
Fallona menghela nafas lelah. Pagi-pagi buta tadi Ia di bangunkan oleh Ibunya. Ia disuruh bersiap untuk pergi ke Istana. Para pelayan berbondong-bondong untuk membantunya bersiap dan merias wajahnya agar terlihat semakin cantik.
Entah apa yang dipikirkan Ibunya saat membeli gaun ini. Gaun yang dipenuhi permata dan berlian. Dengan model mengembang seperti sangkar ayam. Gaunnya bagus--sangat bagus, Tapi yang tidak mengenakkan dari gaun ini adalah Beratnya, Gaun ini sangat berat. Apalagi ditambah dengan korset yang sangat sesak.
Fallona hampir kehabisan nafas tadi. Untung salah satu pelayan peka kalau Fallona merasa sesak dan mengendurkan sedikit korset nya.
Penderitanya belum sampai situ, Fallona juga di paksa memakai sepatu hak tinggi Dan juga memakai hiasan kepala yang berat.
Fallona ingin menangis. Kepalanya pusing karena hiasan kepala yang menurut nya sangat berlebihan.
Setelah di ceramah i hampir satu jam lamanya. Akhirnya Fallona berangkat menggunakan kereta utusan istana yang sudah menjemputnya.
Perjalanan menuju istana tidak terlalu membosankan karena pemandangannya yang sangat indah. Apalagi di depannya ada beberapa camilan kesukaannya.
Saat sampai, Fallona terbengong-bengong saat melihat kemegahan istana. Tamannya sangat indah dan luas, ada beberapa bunga yang belum Ia temui di kehidupan sebelumnya.
Pintu kereta dibuka, dan Fallona disambut oleh ksatria yang menuntutnya untuk turun.
Fallona berjalan masuk. Ia tak henti-hentinya mengagumi keindahan istana ini. Ukiran yang di lapisi dengan emas dan yang membuat nya sedikit terperangah adalah ada beberapa bongkahan berlian yang di tempelkan di dinding. Apa tidak takut di curi? pikirnya.
Ah, sepertinya itu tidak mungkin. penjagaan disini kan sangat ketat. Lagipula siapa orang bodoh yang berani mencuri di istana. Bisa-bisa Si Pencuri itu langsung di penggal kepalanya.
Sekarang Fallona berjalan sendiri setelah menyuruh pelayan untuk meninggalkan nya sendirian. Tentunya setelah bertanya Ratu menunggunya dimana.
Fallona berjalan menuju rumah kaca yang ada di samping istana. Terlihat ada seorang Wanita yang sedang duduk sambil meminum teh. Sepertinya itu Ratu. Fallona bergegas menuju ke sana.
Fallona sedikit terpesona dengan kecantikan Ratu. Kecantikan yang belum pernah Ia lihat. Apalagi auranya yang sangat anggun dan lembut. Berbeda dengan aura ibunya yang terlihat garang--kalau sedang mengomel, sih.
"Salam untuk Yang Mulia Ratu, Semoga Anda di berkahi oleh Tuhan." Fallona menundukkan kepala, sambil mengangkat ujung gaunnya. Mencoba terlihat se-anggun mungkin.
Setelah sedikit berlatih dengan Nilam tentang tata cara menyapa anggota istana. Akhirnya Ia bisa menyapa Ratu dengan lancar dan tanpa hambatan apapun.
Ratu tersenyum dan menyuruh Fallona untuk duduk. Setelah Fallona duduk. Ratu menuangkan teh untuk Fallona.
"Tidak perlu terlalu formal kepadaku, Fallona. Kamu kan sebentar lagi akan menikah dengan Adelio."Kata Ratu dengan tersenyum lembut ke arah Fallona.
Fallona tertawa canggung, "Iya, Ratu." Dalam hati Ia berteriak kalau Ia tidak akan menikah dengan Adelio. Siapa yang mau menikah dengan orang menyebalkan seperti dia? Cih, Najis.
"Panggil saja Ibunda. Bukankah Kamu dulu selalu memanggil ku begitu? Kenapa sekarang berganti?"Tanya Ratu dengan sedih. Melihat itu Fallona panik dan buru-buru menjelaskan.
__ADS_1
"Saya sedikit canggung, I-Ibunda. Kita sudah sedikit lama tidak bertemu." Fallona terkekeh canggung sambil mengelus lehernya pelan.
Ratu mengerutkan alis tidak setuju, "Sedikit lama? Kamu tidak kesini sudah sangat lama, Ona. Ibunda sangat merindukan mu."
