Villain Princess

Villain Princess
20


__ADS_3

Fallona turun dari kereta dengan raut wajah tertekan. Ia bisa melihat di depannya ada Adelio, Isabella dan juga Regan.....?


Ia tidak mempermasalahkan Isabella yang ada disini karena sekarang gadis itu memasang wajah cerah pada Fallona.


Yang membuat Fallona kebingungan adalah kenapa Regan ada disini?


Kalau Isabella Ia tidak akan kaget. Sedangkan Regan?


Ada masalah apa sampai lelaki itu datang ke istana?


Sudahlah. Fallona tidak ingin memikirkan itu.


Isabella tersenyum,"Selamat datang, Lady."Fallona membalas dengan tersenyum.


Sedangkan Adelio dan Regan, Mereka tetap diam dan tidak menyambut apapun. Fallona tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sudah menduganya.


Seorang pelayan menghampiri Fallona,"Mari, Lady. Ikut saya."


Pelayan itu menuntun Fallona masuk ke dalam. Meninggalkan ketiga orang itu yang masih berdiri di halaman depan.


Isabella melambai ke arahnya dan Ia membalas lambaian tangan itu dengan tersenyum tipis. Ia merasa agak sedikit canggung.


Fallona berjalan pelan. Matanya bergulir menatap setiap sudut ruangan.


Istana memang tempat yang terbaik.


Mata Fallona terasa di manjakan dengan emas dan permata yang bertebaran di dinding dan segala penjuru ruangan.


Pelayan membawanya menuju ke arah salah satu ruangan. Membuka pintu dan mempersilahkan untuk masuk. Fallona memasuki ruangan itu.


Tempatnya cukup besar. Ada beberapa sofa dan kursi. Dan di pojok ruangan ada satu piano. Ada balkon yang mengarah ke taman. Taman yang dipenuhi dengan bunga mawar merah dan putih. Terlihat sangat indah. Apalagi di tengah nya terdapat satu pohon apel berdiri kokoh di sana. Pohon apel itu menambah keindahan taman.


Pelayan meminta Fallona menuggu karena Ratu sedang menyelesaikan suatu masalah. Ia duduk di sofa dan menatap vas bunga di depannya. Bunganya sangat unik. Ia baru pertama kali melihatnya.


Karena rasa penasaran yang sangat tinggi. Fallona menyentuh bunga itu dengan perlahan.


Fallona terkejut saat merasakan tekstur bunga itu.


Ini bukan bunga asli. Tapi, berlian yang di pahat menjadi bunga. Pantas saja terlihat sangat berkilau, dan ia baru menyadari kalau batang bunganya berwarna putih berkilau. Ia terlalu fokus pada kelopak bunga yang tampak cantik dan berkilau.


Fallona menoleh ke arah pintu saat ia mendengar suara pintu dibuka. Ia memasang wajah tersenyum manis. Tapi, senyum itu luntur saat mengetahui siapa orang yang membuka pintu.


Dia Regan. Pria itu berdiri dengan angkuhnya. Sambil memasang wajah yang sangat menjengkelkan--menurut Fallona.


Pria itu berjalan ke arahnya setelah menutup pintu. Lalu, duduk di sebrang.


Fallona menatap ke arah balkon. Memandang taman bunga mawar yang indah. Ia tampak tak mengganggap seorang Regan ada.


Sedangkan Regan, pria itu menatap Fallona dengan pandangan menyelidik. Mata pria itu bergulir dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menatap Fallona seolah ingin membunuh Fallona dengan tatapan itu.


Fallona yang ditatap merasa risih dan sedikit merinding. Tapi, ia tetap mencoba untuk mengabaikan orang aneh di depannya.

__ADS_1


Menghela nafas. Fallona menatap Regan dengan pandangan tak suka. Ia merasa sangat kesal sekarang.


"Ada apa dengan tatapan itu?"


Regan mengangkat sebelah alisnya,"Memang ada apa dengan tatapan ku?"


Fallona melirik Regan sinis,"Tatapan mu seperti orang mesum."


Pria itu menyeringai,"He~Aku hanya sedang meneliti sesuatu."


Kening Fallona mengerut,"Apa-apan dengan jawaban mu itu."


"Apa kau tau? Sejak kau tenggelam. Auramu terlihat berbeda."


"Apa maksudmu?"Meskipun nada bicara nya terlihat tenang. Tapi, sebenarnya ia merasa jantungnya berdetak kencang. Ia takut kalau identitas terbuka.


"Aura mu terlihat lebih tenang dan dewasa. Dulu, saat pertama kali bertemu dengan mu. Aura mu terasa sangat kejam dan brutal."


