
"Ada apa kakakku tersayang? Tidak biasanya kamu menghubungiku?” Tanya Shila pada Lisa yang tiba-tiba menelponnya.
“Kamu yang melakukannya bukan?” Tanya Lisa yakin.
“Melakukan? Melakukan apa?” Shila bingung denga apa yang di katakan Lisa.
“Kartu kreditku. Kenapa aku tidak bisa menggunakannya?” Lisa marah.
“Owh, kartu itu. Maafkan aku, sepertinya aku lupa memberitahukan kalau kartu itu bukan lagi kartu unlimited, tapi kartu itu punya batas miksimum di angka 3 juta perbulan. So, bijaksanalah dalam menggunakannya kakakku yang baik.” Jelas Shila, ia pun menutup telponnya.
“Sial, sial, sial...” Gumam Lisa kesal. Disaat kekesalannya itu, ada satu hal yang dia tahu, teman-teman yang ia dapatkan itu pergi meninggalkannya, dia seorang diri menghadapi para penjaga toko dan kebingungan.
“Anda harus tetap membayar nona, anda tidak bisa pergi begitu saja. Tagihan teman-teman anda juga, aku harap...”
“Diamlah, tidak bisakah kalian melihatku sedang berpikir,” Ucap Lisa kesal, ‘Kenapa Mama tidak mengangkat telponnya sih? Bunda juga, ayah, kemana sih mereka. Aku harus gimana? Aku harus minta tolong pada siapa? Haruskah aku menelpon dia lagi, tidak, dia pasti akan mengejekku dan tidak akan menolongku’ Batin Lisa, ia kebingungan.
“Lisa? Sedang apa kamu disini?” Shila bingung melihat Lisa ada di ruangnya.
“Kamu sendir kenapa disino?” Lisa kaget melihat Shila yang sedang duduk di kursi roda tiba-tiba datang.
“Ada apa ini manager?” Tanya Shila.
“Nona? Maaf kami mengganggu anda. Tapi dia tidak bisa membayar tagihannya!” Jawab menager.
“Tagihan?" Shila kaget, "Jadi untuk itu tadi kamu menelpon?” Tanyanya pada Lisa.
“Kenapa kamu ada disini?” Tanya Lisa kesal karena pertanyaannya tidak Shila jawab.
“Nona Shila,” Manager ragu, ia tak enak karena merasa tak bisa menyelesaikan hal ini.
“Tak apa, dia kakakku.” Shila tersenyum mengerti akan keraguan menagernya.
“Ye? Ma, maafkan kami nona, kami...” Salah satu pelayan tak menyangkan kalau Lisa adalah kakak dari pemilik restorannya.
“Tidak, tidak perlu minta maaf. Tagihan tetap tagihan, biar aku yang membayarnya. Berapa tagihannya?”
__ADS_1
Sang manager pun menyunjukan tagihan yang harus Lisa bayar. Melihat bill yang diberikan meneger Shila agak terkejut, namun ia tetap membayarnya.
“Kalian pergilah dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan kakakku.” Ucap Shila kemudian Manager dan pegawai toko pun pergi.
“Lima juta? Tagihan apa ini? Kenapa jumlahnya sebanyak ini?” Tanya Shila pada Lisa yang sedang duduk di sofa.
“I, itu bukan urusanmu.” Lisa kesal karena Shila tahu apa yang terjadi.
“Jadi kamu bisa membayarnya sendiri?” Tanya Shila dingin.
“Tentu saja, aku akan minta mama kesini, aku...”
“Tidakkah kamu mengerti? Ayah, bunda dan Mama tidak akan membantumu dalam hal seperti ini, aku sudah melarangnya.” Shila memotong kata-kata Lisa, ia menekan setiap kata yang ia ucapkan.
“Kamu...” Lisa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, tidak mungkin mama atau ayahnya bisa melakukan ini padanya.
“Kenapa? Kamu mau marah? Tidakkah kemarahanmu itu salah sasaran?” Shila tersenyum, “Seharusnya kamu marah pada teman-teman yang meninggalkanmu itu. Kalau sudah begini? Siapa yang akan menolongmu? Aku tidak mengerti kenapa kamu tidak sadar juga!” Shila tak mengerti dengan kebodohan kakaknya itu, yang mau mau nya di manfaatkan oleh teman-temannya.
