
Emilia menyeru syukur ketika petugas USG menyampaikan jika bayi yang kini mengisi rahimnya berjenis kelamin perempuan. Ia merasa Allah begitu baik kepadanya karena harapan untuk memiliki seorang anak gadis akan menjadi nyata.
Emilia berusaha sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk calon sang buah hati. Mulai dari mengkonsumsi susu dan tambahan vitamin kehamilan secara teratur berharap bayinya tumbuh dengan sehat dan sempurna.
Hingga tibalah waktu yang selama ini dinantikan oleh perempuan berhati lembut itu. Emilia mulai merasakan perutnya melilit seperti hendak melahirkan. Tapi ia berusaha menahannya karena sedang menyuapi Fakhir, anaknya yang masih berusia 4 tahun.
Sesekali wanita itu terlihat meringis seperti sedang menahan nyeri dengan langkah tertatih ketika menuju dapur setelah selesai menyuapi putranya.
"Kenapa, Mil, kok dari tadi kamu meringis seperti sedang nahan sakit gitu?" tanya sang bapak mertua yang sedari tadi ternyata memperhatikan gerak-gerik menantunya itu.
"Enggak tahu, nih, Pak, tiba-tiba perut Emil jadi mules," jawabnya sambil terus memegangi perutnya.
Karena sang suami sedang tidak ada di rumah lalu Emillia diantar oleh Sindy, adik iparnya menuju puskesmas dengan menggunakan taxi online. Di dalam mobil Emilia hampir tidak dapat menahan dorongan untuk mengejan saat kontraksi di perutnya semakin intens dan kuat.
"Tahan, dulu, Mbak. Jangan dikeluarin di mobil," tutur pak sopir panik melihat kondisi Emilia yang sudah kepayahan.
Tiba di puskesmas Emillia langsung menuju ruang bersalin dan langsung memposisikan dirinya di tempat tidur khusus pasien.
"Tolong saya Bu bidan, saya sudah gak tahan," ucap Emillia dengan napas tersengal.
Hanya tiga kali mengejan bayi mungil itu pun keluar disertai suara tangisnya yang memekakkan telinga memenuhi seluruh ruangan.
***
Ketika sudah berada di rumah Emilia merasa ada yang beda dengan bayinya. Bayi mungil itu jarang sekali menangis. Sering terlelap dalam waktu yang cukup lumayan lama. Terkadang untuk diberi ASI pun mesti dibangunkan terlebih dulu.
Di usianya yang baru menginjak 8 hari bayi yang diberi nama Aishwa itu kulitnya terlihat menguning. Karena merasa khawatir dengan keadaan putrinya Emilia langsung membawa Aishwa ke puskesmas.
Setelah diperiksa. Bidan puskesmas itu pun menyarankan Emillia untuk merujuk Aishwa ke rumah sakit Hermina agar mendapatkan penanganan yang lebih optimal.
__ADS_1
Dari hasil pemeriksaan di rumah sakit tersebut, bayi Aishwa dinyatakan memiliki kadar bilirubin yang tinggi yaitu hampir di atas 80. Sehingga bayi malang itu pun harus memasuki ruang vicu.
Emilia baru saja usai menjalankan salat Zuhur ketika ia dipanggil untuk menghadap ke ruang dokter anak. Dokter tersebut menyarankan Emillia agar membawa Aishwa menuju rumah sakit yang lebih besar yang sudah memiliki alat-alat yang lebih lengkap.
Di tengah kebingungannya Emillia hanya bisa patuh dan mengikuti saran dari petugas medis itu. Yang ada dalam benaknya hanya satu yaitu kesehatan untuk putri kecilnya.
Di rumah sakit baru itu Emilia diarahkan ke ruang khusus pemeriksaan genetik yang ia sendiri tidak paham dengan keadaan yang sebenarnya sedang menimpa sang buah hati.
Memasuki ruangan itu. Pandangan Emilia disajikan dengan puluhan orang yang kebanyakan membawa anak-anak berkebutuhan khusus dari mulai usia bayi hingga usia dewasa.
Jantung Emillia mendadak berdegup lebih kencang. Pikirannya mulai bekerja menerka apa yang sebenarnya terjadi. Sekuat mungkin ia menepis hal-hal buruk yang mulai berkelebatan dalam benaknya. Hingga nama bayi yang berada dalam gendongannya dipanggil oleh petugas.
Dengan suasana hati yang gundah gulana Emilia ditemani sang suami mulai berjalan membawa bayinya menuju ruang praktik.
Di balik meja sudah ada seorang dokter perempuan cantik yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Silakan duduk dulu, Pak, Bu," ucap sang dokter lembut disertai senyuman ramah nan tulus.
"Mohon ma'af sekali sebelumnya kepada Bapak dan Ibu dari ananda Aishwa ini saya akan menyampaikan hasil dari rangkaian pemeriksaan kami selama ini ternyata ananda memiliki riwayat Down Syndrom atau biasa disebut DS," ungkap Bu dokter gamblang.
"Apa itu Down Syndrom, Bu?" tanya Emilia yang memang merasa asing dengan istilah yang tadi diucapkan sang dokter.
