
"Ghin, kamu nginep dulu, ya, walau satu malam. Ttemenin Bapak, Nak," pintanya, memelas saat aku menyempatkan pulang ke rumah.
"Tapi, Pak, besok pagi Ghina harus kembali masuk kerja. Jadi untuk saat ini Ghina belum bisa nginep," tukasku, beralasan.
Kulihat raut muka bapak yang sudah dipenuhi kerutan itu diselimuti rasa kecewa. Tapi, aku tak mau peduli. Aku lebih memilih dan mementingkan pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan.
Baru seminggu aku mulai menyibukkan diri dalam pekerjaan yang sedang kutekuni. Ibu menghubungiku lewat telepon.
"Ghin, pulang dulu! sekarang Bapak sedang dirawat di rumah sakit."
"Bapak kenapa, Bu? sampai Bapak dibawa ke rumah sakit?
"Pokoknya kamu pulang dulu, ya!" jawab ibu penuh penekanan.
Usai menerima telepon dari ibu aku pun segera bersiap untuk kembali pulang ke rumah setelah sebelumnya meminta izin terlebih dulu kepada atasan. Menggunakan taxi online aku langsung menuju rumah sakit yang tadi disebutkan oleh ibu.
Sesampai di ruang inap tempat bapak dirawat aku langsung menghambur ke arah bapak yang tergolek lemah dengan beberapa selang yang memenuhi sebagian anggota tubuh ringkihnya.
"Bapak kenapa, Pak?" lirihku memeluknya erat sambil terisak.
"Bapak gak apa-apa. Hanya sedikit kerasa sakit di bagian perut. Mungkin hanya penyakit biasa,” jawab bapak meyakinkanku.
“Bapak harus cepat sembuh, Bapak harus tetap sehat dan kuat. Maafkan atas sikap Ghina yang kemarin, Pak." Entah kenapa seketika hatiku diliputi perasaan bersalah.
“Iya, kamu juga harus pandai menjaga diri. Jangan sampai terbawa pergaulan bebas selama tinggal di kota, ya!" nasihatnya sembari membelai kepalaku lembut.
"Iya, Pak."
Tiba-tiba bapak terkulai lemas tak sadarkan diri. Ibu setengah berlari memanggil petugas jaga. Tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit itu berusaha untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan profesional. Bapak kembali dibawa ke ruang IGD.
Seorang perawat keluar dari ruangan IGD. Aku langsung bergegas menghampiri menanyakan kondisi bapak.
__ADS_1
“Sus, bagaimana keadaan Bapak saya?” tanyaku, kepada salah satu suster tersebut.
"Keadaannya belum membaik, Mbak. Karena penyakit beliau sudah komplikasi," jawab suster menjelaskan.
“Astaghfirullah! Kenapa bapak bisa mengidap komplikasi penyakit seperti itu?" Setahuku bapak tak pernah mengeluh kesakitan dan bahkan beliau terlihat baik-baik saja, Sus,” ucapku tak percaya.
"Kamu yang sabar, ya, Dek!" Berdo'a yang terbaik untuk kesembuhan bapakmu,” ujar suster berusaha menenangkan hatiku.
“Iya, Sus, terima kasih,” jawabku.
Setelah beberapa jam menunggu. Akhirnya bapak siuman kembali. Aku dan Ibu langsung memasuki ruangan di mana Bapak dirawat.
“Pak, cepat sembuh ya, jangan terlalu banyak pikiran," ujarku sambil memegang tangannya.
"Iya, biasanya juga Bapak sehat lagi, kok," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
Setelah memastikan kondisi bapak sudah agak membaik. Aku pun berpamitan untuk kembali ke tempat kerja.
Keesokan harinya ibu mengabari jika bapak sudah bisa dibawa pulang dan bisa dirawat di rumah untuk pemulihan.
Aku pun merasa lega bisa kembali bekerja dengan fokus. Tidak terlalu terpikiran tentang kesehatan bapak seperti saat kemarin.
Hari sudah semakin gelap, ketika aku baru pulang dari tempat kerja. Kulihat ponsel yang diletakkan di meja kamar berkedip pertanda ada panggilan masuk.
“Halo, Bu, bagaimana kabarnya Ibu sama Bapak, sehat kan?”
“Hu ... Huhu..” terdengar suara ibu yang sedang meraung.
