannya karena sahabat pembawa si...”


“Ma, bisakah mama meninggalkan kami? Aku akan mengurusnya!” Pinta Shila memotong ucapan Lisa dan mama pun langsung menyetujuinya ia segera meninggalakan kamarnya.


“Bukankah sudah ku bilang kalau aku tidak ingin mendengar kata-kata itu. Aku mohon berhentilah! Perbaiki sikapmu, dan aku berjanji akan mengembalikan semua hakmu.” Ucap Shila ingin meyakinkan Lisa.


“Begitukah? Hee? Kamu pikir, aku akan percaya? Aku sangat yakin kalau kamu memang sengaja mengusirku dan mama dengan memanfaatkan kepergian Vika.” Ucap Lisa.


“Sepicik itukah aku dimatamu, kakak?” Tanyanya, dan ini adalah pertama kalinya dalam 2 tahun ini Shila memanggil Lisa dengan sebutan kakak.

__ADS_1


“Tentu saja, aku yakin kamu ingin menguasai semua harta ini sendiri.” Lisa bersikukuh.


“Itukah yang kamu pikirkan?” Tanya Shila, “Dengarkan aku baik-baik, bila memang tujuanku adalah ingin menguasai semua harta disini, bukankah lebih baik dari awal aku tidak menerima kedatangan kalian?”


“Tapi aku yakin itu tujuanmu!” Lisa bersikukuh dan tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga dimeja hingga pecahannya berserakan dilantai dan beberapa mengenai betis Shila.


Shila tidak tahu harus berkata apa, ia kehabisan kata-kata untuk menghadapi Lisa, dia sangat bingung.


“Apa yang kalian ributkan? Kenapa kalian membuat kamar mama kalian berantakan seperti ini?” Tanya Heri, Ayah Shila dan Lisa yang baru datang.


“Ayah, ayah sudah datang.” Lisa terlihat senang melihat ayahnya yang menghampiri mereka, “Tahukah ayah apa yang dilakukan Shila? Dia berani menusirku yah, lakukanlah sesuatu!” Pinta Lisa.


Ayah menatap Shila yang terdiam, “Maaf sayang,” Ucap ayah singkat karena tak bisa berbuat apapun.


“Maaf? Maksud ayah, ayah tak bisa melakukan apapun?” Lisa kecewa, “Elo liat kan, ayah lebih sayang sama lo dari pada gue!” Lisa marah.


“Jaga ucapanmu, Lisa. Tidak bisakah kamu lebih sopan di depan ayah?” Shila tidak suka.


“Tapi apa yang gue bilang itu kenyataannya, ayah lebih sayang elo dari pada gue.” Lisa mengulangi ucapannya tadi.


“Ayah…” Shila bermaksud memotong perkataan ayahnya.


“Lisa harus tahu Shil,” Tapi Heri kembali memotong perkataan Shila.


“Tidak ayah, ayah tidak perlu mengatakannya!” Shila terlihat panik.


“Tidak sayang, ayah harus mengatakannya. Dengan begini tidak ada kesalahpahaman lagi!”


“Ta...” Shila tak kuasa meneruskan kata-katanya karena senyuman ayahnya yang melarangnya.


“Kamu ingin tahu kenapa ayah tidak melakukan apapun untukmu?” Tanya ayah, dan Lisa menantikan jawabannya. “Itu karena Shila adalah pembuat keputusan terbaik dirumah ini, tidak bukan hanya rumah ini, tapi perusahan juga keluarga besar kita. Dialah yang selalu membuat keputusan entah sekecil atau sebesar apapun Perkaranya.” Jelas ayah, mendengar itu Lisa malah bingung.


Ayah tersenyum, “Besarnya perusahaan yang ayah pimpin adalah karena usaha Shila yang menjadi tim penasehat. Jadi ayah tahu Shila melakukan ini padamu adalah untuk kebaikanmu. Bukan untuk kepentingan pribadinya.” Sambung ayah.

__ADS_1


“Apa maksud ayah?” Lisa kaget mendengar apa yang ayahnya katakan itu.


“Ayah ingin kamu mengerti dan belajar untuk menjadi lebih baik.” Jawab ayah.


***


“Kak, aku harap kakak mengerti dan tidak salahpaham dengan apa yang Shila lakukan!” Bunda mengantar kepergian Mama dan Lisa saat datang dari tugasnya di rumah sakit. Ia suduh tahu permasalahan yanh terjadi ketika ia tidak ada dari sekretaris lau, sekretaris pribadi suaminya.


“Emm, tentu. Aku hanya tidak menyangka Lisa bisa berbuat sampai seperti itu!” Mama terlihat kecewa.


“Jangan khawatir ka. Dulu Shila juga seperti itu, selalu melakukan apapun semaunya sampai kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi ketika dia bertemu Vika, dia berubah, sangat berubah. Dia jadi bisa lebih mengerti orang lain. Jadi aku yakin, Lisa juga bisa berubah.” Bunda menenangkan Mama.


Mendengar penuturan Bunda, mama sedikit terkejut, “Emm, aku akan berusaha sebisaku untuk membimbingnya.” Ucap Mama.


“Ma, aku tetap akan memberikan semua hak mama, aku hanya mengambil beberapa hak Lisa. Tapi aku berjanji, aku akan mengebalikan semua hak Lisa pada waktunya!” Ucap Shila ketika sampai di tempat tinggal Lisa dan mama yang baru.


“I, ini?” Lisa terkejut dengan apa yang ia lihat.


“Ya, ini adalah rumahmu yang dulu. Sekarang kamu akan tinggal disini lagi sampai kamu menyadari kesalahanmu!” Ucap Shila pada Lisa yang terdiam didepan sebuah rumah.


“Apa kamu menghinaku?” Lisa kesal.


“Menghina? Kenapa aku harus melakukannya?” Shila berbalik tanya, ia hanya ingin Lisa mengenang masa kecilnya yang bahagia meski dalam keadaan yang tidak berkecukupan.


“Lalu kenapa kamu membawaku ketempat ini?” Tanya Lisa, ia merasa Shila hanya ingin menghinanya dengan membawanya ke rumahnya yang lama. Ia hanya ingat masa masa tidak menyenangkannya di rumah itu, di lingkungan itu.


“Kenapa? Perlukah kamu menanyakan itu? Ayolah, aku memberikan keringanan dengan tidak memindahkanmu dari sekolah, aku juga sudah mempersiapkan semuanya. So kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun!” Ucap Shila.


“Kamu...”


“Lisa,” Mama memotong kata-kata Lisa, “Bukankah semalam kita sudah sepakat!” Sambungnya.


“Tapi ma...”

__ADS_1


“Sayang, bunda dan ayah akan selalu mengunjungimu disini. Jadi kamu tidak usah khawatir!” Bunda membantu menenangkan Lisa, namun Lisa tetap terlihat tidak senang.


***


__ADS_2