Wadah Raja Siluman

Wadah Raja Siluman
Pingsan


__ADS_3

Tubuh Kena di hantam ke dinding dengan kasar, tangan dan kaki nya di ikat, sekujur tubuhnya terasa sakit, tubuh nya di ikat di kursi, dia di sekap di rumah kosong yang sudah sangat tua, tumbuhan merambat ke mana-mana, di sana ada Akemi dan seseorang yang menggunakan topeng rubah putih.


Badan Kena lemas tak berdaya karena kedinginan, telapak tangan nya sampai membiru begitu juga telinga nya, karena tubuh nya lemas dan terasa sakit jadi Kena memilih untuk diam dan tidak melakukan tindakan apapun


"Kau di cuaca dingin begini tidak memakai jaket, bahkan hanya pakai syal, sepertinya kau sudah kebal ya" ejek Akemi dengan senyum devil nya


"Akan ku ambil syal mu, ya jika syal mu ku ambil kau pasti tidak keberatan kan karena kau itu kebal, iya kan" sambung nya sembari menarik syal Kena


Kena hanya bisa pasrah, dada nya mulai sesak, nafas nya tidak beraturan, dada nya sungguh sakit karena udara dingin yang terus masuk ke paru-paru nya.


*****


Karma menggunakan kekuatan nya, matanya terus mengikuti cahaya merah yang berasal dari gelang Kena, cahaya itu hanya bisa di lihat dengan kekuatan, Tsuki mengikuti Karma dari belakang


Karma terus berlari mengikuti jejak gelang Kena dan Tsuki hanya mengikuti nya saja.


"Bertahanlah Kena, aku akan segera menyelamatkan mu" batin Karma


"Aku yakin pasti Akemi yang telah menangkap Kena, bagaimana bisa dia ada di sini? " batin Tsuki


Mereka terus berlari tanpa henti. Sekian lama mereka berlari akhirnya Karma menghentikan lari nya di suatu tempat, rumah yang kosong sangat tua dan kecil


"Energi yang berasal dari gelang Kena berhenti di sini, aku yakin di sini tempat Kena di sekap" batin Karma


"Apakah kita sudah sampai? " tanya Tsuki dengan nafas terengah-engah


"Ssst, iya kita sudah sampai, kita harus mengendap-endap, kecilkan suaramu" ucap Karma sedikit berbisik


Karma lalu mengendap-endap mendekat ke jendela di ikuti Tsuki di belakang, dia mengintip lewat jendela rumah itu, terlihat di sana Kena terikat di kursi dan dia tidak memakai syal dan di sana juga ada Akemi dan seseorang yang memakai topeng rumah putih


Karma lalu melempar 1 bola kecil ke arah Akemi lewat jendela, bola kecil itu berhenti tepat di sebelah Akemi lalu bola itu meledak dan mengeluarkan asap hitam yang menghalangi pandangan, tempat kena di ikat sedikit jauh dari Akemi jadi Kena tidak terkena ledakan itu


"Hah, ledakan, siapa yang melempar kan ledakan itu, apa jangan-jangan-" batin Kena


Karma dan Tsuki membuka pintu rumah itu namun ternyata di kunci, lalu Karma mendobrak pintu nya menggunakan kaki nya, dia segera masuk dan melepaskan ikatan di tubuh Kena, sedangkan Tsuki berjaga-jaga.


Karma melepaskan selotip hitam yang membungkam mulut Kena, Kena hanya diam bibirnya membiru karena ke dingin an, badan nya sangat lemas, Karma lalu sedikit membungkuk membelakangi Kena, dia merentangkan tangan nya kebelakang


Kena yang melihat itu langsung naik di punggung Karma, Karma menggendong Kena lalu pergi keluar, Tsuki lalu bergegas mengikuti Karma


Sedangkan Akemi dibuat sedikit lemas dan dia tidak bisa melihat apa-apa karena ada asap hitam di sekitar nya, orang bertopeng itu juga sama tidak bisa melihat apa-apa dan badan nya lemas karena menghirup asap hitam itu.


Karma berlari sambil menggendong Kena di belakang di ikuti Tsuki, nafas Kena tidak beraturan detak jantung nya begitu cepat bahkan Karma bisa merasakan nya

__ADS_1


"Bertahan lah sedikit lagi, kita akan sampai di rumah" ucap Karma pada Kena, Kena hanya mengangguk


Dadanya sangat sesak dan sakit, sekeujur tubuh nya juga kesakitan dan kedinginan, pandangan nya memburam dan dia memejamkan mata, Kena tidak sadarkan diri di gendongan Karma


Karma yang sedang berlari itu merasakan detak jantung Kena yang awal nya sangat cepat sekarang jadi melambat, dia lalu menoleh dan melihat Kena yang tidak sadarkan diri


Karma yang melihat itu langsung panik dan khawatir, dia mempercepat lari nya agar sampai lebih awal di rumah


"Hei Tsuki, Kena pingsan" ucap Karma sedikit berteriak


"Kalau begitu kita harus cepat-cepat, kita ke rumah sakit atau ke rumah? " tanya Tsuki


"Lebih baik kita ke rumah saja dulu, jika harus ke rumah sakit akan memakan waktu yang lama dan juga cafe akan buka sebentar lagi" jawab Karma


Mereka pun sampai di rumah, Karma langsung membaringkan Kena di sofa ruang keluarga lantai 2,dia menyelimuti tubuh Kena dengan selimut nya dan mengompres kening Kena dengan kain hangat.