“Halo ... Halo ... ada apa, Bu?” tanyaku, tersentak ketika panggilan sudah terhubung disambut tangisan oleh ibu. Mendadak rasa cemas menyelimuti hati ini.
“Bapakmu meninggal dunia ....” sahutnya, pendek. sambungan telepon langsung terputus.
__ADS_1
“Innalillahi wa innalillahi rojiuun.”
Aku tak kuasa lagi menahan air mata yang langsung menganak sungai dari sudut mata. Tak pernah menyangka jika semua bisa terjadi secepat ini.
Dengan perasaan sedih dan sesak aku langsung bergegas menyiapkan diri untuk pulang malam ini juga.
Sesampai di rumah, kulihat keluarga besarku sudah berkumpul semua di sana. Ibu terlihat begitu sedih dan sangat terpukul, pun begitu denganku. Belum bisa menerima semua kenyataan ini dengan ikhlas.
“Yang sabar, ya, Ghina, Bibi yakin pasti kamu bisa kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan ini," ujar salah satu kerabat, menguatkanku.
“Iya, Insya Allah, Ghina kuat, Bi."
Namun, di sudut hati ini sungguh aku sangat sulit untuk menerima semua yang terjadi. Baru saja aku berada di samping bapak dan berbicara banyak dengannya, tetapi mengapa semua bisa terjadi secepat ini?
Sungguh tak percaya jika bapak harus mengembuskan napas terakhirnya saat aku tidak berada di sisinya. Aku baru menyadari ternyata permintaan bapak waktu memintaku untuk menginap di rumah saat itu, adalah permintaan terakhir kalinya. Aku hanya bisa menyesali karena tidak sempat memenuhi permintaannya.
"Tapi, Ghina masih membutuhkan sosok Bapak untuk saat ini, Bi," ucapku, lirih di telinga bibi.
“Iya, Bibi sangat tau apa yang kamu rasakan, pasti kamu sangat terpukul dan sangat sedih dengan apa yang kamu alami sekarang, tapi cobalah untuk tegar dan ikhlas menerima, karena hanya itu yang bisa membuat Bapakmu tenang di alam sana," kata Bibi memberikan semangat sembari memelukku erat, tangisku pun pecah dalam pelukannya.
"Ingat, Ghin. Kita pun sama kelak akan berada di posisi seperti bapakmu sekarang. Karena kematian itu pasti adanya sebagaimana yang sudah tertera dalam ayat Alquran. Yang artinya: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."(QS. Ali Imran:185)
Dari kenyataan yang telah terjadi. Aku berusaha untuk memetik suatu pembelajaran di balik kesedihan yang telah kualami.
Dengan silih bergantinya waktu, semua pasti kembali kepada Sang Pencipta, tidak akan pernah ada yang bisa mengetahui kehendak Allah. Meskipun kita belum siap untuk menerimanya, tetapi sesungguhnya Allah lebih mengetahui rencana yang telah di tentukan-Nya.
Sejatinya, seorang bapak juga mempunyai peran yang sama. Tidak hanya Ibu yang menjadi peran utama dalam keluarga, dan bukan juga sosok bapak hanya menjadi peran pendukung, namun lebih pantasnya adalah Bapak dan Ibu yang menjadi peran utama dalam suatu keluarga, apabila salah satu pemeran utama tersebut tiba-tiba menghilang, suatu keluarga tidak lagi mempunyai makna yang pasti.
Sama seperti yang telah terjadi kepadaku saat ini, ketika kita merasakan hanya mempunyai satu kaki, apa yang kita rasakan? pasti dalam pikiran kita sangat sulit untuk berjalan layaknya manusia normal, inilah yang dirasakan oleh seorang anak yatim sepertiku, saat ini.
Bersyukurlah, bagi yang masih mempunyai orangtua lengkap, Ibu dan Bapaknya yang masih diberi umur panjang, jangan pernah sia-siakan dan jangan sesekali mencoba untuk menyakiti hati mereka, karena cepat atau lambat kita semua akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang menjadi tonggak dalam kehidupan kita, seseorang yang selalu ada dalam suka dan duka, dan seseorang yang selalu berusaha untuk membuat keluarganya bahagia, jangan pula sekali-kali menolak permintaannya, selama dalam hal positif, karena siapa tahu itu permintaannya yang terakhir dalam hidupnya.
__ADS_1
End.