Villain Princess

Villain Princess
18


__ADS_3

Sekarang Fallona berada di taman dengan Benjamin. Setelah aksi menggerutu nya tadi, Fallona mengajak Benjamin untuk piknik di taman. Bercerita sambil melepas rindu, mungkin?


Fallona masih mencurahkan perasaan kesalnya. Mencurahkan unek-unek yang selama ini Ia simpan sendiri.


Benjamin masih setia mendengarkan keluh kesah Fallona, Ia tidak masalah Fallona bercerita apa saja padanya. Ia merasa sangat senang, karena selama ini ia merindukan suara indah yang selama dua Minggu ini tidak ia dengar.


Fallona bertanya,"Ben, Apa kamu yang merekomendasikan Senior Hero untuk melatih ku?"


Karena sekarang tidak dalam masa latihan, jadi Fallona bisa memanggil Hero dengan sebutan 'Senior'. Kalau dalam masa pelatihan, Ia akan memanggilnya 'Pelatih'.


Benjamin menggelengkan kepalanya,"Bukan. Itu Ayah yang memilihnya."


Bohong. Sebenarnya yang merekomendasikan Hero adalah Benjamin sendiri. Ia merekomendasikan Hero karena Ia tau Hero bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta.


Apalagi Sikap Hero yang tidak ramah. Benjamin tau Fallona tidak suka seseorang yang mempunyai sikap seperti itu. Itu menjadikan hatinya sedikit tenang, Karena berkemungkinan kecil Fallona untuk menyukai sosok Hero.


Benjamin. Sepertinya pengetahuan mu tentang Fallona tidak seluas itu. Asal kau tau? Fallona menyukai pria berambut hitam.


Fallona mendengus,"Apa tidak bisa diganti? Aku ingin pelatih yang lebih ramah."


Benjamin menggelengkan kepalanya dan menatap Fallona prihatin, "Tidak bisa."


"Hah?Tidak bisa?"


Sekali lagi, Benjamin menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Fallona menghela nafas kecewa. Bibirnya melengkung kebawah.


Diam-diam Benjamin tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa. Tidak akan lama kok, mungkin hanya sebulan."Benjamin menepuk kepala Fallona pelan.


Manik mata Fallona melebar."Sebulan? itu lama."Gerutunya.


Melihat reaksi gadis didepannya, Benjamin terkekeh gemas. Ia sangat menyukai ekspresi yang dikeluarkan oleh Fallona. Itu terlihat lucu dan imut di matanya.


Selain ekspresi, Benjamin juga menyukai tingkah laku Fallona. Tingkah laku yang di luar dugaan. Meskipun terkadang perilakunya terlihat aneh dan cenderung nyeleneh. Tapi, Benjamin menyukainya. Ia tidak akan bosan menatap Fallona.


"Itu tidak lama. Kamu sudah dilatih Hero dua minggu kan? Berarti tinggal Dua Minggu lagi."Tutur Benjamin.


"Itu lama."


Benjamin tertawa."Anggap aja ini pelatihan agar kamu lebih sabar nantinya."


Mendengar perkataan Benjamin, Fallona berdecih kesal. Dan berakhir Fallona memukul Benjamin tepat di kepala.


"Fallona, Apa kamu akhir-akhir ini merasa aneh?"


Mendengar pertanyaan Benjamin, Fallona menggerutkan alis bingung,"Hah? Apa maksudmu?"


"Hmmm,,, Seperti ada yang mengikuti mu diam-diam?"Tanya Benjamin ambigu.

__ADS_1


Meskipun merasa aneh mendengar pertanyaan Benjamin tapi Fallona tetap menjawab,"Tidak ada. Lagipula aku jarang keluar."


Benjamin menggangukkan kepala.


Fallona menatap Benjamin aneh,"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Kamu kan banyak yang benci. Siapa tau ada yang mencoba mencelakai mu." Setelah bicara seperti itu Benjamin tertawa terbahak-bahak.


Fallona melotot, "Sialan."Dengan tenaga penuh Fallona memukul bahu Benjamin dengan bertubi-tubi.


...###...


Fallona berencana ingin ke taman kota setelah pulang ke akademi. Ia sudah mewanti-wanti Nilam untuk menyiapkan keperluannya.


Entah kenapa Ia tiba-tiba ingin pergi ke sana. Tapi, sepertinya karena ia ingin melihat berbagai macam bunga. Karena bunga di taman kota sangat cantik dan subur.


Kalau Boleh, Fallona ingin membuat rumah di dekat taman kota agar kapanpun ia bisa berkunjung ke taman.


Bunga di taman mansion juga ada. Tapi tidak sebanyak yang ada di taman kota.