"Down Syndrome atau Sindrom Down adalah kondisi yang menyebabkan anak dilahirkan dengan kromosom yang berlebih atau kromosom ke-21. Gangguan ini disebut juga dengan trisomi 21 dan dapat menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisik dan mental, bahkan kecacatan. Gangguan ini adalah kelainan kromosom genetik yang paling umum terjadi. Selain itu, kelainan ini juga dapat menyebabkan masalah terkait kesehatan, seperti gangguan jantung dan pencernaan."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari wanita berjas putih itu tangis Emilia pun pecah seketika tak tak dapat ditahan lagi. Ada gelenyar nyeri di bagian dadanya menyadari sang putri ternyata berbeda dengan bayi lainnya.
Sendinya mendadak lemas hingga ia tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dunianya hancur. Dambaan memiliki anak perempuan nan cantik dan menggemaskan hanya angan semata karena dihadapkan dengan kenyataan yang justru mencabik hati. Ibu mana yang tak kecewa ketika dikabari anak perempuan yang selama ini ditunggu kehadirannya ternyata mengalami kelainan?
"Ibu yang sabar. Ibu harus kuat. Ibu tidak sendiri, kok, di luaran sana banyak ribuan orang tua yang bernasib sama. Ibu, Bapak dan orang tua lainnya yang dititipi anak spesial ini merupakan orang-orang hebat yang dipercayakan oleh Allah untuk mampu menjaga amanah besar ini." Bu dokter baik hati itu mencoba menguatkan mental Emilia agar tidak terpuruk.
__ADS_1
Emilia ke luar ruangan dipapah oleh sang suami dibantu satu perawat agar bisa berjalan. Hatinya yang rapuh belum bisa menerima kenyataan yang begitu membuat dunianya runtuh. Ia perlu waktu untuk mampu berdamai dengan takdir yang sudah menjadi ketetapan Sang Maha Kuasa.
***
Hari-hari yang dilewati Emilia penuh dengan derai air mata. Tiap kali ia menatap wajah polos bayi Aishwa yang sedang terlelap ada perasaan benci dan tak bisa untuk menerima jika bayi tak berdosa itu adalah darah dagingnya sendiri.
Ada perasaan marah yang bercokol di hati Emillia. Walaupun ia sendiri bingung harus kepada siapa dirinya melampiaskan kemarahan itu.
Dalam sujud panjangnya ia mengadukkan seluruh keluh kesah dan gundah gulana yang terus menggelayuti perasaannya kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan. Sebagai manusia biasa Emilia merasa ketidakadilan dengan jalan takdir yang telah digariskan Tuhan kepadanya. Perempuan itu terus bergelut dengan sejuta nestapa yang ia rasa.
"Mil ... Emil makan dulu, Nak. Kamu jangan terus-terusan seperti ini. Kasihan Aishwa dia sangat membutuhkan kamu," ucap Bu Ratna, ibunya Emilia yang terlihat risau dengan kondisi Emilia akhir-akhir ini.
"Emil gak lapar, Bu, Emil kenyang," jawab Emilia dengan tatapan nanar ke arah sang ibu.
Semangat hidup dan nafsu makan Emilia sirna begitu saja tiap kali ia mengingat keadaan dirinya sedang berada di titik terendah dihantam kenyataan yang membuatnya begitu terpukul keras.
Hatinya sakit tatkala ia membayangkan memiliki anak yang harus dititipkan di sekolah SLB kelak. Ia merasa malu dengan pandangan keluarga, teman, dan sahabatnya saat mereka tahu kondisi putrinya nanti.
Hingga suatu waktu Emilia ikut bergabung dengan salah satu group khusus orang tua yang dititipkan anak penyintas down Syndrom . Yang anggotanya berasal dari berbagai belahan penjuru kota. Di sana ia merasa memiliki banyak teman yang senasib yang selalu berusaha saling menguatkan satu sama lain. Hingga lambat laun hatinya mulai terbuka dan luluh.
Sebagai bentuk dari sikap penerimaan diri yang sudah berdamai dengan keadaan Emilia sedikit demi sedikit mulai memberikan perhatian kepada sang buah hati dengan sepenuh jiwa. Bahkan perempuan yang memiliki sorot mata teduh itu pun merasa bersalah karena beberapa waktu yang lalu dirinya sempat abai dengan keberadaan sang bayi.
Emilia mulai merenungi tentang hadits dan ayat Al-Quran yang pernah didengarnya dari seorang ustaz ketika ia menghadiri kajian khusus peserta orang tua yang mempunyai anak Down Syndrom.
Sang ustaz tersebut menyampaikan beberapa kutipan hadits dan ayat Al-Quran dengan tujuan untuk memberikan apresiasi dan dukungan kepada para orang tua hebat itu agar tetap semangat selama membersamai amanah yang dititipkan oleh Allah.
Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut” (HR Abu Dawud).
لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ ... (النور: 61)
__ADS_1
Artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian …” (Surat An-Nur ayat 61).
Ayat ini secara eksplisit menegaskan kesetaraan sosial antara penyandang disabilitas dan mereka yang bukan penyandang disabilitas. Mereka harus diperlakukan secara sama dan diterima secara tulus tanpa diskriminasi dalam kehidupan sosial.