Villain Princess

Villain Princess
11


__ADS_3

Fallona menatap orang didepannya dengan pandangan curiga. Sekarang Fallona berada di kereta menuju ke arah kota. Kalian tau siapa yang mengajaknya pergi?


Kakak Fallona, Yaitu Fero.


Entah kesambet apa Kakaknya ini, tiba-tiba mengajaknya pergi ke pusat kota untuk berbelanja. Garis bawahi, Berbelanja. Padahal dulu Fero sering menyindirnya karena terlalu sering berbelanja. Tapi, sekarang?


Hmmm, perlu dicurigai.


"Ekhem." Fallona berdehem pelan.


Fero menoleh, "Ada apa,?"


"Tumben sekali Kakak mengajak ku keluar?" Fallona menatap kakaknya dengan pandangan menyelidik.


Fero mengangkat sebelah alisnya, "Memangnya ada larangan kalau Aku tidak boleh mengajak adikku sendiri keluar?"


"Engga, sih. Tapi ini sedikit aneh." Fallona menatap kakaknya curiga, "Pasti ini ada niat terselubung. Iya kan?"


Fero menatap adiknya malas, "Niat terselubung apa? Kakak hanya ingin mengajak adik kakak yang paling cantik ini makan bersama di restoran."


Bulu kuduk Fallona berdiri, Ia merasa merinding dengan tingkah aneh Kakaknya ini, "Makan bersama?"


Fero menganggukkan kepala. Sedangkan Fallona semakin was-was, "Yang Benar?"


Fero mengangguk dengan wajah yang meyakinkan. Fallona menghela nafas, berusaha percaya meskipun di hatinya sedikit merasa ganjal, "Baiklah. Aku percaya."


Saat sampai, Fallona bisa melihat bangunan restoran yang sangat cantik, khas bangunan Eropa zaman dulu.


Memasuki restoran. Mata Fallona dimanjakan oleh arsitektur bangunan yang sangat cantik dan elegan.


Dengan tangan yang bergandengan dengan Kakaknya. Fallona dituntun menuju meja yang sudah dipesan. Fallona duduk setelah ada seorang pelayan yang menarikan kursi untuknya.


"Kamu bisa pesan apa aja."Kata Fero.


Fallona Mengangguk antusias. Matanya bergulir menatap buku menu yang ada ditangannya. Fallona bingung ingin memesan apa. Makanan di sini sangat asing di matanya.


Setelah sedikit mempertimbangkan, akhirnya Fallona memutuskan untuk memesan dessert saja, "Aku pesan Croissant, Macaron, dan Susu Almond."


Fero menatap adiknya, "Hanya memesan menu dessert?"


Fallona mengangguk.


"Baiklah. Saya memesan heidenische küchen, Susu Almond, dan untuk dessert nya Puding coklat."


Pelayan itu mencatat pesanan, dan setelah itu berpamitan untuk pergi.


Fallona sedikit bingung dengan pesanan kakaknya, nama makanan itu sedikit asing di telinga. Dan Fallona baru tau kalau kakaknya juga menyukai susu Almond.


Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya makanan yang mereka pesan datang. Dan Fallona baru tau kalau heidenische küchen itu Pie. Kalau tau begitu, Ia juga memesan itu tadi.


(heidenische küchen adalah pai yang diisi dengan ayam, paprika, babi berlemak, dan apel.) [Sumber dari Google]


Fallona menyantap makanannya dengan hikmat. Tapi Ia sedikit heran menatap kakaknya yang seperti mencuri-curi pandang ke arah meja sebrang.

__ADS_1


Fallona menyesal menoleh, Karena yang Ia lihat adalah hanya seorang gadis dan seorang pria yang sepertinya sedang berkencan?


Fallona melotot kaget, Ia baru sadar sesuatu. Matanya melihat sosok gadis itu, Lalu kembali ke arah ke kakaknya. Fallona melakukan itu beberapa kali. Setelah itu, Ia mengerti tentang situasi ini.


