
"Caiden?"
"Hallo, Nona. Sudah lama kita tidak bertemu."Ucap Caiden sambil mengecup punggung tangan Fallona.
Fallona tersentak lalu tersenyum canggung,"Ah, Iya. Sudah lama kita tidak bertemu."
"Apa yang Nona lakukan disini?"Tanya Caiden sambil tersenyum manis. Tapi, senyum itu sedikit memudar saat melihat pria asing di samping Fallona.
"Aku ingin mencoba beberapa makanan disini."Ucap Fallona sambil menerima pesanan makanan nya. Setelah itu ia mengucapkan terimakasih dan memberikan uang untuk membayar pada penjual.
"Ini untuk kamu."Fallona memberikan satu makanannya untuk Deriko. Ia menatap tajam Deriko saat melihat wajah penolakan dari pria itu. Deriko dengan terpaksa menerima makanan tersebut.
Merasa di abaikan, Caiden bertanya dengan memasang wajah kesal, "Dia siapa, Nona? Kenapa dia bisa bersama mu?"
Fallona menatap Caiden,"Dia Deriko. Temanku."
"Dia teman Nona? Aku kira Nona tidak punya teman."Caiden bertanya sambil memasang wajah usil.
Fallona yang mendengar itu, menatap Caiden dengan kesal. "Kamu pikir aku apa? Tentu saja aku punya teman."
"Apa benar?"tanya Caiden dengan menaik-turunkan alisnya.
Deriko yang tiba-tiba menghentikan makannya dan berkata,"Dilihat dari perilaku Anda. Seperti nya Anda memang tidak punya teman."
Caiden yang mendengar itu cekikikan, "Itu bener."
"Deriko, kenapa kamu ikut mengejek ku? Seharusnya kamu membela ku." Fallona menatap Deriko tidak percaya.
Deriko menjawab dengan memasang wajah tidak bersalah,"Kenapa saya harus membela Anda?"
"Karena aku sudah membelikan makanan untuk mu."
"Tapi, Saya tidak meminta Anda untuk membeli kan saya makanan."Ujar Deriko sambil melanjutkan makannya.
Fallona mendesis kesal, lalu menarik telinga Caiden dan Deriko secara bersamaan. Ia menarik telinga itu dengan keras.
"Aduduh~"Ringis mereka berdua sambil memegang telinga mereka yang memerah.
"Kenapa aku juga ikut kena?"Ringis Caiden sambil mengusap telinga nya.
"Karena kamu yang memulai tadi."Kata Fallona tidak peduli. Ia juga mengabaikan Deriko yang tersedak makanan nya. Dalam hati Ia puas melihat itu.
Tadi, saat Fallona menarik telinga nya, Deriko tiba-tiba tersedak makanannya.
"Nona pergi keluar sendirian lagi?"Tanya Caiden sambil mengedarkan pandangannya. Ia mencoba mencari ksatria yang mendampingi gadis di depannya ini. Tapi tidak ada satupun kstaria yang ia lihat.
"Aku kesini bersama Deriko."
Deriko yang mendengar itu menatap Fallona tajam,"Anda pernah keluar sendirian?"
"Eh?"Fallona menatap Deriko bingung."Iya? Memangnya kenapa?"
"Bukankah Anda tau kalau itu sangat berbahaya?"
__ADS_1
"Aku tau, ta--"
"Kalau Anda tau itu berbahaya kenapa anda masih melakukannya?"Potong Deriko cepat.
"Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini?"Tanya Fallona. Ia sedikit bingung. Kenapa Deriko tiba-tiba bersikap seperti itu.
"Sudahlah. Aku tidak peduli."
Fallona menatap Deriko datar. Ia bingung kenapa sikap Deriko sedikit berubah. Apa kepalanya terbentur sesuatu? pikir nya.
Sedangkan Caiden hanya menatap keduanya dengan diam. Ia tidak berkata apapun.
"Mau memainkan sesuatu?"Tawar Caiden tiba-tiba, yang dibalas dengan tatapan bingung Fallona.
"Di pasar malam biasanya ada beberapa permainan yang bisa kita mainkan."Jelas Caiden.
Manik mata Fallona berbinar, "Benar juga. Mau memainkan sesuatu?"
Caiden menopang tangan di dagunya, memasang pose berfikir, "Ingin melihat-lihat dulu?"
"Boleh."Fallona menjawab dengan menggangukkan kepala antusias.
"Ayo." Mereka berdua berjalan lebih dulu. disusul dengan Deriko yang menghela nafas lelah.
Mereka berhenti di salah satu stand permainan, Yaitu Lempar cincin. Meskipun permainan ini terlihat mudah, tapi sebenarnya tidak semudah itu.
Permainan ini cukup sulit karena harus fokus melempar cincin agar masuk ke leher botol. Cincin yang digunakan terbuat dari besi melenting dan hanya sedikit lebih lebar dari leher botol.
"Kamu menang saja belum. tapi sudah bertanya duluan?"Tanya Fallona aneh. Sedangkan pria yang disebutkan menggosok hidung nya bangga.
"Nona meremehkan ku? Tentu saja, Saya akan menang."Ucap Caiden bangga.
