
Dua jam setelah operasi, Ardi siuman, ia memang tidak terluka terlalu parah, tapi meski begitu ia harus melakukan operasi kaki kanannya yang terluka juga lehernya harus mengenakan penyangga leher.
“Lo benar-benar nggak apa-apa Vik?” Tanya Ardi khawatir karena ia tahu kalau Vika sama sekali tidak melakukan pemeriksaan.
“Nggak kok ka, kan kakak melindungiku. Makasih dan maaf, karena aku kakak…!” Ucap Vika.
“Nggak kok. Gue yang harusnya minta maaf, karena keluarga gue, lo jadi ikut terlibat dalam kecelakaan ini.” Ardi menyesal, ia kira setelah ayahnya pensiun dan pindah dari rumah utama, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi, tapi kenyataannya ia malah membuat Vika terlibat dengan permasalahan keluarganya itu.
Kecelakaan seperti ini memang biasa dikeluarga Ardi, Ayahnya yang berprofesi sebagai Pasukan khusus memang membuat keluarganya itu terlibat banyak masalah. Bukan masalah sepele, tapi masalah kenegaraan, itulah kenapa ketika Nyonya Lili -Ibu dari Ardi dan Putri- meninggal karena kecelakaan serupa sehingga ayahnya memutuskan untuk keluar dari keluarga besarnya dan menekuni bisnis setelah ia pensiun dari Pasukan Khusus.
Sementara Ardi teringat dengan ibunya, Vika juga teringat dengan sahabatnya Shila dan Kian adiknya.
Seharusnya dari awal kamu tidak berteman dengan Ka Ardi. Batin Vika, Ini salahmu Vik, kamu bodoh, kamu terlalu percaya diri dan kenyataanya kamu bahkan melakukan kesalahan yang sama! Sambungnya, ia terus menyalahkan dirinya dan kata-kata itu terus terulang di benaknya. Ia menggingit bibirnya karena kesal dengan dirinya sendiri.
“Vik?” Ardi bingung karena Vika tidak menyahuti panggilannya, “Kamu beneran baik-baik saja?” Tanyanya khawatir.
“Aku baik-baik aja kok ka.” Jawabnya menyadari pertanyaan Ardi.
“Apa nggak sebaiknya kita lakukan pemeriksaan dulu?” Tanya Ardi, ia khawatir kalau luka Vika tidak terlihat.
__ADS_1
“Tidak ka, aku benar-benar baik-baik saja.” Jawab Vika karena ia memang merasa tubuhnya baik-baik saja, “Tapi tidak dengan kakak.” Sambungnya sambil melihat Ardi yang terbaring di tempat tidur.
“Nggak ko, lukaku akan segera sembuh. Kan tadi kamu juga dengar apa yang Dokter bilang,” Ucap Ardi menenangkan Vika.
“Tetap saja itu pasti menyakitkan.” Ujar Vika perlahan dan hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya.
“Kenapa?” Tanya Ardi, ia yakin kalau Vika mengatakan sesuatu.
“Tidak.” Jawab singkat Vika, “Aku akan bawakan minum untuk kakak.” Vika menghindar, tapi Ardi yakin kalau Vika mengatakan sesuatu. Ia juga yakin kalau Vika agak berbeda dari biasanya.
“Tidak perlu, kan nanti suster bisa melakukannya.” Ardi melarang Vika, bagaimanapun juga Vika korban disini, ia tak ingin Vika kelelahan.
Sementara Vika, ia terus berjalan dalam lamunannya dan tersadar ketika seseorang tanpa sengaja menabraknya.
“Maaf,” Ucap orang itu kemudian pergi.
VIkapun bergegas kembali ke kamar Ka Ardi karena tahu ia akan khawatir padanya, namun saat ia kembali Ardi tertidur dan terlihat lelah.
“Maaf ka.” Ucapnya singkat kemudian duduk di tepi tempat tidur Ardi.
__ADS_1
Esoknya…
“Vika, kamu pulanglah. Sudah dua hari kamu tidak pulang. Kamu kelihatan lelah.” Ucap Ardi khawatir, Vika akan sakit kalau terus menemaninya disini.
“Aku tidak apa-apa ka.” Ucapnya singkat. Dua hari ini Vika menjawab semua pertanyaan dengan singkat.
“Nak Vika, pulanglah. Hari ini paman yang akan menjaga Ardi.” Ucap ayah Ardi.
“Iya paman. Kalau begitu aku pamit,” Ucap Vika pamit pada ayah Ardi, “Aku pulang ya ka.” Pamitnya pada Ardi.
“Em, hati-hati di jalan ya.” Ucap Ardi.
“Oiy Vik, besok Ardi sudah pulang ke rumah, jadi mainlah ke rumah.” Ucap Ayah Ardi, ia baru mendapatkan kabar dari dokter.
Vika tersenyum mengerti, iapun pergi namun ia terhenti sesaat saat akan menutup pintu untuk melihat Ardi dan Ayahnya sedang mengobrol. Iapun tersenyum ketika Ardi melihatnya kemudian pergi.
Pagi itu Vika berkemas menggunakan daypack yang ia kenakan ketika pergi dari rumah. Ia meninggalkan tiga pucuk surat, satu untuk Ardi, satu untuk Davin dan satu lagi untuk pakde juga bude, termasuk Handphone yang Ardi berikan padanya.
Dengan perlahan ia membuka pintu agar tidak ada yang mendengar kepergiannya, ditemani dinginnya pagi itu Vika berjalan tanpa tujuan. Ia membulatkan tekadnya untuk tidak berhubungan dengan siapapun, ia tak ingin kejadian Ka Rian, Shila, Kian dan Ardi terjadi lagi. Vika berjalan tanpa henti, ia bahkan tak menyadari matahari yang sudah tinggi.
__ADS_1
***