"Kakak menyukai gadis itu?"


Fero mengangguk antusias, "Iya. Cantik kan? Sangat cocok untuk menjadi Kakak ipar mu, Ona."


Fallona tercengang, Blak-blakkan sekali kakaknya ini.


Tapi, yang membuat Fallona bingung adalah Kenapa kakaknya ini menyukai gadis lain? Seharusnya kakaknya ini menyukai Isabella. Kenapa bisa berubah?


Entahlah, Fallona tidak peduli. Kepalanya pusing.


"Jadi, kakak datang kesini karena gadis itu?"


Fero mengangguk, tapi pandangan nya masih menatap seorang gadis itu. Menurut Fallona, Gadis itu cantik dan auranya tampak lembut. Pintar juga kakaknya memilih. Tapi Fallona agak kasihan dengan gadis itu karena disukai oleh pria seperti kakaknya ini.


Fallona manggut-manggut setelah mengetahui kalau ternyata kakaknya mengajak untuk makan diluar Karena ingin memata-matai gadis yang disukai nya.


Ada bagusnya juga kalau Kakaknya tidak menyukai Isabella. Kakaknya tidak jadi seorang Sadboy.


Kalau perasaan Kakaknya bisa berubah, berarti takdir nya bisa berubah juga kan?


"Ona, Menurut kamu siapa laki-laki itu?"


Fallona berfikir, "Mungkin pacarnya, Kak?"


"Lah, Terus aku harus jawab apa?" Kesal Fallona.


"Jawab teman gitu. Kakak baru aja mau berjuang." Jawab Fero dengan wajah cemberut.


Fallona menghela nafas lelah, "Baiklah. Tapi, bisa aja itu Kakaknya kan? Tapi mereka tidak terlihat mirip." Ia menelisik kedua orang itu dengan serius.


Fero menggelengkan kepala, "Itu bukan kakaknya."


Fallona mengerut bingung, "Kakak tau dari mana?"


Fero menyeringai," Aku tau semua hal yang menyangkut tentang gadisku."


Fallona Menatap kakaknya dengan pandangan horor. Kakaknya tampak mengerikan. Mirip seperti seorang stalker.


Punggungnya bergidik. Akan merepotkan kalau disukai oleh seseorang yang mempunyai sifat sama seperti kakaknya.


Dalam hati Fallona berdoa, semoga orang yang menyukai nya normal. Tidak seperti kakaknya ini.


......***......


Malam ini Fallona berniat untuk menyelinap keluar mansion. Fallona mendengar dari para Pelayan kalau sekarang sedang ada pasar malam di pusat kota. Dengan bermodalkan alat memanah dan satu pisau dapur, Fallona bertekad untuk keluar sendirian.


Dengan hati-hati Fallona melangkah keluar. Fallona sedikit takut, tapi segera di tepis. Kalau Ia memikirkan itu yang ada Ia tidak jadi keluar.


Setelah memastikan kalau keadaan diluar aman. Fallona segera berlari dengan kencang menuju gerbang belakang mansion. Nasib punya rumah besar, Fallona jadi harus berlari cukup jauh dari arah pintu menuju gerbang. Setelah berlari cukup jauh, Fallona bersandar di pohon karena kelelahan.

__ADS_1


"Capek banget."


Fallona memilih istirahat sebentar di bawah pohon, sebelum melanjutkan perjalanan nya. Tapi tiba-tiba Fallona merasa was-was karena ada suara orang yang sedang bertarung, mungkin?


Fallona berjalan pelan menuju suara itu. Setelah sampai, Ia Mengintip di bawah pohon besar. Dan ternyata benar, Ada seorang pria yang sedang diserang oleh beberapa orang--yang mungkin itu adalah sekelompok bandit . Fallona ingin membantu, tapi ia sadar diri. Bukannya membantu yang ada Ia malah menjadi beban.