Fallona tersenyum, "Maafkan Saya, Ibunda. Saya belakangan ini sedikit sibuk, Jadi tidak sempat mampir kesini."
"Tidak masalah. Yang penting sekarang Ona sudah kesini. Ngomong-ngomong, Bagaimana hubungan Ona dengan Adelio?"Tanya Ratu penasaran.
Fallona gelisah, Ia bingung harus menjawab apa. "E-emm, Kita baik-baik saja, Ibunda."
Ratu tersenyum cerah, "Wah, Bagus kalau begitu."
Fallona berbincang dengan Ratu cukup lama. Tak terasa matahari hampir tenggelam.
"Sering-sering mampir kesini ya, Ona."Ucap Ratu dengan pandangan sedikit berharap.
"Kalau Saya sedang tidak sibuk. Saya akan datang menemui, Ibunda."Jawab Fallona.
Fallona berpamitan pada ratu, setelah sesi berpelukan. Ia keluar dari rumah kaca. Ia sedikit merenggangkan tubuhnya yang pegal. Duduk terlalu lama membuat punggungnya sakit.
Brukkk
Fallona bergegas ke sana, dan membantu Isabella untuk berdiri.
"Isabella, Kamu baik-baik saja?"Tanya Fallona khawatir.
Isabella berdiri, sambil sedikit meringis kesakitan, "Saya baik-baik saja, Lady. Saya tadi tersandung gaun saya sendiri."
"Lain kali hati-hati."
"Terimakasih, Lady. Anda sudah menolong saya."Isabella membungkuk sopan.
Sebelum Fallona menjawab ada sebuah suara yang berasal dari belakang tubuhnya.
"Fallona, sudah ku peringatan berapa kali kalau Kamu jangan menggangu Isabella lagi."
Fallona menoleh, Oh, Si bodoh Adelio.
Fallona merenggut, "Tadi Isabella jatuh, Aku hanya menolongnya."
__ADS_1
"Kau pikir aku percaya?"Kata Adelio dengan sedikit merenggut.
"Kalau tidak percaya. Tanya saja sendiri ke Isabella."Kesal Fallona.
Adelio melihat Isabella yang ada di pelukannya, "Apa benar, Isabella?"
Isabella menganggukkan Kepala, "Iya. Lady tadi sudah menolong Saya, Yang Mulia."
Adelio menatap Isabella dengan pandangan tidak yakin, "Apa benar? Kamu tidak di ancam olehnya kan?"
Fallona melotot, "Heh!!Apa maksud mu? Aku tidak mengancamnya sama sekali."
"Diam kau, Fallona. Aku sedang tidak bicara dengan mu."Tukas Adelio. Ia menatap Fallona dengan pandangan sinis.
Fallona mengerakkan mulutnya tidak bersuara, "Nyenyenye."
Adelio yang melihat itu semakin tidak suka. Ia pikir gadis didepannya ini semakin tidak sopan. Dipikirannya sekarang, Ia mengganggap kalau Fallona sedang mencoba mencari perhatiannya.
"Sudah, Yang Mulia. Lady Fallona tidak mengancam atau mengganggu Saya. Justru Lady menolong saya yang sedang terjatuh." Isabella mencoba menjelaskan.
Adelio menghela nafas, "Baiklah, Aku percaya. Dan juga, Aku kan sudah Menyuruh mu jangan memanggilku Yang Mulia."
Isabella menundukkan kepala," Maafkan Saya, Yang Mulia. Saya menolak. Itu sangat tidak sopan."
Fallona menatap pasangan didepannya dengan pandangan malas. Ia sudah sangat lelah, dan sekarang ia di hadiahi dengan pandangan seperti ini. Merusak moodnya saja.
Tanpa memberi salam, Fallona berjalan ke arah kereta dengan acuh. Mengabaikan sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra.
"Oi, Kau tidak punya sopan santun sama sekali. Mana salam mu?"Adelio bertanya dengan nada tidak suka.
Fallona membalikkan badannya, dan Mengangkat kedua jari tengahnya, "Ba~~cot~"
Salah sendiri membuat Fallona menjadi nyamuk. Dipikir enak kali ya jadi nyamuk? Apalagi dirinya sekarang jomblo.
Tanpa memperdulikan tanggapan Adelio, Fallona memasuki kereta di bantu dengan kstaria.
Setelah duduk di kereta, Fallona sedikit lega. Karena sebentar lagi Ia bisa beristirahat dengan tenang di kamarnya.
Kasur, Aku merindukan mu.
__ADS_1
......***......