
Karma menggandeng tangan Kena agar Kena tidak jatuh, tubuh Kena masih lemas, Kena juga merasa ngantuk karena efek dari obat pelemah yang di tembakkan oleh Akemi
Karena sudah tidak bisa menahan ngantuk nya, Kena terjatuh dan bersandar di kaki Karma, dia tertidur
"Hei kau kenapa? " Karma membungkukkan badan
"Apakah dia tidur? " gumam Karma sembari menggendong Kena dan pergi ke lantai dua
Karma membuka pintu kamar Kena lalu dia masuk dan membaringkan Kena di kasur dan menyelimuti nya
"Padahal tadi siang sudah tidur sampai sore, dan sekarang tidur lagi" gerutu Karma
"Dasar putri tidur" lirih Karma sembari menatap Kena dengan senyum sebelum keluar dari kamar dan menutup pintu
Karma masuk ke kamar dan mengambil beberapa buku untuk di baca, seperti buku pengetahuan, dia membawa buku-buku nya ke lantai bawah dan menyalakan lampu, Karma membaca di cafe
*****
Tsuki akhirnya selesai mengantar kan barang ke beberapa cabang organisasi. Sesampai nya di markas, Tsuki langsung menaiki montor nya dan segera pulang, dia berharap Kena baik-baik saja
Tsuki membelah jalan raya yang ramai, dia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, walau jalanan ramai tapi dia cukup ahli untuk menghindari kendaraan yang menghalangi nya
Sampai di cafe, Tsuki langsung turun dari motor tanpa melepas helm nya, dia langsung masuk ke cafe untuk segera memberitau Karma, karena terburu-buru dia sampai tidak menyadari kalau Karma sedang duduk membaca buku di meja cafe dekat dengan pintu masuk
Tsuki langsung berlari menuju tangga, Karma yang melihat Tsuki kepanikan itu sampai melongo bingung
"Hei Tsuki, kenapa kau panik begitu?" Tanya Karma pada Tsuki yang masih ada di tangga
Tsuki refleks menoleh dan terkejut ternyata Karma ada di sana, Tsuki kembali turun dan mendekati Karma
"Karma, Kena ada di mana sekarang? " tanya Tsuki dengan nafas terengah-engah
"Kena ada di kamar sedang tidur, memang nya kenapa? " Karma mengkerutkan dahi nya
"Apakah dia baik-baik saja? " tanya Tsuki
"kena baik-baik saja" jawab Karma sembari menatap bingung ke arah Tsuki
"Hhhhhhh syukurlah" gumam Tsuki sembari duduk di kursi sebelah Karma dan melepas helm nya
"Memangnya kenapa sih? "
"Aku tadi saat ada di markas, aku tidak sengaja mendengar rencana Akemi untuk menculik Kena" jelas Tsuki
__ADS_1
"Oooh, berarti tadi yang menculik Kena adalah Akemi" gumam Karma
"Memangnya tadi Kena di culik? "
"Iya, tapi untung saja ada yang mau menyelamatkan Kena"
"Siapa? "
"Kalau tidak salah nama nya adalah Zyan, Ryan, dan Ian"
"Bukankah mereka itu preman gang sebelah cafe ya, ko mereka mau menyelamatkan Kena? "
"Entahlah,yang penting Kena selamat"
"Yasudah aku mau naik ke atas dulu, aku mau mandi" Tsuki lalu melangkah melewati tangga menuju lantai dua
Selesai mandi Tsuki keluar kamar dan pergi ke dapur membuat mie untuk makan malam, dia malas untuk memasak makan malam karena diri nya juga lelah, Tsuki menikmati mie yang ia buat, mie dengan saus pedas
Selesai makan Tsuki turun ke bawah untuk melihat Karma dan sekalian menawari makan malam
"Karma, jika kau mau makan kau bikin mie instan saja sendiri ya, mie nya sudah ada di dapur" celetuk Tsuki
Karma hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Tsuki, dia masih fokus dengan buku nya, Tsuki lalu kembali ke atas dan masuk ke kamar nya untuk ber istirahat, Tsuki melirik jam dinding yang ada di kamar nya, jam menunjukkan pukul 19.30 malam, sebenarnya itu bukan waktu Tsuki untuk tidur, tapi karena sudah lelah dia memutuskan untuk tidur lebih cepat
*****
"Eh Zyan, hp gue mana yak? " tanya Ian pada Zyan, mereka sedang nongkrong di halaman depan rumah Zyan, halaman depan rumah Zyan memang luas jadi bisa untuk di buat nongkrong
"Kayak nya sih, gue tinggal di rumah tua itu" jawan Zyan dengan santai tanpa rasa ber salah
"HAH, apa..., lo tinggal begitu aja di sana, itu hp gue Zyannnnn, bukan hp lo..... " protes Ian
"Ya mau gimana lagi, keburu tu orang nangkep kita kan kalo harus ambil hp lo" ucap Zyan
"Cckk, lo tau gak hp gue itu harganya mahalll" gerutu Ian
"Lo kan kaya, apa sudah nya beli lagi kan"
"Hhhhhh, terserah deh"
Zyan dan Ian beradu mulut sedangkan Ryan menjadi penonton dan seakan di anggab batu oleh Zyan dan Ian yang sedang beradu mulut
"Hhhhhhh, gue jadi ga di anggep nih" batin Ryan
__ADS_1
Sedangkan di tempat Akemi
Akemi masih terkapar di tanah, dia mencoba berdiri dan masuk ke dalam rumah tua itu untuk ber istirhata sejenak, suara sirine mobil polisi masih bisa dia dengar sampai sekarang, Akemi sebenarnya agak risih dengan suara itu namun tidak ada waktu untuk mencari asal suara itu, badan nya sedikit lemah jadi dia lebih baik memutuskan untuk ber istirahat dulu di rumah tua itu
Tak lama kemudian suara sirine mobil polisi sudah tidak terdengar lagi
"Akhirnya suara itu hilang juga, rasanya mau pecah telinga ku" gerutu Akemi
Karena efek dari obat pelemah, Akemi mengantuk dan tertidur, Akemi tidur dengan posisi duduk bersandar pada dinding. Suara sirine mobil sudah berhenti karena handphone Ian habis batrai.
