Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Menentang Mitos


__ADS_3

Menyandang setatus baru sebagai seorang ibu membuat Ova sedikit merasa asing walaupun ia berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya yang sekarang.


Kini ia menyadari pengorbanan menjadi seorang ibu sungguh sangat berat. Bagaimana tidak, dulu dirinya bisa tidur pulas semalaman tanpa ada yang harus mengganggu dan mengusiknya.


Namun, kini setelah hadir sosok mungil di sampingnya seolah semua kebebasan yang pernah dinikmati hilang begitu saja. Ia dituntut untuk harus bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk sang buah hati tercinta.


Seperti pada malam ketiga setelah kehadiran bayi mungil di rumah yang mereka tempati. Malam sudah mulai merangkak semakin larut, tapi Ova belum satu menit pun bisa memejamkan kedua matanya. Bayi mungil itu dari ba'da Isya tadi masih betah mengajak sang ibu untuk terus terjaga.


Menyadari sang istri masih terus mengurus sang buah hati, Rzjal pun merasa terenyuh dan tak tega.


"Sini biar Mas yang menjaga dedeknya, sekarang Adek istirahat tidur dulu, biar gak ngantuk," saran sang suami sembari meraih sang buah hati ke dalam gendongan.


"Memang Mas bisa?" tanya Ova ragu.


"Harus bisa dong, kan, sekarang udah menjadi seorang Ayah," ucap Rizal tersenyum meyakinkan.


"Beneran?"


"Iya, insya Allah Aya bisa, kok. Udah sekarang tidur biar nanti kita bisa gantian jagainnya."


"Makasih, ya, Mas, sudah bersedia berbagi tugas."


"Gak perlu bilang berterima kasih atuh, Dek. Ini juga, kan, masih tugas dan kewajiban Mas juga menjaga dan mengurus anak kita."


"Pokoknya I love you tumpah-tumpah buat suamiku yang ganteng dan pengertian ini, lah," ungkap Ova mulai mengeluarkan jurus gombalnya. Rizal hanya tertawa renyah menanggapi ucapan istrinya yang kadang selalu membuatnya tersenyum geli.

__ADS_1


Ova mulai menyiapkan diri untuk istirahat walau sekejap. Matanya yang sudah menyipit menahan kantuk langsung terpejam pulas. Dengkur halus mulai terdengar teratur darinya. Rizal hanya tersenyum sambil menatap wajah sang istri yang sedang terlelap kelelahan.


Rizal mencoba menidurkan si kecil di kasur, tapi baru beberapa detik langsung terdengar kembali suara tangis dari mulut mungil sang bayi.


Pria yang baru beberapa hari menyandang status sebagai seorang ayah itu pun langsung menggendong kembali sang buah hati. Tangannya merasakan seperti ada yang basah di bagian bawah popok. Lalu ia memeriksa dengan cara membuka satu persatu dari bedong kemudian popok bagian dalamnya yang ternyata basah oleh ompol. Dengan penuh kesabaran dan telaten Rizal mencoba mengganti popok yang basah dengan yang masih kering dan bersih tanpa membangunkan sang istri yang masih terpejam pulas di sampingnya.


Tangis si kecil masih terdengar memecah kesunyian malam yang semakin pekat. Rizal masih berusaha menenangkan dengan menggendong dan menimang-nimang sembari berjalan bolak-balik antara pintu kamar sampai ruang tengah berharap bayi mungilnya bisa lekas terlelap. Ia tak tega jika harus membangunkan Ova yang masih terlihat kelelahan hampir seharian tanpa jeda mengurus bayi mereka.


***


"Tadi malam saya dengar bayinya Mbak Ova gak berhenti menangis, ya?" tanya Bu Mumun kepada Ova ketika ia sedang sibuk memilih sayur dan bumbu dapur di Mang Ujang, tukang sayur keliling langganannya.


"Iya, Bu, saya dan suami gantian menjaganya biar bisa tidur walaupun sebentar." Ova tersenyum ramah menjawab pertanyaan Bu Mumun


Seperti biasa Ova hanya tersenyum ketika menanggapi penuturan-penuturan yang menurutnya tak masuk akal dari kebanyakan ibu-ibu yang tinggal di kampung tempat tinggalnya itu.


