
Entah dosa apa yang Fallona buat sampai hidupnya ini penuh kesialan. Kalian tau kesialan apa yang sedang menimpanya sekarang?
Ya. Benar. Sekarang Fallona sedang berjalan-jalan dengan ibli--Maksudnya Putra mahkota. Entah ada angin apa Si Adelio itu mengajak Fallona jalan-jalan keliling kota.
Di dalam kereta tidak ada yang memulai obrolan. Baik Fallona maupun Adelio seperti nya tidak berniat untuk memecah keheningan.
Dalam hati, Fallona menahan kesal, Karena hari libur nya yang berharga harus dihabiskan dengan Adelio-termasuk jajaran orang yang Fallona benci. Dan juga seharusnya sekarang Fallona sedang latihan memanah dengan Benjamin.
"Jadi?"
"Apa?"
"Apa maksudmu dengan 'Apa'?" Jawab Fallona dengan sedikit ngegas.
Adelio tampak mengerutkan alis kesal,"Apa sih?"
Fallona merasa geram, "Kau merusak akhir pekan ku. Seharusnya sekarang Aku sedang latihan dengan Benjamin."
"Aku disuruh Ayahanda untuk mengajakmu jalan-jalan, kalau bukan karenanya, Aku tidak akan mengajakmu."
"Hah!?Ta--"
"Dan Kau lebih memilih Benjamin daripada Aku? Bukankah kau mencintaiku?"Potong Adelio. Pria itu menatap Fallona dengan sorot penasaran.
"Dih, PD gila."Cibir Fallona.
"PD? Apa itu PD?" Adelio mengerutkan keningnya, "Dan beraninya kau menyebut ku gila?"
Fallona menghela nafas lelah, "Intinya sekarang Aku sudah tidak mencintai mu. Kau sekarang bebas mau berkencan dengan Isabella. Aku tidak akan menggangu."
"Benarkah? Aku tidak percaya."
"Terserah." Fallona memalingkan wajahnya ke luar jendela. Entah kenapa wajah rupawan Adelio membuatnya muak.
Fallona merasa kereta berhenti." Sudah sampai?"
Adelio mengangguk, Lalu keluar dari kereta. Meninggalkan Fallona didalam yang sedang kesusahan karena gaunnya yang tersangkut, "Adelio sialan,"
Untung saja ada ksatria yang membantunya. Fallona mengucapkan terima kasih lalu dengan tergesa-gesa menghampiri Adelio, lalu menginjak kakinya dengan keras tapi si empu yang diinjaknya tidak merespon apapun, "Kau meninggalkanku kesusahan di dalam kereta."
"Salah sendiri memakai baju heboh seperti itu."Kata Adelio tidak peduli.
"Aku di paksa Ibu memakai ini karena Beliau tau kalau kau akan mengajak ku keluar mansion."Kesal Fallona.
"Oh."
Setelah itu Adelio memasuki salah satu bangunan mewah yang sepertinya toko baju. Meninggalkan Fallona yang sedang kesusahan berjalan karena gaunnya yang berat.
"HOI." Fallona berteriak, Tapi tidak di gubris oleh Adelio.
Mengelus dada dengan sabar, "Lain kali kalau diajak Si sialan itu lagi aku gak akan mau. Aku tersiksa."
Fallona memasuki bangunan itu lalu duduk di sofa samping Adelio dengan perasaan dongkol.
Pandangan nya Menelusuri arsitektur bangunan. terlihat ukiran-ukiran khas Eropa jaman dulu. Sangat cantik.
"Kau bisa memesan gaun."
Fallona menatap Adelio dengan antusias, "Benarkah? Aku bisa pesan berapa gaun?"
__ADS_1
"Berapapun."
"Berapapun?" Tanya Fallona memastikan, dan di jawab anggukan oleh Adelio.
Fallona tersenyum senang, "Jangan menyesal, Karena Aku akan memesan banyak gaun."
"Pesan semau mu."Jawab Adelio cuek. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Baiklah."
Fallona memesan beberapa pasang gaun santai dengan model sederhana tapi terlihat elegan. Lalu, baju untuk menaiki kuda Dan memesan beberapa baju yang nyaman untuk latihan memanah.
"Ternyata sifat boros mu belum menghilang."
Fallona mendengus, "Katamu tadi pesan berapapun. Lagipula aku cuman memesan 30 pasang baju."
"Ya, Ya. Terserah. Sekarang kita makan."
Adelio keluar diikuti Fallona. Saat sampai di depan kereta, Adelio bertanya, "Ada restoran yang ingin kamu kunjungi?"
Fallona menggeleng, "Terserah. Restoran manapun asalkan makanannya enak dan perutku merasa kenyang."
Adelio mengangguk. Ia Menyuruh Fallona masuk ke kereta duluan.
Fallona menurut lalu masuk ke kereta. Manik matanya berbinar saat melihat ada beberapa camilan di kursi. Ia memakan camilan itu dengan hikmat.
