
Fallona menatap lelaki di depannya. Keningnya mengerut. Mencoba untuk mengingat sesuatu yang Ia lupakan.
Lelaki di depannya ini mirip seseorang. Tapi, Ia lupa.
Fallona terus memperhatikan wajahnya. Sedangkan yang ditatap tampak tidak peduli. Lelaki itu sibuk memakan makanannya.
Setelah kejadian tadi, Fallona membawa lelaki itu untuk ikut piknik. Fallona tidak tega setelah mendengar perut lelaki itu meraung dengan keras. Ditambah tubuh lelaki ini tampak kurus. Yah, meskipun itu tidak mempengaruhi ketampanannya.
Ngomong-ngomong soal ketampanan, Lelaki di hadapannya ini termasuk tampan--sangat tampan-- meskipun dia termasuk rakyat biasa (?). Visualnya terasa seperti seorang bangsawan.
"Hei."Fallona memanggil lelaki itu.
Lelaki di depannya menoleh,"Ada apa?"
Fallona bertanya dengan nada ragu,"Apa,,,kita pernah bertemu sebelumnya?"
Lelaki di depannya terdiam, Lalu menggeleng,"Tidak pernah. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
"Tapi kenapa wajahmu tampak tidak asing di mataku. Seperti kita pernah bertemu sebelumnya."
"Kita tidak pernah bertemu."Lelaki itu menjawab tegas.
Lelaki itu menghela nafas saat melihat wajah Fallona yang masih tampak penasaran,"Saya cuman rakyat biasa, Anda seorang bangsawan. Akan sangat mustahil untuk kita bertemu."
Ini pendengaran Fallona saja atau memang nada lelaki itu tampak sangat formal sekarang?
"Baiklah. Mungkin ini hanya perasaanku saja."
Lelaki di depannya mengangguk lalu melanjutkan makannya yang tertunda.
"Aku belum tau namamu. Bisakah kau memberi tahukan namamu?"Tanya Fallona.
"Deriko. Namaku Deriko."
Kening Fallona mengerut,"Hanya Deriko?"
Lelaki yang ternyata bernama Deriko itu menggeleng,"Ada nama belakang. Tapi, aku tidak ingin memberitahu mu."
Fallona berdecih kesal,"Terserah."
Sebenarnya Fallona ingin menanyakan sesuatu. Tapi, ia ragu untuk bertanya. Takutnya akan menjadi kesalahan faham an. Apalagi lelaki di depannya ini tampak sangat hati-hati dengan orang asing.
"Deriko. Sebentar lagi aku akan pulang. Kau bisa membawa makanan ini kalau kau masih merasa lapar."
Deriko mengganguk, Lalu membawa keranjang berisi makanan. "Aku membawa ini saja."
"Yakin hanya itu? Kau tak ingin membawa buah-buahan ini?"
__ADS_1
Deriko menggeleng,"Ini cukup kok."
"Baiklah."
"Aku pergi dulu. Dan terimakasih makanannya." Setelah itu Deriko berlari pergi.
Setelah memastikan lelaki itu tidak tampak lagi. Fallona berjalan menuju kereta yang terparkir di dekat tempat ia duduk tadi.
......###......
Brukk
Fallona menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Ia mendesah frustasi. Tubuhnya berguling ke sana kemari. Kakinya ia hentak-hetakkan dengan kasar.
Fallona meremas rambutnya. Bisa-bisanya ia melupakannya hal penting ini.
Ia melupakan tentang undangan Ratu untuk datang ke istana. Yah, Sebenarnya ia memang sengaja untuk melupakannya.
Setelah Fallona pulang dari taman. Ibunya tiba-tiba bertanya tentang Undangan Ratu. Ia kira Ibunya lupa.
Karena Fallona lupa tentang undangan itu dan Ratu ngambek karena ia melupakan undangan itu. Jadi, Fallona di suruh--baca:dipaksa-- Untuk menginap di istana untuk menebus kesalahannya itu.
Dan yang membuatnya semakin frustasi adalah rencana pertunangan nya. Selain untuk menebus kesalahannya, Ia di undang datang ke istana untuk rencana pertunangan nya dengan Adelio.
