
"Kapan Wahyu, lelaki yang katanya akan menikahimu itu datang ke rumah, Ai?" Pertanyaan mendadak dari sang ayah membuat Aiyla tersentak.
Perempuan itu menjeda suapan nasi gorengnya yang baru ia sendok dari piring. Lalu melirik dan tersenyum kikuk ke arah sang ayah.
"Maaf, Yah, Aiyla belum bisa menjawab sekarang karena akhir-akhir ini Mas Wahyu sulit dihubungi," sahut Aiyla apa adanya.
"Sudahlah, Yah, sebaiknya biarkan Aiyla menyelesaikan sarapannya terlebih dulu." Bu Ani, sang ibu menengahi pembicaraan antara anak dan suaminya. Agar Aiyla bisa makan dengan tenang tanpa merasa terganggu dengan pertanyaan berulang yang dilontarkan kepada gadis itu baik dari keluarga dan orang sekitar.
Aiyla meneguk air putih di gelas belimbing hingga tandas usai menyelesaikan makannya. Kemudian dengan cekatan kedua tangan wanita muda itu membenahi piring kotor dari amben pelupuh bagian dapur karena memang di rumahnya tidak tersedia meja makan lalu membawanya ke belakang sekaligus langsung mencucinya di sumur.
***
Pertanyaan sang ayah barusan masih memenuhi isi kepala gadis yang kini sedang duduk di tepi ranjang dipan beralaskan kasur tipis di dalam kamar miliknya.
Sudah beberapa hari pesan yang Aiyla kirim melalui WhatsApp kepada Wahyu masih centang satu abu-abu. Menandakkan sang pemilik ponsel belum sempat membuka dan membacanya. Aiyla masih tetap bersabar dan selalu berhusnudzon kepada pria yang kini sedang bekerja di luar pulau itu.
Apalagi satu Minggu yang lalu Wahyu sempat memberitahu Aiyla jika dirinya dipindahtugaskan ke daerah pelosok dan mempengaruhi signal telepon sehingga komunikasi mereka berdua tidak bisa seintens dulu. Aiyla pun mengiakan dan tetap memberikan dukungan berharap Wahyu tetap bersemangat selama bekerja dan jauh darinya.
***
Hati Aiyla berbunga-bunga tatkala bola matanya menangkap nama Mas Wahyu Prayoga memanggil pada layar ponsel yang tergeletak di meja kamar.
Usai mengucap salam dengan mata berbinar perempuan itu memanggil nama pria tersebut. Tapi, alangkah terkejutnya saat panggilan itu terhubung bukan suara bass yang selama ini ia nanti-nantikan yang terdengar di ujung sana.
Namun, malah suara lembut seorang wanita yang menyapanya.
"Mbak ... Siapanya Mas Wahyu?" tanya Aiyla ragu.
"Saya istrinya. Kami menikah baru beberapa bulan yang lalu tepatnya Januari 2023 kemarin," tutur wanita itu terdengar bangga dan penuh kemenangan.
__ADS_1
Ponsel yang diletakkan di telinga kanan Aiyla hampir saja terjatuh dari genggaman. Hatinya remuk redam. Seakan ada godam besar yang menghantam bagian dada gadis berusia 24 tahun itu.
"Gak mungkin ... Bukannya pada bulan Januari kemarin Mas Wahyu bilangnya beliau sedang sakit dan harus memerlukan biaya banyak?" Aiyla bergumam. Berusaha menyangkal kabar yang membuatnya seperti terhempas ke dasar jurang yang gelap.
"Betul sekali Mbak, saat itu memang Mas Wahyu sedang memerlukan biaya besar, tapi bukan untuk biaya berobat melainkan untuk biaya pernikahan kami berdua," ungkap wanita asing itu seolah menertawakan perasaan Aiyla yang sedang terluka mendengar berita tak terduga pada saat dirinya sedang mati-matian meredam rasa rindu untuk pria yang selama ini sudah berhasil mencuri separuh hatinya itu.
Aiyla memejamkan mata. Menikmati desir perih yang kian menikam. Tetes bening tak mampu lagi ia bendung luruh begitu saja membasahi kedua pipi mulusnya.
