
Sore hari rumah terlihat sepi, Sakura sudah pulang ke rumah nya, Karma dan Kena sedang ada di kamar masing-masing
Seperti biasa, Karma membaca buku setelah mandi sedangkan Kena tidur dengan nyenyak sejak tadi siang sampai sore ini, mungkin karena tubuh nya belum benar-benar pulih Kena jadi lebih sering tidur
Tsuki belum pulang sampai sekarang, dia masih sibuk dengan pekerjaan nya sebagai anggota organisasi, dia bekerja dengan wajar dan tidak akan melakukan tindakan yang kejam walau pun itu perintah
Pekerjaan Tsuki sudah selesai, dia berniat ingin pergi ke ruang rapat 1 yang jarang di gunakan hingga akhirnya menjadi sepi, itu adalah tempat kesukaan Tsuki karena tidak ada orang di sana dan suasana nya pun tenang, saat sudah ada di depan pintu ruangan dia sedikit bingung karena pintu nya sedikit terbuka
Saat tangan nya menyentuh gagang pintu dan hendak membuka pintu, dia terhenti karena mendengar ada suara seseorang yang sedang bergumam di dalam ruangan, dia lalu bersembunyi di sebelah pintu agar orang yang ada di dalam tidak melihat nya dari celah pintu
Tsuki berniat mendengar kan gumamman orang yang ada di dalam ruangan, dia sedikit penasaran
"Aku akan menangkap bocah ghoul perempuan itu malam ini, tidak peduli dia perempuan atau laki-laki akan ku siksa dia jika sudah ku tangkap" gumam Akemi
"Aku akan menembakkan obat pelemah kepada nya agar dia tidak bisa apa-apa dan menyerah, aku akan menangkap nya langsung di tempat dia berada, aku akan mencari nya menggunakan alat pendeteksi energi Ghoul" gumam nya lagi
Tsuki yang mendengar itu seketika terkejut, Kena dalam bahaya malam ini, dia harus segera pulang dan memberitau Karma malam ini juga
Tsuki lalu melangkah pergi dari sana dan masuk ke ruang kerja nya, dia duduk di meja kerja nya sembari menatap monitor di depan nya dengan tatapan kosong
"Kena dalam bahaya malam ini, aku harus memberitau Karma tentang rencana Akemi, tapi bagaimana cara nya aku masih harus bekerja" batin Tsuki
"Oh ya aku hubungi saja dia" batin nya lagi sembari meraih handphone nya
"Tunggu, dia kan tidak punya handphone, bodoh nya kamu Tsukiiii" gumam nya pelan sembari meletakkan handphone nya kembali
Tsuki menghela nafas karena tidak tau harus apa, malam ini dia akan lembur dan pulang larut malam, mana mungkin dia sempat memberitau Karma soal rencana Akemi
"Kau ini kenapa galau begitu? " tanya seseorang yang ada di meja kerja sebelah Tsuki
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin cepat pulang saja" jawab Tsuki
"Kenapa kau tidak izin saja? "
"Cckk, sudah pasti tidak boleh"
"Memangnya di rumah mu ada apa sampai ingin sekali cepat pulang? "
"Hmmmm, ada..... acara keluarga"
"Izin saja dengan Dr.Daiki kalau ada acara keluarga jadi kau harus pulang sekarang" usul teman Tsuki
"Hmmmm, tapi dia pasti akan heran kenapa aku izin dengan nya"
"Dia itu kan juga atasan kita hanya saja beda genre"
"Iya juga sih, trimakasih" ucap Tsuki
"Iya sama-sama" Tsuki lalu melangkah pergi ke ruang percobaan untuk menemui Dr.Daiki
Sesampai nya di ruang percobaan Tsuki memberanikan diri untuk izin kepada Dr.Daiki
"Ada apa? " tanya Dr.Daiki
"Sa-saya ingin izin pulang sekarang apa boleh? " tanya Tsuki dengan sedikit gugup
"Kenapa izin kepada ku, seharusnya kau izin dengan Akemi" jawab Dr.Daiki
"Ka-karena anda adalah teman dari Tuan Akihiko dan orang kepercayaan nya jadi saya memutuskan izin dengan anda" ucap Tsuki dengan menundukkan kepala
"Hmmm, memang sih Lebih baik dia izin kepada ku sih daripada dengan Akemi, bisa-bisa dia menjawab dengan asal-asalan" batin Dr.Daiki
"Apa pekerjaan mu sudah selesai semua? " tanya Dr.Daiki
"Sudah" jawab Tsuki