"Saran saya, kalau nanti malam anaknya masih tetap menangis terus-terusan tanpa berhenti. Pak Rizal suruh keluar mengelilingi rumah tujuh kali putaran dengan tanpa menggunakan baju, biar makhluk halus yang menggangu anak Mbak Ova pergi dan tak akan datang lagi," papar Bu Mumun dengan raut muka serius.


Hampir saja tawa Ova meledak saat itu juga mendengar saran dari tetangga yang rumahnya itu. Tapi ia mencoba menahan agar Bu Mumun tak tersinggung.


'Ada-ada saja saran dari ibu-ibu di sini,' batin Ova dalam hati.


Untuk menjaga dan menghormati semua saran dari tetangganya itu biasanya Ova berusaha mengiakan saja walau hati kecilnya jelas menolak mentah-mentah.


"Maaf, Bu Mumun. Saya hanya mengingatkan saja jika yang disarankan oleh Bu Mumun pada Mbak Ova barusan itu sangat tidak dianjurkan dalam agama kita." ungkap Bu Silmi, istri pak ustaz di desa tersebut.

__ADS_1


Sebagai seorang muslim kita harus bisa memegang teguh aqidah kuat-kuat agar tidak terpeleset dengan mengikuti ataupun mempercayai hal-hal berbau klenik yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan. Sekalipun itu budaya yang sudah mengakar kuat jika bertentangan dengan syariat agama kita harus berani menolaknya dan jangan sampai terbawa arus. Begitu penuturan dari Bu Silmi kepada Bu Mumun dan ibu-ibu lainnya yang kebetulan hadir di sana.


"Iya, tuh, Bu Mun. Dengerin!" ujar Bu Eti melirik ke arah Bu Mumun yang sedang sibuk memilih sayur kangkung.


Kemudian Bu Silmi menyambung perkataannya kembali,


"Karena dalam ayat Al-Qur'an sudah dijelaskan, yang artinya:


"Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin-jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” [QS. Al-Jin : 6].


Termasuk dalam jenis ini meminta perlindungan keselamatan kepada jin, kuburan orang salih, kuburan Nabi, dan bahkan para malaikat sekalipun. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Karena sebaik-baik tempat minta pertolongan itu hanya kepada Allah Sang Maha Segalanya." pungkas Bu Silmi mengakhiri penjelasannya.


Ova menyimak setiap kata yang disampaikan oleh Bu Silmi barusan. Yang membuat hati semakin yakin jika dirinya tidak harus menerapkan semua saran dari orang yang lebih tua sekali pun jika itu bertentangan dengan syariat Islam.


Setelah mengucapkan terima kasih atas pencerahannya kemudian Ova berbasa-basi untuk segera pulang.


"Monggo, Ibu-ibu saya duluan, nggih," pamit Ova setelah ia membayar semua belanjaan kepada Mang Ujang. Kemudian Ova berlalu bergegas menuju rumahnya. Ia khawatir bayinya akan menangis jika ditinggal terlalu lama saat berbelanja sayur.


Ova menyimpan kantung keresek berisi sayuran di meja dapur. Langkah kakinya kemudian menuju kamar melihat keadaan sang buah hati yang ternyata masih terlihat pulas dengan mata terpejam. Ibu muda itu pun menggunakan kesempatan itu untuk segera turun ke dapur guna mempersiapkan menu siang untuknya dan sang suami yang selalu dirindukan walaupun hanya ditinggal sehari.


Sedangkan Rizal tadi pagi sudah harus mulai berangkat ke tempat kerjanya kembali. Walaupun merasa berat hati untuk meninggalkan sang istri yang harus mengurus anak dan mengerjakan tugas rumah lainnya seorang diri tanpa ada orang lain yang membantu.


Namun, Ova tadi pagi berusaha meyakinkan suaminya agar tetap berangkat ke tempat kerja karena ia merasa baik-baik saja dan mempu untuk melakukan semuanya walaupun hanya seorang diri.


Bayi mungilnya pun seolah mengerti dengan keadaan sang ibu. Dari tadi pagi usai dimandikan dan setelah diberi ASI langsung tertidur pulas hingga menjelang waktu Zuhur. Sehingga Ova bisa leluasa mengerjakan pekerjaan rumah.

__ADS_1


__ADS_2