
Tak terasa sekarang sudah akhir pekan. Fallona bersorak gembira karena sekarang adalah waktunya untuk berlatih memanah. Segala macam sudah Ia persiapkan dari jauh-jauh hari.
Sekarang Fallona sedang menunggu guru atau mungkin bisa disebut dengan pelatih? Fallona menunggu di taman belakang yang sekarang sudah dirombak menjadi tempat latihan memanah.
Nilam disampingnya juga tak kalah bersemangat. "Lady, Semangat latihannya."
Fallona menganggukkan kepada dengan semangat ,"Aku sangat bersemangat."
"Akhirnya setelah sekian lama menunggu Aku bisa berlatih memanah."Lanjutnya.
"Lady, Saya masih penasaran dengan alasan anda ingin berlatih memanah."
'Untuk bertahan hidup,' Jawabnya dalam hati, Tapi Fallona tidak mungkin juga menjawab seperti itu.
"Aku ingin mengisi waktu luang ku dengan kegiatan bermanfaat."
"Tapi Lady, daripada latihan memanah, Bukannya lebih baik Anda ikut kursus merajut?"
"Aku sudah bisa merajut, Jadi untuk apa aku kurus merajut?"
Nilam tampak terkejut, "Eh? Sejak kapan Anda bisa merajut, Lady?"
Fallona gelagapan, Ia lupa kalau Fallona asli tidak bisa merajut." Aku berlatih secara diam-diam. I-iya, secara diam-diam."
Nilam memiringkan kepalanya. Fallona semakin gelagapan. "Ekhem, Kenapa pelatihnya tidak datang-datang?"
"Saya tidak tau Lady."
Fallona mendudukkan dirinya di bawah pohon, "Lama."
"Lady,"
Terlihat Sireya berjalan ke arahnya dengan sedikit tergopoh-gopoh, "Ini ada surat dari kediaman Frederick."
Fallona melotot, Ia lupa. Seharusnya sekarang waktunya Ia ke kediaman Frederic.
"Aduh, Gimana ini?" Fallona mengigit bibirnya khawatir.
"Tidak masalah, Lady. Anda masih bisa datang ke kediaman saya."
Tiba-tiba suara asing terdengar. Fallona menolehkan kepalanya, dan dahinya mengernyit melihat Benjamin berdiri disamping pohon tempat Fallona duduk.
Nilam dan Sireya membungkuk, "Salam Duke muda Frederick. Semoga hari Anda diberkati Tuhan."
Benjamin mengangguk, Lalu mendekati Fallona yang masih terbengong," Hallo?"
Fallona bergantian melihat Benjamin dan surat yang ada ditangannya, "Emmm, Ini surat dari Anda kan?"
"Iya."
"Lalu, kenapa Anda datang kesini?"
Benjamin tersenyum, "Bukannya Anda ingin berlatih memanah?"
"Iya, Lalu?"
Benjamin membungkukkan badan, "Perkenalkan Saya Benjamin Eugene Frederick. Pelatih memanah Anda."
__ADS_1
Fallona melotot," Anda jadi pelatih saya?"
Benjamin tersenyum," Iya, Lady. Apa Anda keberatan?"
Fallona menggelengkan kepala, lalu tersenyum paksa."Saya tidak keberatan."
Sepertinya takdir senang mempermainkan nya. Fallona ingin menangis sekarang.
...***...
Ini gila. Fallona sampai sulit berkata-kata. Kenapa pelatih nya harus Benjamin? Bukankah seharusnya seorang putra Duke tidak boleh menjadi pelatih?
Kalau Fallona tau pelatihnya Benjamin, Ia tak akan menerima dan akan segera menolak. Selama latihan tadi Ia juga tidak bisa leluasa.
Benjamin selalu memperhatikan setiap gerakan Fallona. Dan itu membuatnya takut dan sedikit risih.
"Lady, Waktunya makan malam."Suara Nilam membuyarkan pikirannya.
"Baik."
Fallona berjalan menuju ruang makan dengan gontai. Ia tidak bersemangat sama sekali.
Saat sampai di ruang makan, Fallona segera duduk di tempatnya dan memakan makanannya dengan lemas.
Semua orang di meja makan menatap Fallona aneh. Tidak biasanya Fallona lemas seperti ayam sayur, pikir mereka.
Karena rasa penasaran sangat tinggi, Duchess bertanya, "Fallona ada apa?"
Fallona menggelengkan kepala. Lalu melanjutkan makannya dengan malas.
Fallona mendengus kesal, "Ayah tidak bilang kalau pelatihnya itu Benjamin."
"Oh? Bukankah bagus? Beliau termasuk jajaran pemanah terbaik. Padahal Ayah memanggil kstaria tapi Beliau sendiri yang datang. Fallona seharusnya kamu senang. Wah, anak Ayah sangat beruntung."
Fallona cemberut, "Senang dari mana?"
Fero yang sejak tadi menyimak kebingungan, "Benjamin? Benjamin sepupu Regan bukan?"