"Kalau begitu kau bantu beberapa orang yang sedang mengirimkan senjata ke cabang organisasi, baru setelah itu kau boleh pulang" ucap Dr.Daiki
"Baik, trimakasih karena sudah mengizinkan saya" ujar Tsuki sembari menundukkan badan
"Sama-sama"
Tsuki lalu keluar ruangan dan bergegas pergi ke luar untuk membantu beberapa orang mengirimkan senjata ke cabang organisasi
__ADS_1
Tsuki membantu memindahkan beberapa boks yang berisi senjata ke atas mobil pengantar barang, selesai membantu memindahkan barang Tsuki lalu bergegas untuk pergi namun dia di cegah oleh seseorang yang ada di sana
"Hei, jangan pergi dulu, bantu kami sampai tempat pengiriman" ucap seseorang
Mau tak mau Tsuki harus ikut pergi ke cabang organisasi, butuh waktu 1 jam untuk sampai ke sana, Tsuki sampai menghela nafas karena harus ikut mengantar juga
Sesampai nya di sana, Tsuki membantu menurun kan beberapa boks dan kembali masuk ke mobil, dia pikir mobil sudah akan pulang tapi ternyata mobil itu harus berhenti ke beberapa cabang lagi dan membuat waktu Tsuki habis, dan tidak sempat untuk memberitau Karma
Tsuki hanya menghela nafas dan pasrah, dia hanya bisa memohon semoga Kena baik-baik saja sampai dia pulang
*****
Kena sudah bangun dari tidur nya dan juga sudah mandi, kali ini dia memakai baju nya sendiri yang ia kenakan saat di hutan dan pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, Kena sendirian di lantai dua karena Karma masih ada di kamar nya dan tidak keluar
Karena bosan Kena lalu pergi ke dapur dan membuat roti bakar juga coklat panas, selesai membuat nya Kena menikmati roti bakar dan coklat panas itu di meja makan, dia melahap habis roti bakar dengan selai coklat yang ia buat dan meminum habis coklat panas
Kena turun ke bawah, dia sengaja ingin duduk di depan cafe dan menikmati udara segar walau sedikit dingin, dia duduk di bangku panjang tepat di sebelah papan nama cafe dan juga nama-nama menu yang memang ada di luar cafe
Ternyata ada yang mengamatinya dari jauh, dan juga ada yang mengintip Kena dari gang sebelah cafe, yang mengintip Kena dari gang sebelah cafe adalah 3 preman yang pernah menghadang Kena di gang itu, si rambut gondrong, si rambut hijau, dan si rambut ungu
"Eh Ian coba deh lihat baik-baik, ada orang aneh yang berjalan sedikit mendekat ke bocah itu" ucap si rambut gondrong
"Iya-ya, tu orang mau apa, jangan-jangan mau nyulik tu bocah" sahut si rambut ungu, panggil saja Ian
"Tapi kalau dia mau nyulik tu bocah berarti dia jahat, kita kan juga jahat masa harus ngawasi tu orang" celetuk si rambut hijau, panggil saja Ryan
"Tapi kita gak sampai se jahat itu, kita cuman nakut-nakutin orang yang ngelewati kawasan kita, lagi an ya selama ini gang ini sepi dan gaada orang seberani tu bocah buat ngelawan kita, kalau tu bocah di culik jadi ga seru dong" jelas di gondrong, panggil aja Zyan
"Iya juga sih" jawab Ian
"Ya udah kita amati aja dari sini" celetuk Ryan
Mereka bertiga pun mengawasi Kena dan 1 orang yang mencurigakan, orang yang memakai masker dan topi itu semakin mendekat ke arah Kena, Kena merasa curiga dengan gerak-gerik orang ber masker itu, karena orang itu tiba-tiba berhenti di sebelah rumah yang tepat ada di samping cafe
Kena lalu memutuskan untuk masuk karena hari sudah mulai gelap dan jalanan juga sangat sepi, baru saja Kena membuka pintu cafe tiba-tiba dia di cekik leher nya oleh orang mencurigakan itu, entah kenapa dia bisa secepat itu berada di depan Kena
Pria itu lalu melepas tangan nya yang mencekik leher Kena dan langsung membungkam mulut Kena dengan telapak tangan nya, sedangkan 3 preman yang mengawasi Kena terkejut
"Gila, ternyata beneran tu orang mau nyulik bocah itu" celetuk Ian
