Villain Princess

Villain Princess
12


__ADS_3

Caiden J Dawson?


Namanya terdengar asing.


Fallona merenggut, berusaha mengingat nama itu. Karena tak kunjung mengingat, Fallona pasrah. Sepertinya Dia bukan salah satu tokoh utama.


Entah kenapa semakin lama Fallona tinggal disini, ingatan nya tentang kehidupan dulu semakin menipis. Bahkan sebagian besar dari alur novel Ia melupakan nya.


"Nona?"


Panggilan itu menyadarkan Fallona, "Ada apa, Tuan?"


"Panggilan Caiden saja, Nona. Saya sedikit tidak nyaman dengan panggilan itu."


"Kalau begitu, Anda juga harus memanggil saya Fallona."


Caiden tampak terkejut, "Apa boleh? Saya hanya anak seorang Viscount, Nona. Akan sangat tidak sopan kalau saya memanggil Anda dengan nama."


"Tidak masalah, Caiden. Kalau kamu takut, kamu bisa memanggil nama ku kalau hanya ada kita berdua" Kata Fallona.


Meskipun agak ragu, tapi Caiden menganggukkan kepala nya.


Sekarang Fallona dan Caiden berjalan menuju ke pasar malam. Setelah 'sedikit' memaksa Caiden untuk menemaninya. Pada akhirnya pria itu mau menemaninya meskipun dengan sedikit terpaksa.


"Ngomong-ngomong, Caiden. Aku tidak pernah bertemu dengan mu saat di akademi."


"Saya memasuki akademi pelatihan kstaria."


Fallona menganggukkan mengerti, pantas saja Caiden terasa asing di matanya. Ternyata beda Jurusan.


Di Akademi, Ada 3 Jurusan yang bisa dipilih, Yaitu Keperawatan, Pelatihan kstaria [Militer], Dan Materi Politik.


"Di pelatihan ksatria, Apa ada perempuan?"


Caiden mengangguk, "Ada. Meskipun tidak sebanyak laki-laki. Mungkin sekitar ada 50-60 perempuan."


Fallona berfikir, mungkin kalau masuk akademi ksatria akan seru. Fallona asli bodoh itu kenapa harus milih Jurusan materi politik, sih? Sudah tau kalau kapasitas otaknya tidak memadai untuk materi berat seperti itu.


Tapi, Fallona sadar sesuatu, "Tapi, bukankah Perempuan tidak boleh berlatih bela diri?"


Mendengar itu Caiden menganggukkan kepala, "Benar. Tapi, kalau Tujuannya ingin melindungi kerajaan itu tidak masalah. Meskipun seleksi nya akan sangat ketat."

__ADS_1


"Begitu ya. Tapi, Mereka yang keturunan dari seorang ksatria juga bisa ya?"Tanya Fallona.


"Benar. Mereka bisa masuk dan seleksi nya memang tidak seketat dari bukan keturunan ksatria."Jawab Caiden. Untuk seleksi dari bukan keturunan ksatria memang sangat ketat dan berat. Jadi, jarang ada yang bisa masuk ke pelatihan ksatria.


Mungkin jika semua perempuan keturunan ksatria memilih minat ke pelatihan ksatria akan sangat banyak yang daftar. Tapi, kebanyakan mereka memilih memasuki akademi kesehatan atau ke materi politik.


Tapi, perempuan yang daftar ke pelatihan kesatria rata-rata bukan dari keturunan ksatria. Jadi, mereka harus berlatih dengan ekstra agar di terima


Fallona pikir jika ia daftar ke pelatihan ksatria belum tentu juga keterima karena Ia memang jarang berlatih secara fisik. Kalau keterima pun, mungkin tubuhnya akan remuk duluan.


"Alasan Caiden memasuki Pelatihan ksatria apa?" Tanya Fallona penasaran.


"Karena Saya ingin menjadi seperti Ayah Saya. Ayah Saya juga seorang ksatria."Caiden menjawab itu sambil tersenyum.


"Begitu ya."


Setelah berjalan agak jauh. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


"Fallona, kita sudah sampai di pasar malam." Caiden sedikit canggung saat menyebut namanya tanpa embel-embel 'Nona/Lady'. Fallona tidak mempermasalahkan itu, mungkin butuh beberapa waktu untuk membuatnya terbiasa.


