Vika

Vika
Saat itu...


__ADS_3

Ingatan dokter Lina melayang ke tiga tahun lalu, saat Kakak iparnya, Bundanya Vika menceritakan semua kejadiannya, seperti ia sendiri ada disana.


pagi hari itu di belakang rumah Vika, ia terus saja menembakkan bola kearah gawang kecil milik adiknya dan semua tembakannya itu masuk. Ia terlihat bergumam kesal sambil terus menembakkan bola itu lagi, lagi dan lagi hingga ia merasakan pergelangan kakinya sakit, sangat sakit, tapi ia tak kunjung menghentikan tembakan itu. Ia terus melakukannya hingga siang, tembakan kaki kanannya itu tetap masuk kedalam gawang yang kecil itu.


“Sial, sial, sial!” Gumamnya kesal, namun tetap mengambil bola dan menendangnya kembali ke gawang kecil.


Ia terlihat semakin kesal dan terus menendang bolanya hingga kakinya benar-benar mencapai batas, ia sangat kesakitan namun ia tetap tak ingin berhenti menendang. Sambil terpincang-pincang ia mengambil bola dan menendangnya lagi dan lagi hingga ia menendang dengan sisa kekuatannya namun meleset mengenai dinding pembatas rumahnya kemudian memantul kearah lain. Saat itu ia sangat kelelahan, tiba-tiba...


“Ka, ka I, Ica...” Terdengar adik semata wayangnya yang baru bisa berbicara terbata-bata berlari menuju kearahnya, namun Kian yang melihat bola segera berlari kearah bola yang tadi memantul ke tembok ingin menangkapnya.


“Jangan Kiaan...” Vika berlari kearah, ia tak ingin Kian menangkap bola yang ia tendang dengan sekuat tenaga itu karena perputaran bola menjadi semakin cepat dan kuat.


“Kian,” terdengar Ibu nya Vika khawatir dan ikut berlari kearah Kian.


Namun Vika dan Ibunya terlambat, bola itu sudah mengenai dada Kian hingga ia terseret dan tercebur ke kolam renang. Vika pun segera terjun ke kolam untuk menolong Kian, namun...

__ADS_1


“Kian,” Vika memeriksa keadaan Kian, namun Kian tak sadarkan diri, Vika yakin ia langsung mengangkatnya tadi, jangan-jangan... ia memeriksa perut Kian.


“Bunda, ayo kita bawa kerumah sakit bunda!” Ucap Vika dan segera mereka pun membawa Kian ke rumah sakit.


“Apa yang kamu lakukan?” Neneknya terlihat terkejut melihat Kian terbaring pingsan.


“Nenek." Vika kaget dengan nada tinggi neneknya, selama ini neneknya belum pernah menggunakan nada tinggi ketika berbicara dengannya.


“Pergi,” Ucap Nenek sambil mendorong Vika yang akan membawa Kian sampai Vika terjatuh diantara kerikil taman yang membuat tangannya terluka.


“Ayo Kian, nenek akan membawamu kerumah sakit!” Neneknya kemudian membopong Kian dan membawanya ke rumah sakit. Namun ketika Vika akan ikut neneknya melarangnya dengan keras.


"Kalau terjadi sesuatu dengan cucukku, lihat saja nanti. Dasar pembawa sial." Ucap nenek dalam kemarahan.


"Apa aku benar-benar pembawa sial?" Tanyanya pada dirinya sendiri karena mengingat katak-kata Lisa.

__ADS_1


"Sayang, saat ini nenekmu sedang panik, jangan pikirkan apa yang dikatakan nenekmu barusan. Sekarang tinggalah di rumah, ibu akan segera mengabarimu." Ucap bunda dan pergi menyusul nenek.


***


“Saat aku datang, kondisi Kian kritis dan ibuku terus saja menyalahkan Vika, terlebih mengingat kejadian yang menimpa putranya Varado -Ayah Vika-, ibu semakin kalut dan meminta Vika untuk pergi.’’ Lina tak bisa berkata-kata lagi, membayangkan bagaimana perasaan Vika saat itu saja ia tak sanggup.


“Tenanglah Lin, itu semua sudah terjadi dan bukan kesalahan kamu.’’ Anna menenangkan Lina.


“Tapi An, bayangkan saja, seorang anak berusia 12 tahun di keluarkan dari sekolahnya, disalahkan karena sahabatnya sendiri koma, terlebih disalahkan karena ketidak sengajaannya melukai adiknya sendiri, dan disalahkan karena meninggalnya ayahnya. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia saat itu. Lalu yang lebih parahnya lagi, Vika hanya membawa tas punggung juga 2 pasang pakaiannya dan uang yang tak tahu berapa yang ia punya. Ia bahkan tak membawa celengan yang ia kumpulkan selama 3 tahun terakhir.’’ Lina tak kuasa menahan air matanya.


Mendengar cerita itu Anna tak bisa berkata-kata lagi, ia bingung harus bagaimana menanggapinya. Cerita itu bagaikan cerita dalam sebuah sinetron di Tv, seorang anak yang pergi dari rumah karena dipersalahkan atas kesalahpahaman semata.


"Apa itu alasan Vika bersikap dingin seperti sekarang?" Tanya Anna. Ia sungguh ingin membantu Vika, bagaimanapun juga Vika adalah anak yang pintar dan akan semakin bersinar kalau ia bisa menghadapi permasalahannya.


"Entahlah. Aku harus tahu dulu, bagaimana kehidupannya selama 2 tahun terakhir." Jawab Lina,ia merasa harus mengetahui hal itu dan apa yang Vika pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2