Mereka bertiga mengikuti pria yang menangkap Kena dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan, pria itu berhenti di sebuah rumah kosong yang sudah tua, pria itu masuk dengan menenteng tubuh Kena lalu menaruh tubuh Kena di lantai dengan kasar dan mengikat tangan dan kaki Kena
Pria itu lalu membuka masker dan topi nya, ya, siapa lagi kalau bukan Akemi, kali ini Akemi tidak memplester mulut Kena dan dia tidak mengikat Kena di kursi namun di biarkan tergeletak di lantai
"Apa yang kau mau? " teriak Kena
"Yang aku mau?, yang aku mau adalah melihat mu tersiksa dan menjerit lalu ku buat kau menjadi bahkan percobaan hingga tubuh mu hancur" jawab Akemi dengan senyum menyeringai
Kena hanya diam dan menatap Akemi dengan tatapan penuh kebencian dan ingin mengubur hidup-hidup Akemi
"Gimana nih caranya nyelametin tu bocah? " celetuk Ryan dengan berbisik
"Sebentar gue pikirin dulu" jawab Zyan
Mereka bertiga sedang bersembunyi di balik pohon besar yang berada dekat dengan rumah tua itu.
Akemi mengeluarkan sebuah benda dari boks yang ada di sana, seperti senapan namun sedikit berbeda, Akemi membidik benda itu ke lengan kanan Kena, sontak Kena terkejut dan berpikir apa yang akan di lakukan Akemi pada nya apakah dia akan menembaknya
Akemi menembakkan sebuah panah kecil yang menusuk ke lengan kanan Kena, seketika Kena merasa tubuh nya lemas dan lemah, untuk bergerak pun susah karena tubuh nya yang tiba-tiba melemah
Akemi berjalan mendekati Kena yang sedang terbaring di lantai dengan lemah dan kaki yang di ikat dan juga tangan yang di ikat di belakang, Akemi berjongkok dan menundukkan kepala nya menatap Kena
"Aku menembakkan obat pelemah pada mu, kau tidak bisa apa-apa sekarang" ucap Akemi
Kena hanya mendengar kan dengan nafas yang terengah-engah karena obat pelemah yang semakin lama semakin menyebar ke tubuh nya.
"Eh bukan nya tadi itu suara tembakan ya, jangan-jangan dia nembak tu bocah lagi" celetuk Ian
"Kita cek aja, pelan-pelan jalan kita intip lewat jendela" perintah Zyan yang berjalan dengan membungkukkan badan nya mendekat ke jendela rumah
Mereka mengintip dari jendela, Kena terlihat terbaring lemah dengan nafas yang terengah-engah dan Akemi yang sedang membawa pisau, mereka bertiga mulai berpikir cara untuk menyelamatkan Kena
"Oh ya, gue punya ide" ucap Zyan dengan berbisik
__ADS_1
"Apa? " tanya Ryan
"Iya apa ide nya? " tanya Ian
"Lu ada yang bawa hp gak? " tanya Zyan
"Iya gue bawa" jawab Ian
"Sini pinjem, ada rekaman sirine mobil polisi gak? " tanya Zyan
"Emmmm kayak nya sih ada, gue pernah iseng ngerjain kalian pake sirine itu sih dulu" jawan Ian
"Mana hp lu, gue pinjem bentar" ucap Zyan
"Buat apa? " Ian mengkerutkan dahi nya
"Udah gue pinjem dulu, gue punya ide nih, kan di sebelah pohon yang kita buat sembunyi itu ada jendela rumah ini jadi kita bakal masuk lewat jendela samping " jelas Zyan
"Lah trus nanti kita ke tahuan sama tu orang" sahut Ryan
"Makan nya gue pinjem hp Ian buat nyalain sirine mobil polisi, nanti gue taruh hp nya di depan sana biar gak terlalu keliatan, nanti pria itu kepancing keluar trus kita bisa masuk lewat jendela samping rumah, habis masuk kita kunci pintu trus kabur lewat jendela belakang gimana? " jelas Zyan
"Cerdas juga lo ya" ucap Ian
"Bagus juga ide lo, yaudah cepetan nanti keburu tu bocah di celakain" ujar Ryan
"Ya sabar"
Zyan lalu membunyikan rekaman sirine mobil polisi namun volume hp nya ia turun kan sampai tidak terdengar, lalu dia berjalan agak menjauh dan menaruh hp Ian di tanah dan meninggikan volume nya lalu Zyan segera berlari dan bersembunyi di samping rumah yang dekat dengan jendela samping dengan Ian dan Ryan.