Manik mata Fallona berbinar saat melihat pasar malam yang ramai akan penjual. Ia menggandeng tangan Caiden dan mengajaknya masuk ke pasar malam.


Ada banyak jenis makanan yang dijual. Fallona sampai bingung ingin membeli yang mana. "Caiden, kamu ada makanan yang ingin dibeli? Aku bingung mau membeli apa."


Fallona mengangguk, "Boleh. Aku mau satu."


Caiden memesan lalu penjual itu membuat pesanan mereka. Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka sudah jadi.


Fallona senang saat pesanan sudah ada ditangannya. Rasa makanan ini sedikit mirip dengan sate ayam, tapi makanan ini sedikit lebih manis.


Setelah mengunjungi beberapa stand makanan, dan merasa perut mereka sudah penuh. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Setelah mengantarkan Fallona sampai di gerbang mansion, Caiden berpamitan untuk pergi.


Fallona masuk dengan sedikit mengendap-endap. Kepala nya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang.


Fallona merasa lega saat Ia sudah sampai di kamar. Setelah Menganti pakaian, Ia berbaring di atas kasur. Seru juga main ke pasar malam. Kapan-kapan Ia akan ke sana lagi. Dengan mengajak Caiden lagi mungkin?


...***...


Fallona mengerjapkan matanya. Terlihat Nilam sedang membuka gorden. Fallona menutup wajahnya dengan selimut. Ia masih mengantuk karena kemarin Ia pulang kemalaman.

__ADS_1


"Nilam, Aku masih mengantuk."Rengeknya pelan.


Nilam menarik selimut, "Lady, Anda sudah ditunggu Tuan Duke di ruang makan. Anda harus cepat bangun."


Dengan malas Fallona beranjak dari kasurnya, "Baiklah."


Setelah mandi dan berpakaian, Fallona berjalan menuju ruang makan dengan malas. Ia masih sangat mengantuk.


Setelah sampai Fallona bisa melihat kedua orang tua nya dan wajah kakaknya yang sedang menahan kesal.


"Pagi semua."Sapa Fallona.


"Pagi? Ini sudah siang, Ona. Kamu tau? kita disini nunggu hampir setengah jam."Kata Fero dengan menahan kesal.


"Maaf, Maaf. Kemarin Aku gak bisa tidur."


"Cih."


Duchess melerai, "Sudah. Ayo, Ona duduk. Ibu mau bicara sesuatu."


Fallona menurut. Ia duduk di meja samping ibunya.


"Ona, Ratu mengundang kamu untuk datang ke istana."


Fallona tercengang, "Hah?"


Duke menatap Fallona sambil meletakkan alat makannya, "Ratu merindukan mu. Kamu sudah lama sekali tidak mampir ke istana."


"Ratu kemarin mengirim surat untuk ibu. Untuk menyuruh kamu datang ke istana besok. Ibu sudah memesan gaun untuk mu. Jadi persiapkan diri untuk berangkat besok. Jangan berbuat ulah." Kata Ibunya dengan serius.


Fallona masih tertegun. Ia tidak bisa berkata-kata. Mungkin kalau Fallona asli akan sangat senang, tapi tidak dengannya. Semoga besok Si Adelio itu tidak ada di istana. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin.


Seakan menyadari sesuatu, Fero bertanya dengan bingung, "Benar juga. Kamu tumben sekali tidak main ke istana. Bisanya kan kamu paling semangat kesana untuk merecoki Putra mahkota."


"Aku sedikit malas pergi kesana."Jawab Fallona dengan acuh. Ia menyantap makanan didepannya meskipun selera makannya sudah hilang.


Fero menyeringai, "He~~? Sejak kapan seorang Fallona malas menemui sang pujaan hati."


"Berisik." Fallona kesal. Selera makannya menghilang. Kenapa di pagi hari (baca:siang) yang cerah ini, Ia harus mendapatkan kabar tidak menyenangkan.


Duchess menggelengkan kepala melihat kedua anaknya, Lalu menatap Fallona dengan sorot serius, "Sudah. Ona, sekali lagi Ibu ingatkan besok jangan berbuat yang aneh-aneh di istana. Jaga martabat mu sebagai seorang Lady. Mengerti?"

__ADS_1


"Baik, ibu."Fallona menjawab dengan malas.


Fallona tidak tau, kenapa takdir senang sekali mempermainkannya. Ia ingin menghilang saja rasanya.


__ADS_2