Wadah Raja Siluman

Wadah Raja Siluman
Anak Kandung


__ADS_3

Kena keluar kamar, dia sudah berpakaian rapi, Kena menggunakan kaos warna hitam polos lengan pendek dan celana abu-abu, seperti biasa, baju yang Kena pakai kebesaran


Kena melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30,dia melangkah menuju tangga untuk turun ke bawah, di cafe sudah ada Sakura yang menunggu Kena, Kena yang melihat Sakura sudah ada di cafe lebih awal menjadi bingung


"Apa yang kakak lakukan di sini? " tanya Kena


"Aku ingin menjemput mu" jawab Sakura dengan senyum


"Menjemput ku?, untuk apa? " tanya Kena


"Apa kau sudah lupa, kemarin aku sudah bilang pada mu kalau aku akan mengajari mu pendidikikan SD dan pergi ke rumah ku untuk belajar" jelas Sakura


Kena terlihat berfikir sejenak


"Oh ya, sekarang aku ingat" celetuk Kena


"Sekarang ayo berangkat" ajak Sakura


"Tunggu, kenapa harus sekarang? "


"Tidak apa, agar bisa lebih cepat dan nanti kau sarapan di rumah ku saja, Tsuki sudah ku beri tau lewat telfon "


"Baiklah, sekarang aku mau siap-siap" ucap kena


"Kau tidak perlu siap-siap, di rumah ku semua nya sudah ada"


"Hmmm, tapi aku perlu mengambil rompi ku dulu"


"Oke"


Kena berjalan pergi ke lantai 2 dan masuk ke kamar nya mengambil rompi hitam nya dan memakai nya, sekilas dia melihat syal Karma yang tergantung di gantungan baju, dia berniat ingin memakai nya tapi belum mendapat izin dari Karma


Kena mengambil syal Karma dan jaket Tsuki lalu keluar kamar, dia meletakkan syal dan jaket itu di atas sofa ruang keluarga, dia akan pergi hari ini jadi tidak akan sempat mengembalikan itu makannya dia meletakkan syal dan jaket itu di atas meja ruang keluarga


Kena lalu turun ke bawah dengan sudah memakai rompi nya


"Sekarang ayo kita berangkat" ajak Sakura sembari melangkah keluar cafe di ikuti Kena di belakang


Kena duduk di kursi mobil sebelah kursi pengemudi yang sudah di tempati Sakura, sepanjang perjalanan Kena hanya membaca novel nya, sebelum keluar kamar dia membawa novel nya, Sakura melirik Kena sekilas lalu tersenyum


"Nanti di rumah ku ada suami ku dan anak ku, anak ku sangat antusias ingin bertemu dengan mu karena di rumah dia tidak punya teman, kau harus akrab dengan nya" celetuk Sakura, tatapan nya fokus melihat jalan


"Aku aku berusaha, ngomong-ngomong nama anak tante itu siapa? " Kena merubah panggil an menjadi tante karena Sakura sudah menikah dan bahkan punya anak, tidak sopan jika memanggil nya kakak


"Nama nya Saki, umur nya 4 tahun" jawab Sakura


"Ohhh. Emm tante sepertinya setelah ku ingat-ingat umur ku 6 tahun" celetuk Kena


"Oh begitu ya"


"Kalau nama suami tante itu siapa? " tanya Kena


"Nama suamiku adalah Goki" jawab Sakura


Tidak ada jawaban dari Kena, dia kembali fokus pada buku yang ia baca


"Kena, bisakah kau memanggil ku Bunda? " tanya Sakura, pertanyaan itu membuat Kena terkejut, dia lalu menoleh ke arah Sakura


"Ke-kenapa tante meminta ku memanggil tante dengan sebutan Bunda? "


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kau memanggil ku Bunda, hanya itu saja" jawab Sakura sembari tersenyum


"Iya tante, ma-maksud ku Bunda" ucap Kena


Kena kembali memandang buku nya, tapi dia tidak membaca nya dia termenung sejenak lalu kembali membaca buku nya.