"Cuman permainan seperti itu tapi Anda sudah bangga?"Ejek Deriko dari belakang Fallona.
"Saya lebih hebat dari Anda."Lanjutnya.
Caiden tersenyum miring,"Benarkah? Bagaimana kalau kita tunjukkan sekarang."
"Dengan senang hati."Deriko menjawab dengan percaya diri.
Penjaga yang peka langsung memberikan Deriko beberapa cincin.
"Kalau Saya menang. Nona bisa meminta hadiahnya."Ujar Caiden sambil mempersiapkan diri. Deriko yang mendengar itu mencibir. "Anda belum tentu menang. Jangan terlalu percaya diri."
"Pasti menang."
Caiden melemparkan cincin itu ke arah botol yang berjejer di depan. Dan berhasil memasukkan semua cincin ke leher botol.
Caiden membuat lebar tangan nya, "Lihat?"
Fallona yang melihat itu kagum. Sedangkan, Deriko mencibir pelan. Ia berjalan mendekat dan melemparkan cincin itu secepat kilat. Dan hebatnya semua cincin itu masuk.
Mulut Fallona ternganga. Bagaimana bisa seperti itu? Itu terlalu cepat. Bahkan ia saja belum sempat berkedip.
__ADS_1
"Jangan sombong dulu. Masih banyak permintaan yang harus kita coba."Ujar Caiden kesal. Sedangkan Deriko mengangkat bahunya acuh.
"Kamu ingin meminta hadiah apa?"Tanya Fallona. Pria itu menatap Fallona,"Saya tidak tertarik. Kalau Anda mau, Anda bisa meminta nya."
"Benarkah?"Pria itu mengangguk. Setelah mendapatkan persetujuan. Fallona meminta hadiah dari penjaga. Meskipun agak kesal karena barang yang ia mau tidak di perbolehkan. Jadi, ia mengambil bando putih bertema kelinci.
Mereka mengunjungi semua stand permainan yang ada di pasar malam. Meskipun ada beberapa penjual yang tidak memperbolehkan mereka main karena terlalu mahir.
Karena hampir semua permainan mereka menangkan, bahkan ada pemilik stand yang melarang mereka mendekat ke arah stand nya karena takut mereka menang.
"Untuk kali ini. Pasti aku menang lagi." Ujar Caiden percaya diri. Deriko tidak menggubris perkataan itu. Ia sibuk mempersiapkan diri.
Sedangkan Fallona, Ia kerepotan membawa hadiahnya. Setiap mereka menang, mereka selalu menyuruhnya untuk mengambil hadiahnya. Jadi sekarang tangannya penuh dengan barang.
Mata Fallona mengerling saat melihat stand permainan memanah. Ia ingin ikut. "Aku ingin ikut."
"Hah?"Kedua pria itu kompak menatap Fallona. Lalu memasang wajah bingung dan sedikit heran.
"Memangnya Lady bisa?"Tanya Deriko ragu.
"Oh, benar juga. Nona kan bisa menggunakan alat memanah."Ucap Caiden setelah menginginkan sebuah kejadian di masa lalu.
Deriko langsung menatap Caiden kaget, "Benarkah?" Lalu, Dibalas dengan anggukan pelan Caiden.
"Jangan meremehkan ku ya."Ujar Fallona bangga. Lalu, Ia menitipkan barangnya ke pemilik permainan yang memasang wajah was-was setelah melihat banyak hadiah itu.
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan. Kalau yang menang yang akan mendapatkan hadiah."Ujar Fallona sambil merenggangkan badan.
"Tidak tertarik."Kedua pria itu menjawab secara bersamaan. Fallona yang mendengar itu mereka kesal. "Kalian tidak seru."
Caiden menatap Fallona aneh,"Bukankah yang menang memang mendapat hadiah?"
"Ah, Benar juga."
Deriko menggelengkan kepalanya pelan, "Ayo, kita mulai sekarang."
Mereka bersiap-siap dan melepaskan anak panah secara bersamaan dan secara mengejutkan scor mereka sama. Anak panah mereka mendarat di tempat yang sama. Bahkan sampai berkali-kali.
Karena kesal sekaligus lelah, mereka langsung pergi dari stand itu tanpa mengambil hadiah mereka. membuat pemilik permainan itu menghembuskan nafas lega.
"Aku akan pulang sendiri. Kalian juga pulang."ucap Fallona.
"Saya akan mengantarkan, Lady."Ujar Deriko pelan.
"Tidak baik seorang Lady berjalan sendiri di tengah malam."Ucap Caiden khawatir.
"Kalian berdua mau mengantarku? Tidak, tidak. Nanti aku ketahuan kalau ramai-ramai. mendingan sekarang kita pulang ke rumah masing-masing."Ucap Fallona tegas dan segera pergi. meninggalkan kedua pria itu dengan perasaan gelisah.
Perjalanan ke arah mansion berjalan dengan lancar. Bahkan sampai Fallona masuk ke kamarnya.
Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur. Fallona lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama setelah itu ia terlelap.
Tanpa ia sadari, ada seseorang yang mengikutinya sepanjang perjalanan pulang.
__ADS_1