"Kau siap-siap saja dulu untuk membuka cafe, Kena biar aku rawat" celetuk Karma


"Iya baiklah, jika butuh sesuatu panggil aku saja di bawah" jawab Tsuki sembari berjalan melewati tangga turun ke bawah


"Cepatlah sadar, jangan pingsan terlalu lama, kakak sangat khawatir" gumam Karma sembari menatap wajah Kena dengan tatapan sedih


Karma duduk di lantai lalu tertidur dengan kepala nya di sofa , dia menunggu Kena siuman sampai ketiduran.


Sedangkan Tsuki sedang melayani pelanggan yang belum ramai karena baru saja cafe nya di buka, dia berfikir untuk menghubungi kakak nya agar ke sini lebih awal karena Kena sedang pingsan, tapi dia sedikit sungkan karena jam kerja Sakura itu malam hari bukan saat sore hari.


*****


"Ah sial, dia berhasil kabur lagi" gerutu Akemi yang sedang terduduk di lantai dan bersandar di tembok karena memang tubuh nya lemas ketika menghirup asap hitam itu


"Hhhh, sudahlah lebih baik kita tunggu bos saja yang menangkap mereka, untuk apa repot-repot menangkap nya" ujar orang bertopeng itu sembari melepas topeng nya, orang itu adalah Kurai Yoru


"Cckkk, yasudahlah kita pulang saja, badan ku sudah agak mendingan" ucap Akemi sembari berdiri


"Ya ya" mereka berdua pun keluar dari rumah tua itu dan pulang ke rumah masing-masing.


*****


Kena membuka matanya, dia merasakan sakit di sekujur tubuh nya, dia merasakan ada sesuatu di kening nya, dia lalu meraba nya ternyata itu kain, dia melihat sekeliling lalu terhenti pada Karma yang sedang tertidur di sebelahnya menelungkupkan kepala nya di tangan


"Dia tidur di sini, untuk apa, apa aku pingsan, seingat ku sepertinya aku pingsan saat di gendong oleh nya, apa dia menunggu ku sadar" batin Kena bertanya-tanya sembari memandangi Karma


Dia berusaha untuk duduk, dia duduk dan membangunkan Karma yang sedang tidur

__ADS_1


"Kau sudah bangun ya, syukurlah" ucap Karma sembari tersenyum dan mengucek mata nya


"Apa kau menunggu ku sadar? " tanya Kena


"Iya" jawab Karma singkat


"Kau tidak perlu menunggu ku sadar"


"Ngomong-ngomong jam berapa sekarang? " Karma menatap jam dinding dan terlihat pukul 04.30 sore


"Kau pingsan 1 setengah jam sepertinya" ucap Karma


"Hah, oh ya ngomong-ngomong bagaimana dengan Kei? " tanya Kena


"Dia sudah pulang ke rumah nya" jawab Karma


"Akan ku buatkan teh hangat, kau pasti kedinginan" sambung nya sembari berdiri dan berjalan menuju dapur


"Ah syal ku di ambil oleh Akemi, sekarang aku tidak punya syal, bagaimana ini? " batin Kena


"Soal tawaran kak Sakura, sepertinya aku mau menjadi pegawai di sini" batin nya lagi


Tak lama Karma membawa 1 cangkir teh hangat dan menaruh nya di atas meja


"Itu teh nya sudah jadi, kau minum lah" celetuk Karma


"Iya trimakasih, dari mana kau tau cara membuat teh? " tanya Kena sembari menyeruput teh hangat buatan Karma


"Aku sudah bisa membuat teh dari kecil, memang nya kau kira aku tidak bisa" ucap Karma ketus


"Ah iya iya, maaf aku hanya bertanya" jawab Kena


"Ngomong-ngomong soal tawaran kak Sakurai, aku mau menjadi pegawai di sini" sambung Kena


"Hah, serius kau mau, kau akan berhadapan dengan keramaian yang bising, apa kau yakin akan terbiasa? " tanya Karma


"Iya tidak apa-apa, aku akan berusaha membiasakan diri" jawab Kena


"Iya deh baiklah, aku juga sudah setuju sih dari tadi siang, hanya saja aku masih mempertimbang kan nya lagi" ucap Karma


"Hmmm" Kena hanya mendehem saja


Kena terus menyeruput teh hangat buatan Karma, teh hangat nya sangat enak dan nikmat, dia di temani Karma di sana, dia baru merasakan rasanya di perhatikan seorang saudara saat sedang sakit

__ADS_1


biasanya saat tinggal dengan ayah tirinya, saat sedang sakit dia mengurus diri nya sendiri dan tidak ada yang peduli pada nya.


Wajah nya memang terlihat datar, tapi di dalam hati nya dia terasa sangat bahagia dapat merasakan perhatian seorang saudara.


__ADS_2