Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Rasa yang Salah


__ADS_3

"Mama ... Aku bawa jajan. Tadi dibeliin sama Tante Sandra ada es cream, cokelat, banyak pokoknya, lho, Mah," seru Gaishan ketika ia mulai memasuki pintu kamar yang memang sudah terbuka lebar.


Amira terhenyak ketika mendengar nama Sandra disebut begitu jelas oleh buah hatinya barusan.


'Permainan macam apa lagi ini, Ya, Robb,' bisik Amira dalam hati.


Semua tanya yang kini sedang berkecamuk dalam hati perempuan itu seketika terjawab saat sosok perempuan bertubuh tinggi semampai itu menyembul dari balik pintu dan mengucap salam sembari menebar senyum ramah ke setiap orang yang berada dalam ruangan.


'Pantesan Mas Irfan betah berlama-lama tadi di luar sana, ternyata bertemu dengan makhluk ini. Dan sekarang ia mengajak serta wanita itu masuk ke sini .... ' Amira masih sibuk dengan kecamuk hatinya. Ada yang berdesir perih di dalam rongga dada wanita yang baru menjalani operasi caesar itu. Mencipta luka yang belum sempat kering. Rasa nyeri di ulu hatinya bak tersayat sembilu mengalahkan rasa sakitnya ketika ia bertaruh nyawa dalam ruang operasi seorang diri kemarin.


Tanpa rasa sungkan kemudian Sandra berjalan perlahan menuju tempat tidur Amira.


"Assalamualaikum, Mbak Amira? Selamat atas kelahiran putra keduanya, ya," ucapnya berdiri persis di samping Amira yang sedang duduk menyandar di ujung tempat tidur dengan disangga beberapa bantal.


"Waalaikumsalam. Iya, terima kasih," jawab Amira menatap nanar ke lain arah agar pandangannya tidak bertemu dengan sorot mata perempuan yang kini sedang berada di dekatnya itu.


Sedangkan Irfan sengaja menyibukkan diri dengan bermain bersama Gaishan di luar ruangan. Laki-laki itu tak ingin melihat momen yang mungkin sudah menorehkan luka kembali di hati sang istri. Karena keegoisan Sandra yang dengan sengaja berani menampakkan diri di depan Amira.


Karena jam besuk sudah habis Sandra pun dipersilakan untuk segera meninggalkan ruangan. Hanya keluarga pasien yang diperkenankan menemani.


Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit. Sandra sempat berkata kepada Irfan yang sedang menemani putranya bermain.


"Mas, aku pamit pulang dulu, ya, aku pulang sendiri saja. Gak perlu kamu antar," pamitnya berdiri di hadapan Irfan.

__ADS_1


'Siapa juga yang mau mengantar kamu,' batin Irfan dalam hati. Entah kenapa akhir-akhir ini lelaki bertubuh tegap itu sangat merasa tidak nyaman ketika harus berhadapan atau berdekatan dengan sosok wanita yang terlalu agresif itu.


Padahal, jauh sebelumnya sebagai lelaki normal seperti kebanyakan pria lainnya di luaran sana. Irfan pun sempat ada sedikit rasa kepada Sandra. Mungkin karena saking intensnya kebersamaan mereka di tempat kerja hingga lambat laun tertanam benih kenyamanan. Terlebih Sandra yang memang masih berstatus single.


Karena jiwa lelaki hampir rata-rata lemah jika sudah dihadapkan dengan wanita yang indah dipandang dengan rupa menawan seperti Sandra yang memang selalu memperhatikan penampilan dan selalu terlihat energik.


Ditambah pendekatannya kepada Irfan berjalan begitu sempurna karena ditunjang oleh materi yang ia punya sehingga Irfan selalu merasa berhutang budi kepada wanita cantik itu yang sudah banyak memberikan pengorbanan ketika Irfan dalam keadaan terjepit dan membutuhkan biaya hidup untuk menutupi keperluan sehari-hari keluarga kecilnya.


"Mas, nanti besok kalau Mbak Amira mau pulang ke rumah. Mas bisa memakai mobilku saja biar gak harus bayar sewa mobil pihak rumah sakit," ujar Sandra menawarkan.