Fallona menoleh, "Kakak tau Benjamin?"
Fero mengangguk, "Tau. Dulu kakak pernah satu tempat pelatihan sama Benjamin."
Fallona manggut-manggut. Ia menoleh "Kalau kak Fox?"
"Hm."
Mendengar jawaban Fox, Fallona tersenyum paksa. Menyesal Ia bertanya.
"Kalau tidak salah Benjamin satu angkatan dengan Ona kan?"Ibunya Bertanya.
"Ona tidak tau, Bu."
Fero tampak berfikir keras, "Kalau setau Kakak, Benjamin satu angkatan sama Ona. Cuman beda kelas aja."
"Tapi kok Aku jarang bertemu dengan Benjamin?"
"Benjamin sibuk latihan. Dari pada ke akademi, Ia lebih suka latihan fisik. Seperti latihan memanah dan Berpedang."
__ADS_1
Fallona takjub, "Woahh, Hebat."
Fero mengangguk," Benjamin sangat hebat. Menurut data kerajaan tingkat keahlian fisik Benjamin lebih unggul dari pada Putra Mahkota."
Fero terkekeh saat melihat wajah Fallona terbengong karena takjub, "Karena keahliannya itu, Dia sering di gadang-gadang akan menjadi Jendral selanjutnya."
"Sehebat itu?"
"Iya. Bahkan mungkin kekuatan nya sama dengan 20 ksatria tingkat dua."
Duke menatap Fallona tersenyum, "Nah maka dari itu, Ona harus senang karena dilatih oleh Benjamin langsung."
Fallona berfikir, mungkin dengan berlatih dengan Benjamin Ia akan menjadi kuat. Apalagi Kata Fero kalau Tingkat Benjamin lebih unggul dari pada Si Adelio. Tapi, status Benjamin yang akan menjadi salah satu kandidat alasan kematian Fallona itu yang memberatkannya.
Tapi, Fallona akan lebih antusias saat latihan selanjutnya. Untuk sekarang abaikan fakta itu dan fokus untuk latihan.
"Ona, Ibu boleh bertanya?"
Fallona Mengangguk, "Boleh."
"Kamu Dan Benjamin ada hubungan apa? Kalian kelihatan dekat."
"Teman?" Fallona menjawab ragu-ragu.
"Yakin cuman teman? Kakak dapat kabar kalau Benjamin bantuin kamu dari Regan tadi. Setau kakak Benjamin cukup cuek dengan sekitar"Goda Fero sambil tersenyum aneh.
"Pokoknya Aku dan Benjamin tidak ada hubungan apa-apa." Bantah Fallona tegas.
"Tapi, sepertinya Benjamin menyukaimu, Ona."
"ENGGA."
......***......
Benjamin berjalan pelan menuju kamar. Ia terkekeh pelan mengingat Fallona. Gadis itu sangat imut. Entah kenapa Ia menyukai semua ekspresi yang di tampilkan gadis itu.
Semenjak kejadian di taman, Benjamin sering memikirkannya. Berawal dari rasa kesal saat Gadis itu dengan berani menjambak rambutnya. Lalu berakhir dengan rasa tertarik nya dengan gadis itu.
Benjamin sempat kesal saat Ia tau bahwa Fallona melupakan janjinya untuk datang ke kediaman nya. Padahal Benjamin sudah menyiapkan semuanya. Dari menyuruh pelayan mendekorasi tamannya agar nyaman untuk meminum teh. Menyiapkan Macaron dan beberapa macam kue, dan Teh chamomaile kesukaan gadis itu. Jangan tanya kenapa ia bisa tau semua makanan kesukaan Fallona.
Tapi, kekesalannya mereda saat ada surat datang dari Duke Aldridge dengan meminta seorang ksatria tingkat pertama untuk menjadi pelatih gadis itu memanah. Dengan senang hati Ia akan mencalonkan diri menjadi pelatih gadisnya.
Apa boleh Benjamin menyebut gadis itu dengan gadisnya? Benjamin ingin gadis itu menjadi miliknya seutuhnya.
Semakin memikirkan, Ia semakin frustasi.
Benjamin memasuki pintu kamarnya lalu berbaring di ranjang. Mengacak rambutnya frustasi. Ia menyukai Fallona karena gadis itu menjambak rambutnya? Hahaha, itu terdengar konyol tapi nyata.
"Fallona, Kamu harus tanggung jawab karena membuat ku tertarik padamu."
Wajahnya mengeras setelah mengingat gadisnya menyukai putra mahkota iblis itu, Apalagi dengan status mereka yang menjadi tunangan. Meskipun sedikit lega karena putra mahkota tidak menyukai gadisnya. Melainkan menyukai gadis lain.
Benjamin harus membuat gadisnya melupakan perasaannya pada Putra mahkota lalu berbalik menyukai dirinya.
"Hahaha, Aku tak sabar menantikan hari itu tiba."
Tapi, Apa benar dirinya tertarik pada Fallona atau hanya rasa penasaran semata?
__ADS_1