Akemi yang mendengar suara sirine mobil polisi dengan panik langsung berlari keluar rumah untuk melihat apakah ada mobil polisi, saking panik nya dia sampai berlari agak jauh dari pintu, Zyan mengambil kedempatan itu untuk masuk lewat jendela samping bersama dengan Ian sedangkan Ryan berjaga dari luar
Dengan cepat Ian langsung menahan pintu dengan barang-barang yang ada di sana karena dia tidak tau kunci rumah itu ada di mana, saat sedang memindah barang-barang untuk menahan pintu dia melihat sejenak benda yang mirip dengan senapan, Ian berinisiatif untuk menembak Akemi dari jendela
Akemi celingak-celinguk menatap sekeliling nya, dia terlihat bingung karena tidak ada satu pun mobil polisi di sana, hanya ada suara sirine nya, Akemi terlihat melamun sebentar lalu lamunan nya tersadar lalu bergegas masuk ke dalam rumah tapi Ian berhasil menembakkan satu panah kecil yang menancap ke lengan kiri Akemi dan seketika Akemi langsung jatuh tak berdaya
"Hei, apa kau masih bisa mendengar ku? " tanya Zyan pada Kena
Kena mengangguk dan menyipitkan matanya berusaha mengenali orang yang ada di hadapan nya
"Aku salah satu preman yang menghadang mu saat di gang, aku ke sini untuk menyelamatkan mu" celetuk Zyan sembari melepas ikatan di tangan Kena dan kaki nya
Kena tidak merespon, dia hanya menatap Zyan untuk mencoba mengenali nya, Zyan berjongkok membelakangi Kena dan merentangkan tangan ke belakang
"Naik lah ke punggung ku" ucap Zyan
Kena dengan badan lemas berusaha untuk berdiri dan bersandar di punggung Zyan, Kena berhasil berdiri namun baru saja berdiri dua sudah jatuh, untung dia jatuh di punggung Zyan, Ian dan Zyan pun keluar lewat jendela belakang dan pergi dari sana dengan Ryan juga, mereka pun melupakan handphone Ian yang mereka tinggal begitu saja dengan rekaman yang masih menyala
*****
Karma keluar dari kamar dan tidak melihat Kena ada di lantai dua
"Mungkin Kena masih ada di kamar" gumam Karma sembari melangkah ke ruang keluarga dan duduk di sofa
"Tsuki belum pulang juga, apakah dia kerja lembur? " gumam Karma
"Aku membuat kopi saja deh, aku agak ngantuk" gumam nya lagi sembari berdiri dan berjalan ke dapur
Karma membuat kopi untuk diri nya, tak lupa dia juga membuat roti bakar tanpa selai, setelah selesai membuat semua itu Karma kembali duduk di sofa dan memakan roti bakar nya sampai tandas dan menyeruput kopi nya perlahan karena masih panas
Saat sedang menikmati kopi, Karma mendengar suara bel dari lantai bawah, dia lalu turun dan membuka pintu cafe, Karma sangat terkejut melihat 3 laki-laki dan salah satu dari mereka menggendong Kena
"Siapa kalian, bagaimana bisa Kena bersama kalian dan dia kenapa? " tanya Karma
"Tadi kami lihat dia di culik jadi kami bertiga berniat menolong nya, sekarang dia sangat lemas" jawab Ian
"Iya" Zyan menurun kan Kena, Kena masih bisa berdiri tapi sedikit oleng
"Baiklah trimakasih karena sudah mau menyelamatkan adik ku, apa kalian mau masuk dulu sebentar" ucap Karma sembari menggandeng Kena, Kena hanya menurut
"Tidak perlu, kami harus segera pulang, oh ya kenal kan aku Ryan, dia Zyan dan dia Ian" celetuk Ryan sembari menunjuk Zyan dan Ian bergantian
"Oh baiklah, aku Karma dan dia Kena adik ku" jawab Karma
__ADS_1
Mereka bertiga pun pulang dan Karma membawa Kena ke kamar nya dan membaringkan nya di kasur, dia sedikit bingung bagaimana bisa Kena kembali di culik.