Fallona ingin menghilang saja dari dunia ini.
Nilam tersenyum,"Lady, ini makanan untuk anda."
Kening Fallona mengerut saat melihat camilan yang disajikan,"Ini apa?"
Sireya menjelaskan,"Ini camilan yang dibuat dari serat sayuran dan buah-buahan, Lady. Karena besok Anda akan berkunjung ke Istana jadi Duchess menyiapkan ini."
"Ini sangat bagus untuk kulit. Dan juga Anda belakangan ini makan banyak camilan, jadi Duchess menyiapkan ini. Jadi, Anda tidak perlu diet. karena makanan ini rendah lemak."
Fallona menatap datar camilan di hadapan nya,"Kalian yakin Ingin aku memakan ini?"
Kedua pelayan nya itu mengganguk antusias,"Sangat yakin, Lady."
Fallona menatap makanan di depannya dengan raut wajah tertekan. Jika boleh jujur ia tidak ingin memakan ini. Bentuknya memang 'lumayan' bagus, tapi setelah tau ini terbuat dari serat sayuran tiba-tiba ia tidak selera untuk memakannya.
Mengambil satu camilan yang berbentuk seperti macaron, ia memakannya perlahan. Keningnya mengerut, lidahnya berdecak untuk memastikan rasa yang baru saja di kecapnya.
Rasanya tidak terlalu buruk. Lidahnya masih bisa menerima. Camilan mirip Macaron ini terasa gurih dan tidak berasa seperti sedang memakan sayuran,-- rasanya sedikit hambar.
Jika dirating mungkin 7/10, poin plusnya camilan ini adalah sehat dan rendah lemak.
"Lady, besok Anda harus bangun lebih pagi dari biasanya. Karena anda besok datang ke istana, jadi anda perlu mempersiapkan segala hal."
__ADS_1
Matanya melirik sinis ke arah Sireya,"Hah!? Kenapa aku--"
Sireya tersenyum manis,"Maaf, Lady. Tapi, ini titah dari Nyonya Duchess. Jadi, anda tidak bisa menolak."
Ini yang tidak ia suka jika berkunjung ke istana. Ia akan di dandani dari pagi buta untuk mempersiapkan penampilan nya.
"Baiklah. Aku akan tidur dari sekarang agar bisa bangun pagi besok. Jadi, jangan menggangguku."
Kedua pelayan itu pergi setelah membungkuk hormat,"Baik, kami mengerti, Lady."
Fallona memperbaiki posisi tidurnya, lalu menutup matanya.
Semoga besok tidak ada masalah yang menimpaku.
...###...
"Ayo, Ona. Sebentar lagi kamu akan berangkat menuju ke istana. Semangat, Semangat."
Fallona menatap Ibunya dengan pandangan datar. Kenapa ia yang berangkat tapi ibunya ini malah yang merasa Semangat.
Para pelayan juga ikut mengantar nya dengan wajah yang berseri-seri.
Keningnya mengerut, ini kenapa semua orang merasa bahagia di atas penderitaan nya?
Bahkan Nilam dan Sireya membawakan bunga mawar merah untuk nya.
Fallona dituntut untuk berjalan ke arah kereta. Ia menaikinya. Ia bisa melihat ibunya dan para pelayan melambaikan tangan ke arahnya dengan sorot bahagia (?).
Ia membalas lambaian tangan itu dengan memasang wajah senyum tertekan.
Kereta berangkat dan menyisakan Fallona yang jantung nya berdegup kencang hingga ia bisa merasakan denyutan di dadanya.
*Semoga takdir berpihak padanya.
...###...
Hallo. Maaf untuk keterlambatan update nya*.
Author lagi sakit, entah kenapa ini tidak sembuh-sembuh.
Batuknya padahal udah lebih dari dua Minggu, tapi engga sembuh-sembuh. Terkadang author takut kena penyakit serius. Kalian ada yang gini gak sih?🥲
Author lagi kehilangan ide cerita. semoga chapter ini memuaskan kalian.
See you next time
^^^08-07-2022^^^
__ADS_1