Sebenarnya Ia ingin membawa kakak nya untuk ikut ke taman kota. Tapi Sayangnya Kakaknya itu sibuk berlatih. Jadi, niatnya ia urungkan.


"Setelah dipikir-pikir Aku tidak punya teman perempuan sama sekali." Fallona tersenyum tertekan.


Ia bisa memaklumi itu. Siapa orang gila yang mau berteman dengan Fallona. Yang ada Ia menjadi babu. Dan kemungkinan buruk, berakhir di rundung.


Sekarang Ia dalam perjalanan menuju ke taman kota. Sesuai dengan yang ia inginkan pagi tadi. Berpiknik sambil melihat keindahan bunga-bunga bermekaran. Pasti sangat menyenangkan, pikirnya.


Nilam yang melihat Lady-nya seperti itu segera menariknya."Lady, itu bahaya."


Fallona menatap Nilam,"Kenapa di sana ramai sekali?"


"Mungkin ada seorang pencuri? Belakangan ini memang banyak pencuri yang berkeliaran disini, Lady. Jadi, Anda harus lebih berhati-hati sekarang."


"Hah? Pencuri? "


Karena rasa penasaran, Fallona membuka pintu kereta dan meloncat keluar. Ia mengabaikan teriakan Nilam.


Fallona berlari cepat menuju ke arah keramaian.


Dan lagi, Fallona merasa aneh. Entah kenapa Ia tiba-tiba ingin kesini dan berencana untuk menolong pencuri itu.


Kalau dipikir-pikir, Daripada menolong seorang Pencuri lebih baik ia berpiknik sekarang.


Fallona mengabaikan perasaannya lagipula udah terlanjur, sudah sangat terlambat untuk kembali. Ia harus cepat- cepat menolong sang pencuri. Lebih cepat ia menyelesaikan nya, ia akan lebih cepat untuk sampai ke taman kota.


"Permisi." Fallona menerobos kerumunan. Sedikit susah karena kerumunan terasa sangat padat.


Menghela nafas lega saat ia sampai di depan. Keningnya mengerut. Ada seorang bocah lelaki seumuran dengannya tengah dirundung (?). Ralat, Lebih tepatnya dianiaya oleh seorang bangsawan.


Fallona Melangkah mendekat, "Hei, ada apa ini?"

__ADS_1


Pria bangsawan itu menoleh, "Lady Fallona?"


Kening Fallona mengerut kesal,"Kenapa anda menganiaya anak ini? Apa dia mencuri sesuatu?"


Pria bangsawan itu tersenyum. Entah kenapa senyum pria itu membuat Fallona merasa kesal. "Bukan. Begini, Lady. Bocah miskin ini tadi menabrak ku, Jadi aku sedikit memberi pelajaran padanya."


Fallona menatap Pria itu datar. Hatinya terasa panas. Rasanya ia ingin menendang pria di depannya ini.


Ia tak habis pikir. Kenapa orang-orang disini sangat menjunjung tinggi kasta. Bahkan kesalahan sekecil ini di besar-besaran.


"Bukankah itu masalah kecil? Anda tidak harus sampai menganiaya nya."


"Ini masalah berat, Lady. Baju saya menjadi kotor karena sudah menyentuh pakaian kotornya itu. Lihat pakaiannya? Bukankah itu sangat kotor?"


Fallona Menghela nafas,"Lepaskan dia."


Pria didepannya terlihat kesal,"Bagai--"


Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Fallona sudah memotong nya. Terdengar tidak sopan, tapi pria di depannya ini benar-benar menguji kesabaran nya.


"Lepaskan atau kau mau aku adukan Ayahku? Pilih mana?"


Maaf ayah telah membawa namamu di masalah ini.


Pria itu terlihat gelagapan, Ia bergegas pergi.


"Hei? Apa kau baik-baik saja?"


Fallona membantu laki-laki itu berdiri. Dan di sambut pandangan aneh dari sang pria. "Kau tidak jijik padaku?"


"Hah? Apa maksudmu?"


"Biasanya orang-orang menatap ku dengan pandangan jijik."


Fallona mengangkat bahunya acuh."Kau terluka?"


Lelaki itu menggelengkan kepalanya."Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, Kau Lady yang dikabarkan hilang ingatan itu ya?"


Fallona menggangukkan kepala. Dan di saat itu juga pandangan mata lelaki di depannya berubah.


...###...


Holla,,,


Setelah aku baca part sebelumnya, ternyata banyak typo bertebaran.


Maafkan keteledoran Author. Mungkin saat senggang nanti, akan author revisi.


Untuk bab ini maaf kalau pendek.🙏


See you~~

__ADS_1


^^^01-07-2022^^^


__ADS_2