"Itu sangat aneh."Lanjutnya.


"Setiap orang bisa berubah. Kau tau itu kan?"


Pria itu mengangguk,"Aku tau. Tapi, perubahan mu terlalu di diluar nalar."


"Apa maksudmu?"


"Perubahan mu ini terbilang sangat cepat. Ah, Lebih tepatnya sangat cepat. Biasanya orang akan berubah secara perlahan, sedangkan kau? Aku tidak akan percaya kau itu Fallona kalau bukan dari wajah dan tubuh mu. Dari pada berubah, aku lebih percaya kalau tubuhmu ini sekarang di masuki oleh orang lain."


"Itu tidak mungkin. Kalau kau masih tidak percaya. Anggap saja aku terkena karma saat koma atau mendapat hidayah. Lagipula itu terlihat tidak masuk akal. Ini bukan cerita dongeng seperti dibuku-buku. Kau tau itu bukan?"


"Di dunia ini apa yang tidak mungkin?"


Kedua orang itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Terlihat Ratu berdiri anggun di sana. Wanita itu berjalan perlahan sambil tersenyum manis.


"Apa aku menggangu perbincangan kalian?"


Fallona dan Regan berdiri lalu membungkuk kan badan.


Fallona sangat bersyukur karena Ratu datang di waktu yang sangat tepat. Ia tidak perlu bersusah payah untuk mencari alasan yang logis untuk menjawab pertanyaan Regan.


"Salam untuk Yang Mulia Ratu."


"Regan, bisa tinggal kan aku berasa Fallona?"


Pria itu membungkukkan badan, Lalu berjalan keluar.


"Ona, Kamu sudah tau kan tentang acara pertunangan kamu dengan Adelio?"


Fallona menganguk ragu.


"Acara itu mungkin di adakan dua Minggu lagi. Kamu harus mempersiapkan dirimu dari sekarang."

__ADS_1


"Apa Adelio tau tentang ini?"


Ratu mengganguk. Wanita itu mengelus kepala Fallona dengan lembut,"Adelio Tau."


Kening Fallona mengerut. Kenapa Adelio tidak menolak pertunangan ini?


Bukankah seharusnya ia menolak pertunangan ini?


Ini sangat melenceng dari jalan cerita.


Bukankah dari awal cerita ini memang sudah sangat melenceng dari jalan cerita?


Fallona mengelus pelipis nya. Ratu yang melihat itu terlihat khawatir.


"Ona sakit? Apa perlu bunda panggil kan tabib?"


Fallona tersenyum tipis. Ia menggeleng."Aku baik-baik saja. Bunda tidak perlu khawatir."


"Kalau begitu Ona istirahat sekarang. "Wanita itu berdiri,"Ayo, Bunda antar kan."


Selama perjalanan menuju ke kamar. Fallona melamun. Ia memikirkan nasibnya. Kalau begini terus, bisa-bisa takdirnya akan tetap sama. Berakhir dengan kematian.


Fallona menatap Ratu bingung saat menghentikan langkahnya.


"Adelio. Kebetulan kamu disini. Ayo, antar kan Fallona ke kamarnya."


Mendengar itu Fallona melotot. Ia menatap Ratu dengan pandangan horor. Tapi, pandangan itu segera ia alihkan. Ia tidak mau mati dipenggal karena telah lancang menatap Ratu dengan pandangan seperti itu.


"Kenapa harus aku?"Adelio menjawab dengan nada ketus.


"Ona kan tunangan kamu. Seharusnya kamu memperlakukan nya dengan baik."


"Aku tidak peduli."


Fallona memutar matanya malas. Ia juga tidak perduli. Ia bisa berjalan ke kamarnya sendiri, meskipun tanpa bantuan si menjengkelkan Adelio.


"Yang Mulia, Seharusnya anda memperlakukan Lady Fallona dengan baik. "Suara halus Isabella terdengar.


Fallona baru menyadari kalau ada Isabella sini. Ia bisa melihat Ratu memandang Isabella dengan pandangan rumit.


"Aku bisa sendiri, Bunda."


Wanita itu menggeleng,"Adelio kamu harus mengantarkan Ona. Atau kamu akan Bunda hukum."


"Baiklah."


Adelio pergi setelah berbincang sesuatu ke Isabella. Pria itu mengantarkan nya dengan ogah-ogahan. Itu membuat Fallona kesal, ingin sekali Ia menimpuk kepala orang menyebalkan ini.


Untung hatinya seluas samudera. Jadi, ia akan menahan hasrat ingin menganiaya pria menyebalkan ini.


......####......

__ADS_1


__ADS_2