
Kena dan Karma terus berjalan di tengah-tengah hutan, di sepanjang perjalanan cuaca sangat dingin, mungkin akan memasuki musim dingin sekarang.
"Hei Kena, sepertinya sebentar lagi kita akan sampai di kota" celetuk Karma
"Kota?, hutan ini bisa menuju ke kota?, yang benar saja" tanya Kena
"Iya" jawab Karma singkat
"Kita akan menuju ke kota mana? "
"Emmm, aku juga kurang tau, bisa jadi kota tokyo atau kota lain"
"Apakah kita di culik sampai ke luar kota? "
"Aku juga kurang tau, karena aku pingsan saat di bawa ke markas organisasi CBC" Kena hanya berohria saja.
Mereka tetap melanjutkan perjalanan meski cuaca semakin lama semakin dingin.Mereka juga kadang berhenti di pohon yang berbuah untuk memetik buahnya dan di makan, karena jika mereka tidak mengisi perut , mereka akan pingsan di tengah jalan karena perut kosong ditambah cuaca dingin.
Mungkin besuk akan turun salju, jadi Kena dan Karma harus cepat keluar dari hutan, saking dingin nya mulut mereka berdua mengeluarkan asap saat berbicara atau bernafas.
"Udara semakin dingin saja, semoga kita bisa cepat sampai di kota sebelum salju turun" celetuk Kena
"Mungkin sore atau malam kita akan sampai di kota, dan ngomong-ngomong tumben kau mengajak bicara duluan"
" aku bukan mengajakmu bicara tahu, aku hanya bicara pada diri sendiri" ketus Kena
"Iya iya"
"Hei Karma, apa kau tak keberatan kalau kita berhenti sejenak, aku ingin mencari kayu bakar"
"Iya tidak masalah, tapi untuk apa kau mencari kayu bakar? "
"Jika sudah sampai di kota, nanti aku akan menjual kayu bakar dan uang yang aku dapat akan aku gunakan untuk membeli syal"
"Kalau begitu aku akan ikut mencari kayu bakar, aku juga akan membeli syal untuk ku"
"Ya baiklah"
"Hei bisakah kau memanggil ku kakak atau Abang, umurku jauh lebih tua dari mu dan jarak nya pun sangat jauh"
"Huh lagi-lagi pertanyaan ini" batin Kena
"Ya aku akan mencobanya nanti"
"Kenapa nanti, coba kau panggil aku kakak, atau kak Karma"ucap Karma dengan senyum manis
"HUH, Kakak!!, Kak Karma...!!"Kena pun memanggil Karma dengan sebutan Kakak , tapi dia sangat menekan kata-kata nya
" kok kaya gak tulus, menekan banget kayak nya"
"Huh" Kena hanya menghela nafas
__ADS_1
Mereka berhenti di tengah perjalanan karena Kena melihat ada banyak ranting dan kayu bakar yang berserakan, jadi dia menyempatkan diri untuk mengambil kayu bakar itu, begitu juga dengan Karma mereka mencari kayu bakar bersama dan mengikat kayu nya menjadi satu
Kayu bakar yang mereka dapat sama-sama banyak dan tentu saja berat, tapi itu tak masalah bagi Kena karena dia sudah terbiasa mengangkat kayu sebanyak itu sambil berjalan jauh
dan Karma sepertinya juga tak masalah membawa Kayu bakar yang banyak dan berat, mungkin karena sejak kecil dia sudah mengangkat kayu bakar seberat itu untuk di jual.
Hari semakin gelap, mereka tidak lelah walau seharian membawa kayu bakar yang banyak, walau cuaca dingin mereka tidak menyerah karena sedikit lagi akan sampai ke kota, mereka berjalan lebih cepat agar bisa sampai di kota sebelum matahari terbenam
"Walau kita jalan cepat mungkin saat matahari sudah terbenam kita belum sampai di kota" celetuk Karma
"Kau benar, apa lebih baik kita berlari saja, lari kita kan cepat" usul Kena
"Kalau begitu kita lari saja, akan aku aba-aba"
"Tidak perlu aba-aba langsung lari saja" Kena pun tanpa pikir panjang langsung berlari
"Hei tunggu aku jangan asal berlari saja dong" Karma menyusul di belakang Kena
Mereka berlari sangat cepat, mereka sangat lincah dan dengan mudah bisa menghindari pohon dan dahan yang menghalangi jalan, mereka sangat cepat sampai-sampai membuat dedaunan yang gugur berterbangan.
