Villain Princess

Villain Princess
03


__ADS_3

Sudah satu Minggu Fallona di dunia ini. Dan Ia sangat bersyukur karena tidak ada kejadian aneh yang menimpanya.


Fallona juga bersyukur karena Ia diperbolehkan tidak masuk ke akademi karena masih tahap pemulihan--padahal sebenarnya Ia sudah sembuh.


Saat ini, Ia berada di taman. Meminum teh ditemani Nilam dan Sireya--ia salah satu dayang yang sering mengikuti Fallona.


Pemandangan di kerajaan ini sangat cantik, Apalagi ada danau yang membentang luas disana. Danaunya bersih dan sangat jernih. Berbeda dengan danau di dunianya, Sangat kotor dan berbau.


Fallona frustasi. Ia memikirkan bagaimana caranya Ia bisa selamat dari kematian yang selalu menghantuinya. Mau menghindar juga tidak bisa. Apalagi ceritanya sudah menuju ke puncak konflik.


Apa Kabur aja?


Fallona menggeleng pelan. Ia tidak bisa, apalagi hidupnya di istana ini sangat terjamin. Ia tak perlu berkerja keras untuk menghasilkan uang. Bahkan hanya rebahan pun ia bisa mendapatkan semua keperluan-ya. Dari makanan yang enak, perawatan wajah, dan ia bisa menyuruh pelayan untuk memijat tubuhnya. Surga dunia.


Semua kebutuhannya disini terjamin, kecuali nyawanya.


Fallona berfikir. Kalaupun sekarang Ia berbuat baik, itu percuma karena sekarang sudah sangat terlambat untuk memperbaiki image nya yang sudah sangat rusak.


Apa Ia harus mendekati Isabella?


Isabella sosok yang Ia ciptakan dengan kepribadian yang mudah memaafkan orang lain. Fallona menyeringai licik, Ia bisa memanfaatkan kebaikan Isabella untuk menghindarinya dari kematian.


Lagipula, Para bucin Isabella pasti menurut sama sosok yang mereka cintai itu. Ia bisa pura-pura menjadi kelinci kecil yang butuh perlindungan.


Tapi, kalau gagal? Bisa-bisa Ia dibunuh. Para lelaki pecinta Isabella itu psikopat semua.


Fallona merinding saat mengingat bagaimana kejamnya Ia disiksa. Apa Ia perlu belajar bela diri?


Fallona berteriak kegirangan, Ia sudah menemukan cara untuk bertahan hidup.


"Nilam."


"Iya, Nona?"


"Aku ingin berlatih bela diri. Apa bisa?" Fallona bertanya antusias.


Nilam memasang wajah bingung. Kenapa Nona Nya tiba-tiba bertanya seperti itu, pikirnya.


"Tidak bisa, Nona. Seorang wanita dilarang berlatih bela diri, kecuali mereka keluarga dari seorang Jendral." Sireya menjawab dengan tegas.


Fallona melongo tak percaya. Siapa orang yang membuat peraturan konyol seperti itu? Fallona mengeram kesal, kalau saja Ia menemukan seseorang yang membuat itu. Ia berjanji akan menyiksa orang itu sampai mati. Fallona berjanji, Dan tolong ingat itu.


Sireya menatap Nona Nya yang terlihat sedih. Ia tak tega,c"Tapi, Nona. Meskipun para wanita tidak diperbolehkan berlatih bela diri, tapi mereka masih diperbolehkan untuk berlatih memanah."


Fallona menatap Sireya dengan mata berbinar,"Benarkah?," Sireya tersenyum sambil menganggukkan kepala. 


Meskipun tidak belajar beladiri. Berlatih Memanah juga tidak terlalu buruk. Kalau mereka berani macam-macam padanya, Fallona bisa Memanah mereka dari kejauhan.

__ADS_1


"Kalau begitu tolong panggil kan seorang pemanah terbaik untukku."


"Maaf, Nona. Jarang ada seorang yang bisa Memanah disini. Kebanyakan pemanah berasal dari Kekaisaran."


Fallona cemberut. Ia menyesal dulu Ia pernah menolak ajakan orang tuanya untuk berlatih bela diri. Kini Ia sangat membutuhkan kemampuan itu.


Sepertinya takdir memang tidak memperbolehkan Fallona untuk hidup.


"Kenapa Nona tidak belajar sendiri saja? Nona sepertinya cukup berbakat untuk itu."Nilam memberi saran.


"Boleh juga,"Fallona memandang kedua pelayan-nya itu antusias, "Kalau begitu, tolong siapkan alat memanah terbaik untukku."


"Siap Nona."


Lalu, kedua pelayan itu meninggalkan taman. Saat memastikan mereka sudah tak terlihat, Fallona merebahkan tubuhnya di tanah. Ia memandangi langit yang tampak mendung.