Mobil Sakura berhenti di depan rumah besar dengan 2 lantai dan ber cat abu-abu dan putih


"Kena kau masuk saja duluan,aku mau memarkirkan mobil dulu" celetuk Sakura


Kena lalu turun dari mobil dan melangkah ingin membuka gerbang namun gerbang itu sudah terbuka dengan otomatis, Kena terkejut sejenak dan melanjutkan langkah nya masuk ke halaman rumah dan berhenti di depan pintu rumah


Kena agak ragu untuk mengetuk, ini baru pertama kali nya dia berkunjung ke rumah seseorang dan mengetuk pintu rumah orang, dia agak gugup, tapi dia berusaha agar tidak gugup, saat tangan nya hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintu sudah terbuka dan terlihat seorang anak laki-laki berambut coklat yang langsung memeluk nya, Kena sangat-sangat terkejut, tubuh nya kaku


"Bunda dari mana, aku mencari-cari Bunda dari tadi" ucap nya dengan tangis yang pecah dan masih memeluk Kena


Entah kenapa anak itu bisa berfikir Kena adalah Bunda nya, mungkin anak itu tidak melihat wajah Kena sama sekali


Kena hanya bisa diam seribu bahasa, dia bingung harus mengatakan apa, hingga akhirnya dia berani membuka suara


"Ma-maaf aku bukan Bunda mu" ucap Kena


Anak laki-laki itu langsung melepas pelukan nya dan menatap wajah Kena dengan tatapan sulit di artikan, tak lama seorang pria keluar dari pintu dan anak itu langsung berlari bersembunyi di belakang kaki pria itu


"Ada apa? " tanya pria itu


"Bunda pulang" ucap Sakura yang baru selesai memarkirkan mobil nya


"Oh ya, ini Kena, dia yang akan ku ajari pendidikan SD" sambung nya lagi

__ADS_1


"Ooh jadi ini anak yang kau bicarakan kemarin ya" jawab pria itu


"Iya.Kena perkenalkan dia suami ku Goki dan anak itu adalah anak ku Saki" ucap Sakura


"Sa-salam kenal paman" ucap Kena gugup sembari menundukkan kepala nya


"Iya, selamat datang " ucap Goki dengan senyum


"Saki ayo beri salam pada kakak" ucap Sakura


"Sa-salam ke-kenal kakak" ucap Saki malu-malu sembari bersembunyi di belakang kaki ayah nya


"I-iya"


"Kena ayo masuk" ajak Sakura


Mereka pun masuk ke dalam rumah, bagian dalam rumah itu lebih besar, Kena di persilahkan duduk langsung di ruang keluarga


"Kena kau tunggu di sini ya, Bunda mau ambil beberapa alat tulis dan buku" celetuk Sakura sembari melangkah ke tangga menuju lantai atas


Kena hanya mengangguk lalu memandang sekitar nya, tak lama Goki datang dengan membawa cemilan


"Ini ada cemilan, makan lah, jangan sungkan anggap saja rumah sendiri, paman mau ke kamar dulu mau siap-siap kerja" celetuk Goki sembari menaruh beberapa toples berisi cemilan ke atas meja dan pergi ke lantai atas


"Trimakasih" ucap Kena sebelum Goki pergi ke tangga


"Saki, kau tolong temani kakak Kena sebentar ya" ucap Goki pada anak nya yang sedang berjalan di tangga menuju lantai bawah


"Iya ayah" Saki lalu menuju ruang keluarga dan duduk di sofa bersebelahan dengan Kena


Kena hanya bisa diam seribu bahasa, dia memang susah akrab dengan orang asing, Kena hanya melanjutkan membaca buku nya yang sempat terpotong tadi, dan dia tidak melirik toples berisi cemilan itu sedikit pun


Saki yang ingin mencoba akrab dengan Kena itu langsung membuka salah satu toples dan menyodorkan nya ke arah Kena


"Ka-kakak mau ma-makan cemilan" ucap nya dengan gugup


Kena langsung menoleh


"Tidak" jawab Kena singkat


Saki langsung mengembalikan toples itu dan menunduk kan kepalanya


"Apa kakak tau, bunda sering bercerita tentang kakak, kata bunda kakak itu tidak punya teman dan yatim piatu jadi aku harus bersikap baik pada kakak" celetuk Saki masih menundukkan kepala


