
HAPPY READING!!!
*****
#FLASHBACK OFF
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, saat ini Clara sedang bersantai di dekat kolam renang dengan posisi tubuhnya berbaring di atas bangku panjang menghadap langit.
“Daddy, Mommy.”
Setelah Clara mengatakan itu seketika air matanya turun membasahi pipi dengan cepat Clara mengusapnya. Terlihat jelas kerinduan yang dirasakan Clara kepada kedua orang tuanya.
Semua harta yang ditinggalkan kedua orang tuanya tidak ada apa-apanya jika tanpa kehadiran mereka disisinya. Dipikir Clara, Justin akan selalu ada untuknya. Tetapi malah sangat jarang membuatnya merasa sangat kesepian.
Dari kejauhan Merry berjalan mendekati Clara lalu meletakkan piring yang berisi roti di atas meja. “Bibi membuatkan roti ini untuk Nona.”
Clara menoleh sambil duduk. “Terima kasih bi.” Tersenyum.
Merry mengangguk lalu beranjak pergi. “Sepertinya ada yang sedang Nona pikirkan.” Batinnya sesaat menoleh ke belakang.
Lumayan lama Clara disana menikmati udara yang sejuk di sore hari, tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja bergetar.
Drettt…. Drettt… Drettt……
Clara mengambil ponselnya lalu mengangkat telpon. “Iya sayang?”
“Setengah jam lagi aku ke rumahmu, segera bersiap.”
“Oke, hati-hati ya di jalannya.” Mematikan telpon.
Clara berjalan masuk ke dalam rumah sambil tersenyum karena sore ini akan jalan-jalan bersama kekasihnya.
Klekkk….
Clara berlari masuk ke dalam kamar mandi, sejenak Clara berdiam diri di bawah shower. Setengah jam kemudian Clara selesai mandi, bergegas mencari pakaiannya.
Saat ini Clara sedang duduk di kursi make up. “Aku harus terlihat cantik.” Gumamnya sambil memoles beberapa make up ke wajahnya dengan fokus.
Clara wanita yang sangat cantik, berkulit putih mau Clara menggunakan make up atau tidak tetap terlihat cantik. Tetapi menurut Clara jika tidak menggunakan make up maka wajahnya sangat jelek.
Ketika Clara jalan bersama Justin, Clara selalu berpenampilan sempurna dan berusaha tidak ada kekurangan karena Clara takut Justin berpaling darinya lalu memilih wanita yang lebih cantik darinya.
Mau sesempurna apapun di mata pasangan, kalau pasangan tidak bersyukur maka akan selalu merasa kurang dan kurang.
Clara berjalan menuruni anak tangga lalu duduk di ruang tengah menunggu kedatangan Justin.
“Tuan Justin sudah didepan Non.” Teriak Merry melihat mobil Justin di teras.
“Oke bi.” Berjalan dengan cepat keluar lalu masuk ke dalam mobil.
Justin menoleh. “Kekasihku memang selalu cantik.” Pujinya sambil mengelus kepala Clara.
__ADS_1
“Apa kamu baru menyadari kalau aku cantik.” Memasang seat belt.
“Tidak, setiap hari aku selalu sadar.” Sekilas menyentuh dagu Clara.
Mobil Justin mulai jalan meninggalkan rumah Clara. Dengan kecepatan yang lumayan tingi, kini mobil mereka sudah berada di jalanan kota.
“Aish macet.” Kesal Justin.
“Kita langsung ke café atau kemana?” tanya Clara.
“Kita mampir ke toko baju dulu, aku ingin membeli baju.”
Clara hanya mengangguk dengan pandangannya fokus ke depan. “Hm macetnya sangat panjang.”
Hampir setengah jam mobil Justin terjebak macet, akhirnya mobil itu pun bisa keluar dari kemacetan yang sangat padat. Justin melajukan mobilnya menuju salah satu toko baju langganannya.
Justin berjalan mendekati Clara yang sedang duduk. “Sayang bagus yang mana bajunya?” mengangkat 2 baju.
“Emmmm keduanya.” Tersenyum.
“Salah satu.”
“Kenapa kamu tidak membeli keduanya saja kalau bingung?” Clara berdiri. “Menurutku keduanya sangat cocok untuk kamu.”
“Tapi ada 2 baju lagi yang aku mau.”
“Ada 4 pilihan?”
“Ya kalau aku menyarankan beli semuanya daripada menyesal nantinya.”