Tiba-tiba kepala Adelio muncul membuat Fallona kaget hingga tersedak.
"Sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan di restoran. Aku harus menemui Isabella. Dia sedang sakit."Kata Adelio.
Fallona menggelengkan kepala, "Aku langsung pulang saja. Lagipula camilan ini cukup untuk mengganjal perut."
"Terimakasih."
Adelio menutup pintu kereta dengan terburu-buru. Entah kenapa hatinya merasa sesak. Sepertinya ini perasaan dari Fallona asli.
Fallona, Aku turut prihatin dengan perasaan cinta sepihak mu ini.
Setelah sampai di mansion, Fallona buru-buru masuk. Badannya sakit dan pegal karena terlalu lama duduk di kereta. Ia ingin merebahkan tubuhnya di kasur. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat siluet yang ia kenal yang sedang duduk di ruang tamu.
"Benjamin?"
Sosok itu menoleh, lalu tersenyum."Salam, Lady."
Fallona menganggukkan kepala, "Salam untuk mu juga."
"Anda menunggu Saya?"
Benjamin tersenyum sambil menganggukkan kepala, "Sebaiknya Anda duduk dulu, Lady."
Fallona menurut lalu duduk di sebrang Benjamin, "Maaf telah membuat Anda menunggu, Tuan."
"Tidak masalah, Tapi sebagai gantinya Anda harus berkenca-maksudnya bersedia ikut saya jalan-jalan keliling kota."
"Maaf?"Tanya Fallona memastikan. Ia takut salah mendengar.
"Saya ingin Anda menemani saya jalan-jalan berkeliling kota."
Fallona mengerjapkan mata bingung, "Saya? Menemani Anda?"
__ADS_1
"Iya dan tidak ada penolakan."Tegas Benjamin.
"Maaf. Tapi, Saya baru saja dari luar."Tolak Fallon.
"Ah, begitu ya?" Benjamin tersenyum maklum, "Ngomong-ngomong, Lady. Anda tadi pulang sendiri?"
"Iya."
"Lalu, dimana si bajing-maksudnya Putra Mahkota?" Entah sudah berapa kali Ia hampir keceplosan.
"Isabella sakit, jadi Putra Mahkota menemuinya."Jawab Fallona santai.
"Meninggalkan Anda sendirian?"
Fallona mengangguk, dan ia bisa melihat perubahan wajah Benjamin. Wajahnya sedikit mengeras.
Fallona berfikir. Mungkin Benjamin cemburu pada Putra mahkota yang bisa menemani Isabella yang sedang sakit.
"Oh, Apakah Anda belum bisa datang ke kediaman saya?"Tanya Benjamin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Eh?" Fallona meringis, Ia sedikit meratapi sifat pelupa nya." Maaf. Saya lupa."
Fallona tampak berfikir, "Bagaimana kalau sekarang saja Saya memintanya?"
Benjamin menggeleng, "Tidak bisa, Lady. Anda sudah janji untuk datang ke kediaman saya."
Fallona sedikit bingung, Kenapa Benjamin bersikeras untuk membuat nya datang ke kediaman nya.
"Baiklah. Kalau saya senggang, Saya akan datang ke kediaman Anda."
Setelah itu hening. Fallona meminum teh hijau yang ada di depannya yang entah sejak kapan sudah disiapkan.
"Lady, Saya boleh tanya sesuatu?"Tanya Benjamin yang di angguki Fallona.
"Anda tadi,,dengan Putra Mahkota kemana? Maaf kalau pertanyaan saya sedikit lancang."
"Tidak masalah. Tadi kita cuman datang ke toko baju. Setelah itu, Dia pergi menemui Isabella."
Benjamin terdiam. Lalu Ia berdiri, "Lady, Saya izin pulang."
Fallona ikut berdiri, "Baiklah. Akan Saya antarkan sampai depan."
"Tidak perlu repot-repot, Lady. Sebaiknya Anda istirahat, Anda terlihat kelelahan. Saya bisa keluar sendiri. Sampai jumpa, Lady." Benjamin berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Fallona menatap kepergian Benjamin dengan bingung. "Kenapa terburu-buru sekali?"
Fallona pergi ke kamar dengan gontai. Setelah sampai Ia membersihkan tubuhnya dan Menganti bajunya di bantu dengan pelayan. Setelah selesai Ia merebahkan tubuhnya yang sepertinya akan remuk.
Menyuruh pelayan untuk menyampaikan pesan kalau Ia tidak ikut makan siang karena kelelahan. Setelah itu Fallona tertidur.
Omake
"Berani-beraninya Si bajingan itu meninggalkan gadisku."
Hallo semua.
kalau kalian ada saran dan kritik tentang cerita saya. Silahkan tulis di komentar, agar cerita saya bisa lebih baik dan rapi. Mohon bantuannya.
Sekian dari Saya dan Terimakasih.
__ADS_1