Lisa tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia tahu kalau apa yang Shila katakan itu adalah kenyataan. Tapi ia merasa tak bisa meninggalkan teman-temannya itu.
***
"Kalian tega banget sih ninggalin gue di restoran kemaren?" Lisa marah pada teman-temannya yang sedang asik mengobrol.
"Lagian elo, ga punya duit kok pengen traktir kita." Ucap Sisil dengan sinis.
"Ya seenggak kalian kan bisa PT PT buat bantuin gue. Kan kalian yang pesen makanan mahal!" Lisa menumpahkan kekesalannya.
"Tapi kita-kita mana punya duit sebanyak itu." Ucap Hilda membela diri.
"Tapi..."
"Udahlah, elo juga udah keluarkan. Nggak usah permasalahin hal itu lagi dong." Ucao Reno, ia orang yang memesan menu paling banyak dan mahal.
"Tapi karena itu uang bulanan gue dipotong perbulan banyak banget." Lisa masih kesal.
__ADS_1
"Kok gitu? Bukannya restoran itu milik adik lo?" Tanya Sisil.
"Kok lo tahu?" Lisa bingung kenapa Sisil bisa tahu, padahal dirinya sendiri tak tahu hal itu.
"Gue pernah liat adik lo disana. Dia bahkan mentraktir sahabatnya yang kampungan itu." Jawab Sisil.
"Apa? Lo serius?" Lisa tidak percaya, ia semakin kesal dengan Shila.
"Iyalah. Masa gue bohong?" Sisil meyakin Lisa.
"Iiiiihhh, nyebelin banget sih tuh anak." Ucap Lisa kesal, "Udah motong uang bulanan gue, dia malah..."
"Uang bulanan lo dipotong? Seriusan?" Ucap Deva tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Sama adik kesayangan lo itu?" Sambung Rendi.
"Iya. BT banget deh gue." Lisa duduk, ia meneruskan omelannya.
Esoknya...
"Eh, lo udah denger belum? Katanya si Lisa uang bulanannya di potong sama adiknya." Ucap Saro yang sedang berada di toilet bersama Sisil.
"Iya, kemaren dia sensiri yang bilang sama kita-kita." Jawab Sisil sambil memperbaiki rambutnya dengan sisir.
"Seriusan?" Sari terdengar kecewa, dan sisil mengangguk, "Yah... kita nggak bisa morotin dia lagi dong, padahal dia tambang emas kita. Kayaknya ķita harus cari tambang emas baru." Ucap Sari sambil berpikir.
"Yoi." Sisil setuju.
"Udah yuk, ke kelas." Ajak Sari dan merekapun pergi.
Tiba-tiba Lisa keluar dari salah satu toilet, ia mengepalkan tangan karena kesal, "Shila bener, selama ini gue cuma di manfaatin sama mereka." Ucapnya ketika teringat perkataan Shila, iapun keluar dari kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Shila keluar dari toilet sebelah Lisa karena toilet di SMP sedang dalam perbaikan. Ia juga mendengar semua percakapan itu dan tahu bagaimana perasaan Lisa sekarang, tapi ia tak bisa apa-apa. Meski ingin menghibur kakaknya itu, tapi ia tak bisa melakukannya karena ia tahu ada jarak diantara mereka. Entah sejak kapan jarak itu ada, Shila benar-benar tak tahu, yang jelas ia sangat menyayangi Lisa.
Dulu ia sangat menantikan seorang saudara, dan begitu ia tahu kalau ia punya seorang kakak, meski dari ibu yang berbeda, Ia sangat senang. Ia juga menerima mamanya Lisa sebagai mama nya. Pertemuannya pertamakali dengan Lisa adalah saat ia duduk di bangsu kelas 6. Lisa yang duduk di kelas 2 SMP saat itu adalah kakak yang baik, mereka cepat akrab dan saling menyayangi satu sama lain. Tapi Lisa berubah sejak masuk SMA, entah apa yang terjadi, sikapnya pada Shila berubah, Lisa juga sangat membenci Vika, ia terus saja membuat masalah untuk Vika.
__ADS_1
***