Kena yang mendengar itu masih diam dan tidak merespon


"Aku tidak perlu di kasihani, jika kau tidak mau bersikap baik pada ku itu tidak masalah, lagi pula aku tidak membutuhkan seorang teman" jawab Kena dengan dingin


"Kakak bohong, jelas-jelas kakak itu merasa kesepian kan" ucap Saki yang membuat Kena terkejut, bagaimana bisa dia tidak terkejut


Seorang anak ber umur 4 tahun bisa tau apa yang dia rasakan hanya dengan menatap mata nya


Kena lalu menoleh menatap sepasang mata hijau itu, dia juga bisa tau kalau Saki merasa kesepian, Kena memang orang yang dapat peka dengan dengan setiap orang walau orang itu sudah menutupi ekspresi asli nya dengan topeng tebal


"Kau juga kesepian kan" ucap Kena sembari kembali fokus dengan buku nya


"Eh, ti-tidak" jawan Saki cepat


"Ekspresi memang bisa bohong tapi mata tidak akan bisa ber bohong" ucap Kena


Saki lalu menundukkan kepala


"Iya aku kesepian karena di rumah tidak ada teman, walau ada ayah bunda tapi tidak ada orang yang bisa menjadi teman ku di lingkungan ini" ucap nya


"Tapi kau harus bersyukur masih punya orang tua yang mau menemani" ujar Kena


Percakapan mereka berhenti karena Sakura sudah kembali dengan membawa satu dus dan satu tas ransel berwarna merah dan hitam, dia lalu meletakkan dus itu di lantai dan menaruh tas itu di sofa, dia lalu duduk di sebelah Kena dan menarik dus itu mendekat


Sakura mengeluarkan beberapa tumpuk buku dan alat tulis, ada berbagai macam buku pelajaran dan buku tulis kosong, dan juga ada satu buku gambar


"Nah sekarang ayo kita mulai belajar, Saki kau kembali ke kamar ya dan siap-siap pergi ke sekolah bersama ayah" ucap Sakura


Saki lalu berdiri dan berjalan ke tangga menuju ke kamar nya yang ada di lantai atas, setelah Saki masuk Goki keluar kamar dengan sudah mengenakan jas, dia lalu turun dan menuju ke dapur untuk sarapan, tak lama Saki keluar dengan sudah menggunakan seragam TK dan menenteng tas di bahu nya, dia juga ikut sarapan dengan ayah nya


"Kena kita sarapan dulu saja" ajak Sakura


"Iya "mereka berdua pun menuju meja makan dan bergabung dengan mereka berdua


Sakura menaruh nasi ke piring Goki lalu Saki setelah itu Kena dan baru ke piring nya


"Kena, ambil saja lauk yang kau sukai" ucap Sakura


"Iya tante" jawab Kena


"Bunda bukan tante" tegas Sakura


"I-iya bunda" Kena lalu mengambil lauk yang ada di meja makan dan memakan nya, mereka sarapan bersama


Goki dan Saki sudah berangkat, dan di rumah hanya ada Sakura dan Kena, Sakura begitu telaten mengajari Kena, diri nya juga dengan sabar menjawab pertanyaan Kena

__ADS_1


Sakura mengajari Kena pelajaran matematika terlebih dahulu hingga pelajaran sosial, dia juga mengajari Kena menggambar, tanpa di ajari pun Kena sudah bisa menggambar dengan sangat bagus, mungkin karena tingkat imajinasi nya tinggi


Sedangkan di Cafe Susaki, Tsuki keluar kamar dan melangkah ke dapur menyiapkan sarapan, Karma belum keluar kamar, Tsuki membuat roti bakar dengan selai nanas dan di temani teh hijau, Tsuki lalu duduk di meja makan dan melahap roti nya hingga tandas lalu menyeruput teh nya pelan


Tak lama Karma keluar kamar dan sudah berpakaian rapi, dia ingin duduk sebentar di sofa ruang keluarga, Karma sedikit bingung karena tidak biasanya Kena belum bangun, saat sudah mendekati sofa dia melihat jaket Tsuki dan syal nya ada di sana, dia langsung mengambil nya dan melamun sejenak


"Apakah Kena yang menaruh nya di sini? " batin Karma


Tsuki yang melihat Karma sedikit bingung itu seakan mengerti apa yang di pikirkan teman serumah nya itu