*****
Kena berada di pinggir jalan raya, dia celingak-celinguk memandang sekitar nya, Kena lalu berjalan dan terus berjalan hingga langkah nya terhenti karena melihat mobil ibu tiri nya yang ber pas-pasan dengan mobil yang akan berbelok
Mobil ibu Kena hilang kendali dan menabrak mobil yang ber pas-pasan dengan nya, mobil nya terguling ke pinggir an jalan dan berhenti dengan keadaan terbalik
Kena yang melihat itu seakan diri nya tersambar petir, badan nya kaku tidak bisa bergerak, air mata nya mentes dan ber pikiran macam-macam. Setelah sadar dia langsung berlari ke tempat kejadian dan langsung mendekati mobil ibu nya yang terbalik
"Ibu, ibu bangun, ibu.... " isak Kena sembari berjongkok menatap tubuh ibu nya yang penuh dengan darah, ibu nya masih berada dalam mobil
Kena bergegas meminta bantuan pada orang-orang di sekitar nya untuk menolong ibu tiri nya itu, dengan sudah payah orang-orang mengeluarkan tubuh ibu Kena yang berada di dalam mobil, setelah beberapa saat akhirnya tubuh nya berhasil di keluar kan dan mobil ambulan pun datang membawa ibu Kena dan korban lain nya
Kena ikut masuk ke dalam mobil ambulan, sesampai nya di rumah sakit, Kena menunggu di luar ruangan sambil terus menangis. Beberapa saat kemudian dokter keluar
"Keluarga pasien" ucap Dokter
"Iya" Kena langsung berdiri dan mendekat
"Apa kamu anak dari pasien? " tanya Dokter
"Iya dok" jawab Kena
Dokter itu berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan tubuh Kena, dokter itu memegang pundak Kena dan berkata
"Kamu yang sabar ya, ibu kamu sudah tidak bisa selamat" lirih dokter itu
Bagai tersambar petir, tubuh Kena lemas seketika, tubuh nya kaku tidak bisa bergerak, air mata menetes dan membanjiri pipi nya, tak lama ayah dan kakak tiri Kena sudah datang, sang dokter pun memberi tau kepada mereka berdua kabar duka itu
Ayah dan kakak tiri Kena menangis sejadi-jadi nya, sama dengan Kena, Kena bersandar di dinding dengan air mata yang terus mengalir, Kena langsung berlari masuk ke ruangan dan melihat tubuh ibu nya yang sudah terbaring lemah
Kena langsung mendekat ke kasur dan menangis sejadi-jadi nya di sana. Kena membuka mata dan langsung terduduk menatap sekeliling, air mata membanjiri pipi nya, mimpi itu membuat diri nya teringat kembali pada ibu tiri nya, dia menjadi rindu dengan ibu nya, dia rindu dengan kasih sayang nya, tangan nya yang dengan lembut membelai rambut Kena, pelukan hangat nya, dan dongeng nya sebelum tidur
Kena memeluk kaki nya dan menelungkup kan muka nya di lutut nya, Kena menangis di tengah hening nya malam, malam yang sepi dan tenang itu menjadi waktu yang tepat untuk menangis, jam menunjukkan pukul 2 dini hari, Kena tidak bisa tidur sampai pagi hari tiba, waktu malam nya ia gunakan untuk melepas kesedihan dan rasa rindu nya pada ibu tiri nya.
__ADS_1