Saat sedang berlari, mereka tiba-tiba di halangi sebuah rantai yang panjang, seketika mereka berdua melompat dan mendarat sembari mengerem lari mereka dengan sempurna, tapi tempat yang mereka injak bukanlah tanah, melainkan aspal
"Kita... Kita sudah sampai di kota dan tepat saat matahari terbenam" celetuk Karma sambil terus memandangi sekitar nya
"Akhirnya kita sampai juga di kota" ucap Kena sambil melepas genggaman nya pada kayu bakar yang telah dia ikat jadi satu
"Huh, lega rasanya sudah keluar dari hutan" Karna menghela nafas lega sambil menaruh kayu bakar nya di jalan, dia langsung terduduk di aspal saking lelah nya, Kena pun juga mendudukkan diri nya di aspal
"Ayo kita bergegas menjual kayu bakar" ajak Kena yang langsung berdiri dan mengambil kayu bakar nya yang dia taruh di jalan
"Bisakah istirahat sebentar, aku sangat lelah" rengek nya dengan muka memelas
"Padahal aku lebih muda dari mu dan tubuh ku juga kecil tapi malah kau yang merengek kelelahan" ucap Kena dengan tatapan menyindir
"Memangnya kau tidak lelah apa setelah berlari sekuat tenaga sambil membawa kayu bakar sebanyak ini"
"Aku memang lelah tapi aku tidak merengek"
"Dingin banget sih sama kakak sendiri" lirih Karma
"Apa tadi yang kamu bilang? "
"Bu-bukan apa-apa, a-aku tidak bilang apa-apa kok" ucap Karma gelagapan sambil tersenyum renyah
"Yasudah ayo kita bergegas" ajak Kena, dia berjalan di ikuti Karma di belakang nya
"Hampir saja aku keceplosan. Untung dia tidak dengar yang aku bilang tadi" batin Karma.
Mereka pun berjalan melewati kompleks-kompleks dan menawarkan kayu bakar kepada orang yang lalu lalang. Kayu bakar mereka pun terjual habis, mereka lalu bergegas pergi ke pinggir jalan dengan banyak nya ruko dan toko butik di sana
mereka pun membeli syal masing-masing dengan uang hasil kerja keras mereka, Kena membeli syal warna hitam sedangkan Karma membeli syal warna merah
__ADS_1
"Apakah kau sebegitunya suka dengan warna hitam, baju mu saja sudah hitam semua dan di tambah syal mu juga warna hitam" celetuk Karma sembari memakai syal nya
"Kenapa kau itu cerewet sekali sih.Seleraku memang warna hitam dan warna gelap" ketus Kena
"Iya iya, sudahlah pakai saja syal mu"
"Iya akan aku pakai" Kena mengeluarkan syal nya dari tas dan hendak memakai nya tapi syal itu sudah keburu di ambil oleh Karma
"Biar aku saja yang pakai kan" ucap Karma sembari memakai kan Kena syal
"Aku bisa pakai sendiri"
"Kan tidak papa sesekali aku pakai kan" kata Karma
"Lagi pula aku ini kakak mu" lirih Karma dan kali ini dia sengaja tapi dia memelankan suara nya
Kena seketika membulatkan matanya mendengar hal itu, dia terkejut sekaligus tercengang,
"Hah, apa?, Kakak? Yang benar saja, apa aku salah dengar? " batin Kena, Kena bisa mendengar kata-kata Karma karena jarak mereka cukup dekat
"Coba kau katakan lagi"
"Ya lagi pula aku ini kakak mu" kali ini Karma dengan lantang mengucap kan itu
Kena mematung, dia terpaku di tempatnya, dia masih tidak percaya kalau Karma adalah kakak nya yang hilang
"Apa yang bisa membuat ku percaya kalau kau itu kakak kandung ku yang lama hilang" ancam Kena
Karma hanya tersenyum dan dia menunjukkan gelang yang ada di tangan nya, gelang itu memiliki 2 mutiara kecil berwarna biru dan orange terang dan di tengah nya ada sebuah batu yang membentuk kepala harimau
gelang itu sama persis seperti gelang Kena, hanya saja yang membedakan adalah warna mutiara di gelang Kena adalah biru dan merah
"Jadi kau benar kakak ku, kakak kandung ku yang tak pernah kulihat wajah nya dan tak pernah ku dengar nama nya? " mata Kena tampak berkaca-kaca
"Iya benar" ucap Karma sembari menganggukan kepala dan tersenyum manis
Kena terlihat meneteskan air mata, dia sangat ingin memeluk tubuh kakak nya itu, yang tak pernah dia tau bagai mana wajah nya dan tak pernah bertemu, sekarang dia sudah bertemu dengan kakak nya yang sudah lama sekali dia ingin menemui nya
dia tidak bisa menahan keinginan nya, dia pun memeluk Karma dengan erat, Karma terdiam sejenak lalu membalas pelukan Kena, sejujurnya dia juga sangat ingin memeluk adik nya yang tak pernah dia lihat wajah nya.
Kena menangis di dalam pelukan Karma, pelukan yang terasa begitu hangat, pelukan yang sudah lama tidak dia rasakan dan sudah lama sekali dia merindukan sebuah pelukan hangat dari keluarga nya.Karma mengelus-elus kepala Kena lembut
"Aku tidak menyangka kau bisa menangis, sifat mu sangat dingin dan cuek sangat berbeda dengan ku" gumam Karma, Kena bisa mendengar ucapan Karma
dia melepas pelukan nya dan menyeka air mata nya cepat
"Tentu saja aku bisa menangis" ketus Kena.
"Iya iya aku tau, aku hanya bercanda" ucap Karma sambil terkekeh
Mereka berdua pun lanjut berjalan, saat ini Karma dan Kena tidak punya tujuan, mereka berjalan tak tau akan menuju ke mana.
__ADS_1