
Di taman Rumah Sakit, entah kenapa Vika merasa tak tenang.
“Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat?’’ Vika bingung mendapati detak jantungnya lebih cepat dari biasanya.
“Vika,” Ucap seseorang yang menghentikan langkahnya setelah melewati Vika.
“Ka Rian.” Vika kaget karena Rianlah yang memanggilnya.
Rian adalah teman dekat Vika sewaktu SD, mereka sering kali bermain sepak bola bersama, mereka bertiga, Rian, Vika dan Shila. Perbedaan usia Rian dengan Vika dan shila tidak terlalu jauh, yakni 3 tahun, sehingga ketika Vika duduk di kelas 5 SD, Rian sudah duduk di kelas 2 SMP, mereka beraekolah di yayasan yang sama
Rian segera melangkahkan kakinya mendekat pada Vika kemudian memeluknya erat, “Akhirnya aku menemukanmu.” Ucapnya senang kemudian melepaskan pelukannya.
“Kaki kakak.” Vika melihat kaki Rian yang sudah bisa berjalan tanpa tongkat.
“Seperti yang kamu lihat. Aku sudah pulih sepenuhnya.” Jawab Rian.
“Syukurlah.” Ucap Vika senang, tiba-tiba saja air matanya mengalir deras, “Maaf,” Sambungnya.
“Aku yang seharusnya minta maaf.” Ucap Rian, “Aku sudah mendengar semuanya dari Amel dan aku benar-benar minta maaf karenanya.” Rian menyesal.
“Melihat kakak sudah sembuh, itu udah cukup kok. Kalau begitu aku pergi.” Vika pamit.
Namun Rian menghentikan Vika dengan menggenggam tangannya, “Vik, aku tidak akan melepaskanmu lagi.” Ucapnya.
Mendengar kata-kata itu Vika tidak tahu harus menjawab apa.
“Sekarang aku baik-baik saja, kakak pulanglah!” Ucap Vika setelah menerima perawatan dari dokter.
“Vika, kamu kenapa?” Tanya Riva yang baru datang khawatir melihat Dokter baru saja dari kamarnya.
__ADS_1
“Pergilah, istirahat di tempat tidurmu,” Jawab Vika, ia tak punya tenaga untuk meladeni Riva sekarang.
“Dia tak apa, dokter sudah mengurusnya. Tapi ngomong-ngomong kamu...”
“Kakak,” Vika memotong perkataan Rian.
“Iya iya, aku tahu. Maaf ya, sebaiknya kamu menuruti kata-kata Vika atau dia akan marah pada ku dan tidak mau menemuiku lagi.” Ucap Rian sambil tersenyum, Riva pun pamit pergi ketempat tidurnya, “Kalau begitu kamu juga beristirahatlah, aku akan pergi ketika kamu sudah tidur!” Ucap Rian, Vika pun memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
Esoknya...
“Kamu pasti sangat lelah ya!” Ucap Rian ketika menemui Vika dikamarnya, ia mengelus lembut rambut Vika, “Ya, beristirahatlah. Saat kamu bangun nanti, aku janji akan menebus waktu kita yang hilang.” Sambungnya.
Diam-diam, dari balik tirai, Riva tak senghaja mendengar apa yang di katakan Rian, kemudian dengan berjalan perlahan menggunakan tongkat ia meninggalkan kamar itu. Riva punya banyak pertanyaan saat itu, namun ia tak bisa mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dibenaknya, ia pun memilih diam saat ini.
“Aku sedang jalan-jalan dok. Vika dia masih beristirahat dikamarnya, dia ditemani seseorang.” Jawab Riva ketika bertemu dengan Tante Lina di koridor rumah sakit.
“Entahlah dok, tapi kemarin dia yang membawa Vika ke kamar dan waktu itu Vika menyebutnya kakak!” Jelas Riva.
“Kakak? Jangan-jangan... tante tinggal ya Va,” Tante Lina pun bergegas menuju kamar Vika, tapi saat ia sampai tidak ada siapa-siapa disana, hanya Vika yang tertidur di kasurnya, ‘Kalau benar-benar dia, pasti dia bisa membantu Vika!’ Batinnya.
“Kamu sudah bangun?” Tanya tante Lina ketika melihat Vika terbangun, “Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya kemudian namun Vika hanya diam, “Maaf ya, kemaren tante ada rapat, jadi tante tidak bisa...”
“Aku sudah meminta tante untuk tidak ikut campur bukan? Jadi tolonglah tante, jangan campuri urusanku, aku bisa mengurus diriku sendiri.” Ucap Vika lagi-lagi memotong perkataan tantenya.
“Vika, tolong mengertilah!” Pinta tante Lina.
“Tante yang harusnya mengerti, tolonglah tante!” Vika tidak punya tenaga untuk berdebat dengan tantenya, ia benar-benar tidak bertenaga hari ini. Ia benar-benar lelah, ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya.
***
__ADS_1
“Vika, bangunlah! Kamu sudah tidur dua hari ini. Bangun dan makanlah bubur ini!” Ucap Rian lembut keesokan harinya.
Vikapun perlahan membuka matanya, ia lihat Rian disamping tempat tidurnya dengan memegang semangkuk bubur.
“Ayo, makan dulu!” Ucap Rian sambil menyodorkan sesendok bubur.
Vika menggelengkan kepalanya, “Aku bisa sendiri ka.” Ucap Vika, ia tidak mau merepotkan Rian, dia tidak mau, sangat tidak mau.
Rian tersenyum hangat membuat Vika tak bisa mengedipkan matanya, ia sangat rindu, benar-benar rindu pada Rian. Ia sangat ingin... dengan segera ia membuang pemikirannya, ‘nggak, nggak boleh. Kamu nggak boleh kayak gini!’ Batinnya.
Rian memperhatikan Vika, ia menaikkan alisnya tanda bertanya, dan Vika hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Rian ketika melihat Vika berusaha turun dari tempat tidurnya.
“Toilet!” Jawab Vika singkat.
“Sini, biar ku bantu.” Rian menawarkan diri.
“Tidak, tidak usah.” Vika menolak dengan tegas.
“Aku akan membantumu sampai depan pintu!” Rian menawarkan diri lagi karena khawatir Vika masih belum kuat.
Vika menggeleng, “Tidak ka, tidak perlu.” Vika tetap menolak, ia pun mengambil tongkat dan berjalan sendiri dengan tongkat itu. Kemudian...
Bubur ini... Vika merasa familiar dengan rasa bubur yang diberikan Rian.
“Kamu mengingatnya?” Tanya Rian tahu kalau Vika mengingat bubur itu, “Itu bubur buatan ku, tentunya dengan resep yang kamu tulis.” Sambung Rian senang karena Vika mengingat bubur buatannya.
"Aku berencana untuk membuka sebuah cafe dengan menu yang kita rancang dulu." Sambung Rian sambil mengingat saat saat mereka berdua menyusun menu, "Bisakah kamu membantuku?" Tanyanya kemudoan.
__ADS_1