Vika

Vika
Kesalahan part 1


__ADS_3

Shila melangkahkan kakinya dengan cepat keruangan kepala sekola, beberapa temannya menyapanya senang karena ia telah siuman. Namun, ia tak mendemgarnya karena fokusnya sekarang adalah untuk menemui kepala sekolah dan meminta penjelasannya


“Maaf nona, kepala sekolah sedang rapat dengan komite. Jadi anda...” Ucap Sekretaris sekolah di SMA Kusuma Negara, namun Shila tak memperdulikan ucapan sang sekretaris, ia terus saja melangkahkan kakinya menuju ruang rapat utama dan membuka pintu dengan kasar.


“Shila, kamu sudah siuman sayang?” Ucap seorang wanita yang tengah duduk disalah satu kursi di ruang rapat senang.


Shila berhenti sejenak, "Sudah ma," Ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya dan sampai di depan kepala sekolah.


“Shila, kamu...”


“Apa alasan ibu mengeluarkan Vika dari sekolah?” Tanya Shila dengan tegas, ia harus mengetahui alasan sebenarnya dikeluarkan Vika dari sekolah ini.


Mendengar pertanyaan itu kepala sekolah terdiam, “Tenanglah dulu Shil, bukankah kamu...”


“Tidakkah ibu mendengarku?” Tanya Shila, kali ini ia menanyakannya dengan serius, dan semua orang yang ada di situ tahu dengan pasti aura Shila berbeda dari biasanya.


“Itu sudah keputusan sekolah, Shila. Kami sudah menyelidiki semuanya, dan Vika bersalah. Bahkan ada beberapa orang saksi yang melihatnya!” Jelas Kepala sekolah.


“Menyelidiki? Anda yakin itu?” Tanya Shila, ia sangat tahu standar penyelidikan disekolah ini.


“Te, tentu saja Shil, kami...”


“Tapi aku sama sekali tak merasa memberikan keteranganku sebagai korban.” Ujar Shila memotong kata-kata kepala sekolah.


“Te, tentang itu... kami...” Kela sekolah terlihat ragu mengatakannya


.


“Lalu siapa saksinya? Lisa dan kawan-kawannya?” Tanya Shila, ia berusaha menenangkan diri.


Kepala sekolah hanya bisa menganggukan kepala.


“Heh?” Shila tertawa sinis, “Jadi anda langsung mempercayai kemudian mengeluarkan Vika begitu saja tanpa mengkonfirmasi kebenarannya padaku?” Perkataan yang merupakan pertanyaan Shila pada Kepala sekolah itu membuat orang-orang dalam ruangan itu kaget, mereka sepertinya bingung dengan apa yang terjadi.


“Shila, ada apa?” Wanita separuh baya itu bingung dengan apa yang mereka bicarakan.


“Maaf Ma. Aku tidak bisa berbicara dengan Mama sekarang, aku...” Kata-kata Shila terputus karena seseorang memaksa masuk kedalam ruangan.


“Lisa?” wanita yang Shila panggil Ma itu bingung melihat Lisa tiba-tiba masuk.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Lisa tanpa memperdulikan sekelilingnya.


Sesaat Shila menatap tajam Lisa, namun ia lebih ingin mendengarkan jawaban dari kepala sekolah, “Ibu kepala sekolah, tidak bisakah ibu menjawabku?” Tanya Shila tanpa memperdulikan kata-kata Lisa.


“SHILA!” Lisa berkata dengan nada tinggi, ia terlihat panik.


“Kamu berbicara padaku?” Tanya Shila pura-pura, ia sebenarnya tahu kalau Lisa berbicara padanya. Hanya saja...


“Keluar dari sini sekarang!” Ucap Lisa lagi.


Saat itu Shila tidak mengindahkan perkataannya, ia hanya mengerutkan alisnya seakan menantang Lisa.


“Aku bilang kelu...” Ucap Lisa sambil menarik tangan Shila kasar.


“Apa-apaan kamu Lisa, Shila baru sembuh. Kamu tidak boleh memperlakukan adikmu seperti itu!” Ucap wanita yang tadi menyapa Shila, melepaskan tangan Lisa yang menarik tangan Shila..


“Tapi Ma, dari kemarin dia hanya berbicara omong kosong saja. Aku...” Lisa terlihat panik di depan mama nya itu.


l


“Omong kosong? Aku? Kamu yakin bukan kamu yang berbicara omong kosong?” Tanya Shila.


“A, apa kamu bilang?” Lisa semakin panik.


“Si, siapa yang panik, hah?” Lisa berusaha menahan dirinya.


“Kalau begitu diamlah, aku sedang berbicara dengan kepala sekolah dan tidak ada yang boleh berbicara sampai aku selesai!” Ujar Shila tegas.