"Semoga aku bisa bertahan hidup. aku tidak mau mati lagi." Fallona sangat berharap.


...***...


"Ona, kamu besok sudah diperbolehkan untuk sekolah."


Fallona membeku ditempat. Kenapa Ayahnya memberi kabar ini secara mendadak? Ia belum siap untuk bertemu dengan para psikopat itu. Ia belum menyiapkan skenario untuk membuat Isabella luluh. Apalagi Ia juga harus membuat para psikopat itu agar tidak membunuhnya. Fallona Ingin menangis saja rasanya.


"Kau suka kan akhirnya Kau bisa bertemu dengan pujaan hatimu itu?" Fero berbicara dengan sinis.


"Apa sih? Aku sudah tidak mencintai putra mahkota lagi." Bantah Fallona.


Fero terlihat agak sangsi," Maaf adikku yang tercinta, Tapi kakakmu ini tidak percaya."


Fallona mendengus sebal, lalu menatap ayahnya, "Ayah, apa aku bisa libur lagi? Kepalaku sedikit pusing."


"Maaf, Ona. Tapi pihak dari akademi tidak memperbolehkan kamu cuti lagi."Ucap Ayahnya.


"Kalau Ona nanti pergi ke akademi. Ibu kasih hadiah buat Ona. Ona mau kan?"


Fallona yang mendengar itu terlihat tertarik, "Ibu, Beneran?" Wanita itu mengangguk dengan senyum hangat.


"Iya, Ona"


"Apapun itu?"Tanya Fallona memastikan.


"Iya." Wanita itu mengangguk sambil membelai rambutnya dengan halus.


Fallona tersenyum hangat, "Kalau begitu, Aku ingin seorang guru untuk mengajariku memanah."


Semua orang yang ada di meja itu tampak terkejut. Termasuk para pelayan yang sedang menyajikan makanan.

__ADS_1


Fero menatapnya dengan pandangan ngeri," Sepertinya sejak diabaikan Putra Mahkota Kamu tambah gila."


Berbeda dengan Fero, Fox tampak menatapnya dengan pandangan membunuh, "Kau ada rencana apa setelah ini?"


"Ingin melukai Isabella lagi? Kau ingin melukainya dengan cara memanahnya?"Ucap Fox dengan nada sinis.


Fallona menaikkan sebelah alisnya,"Apa maksud mu?"


"Tak perlu berpura-pura polos. Wajah'mu itu sudah tercetak licik sejak kecil."


Wajahnya?Ada apa dengan wajahnya?Muka Fallona terlihat cantik kok. Meskipun terlihat agak Judas.


Fallona menatap Kakak tercintanya itu dengan pandangan datar, " Memangnya Kenapa? Wajahku cantik kok. Juga terlihat imut. Kau buta ya?"


"Tck. Najis,"


"Huekk, Najis banget Ona." Fero menutup mulutnya seperti ingin mual.


Fallona melotot, lalu melemparkan sendok ke arah Fero." Mau mati ya?"


Sejak kapan kakak brengsek nya ini bersikap menyebalkan seperti ini. Fallona bingung, di Novel Fero sangat membencinya. Kenapa sekarang seperti ini? Apa Ia melupakan sesuatu? Dan Apalagi Fero memanggil nya 'Ona'. Cukup mengejutkan.


Ah, benar juga. Yang paling membencinya itu Fox, Fero membenci Fallona disaat terakhir sebelum kematiannya.


Fallona menghembuskan nafas frustasi, "Ayah, Ibu. Aku mau makan dikamar saja. Permisi."


Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tapi sebelumnya ia sudah meminta pelayan untuk membawakan makanan nya ke kamar.


Saat sampai di kamar, Fallona mendudukkan tubuhnya di meja belajar. Ia memikirkan kejadian di novel. Ada beberapa bagian yang Ia lupakan. Tapi, saat berusaha mengingatkannya Ia tidak bisa. Ada bagian dari ingatan nya yang sepertinya salah.


Ia meremas rambutnya pelan, mencoba mengingat. Tapi, nihil. Ia tidak ada ingatan satu pun.


"Lady?"


Fallona tersentak. Ia menemukan Nilam yang sedang menatapnya khawatir. "Lady, Anda baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Saya membawa makanan." Nilam menaruh makanan didepannya."Selamat makan , Lady."


Fallona mengangguk, Lalu menatap para pelayan yang berjejer rapi didepannya, "Kalian keluar. Aku mau makan sendiri."


"Baik, Lady."


Ia menatap makanan didepannya dengan pandangan malas, Ia sedang tidak berselera.


...###########...

__ADS_1


__ADS_2