***
Sudah seminggu Aiyla melewati hari-hari beratnya. Bagaimana tidak? Semua mimpi dan harapannya untuk bisa menikah dan membangun rumah tangga yang bahagia kandas sudah karena pengkhianatan.
"Bersyukurlah Aiyla, kamu tidak jadi berjodoh dengan Wahyu. Itu tandanya dia bukan laki baik-baik dan dapat dipercaya. Buktinya lelaki itu tanpa merasa berdosa tega membohongi kamu." Aini, kakak perempuannya Aiyla berusaha memberikan pandangan berharap sang adik tidak terus larut dalam keterpurukkan yang berkepanjangan.
Aini bangkit dari duduk lalu berdiri di samping Aiyla seraya mengusap pelan pundak adiknya lalu kemudian berkata, "Kamu harus yakin dengan janji Allah yang sudah tertera dalam Al-Qur'an, Ai. Yang artinya kurang lebih seperti ini:
Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).
Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga),” (QS An-Nur : 26).
Aiyla tak menyahut penuturan yang panjang lebar itu dari sang kakak. Hanya helaan napas panjangnya saja yang terdengar seakan ingin membuang rasa sesak yang masih menghimpit rongga dadanya.
"Mencari jodoh itu gak boleh asal-asalan. Jangan asal ganteng, asal mapan saja. Tapi, imam yang baik bisa didapatkan jika niat hati kita dalam memilih pasangan sudah sesuai dengan syariat agama.
"Sebagaimana anjuran yang sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Apabila datang kepada kalian siapa yang kalian ridai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan menjadi fitnah dan muka bumi akan mengalami kerusakan yang luas,” (HR Al-Hakim).
"Sedangkan perbuatan Wahyu terhadap kamu itu sama sekali tidak mencerminkan jika dia adalah laki-laki yang paham agama yang kelak harusnya menuntun kamu dan keluargamu menuju surga-Nya," pungkas Aini panjang lebar.
***
__ADS_1
"Dek, ikut Mas, yuk!" ajak seorang pria tampan kepada Aiyla yang kini sudah sah menjadi suaminya hasil perjodohan dari Aini, sang kakak beberapa bulan yang lalu.
"Kemana, Mas?" tanya perempuan manis itu antusias.
"Ke tempat ngaji yang sudah rutin Mas ikutin setiap seminggu sekali."
"Mau banget, Mas." Tangan Aiyla bergelayut manja di bahu Kahfi pria yang sudah berani menghalalkannya itu.
Di dalam lubuk hati Aiyla menyeru syukur yang tiada tara tatkala ia ikut berbaur dengan jema'ah pengajian lainnya. Di tempat majelis ini Aiyla bisa berkumpul dan mendapatkan teman baik yang mampu saling mengingatkan menuju jalan yang diridhoi Allah.
"Mas Kahfi tadinya mau nyari calon jodoh di sini lho, kalau kemarin lamarannya Mbak Aiyla tolak," ucap salah satu jema'ah wanita paruh baya berbisik di telinga Aiyla.
"Mas Kahfi pernah bicara seperti itu?" cecar Aiyla penasaran.
Yang ditanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
***
Kebahagiaan Aiyla bersama Kahfi semakin sempurna ketika Bu bidan desa menyatakan jika dalam rahim Aiyla saat ini berisi calon buah hati mereka.
"Sekarang kamu fokus ke calon bayi kita biar pekerjaan rumah semua Mas yang handle," ucap Kahfi sambil mengelus lembut perut Aiyla.
"Tapi, Mas ... "
"Gak ada tapi-tapian," sela Kahfi kemudian.
Perhatian dan kasih sayang Kahfi semakin meningkat kepada Aiyla. Sikapnya benar-benar sesuai dengan yang dicontohkan Rasul yakni selalu memuliakan istri. Lisannya selalu terjaga dan lemah lembut agar tidak sampai meninggalkan luka di hati sang pujaan hati.
Luka yang pernah Aiyla terima dari lelaki pendusta seperti Wahyu, kini berganti bahagia dengan hidup bersama pria yang paham agama dan takut dosa.
__ADS_1