à


“Tapi aku ingin kamu keluar dari sini! Tidakkah kamu melihat mereka sedang sibuk?” Lisa bersikukuh.


“Aku akan pergi setelah selesai mengatakan apa yang ingin aku katakan. So, jangan menghentikanku atau aku akan melakukan sesuatu yang tak pernah kamu bayangkan!” Shila mempertegas kata-katanya.


Lisa tersenyum meremehkan Shila, “Aku bilang keluar sekarang atau aku bahkan bisa saja menyetmu dari sini!” Ucapnya.


“Lisa!” Mamanya kaget dengan apa yang dikatakan Lisa.


“Diamlah bunda, Ini urusanku dengannya!” Ucapnya, kemudian berjalan kearah Shila.

__ADS_1


“Tidak, ini urusan mama. Kalian berdua adalah putri mama, jadi mama mohon hentikan pertengkaran kalian!” Pinta mama.


“Tidak ma, aku mohon biarkan aku yang menyelesaikan urusanku disini, aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangiku.” Ucap Shila.


“Tapi aku yang akan menghalangimu!” Lisa berusaha untuk menyeretnya seperti apa yang ia katakan barusan.


Namun saat Lisa akan menarik tangan Shila, ia malah terdorong sampai ketembok karena Shila tak membiarkan Lisa menariknya.


“Kamu pikir, aku akan diam saja?” Tanya Shila, “Mulai sekarang, aku akan menunjukan padamu apa yang bisa aku lakukan!” Sambung Vika, ia pun langsung “Tentu saja ini berlaku untuk semua yang ada disini!” Sambung Shila sambil menatap kepala sekolah.


Dreeettt, dreeeettt...


“Iya ayah.” Jawab Shila saat mengangkat telpon dari ayahnya, “Oh, iya. Aku yang menghentikan dana untuk Yayasan Kusuma Negara. Aku pikir mereka tidak membutuhkan dana itu lagi!” Ucapnya kemudian, membuat semua yang ada diruangan itu terkaget-kaget.


“Shi, Shila apa maksudmu?” Tanya kepala sekolah kaget.


“Tentu saja aku sudah memikirnya dengan matang. Aku tidak peduli ayah, kalau memang mereka membutuhkan dana itu, mereka bisa memintanya dari Lisa. Bukankah mereka lebih percaya padanya?” Sambung Shila tanpa memperdulikan pertanyaan kepala sekolah, ia menatap kearah Lisa.


“A, apa maksudmu?” Lisa tak kalah kaget dengan apa yang barusan dikatakan oleh Shila.


“Mereka bahkan tidak bertanya padaku dan langsung mengeluarkan Vika. Aku sudah menahan diriku, ayah. Tentu saja, aku tidak menimbulkan keributan disini. Iya, ayah tidak usah khawatir! Oiya ayah, aku sudah mempersiapkan hadiah spesial untuk kakakku tersayang.” Ucapnya sambil tersenyum licik, membuat semua yang ada disana terheran-heran karena baru kali ini mereka melihat Shila berperilaku seperti ini.


“Shi, Shila, a, apa maksudmu?” Tanya kepala sekolah lagi, ia sangat tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Ibu masih tidak bisa mendengarkan apa yang aku katakan?” Shila balik bertanya.


“Tapi Shil, ibu melakukannya demi kebaikan sekolah ini, dan ibu mengeluarkan Vika demi kebaikanmu juga!” Kepala sekolah membela diri.


“Kebaikanku? Hah, aku bahkan tidak tahu kebaikan apa yang ibu maksud!” Ujar Shila sambil tertawa dingin.


“Maksud ibu...” Sang kepala sekolah bingung harus berkata apa, “Shil, kalau Vika tetap di sekolah ini, para orang tua murid mengancam kalau mereka akan memindahkan anak-anak mereka.” Ia tetap bersikukuh.


“Owh, jadi karena itu ibu mengeluarkan Vika? Karena ancaman para orang tua murid yang pastinya tahu informasi ini dari seseorang propokator!” Ucap Shila, ia menatap Lisa.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Lisa tahu maksud Shila.


“Tidak, tak apa. hanya saja...” Shila terpikir sesuatu, ia meraih telephone yang ada disakunya, “Paman, tolong telphon agen rumah itu. Aku akan membelinya, aku harus membelinya berapapun biayanya!” Ujar Shila pada pamannya yang ada di luar ruangan itu kemudian menutup telponnya.


“Shila, apa yang kamu bilang di telpon pada ayahmu itu, tidak benar bukan?” Kepala Sekolah ingin memastikannya.

__ADS_1


“Ibu jangan khawatir, dia tidak mungkin berani melakukannya!” Ujar Lisa menenangkan kepala sekolah.


***


__ADS_2