Pria itu bertarung dengan sangat lincah. Beberapa kali Dia bisa menghindar dari pukulan yang melesat cepat kearahnya. Fallona sedikit kagum karena pria itu tidak sekalipun merasa kesusahan. Tapi Fallona terkejut saat ada salah satu orang yang menyayat tangan pria itu dengan belati.


Meskipun tangan pria itu tersayat, tapi Pria itu masih bisa menghajar bandit itu sampai tersisa Dua orang. Fallona merasa kalau pria itu sampai diambang batasnya.


Fallona panik, Apa yang harus Ia lakukan? Fallona berfikir keras. Mencoba untuk memikirkan solusi.


Ah, Fallona baru ingat. Panah yang Ia bawa kan beracun. Mungkin panah itu bisa melumpuhkan bandit itu. Fallona memfokuskan pandangannya ke arah salah satu bandit, dan memanahnya. Fallona bersorak gembira karena panahnya tepat sasaran. Bersamaan dengan itu pria itu sudah mengalahkan bandit yang satu lagi.


Fallona bergegas menuju ke arah pria itu. Pria itu tampak kesakitan sambil memegang lengannya yang tersayat. Fallona membawa pria itu ke salah satu pohon dan menyandarkan.


Melihat sayatan di lengan pria itu, Fallona mengeluarkan sapu tangannya dan mengikatnya di lengan pria itu. Setelah memastikan darahnya tidak lagi mengalir. Fallona duduk di samping pria itu.


"Tuan, Anda baik-baik saja?"


Pria itu mengangguk sambil sedikit meringis kesakitan, "Anda hebat Nona. Bisa memanah bandit itu tepat sasaran."


Fallona merona malu, tapi perkataan pria itu setelah nya membuatnya sedikit mereka bersalah.


"Kenapa Anda tidak menolong Saya dari awal? bukankah Anda dari tadi melihat pertarungan Saya?"


"Saya masih belum mahir memanah. Kalau saya salah memanah, dan panahnya terkena Anda bagaimana? Dan juga Panah saya terbatas, cuman ada 3. Lagipula Anda selamat kan sekarang? Cuman kesayat dikit."


Pria itu menggulirkan mata malas, lalu menatap Fallona intens, "Ngomong-ngomong, Anda siapa? Saya sepertinya pernah melihat Anda di suatu tempat, Tapi saya lupa."


"Kita pernah bertemu sebelumnya? Tapi, Saya tidak mengingat Anda." Fallona memasang wajah bingung. Kapan Ia pernah bertemu pria didepannya ini?


Pria itu tampak berfikir, Lalu matanya sedikit membulat, "Anda Nona Fallona kan? Anak ketiga dari Duke Aldridge."


Fallona terkejut, "Anda tau dari mana?"


Pria itu menyeringai, "Siapa yang tidak tau Nona Fallona? Anda sangat terkenal karena sikap buruk Anda."


Fallona memasang wajah kesal, "Saya tidak tau kalau saya seterkenal itu. Dan juga Anda siapa? Saya tidak mengenal Anda. Sepertinya Anda tidak terlalu populer." Ejeknya.


"Saya sangat terkenal, Nona. Anda yakin tidak tau tentang saya?"


Fallona menggeleng malas. Setelah mengetahui sifat pria ini, Ia jadi sedikit menyesal telah menolongnya.


"Yakin tidak tau? Saya sangat populer loh." Pria itu berkata sambil menyisir rambutnya ke belakang.


"Terserah. Dari pada Saya mengoceh tidak jelas dengan Anda. Mendingan saya pergi ke Pasar malam." Setelah mengatakan itu Fallona berdiri sambil membersihkan pakaiannya yang kotor.


"Jangan pergi dulu, Nona. Saya belum memperkenalkan diri saya." Kata pria itu sambil memegang salah satu tangan Fallona.


Pria itu berdiri lalu membungkukkan badannya, "Perkenalkan, Saya Caiden J Dawson."


...***...

__ADS_1


__ADS_2