Justin berjalan mendekati kasir untuk membayar semua baju yang dipilihnya.
Selesai membeli beberapa baju, mereka pun masuk kembali ke dalam mobil dan langsung menuju café yang sering mereka datangi. Clara sangat menyukai pemandangan pantai dan juga mendengar ombak dengan itu bisa membuat Clara sedikit tenang.
Saat ini Clara dan Justin sudah berada di J’café. Mereka sedang menikmati udara sore yang begitu sejuk ditemani minuman dingin dan cemilan.
Terdengar derasnya suara ombak, angin sepoi-sepoi membuat rambut Clara menjadi berantakan. Pada saat matahari mulai terbenam, para pengunjung café dapat melihat senja yang sangat indah dari sana membuat sepasang mata kagum ketika melihat keindahannya.
Mereka memilih tempat duduk di pinggir yang dekat dengan pantai.
Clara berusaha merapikan rambutnya yang berantakan karena angin sambil terkekeh kecil. “Rambutku.”
“Hahaha tapi kamu tetap cantik walaupun rambut kamu berantakan.”
“Yaaa kamu mengejekku atau memuji?” kesal Clara.
“Tentu saja memuji.”
Drett… Drettt… Drettt…
Ponsel Justin bergetar, dengan cepat Justin mengangkat telpon yang masuk. Beberapa menit kemudian Justin mengakhiri telponnya.
__ADS_1
“Sayang maaf ya.” Memasukkan ponsel ke dalam saku.
Clara menoleh. “Kenapa? Kamu ingin sibuk lagi?”
Justin mengangguk. “Aku baru saja mendapat telpon dari karyawan katanya ada yang ingin bertemu denganku.”
“Ya kamu sibuk saja, nanti aku pulang pakai taksi.”
“Maaf ya sayang, sungguh ini mendadak.” Mencium kening Clara. “Kalau kamu sudah di rumah jangan lupa hubungi aku.”
Clara hanya bisa mengangguk tanpa ada senyuman di bibirnya. Lagi dan lagi Clara dibuat kecewa dengan sikap Justin. Justin pun beranjak pergi meninggalkan Clara sendirian di café itu.
“Begitu menyedihkannya hidupku, seperti orang yang tidak memiliki siapa-siapa.” Menghela nafas. “Daddy, Mommy aku rindu kalian. Sungguh semuanya tidak berarti tanpa ada kalian.”
Sesaat air mata Clara turun membasahi pipinya karena hati yang terasa sangat sesak. Hari sudah mulai gelap, Clara memutuskan untuk segera pulang.
Clara berjalan melewati parkiran yang sepi sambil melamun karena nanti didepan sana biasanya ada taksi.
Brukkk….
Tanpa sengaja Clara menabrak seseorang. “Aw.” Mengelus lengannya. “Maaf saya tidak sengaja.”
Terlihat ada seorang pria bertubuh besar dan tinggi mengenakan jaket hitam menatap tajam ke arahnya.
“Apa kau tidak mempunyai mata?” kesalnya.
“Saya benar-benar tidak senga….”
Tiba-tiba ada seseorang menutupi hidung dan mulut Clara dari belakang dengan kain yang sudah di olesi obat bius.
Clara berusaha berontak, beberapa detik kemudian kesadaran Clara mulai hilang. Perlahan pandangannya buran hingga Clara langsung tidak sadarkan diri.
Kedua pria itu langsung mengangkat Clara lalu memasukkan ke dalam mobil hitam. Mobil itu pun melaju meninggalkan parkiran J’café.
“Kami berhasil menculik wanita itu.” Ucap pria tadi kepada seseorang yang ada diseberang telpon.
“Bawa wanita itu ke ruang bawah tanah mansion ku.”
“Baik bos, kami segera kesana.” Mematikan telpon.
“Kita ke mansion bos.”
Mobil itu semakin melaju menyusuri jalanan kota lalu memasuki jalanan yang sepi letaknya tidak jauh dari jalanan kota.
Brakk….
Mereka berdua berjalan menuju ruang bawah lewat jalan samping. Sesampai di ruang bawah tanah, mereka langsung meletakkan Clara disana.
Tempat yang sepi, lampu remang-remang terkesan menyeramkan. Salah satu dari mereka pun menelpon bosnya untuk memberitahu bahwa Clara sudah dibawa ke ruang bawah tanah.
...Bersambung….....
__ADS_1
First time Author membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan