
Kehilangan
***
Surara dentuman yang memekakan telinga terdengar begitu keras membuat orang di sekitar reflek menghambur ke arah tempat kejadian. Untuk sekadar melihat dan memberikan pertolongan sebisa dan semampunya.
Sebagian orang berusaha menolong seorang wanita muda yang terjepit dan terperangkap di bagian jok depan di belakang kemudi. Sedangkan bagian depan mobilnya ringsek hingga sudah tak berbentuk lagi. Darah segar yang terus mengalir dari bagian kepala dan wajahnya membasahi semua pakaian yang ia kenakan. Menguarkan bau amis menyengat menusuk indera penciuman setiap orang yang mendekat ke arahnya.
Salah satu bapak-bapak kemudian mengecek keberadaan perempuan malang tersebut untuk memastikan jika korban sudah meninggal atau masih ada sisa napasnya, dengan menempelkan dua ruas jarinya di bagian leher dan sedikit menekan urat nadi yang berada di pergelangan tangan.
"Masih bernapas," lirih bapak itu dan meminta untuk menggotong tubuh korban ke mobil ambulan yang sudah datang dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sedangkan beberapa anggota kepolisian sudah mulai memasang garis polisi di tempat kejadian perkara. Sekaligus mengamankan sopir truk kontainer yang tadi melajukan kendaraannya dengan ugal-ugalan dan kecepatan tinggi hingga menimbulkan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan memakan satu korban dengan luka berat.
***
Sedangkan Fahmi yang sedang menyaksikan televisi begitu tercengang ketika pembawa berita menyampaikan telah terjadi kecelakaan di jalan raya yang tak jauh dari sana dengan korban satu orang wanita berinisial N. Dengan plat nomor yang sudah dihapal oleh Fahmi.
"Kenapa, Mas? Ada apa?" tanya Mira, sang adik penasaran ketika melihat kakaknya seperti terkejut.
"Ada korban kecelakaan." Fahmi menjawab dengan bola mata masih terus menatap ke arah layar televisi.
"Tiap hari juga sudah biasa sering ada berita kecelakaan, pembunuhan, dan berita kriminal lainnya bikin miris sang ngeri," tutur Mira menanggapi ucapan kakak satu-satunya itu.
"Tapi, ini plat nomor mobilnya sama persis dengan yang tadi dikendarai oleh Nilam."
"Serius, Mas?" Mira mulai penasaran. Ia pun mendekat ke arah Fahmi dan ikut menyimak acara berita pada sore hari itu.
Belum hilang rasa penasaran kakak beradik itu, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh dering ponsel milik Fahmi yang diletakan di meja. Lelaki bertubuh tegap itu pun menekan tombol jawab dengan tangan gemetar.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Ma'af, apa benar ini dengan Pak Fahmi? Istri Anda tadi mengalami kecelakaan dan saat ini sudah dibawa ke rumah sakit Permata. Diharap kedatangan keluarganya sekarang juga." Suara dari seseorang dari seberang telepon sana seketika membuat Fahmi terpaku.
"Kenapa, Mas?" Selidik Mira tak sabar.
"Nilam barusan kecelakaan."
"Innalilahiwainnailahirrojiun."
"Ayo, Mas, kita ke sana sekarang," ajak adik perempuannya kemudian.
Mira segera menuju rumah Mbok Dar untuk menitipkan keponakannya agar ia dan Fahmi bisa memastikan keadaan sang kakak ipar.
Fahmi dan Mira mulai bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dengan mengendarai kendaraan roda empatnya Fahmi mulai melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang terlihat sudah semakin ramai.
Tiba di rumah sakit mereka berdua hanya mampu melihat Nilam terbaring lemah di ruangan ICU dengan seluruh bagian anggota tubuhnya dibalut perban putih yang sebagian sudah mulai berlumur darah yang mungkin masih terus mengalir dari bagian lukanya.
Tubuh Fahmi gemetar menyaksikan pemandangan pilu seperti itu.
Fahmi bergeming. Tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
***
Mira sedang menyuapi makan Vito ketika ponselnya berdering nyaring. Dilihatnya di layar telepon nama Fahmi memanggil. Dengan tergesa Mira kemudian memijit tombol hijau.
"Kenapa, Mas?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Kamu sekarang ke rumah sakit, jangan lupa ajak juga Vito!" titah sang kakak dengan suara bergetar.
"Iya, Mas. Sekarang aku akan segera ke sana."
__ADS_1
"Tante aku mau sama Bunda. Aku kangen Bunda." Hati Mira berdesir perih mendengar rengekan keponakannya yang baru berusia 5 tahun itu.
"Vito yang sabar, ya, do'akan saja biar bunda baik-baik saja dan cepat bisa kembali ke rumah bisa main bareng lagi sama Vito," jawab Mira berusaha menenangkan.
"Memang Bunda aku kenapa? Sekarang Bunda lagi di mana?" Pertanyaan beruntun yang diucapkan okeh anak laki-laki bermata bulat itu membuat Mira kebingungan bagaiman cara memberikan penjelasan yang tepat untuk bisa diterima oleh anak itu.
"Aku mau ikut Tante ke rumah sakit ketemu Bunda." Vito berteriak ketika mendengar tantenya hendak pergi ke rumah sakit.
Tak sampai tiga puluh menit kendaraan roda empat yang dikendarai oleh Mira kemudian berhenti di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit swasta itu. Mira menuntun tangan Vito menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang ICU tempat Nilam masih terbaring lemah tak sadarkan diri.
Mira mengelus kepala dan rambut Vito yang kini sedang berada dalam pelukan sang ayah.
"Kamu yang sabar, ya, Sayang," ucap Mira lirih ke arah Vito.
"Bagaimana keadaan Mbak Nilam, Mas" tanya Mira kepada Fahmi yang dilihatnya sudah berurai air mata. Keadaan hati gadis itu mendadak tak enak dari pertama dirinya mendapat telepon dari sang kakak untuk segera datang ke rumah sakit sambil membawa serta Vito. Awalnya ia mengira Nilam sudah siuman dan ingin bertemu dengan sang buah hati.
"Mbakmu sudah gak ada .... " Kalimat yang keluar dari mulut Fahmi terjeda karena pria itu tak kuat menahan isak.
"Innalilahi wa innailaihirrojiuun," lirih Mira. Tangannya meraih Vito lalu mendekapnya dengan erat.
"Kenapa Ayah dan Tante pada nangis semua?" Kenapa gak bangunin Bunda, biar Bunda tahu kalau aku udah datang jenguk Bunda?" pertanyaan polos Vito membuat Fahmi semakin tergugu. Ia tak sanggup membayangkan harus mengurus buah hatinya nanti seorang diri tanpa kehadiran sang istri.
"Mas yang tabah, Mas yang kuat, ya." Hanya itu yang terucap dari bibir Mira untuk menguatkan hati sang kakak.
Semenjak ibu mereka meninggal setahun yang lalu Mira memang sudah tinggal bersama dan menjadi tanggung jawab Fahmi, sebagai kakak satu-satunya yang diamanati untuk menjaga Mira dan membiayai kuliahnya yang sudah memasuki semester akhir. Sedangkan keberadaan bapak mereka tak ada kabar beritanya setelah merantau di luar pulau semenjak kakak beradik itu masih duduk di bangku SD.
Untuk kedua kalinya Fahmi merasa hatinya luluh lantak setelah ditinggal ibunya. Kini pria itu pun harus kehilangan istri yang sangat dicintai.
Hanya rasa keikhlasan yang tinggi yang mampu menguatkan hatinya agar tetap tegar dalam menjalani ujian berat yang harus ia hadapi. Karena masih ada Vito, sang buah hati dan Mira, adik satu-satunya yang masih membutuhkan sosok dirinya di dunia ini.
__ADS_1
Fahmi sadar setiap makhluk yang bernyawa pasti akan tiba waktunya untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Sebagaimana tertuang dalam sebuah ayat Al-Qur'an.
Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiya: 35)