"Kena sedang ada di rumah kakak ku" celetuk Tsuki sembari berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sebelah Karma


"Untuk apa dia di sana? " tanya Karma


"Kakak ku ingin mengajari adik mu itu pelajaran sekolah dasar" jawab Tsuki


"Oooh" Karma hanya berohria saja


"Tunggu, berapa umur mu? " tanya Karma


"16 tahun" jawan Tsuki singkat


"Apa kau tidak sekolah? "


"Tidak" jawab Tsuki singkat


"Kenapa tidak? "


"Karena aku ingin langsung kerja"


"Apa kau belajar di rumah? " tanya Karma


"Iya, teman ku sering memberitau ku pelajaran di sekolah nya lewat handphone, aku selalu belajar setiap malam" ucap Tsuki


"Ooh, bisa kau ajari aku, aku juga ingin belajar, karena sejak umur 13 aku sudah tidak belajar lagi " ujar Karma dengan wajah memelas


"Iya jika aku ada waktu" jawab Tsuki


"Oh ya apa kau tidak ke markas? " tanya Karma


"Tidak, aku malas" jawab Tsuki


"Bukankah nanti kau akan di hukum? "


"Aku tidak peduli"


Karma lalu menyudahi pembicaraan itu dan membuat sarapan nya di dapur, seperti biasa roti bakar dengan selai di atas nya dan se cangkir teh hangat.


*****


3 jam berlalu, jam menunjukkan pukul 09.30,Sakura menyuruh Kena untuk istirahat sebentar, Sakura meraih cangkir kosong yang ada di atas meja lalu mencucinya, Kena beristirahat dengan membaca buku nya


Kena sekilas berfikir


"Apa bunda tidak ke cafe? " batin Kena


Selesai mencuci cangkir Sakura kembali ke ruang keluarga dengan membawa air putih dan 2 gelas kosong, dia meletakkan nampan dengan 2 gelas kosong dan air putih itu ke atas meja dan duduk di sebelah Kena


"Apakah bunda tidak ke cafe? " tanya Kena


"Tidak" jawab Sakura singkat


"Kenapa? "


"Karena sudah ada Karma, dia akan mulai bekerja hari ini, yang awalnya minggu depan jadi hari ini, karena bunda harus mengajari mu pendidikan SD " jawab Sakura


"Oh,lalu aku, kapan aku mulai bekerja? " tanya Kena


"Kau tidak akan menjadi pekerja tetap, jika cafe sedang ramai dan para pegawai kewalahan, kau harus ikut membantu, tapi jika keadaan cafe tidak terlalu ramai kau tidak perlu bekerja" jelas Sakura


"Tapi-" ucapan Kena terpotong karena Sakura menyahutnya


"Aku akan membeli kan semua kebutuhan mu, dan walau pun kau bukan pekerja tetap aku akan tetap memberimu upah" sahut Sakura dengan senyum


"Tapi aku tidak enak jika semua yang ku butuh kan di biayai bunda" ucap Kena


Sakura tersenyum dan memegang bahu Kena


"Apa kau tau Kena, kau sudah bunda anggap anak kandung bunda" lirih Sakura dengan senyum


Kena yang mendengar itu hanya bisa diam seribu bahasa, dia terdiam dan tanpa sadar air mata menetes membanjiri pipi nya, entah kenapa dia jadi teringat dengan ibu kandung nya yang sudah meninggal itu walau dia sempat bertemu dengan energi nya, Kena juga tidak menyangka, ternyata masih ada orang baik di dunia ini


"Kenapa kau menangis? " tanya Sakura dengan ekspresi khawatir


"A-aku hanya berfikir, ternyata masih ada orang yang baik pada ku " lirih Kena sembari menunduk dan menyeka air mata nya


"Tentu saja. Oh ya kau jangan panggil suami ku paman, panggil saja ayah" ucap Sakura


"I-iya"

__ADS_1


Sakura mengakhiri pembicaraan itu dan menyuruh Kena untuk belajar lagi, Sakura kembali mengajari Kena dengan serius, memang Sakura sudah menganggap Kena anak kandung nya sendiri, antara kasihan dan sayang, begitulah.


__ADS_2