Irfan bergeming. Tidak mengiakan pun tidak menolaknya karena ia merasa dilema. Untuk membayar semua biaya yang harus dilunasi nanti sebelum bisa membawa sang istri pulang pun Irfan masih ketar-ketir khawatir tak mampu membayarnya.


Semua kegundahan hati Irfan seolah terjawab ketika Sandra merogoh tas brandednya yang dicangklong di bagian lengan atas lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat yang terlihat begitu tebal dan langsung disodorkan ke depan Irfan yang masih menatap nanar ke arah Sandra. Pandangan Irfan bergantian melirik ke arah amplop dan wajah wanita yang sedang mengulas senyum itu.


"Mas, aku ini sahabatmu yang berhak menolong temannya di saat sedang berada dalam keadaan seperti sekarang. Jadi, tolong jangan berpikiran jelek terhadapku."


"Ma'af dari dulu saya selalu merepotkan dan menjadi beban dalam hidupmu," ungkap Irfan. Dengan ragu tangannya menerima amplop tebal itu dari tangan Sandra.


Sandra tersenyum manis menatap lekat mata pria yang selama ini selalu mengisi relung hatina seraya berujar, "Gak usah merasa berhutang budi setiap menerima pemberian dariku, Mas, karena aku melakukan ini semua semata hanya ingin meringankan beban keluargamu."


"Tante, kenapa Tante sangat baik sama aku dan sama Ayah juga?" Pertanyaan polos dari mulut mungil laki-laki berusia empat tahun itu mengejutkan Sandra dan Irfan yang masih saling bersitatap.


Sandra kemudian memutar badan berbalik ke arah Ghaisan lalu berjongkok di hadapan anak laki-laki itu. Mensejajarkan badan agar bisa menatap bola mata beningnya yang terlihat menggemaskan.

__ADS_1


"Tante berbuat baik sama Ghaisan, sama Ayah juga pada Mama kamu itu karena Tante sangat sayang kalian semua." Sandra berusaha memberikan penjelasan kepada Ghaisan berharap anak kecil itu mengerti dan suatu saat bisa menerima kehadirannya di tengah-tengah keluarga kecil mereka.


***


"Gila kamu, San! Masih banyak ribuan bahkan jutaan lelaki single kenapa kamu malah memilih pria yang sudah memiliki keluarga?" Aisyah kakak sepupu Sandra meradang ketika selesai mendengar pengakuan adik sepupunya itu.


"Masalahnya laki-laki single yang seperti sosok Irfan itu hingga kini aku belum menemukannya, Syah," sanggah Sandra tetap teguh dengan pendirian yang dianggapnya wajar itu.


Aisyah menghela napas panjang. Tak habis pikir dengan sikap saudaranya itu.


"Kamu itu gadis cantik, mapan, dan berpendidikan tinggi, San. Jangan coreng nama baikmu hanya karena keegoisan dan ambisi sesatmu itu." Aisyah terus mencoba mengingatkan Sandra. Lalu menyeruput teh hangat di hadapannya hingga tandas.


Perlu kamu ketahui dalam hadits Rasulullah SAW yang mengingatkan kaum kita agar tidak merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain yang berbunyi:


Hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu


Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami.


Begitu pun dalam Al-Qur'an sudah dijelaskan dengan tegas yang artinya:


"Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (QS.An-Nahl ayat:61).


"Yang harus kamu garisbawahi, San, tindakanmu itu sudah termasuk ke dalam perbuatan zalim kepada sesama wanita. Karena dengan tega merampas apa yang sudah dimiliki oleh orang lain. Jika manusia sudah zalim tinggal tunggu akibatnya nanti," pungkas Aisyah sebelum meninggalkan kantin yang berada di sekitar kantor tempat mereka bekerja.

__ADS_1


Dalam diam Sandra mulai merenungi semua penuturan dari saudara sepupunya itu. Perlahan hatinya mulai terbuka dan mulai bisa menerima kenyataan jika dirinya harus menarik diri dari kehidupan laki-laki berkeluarga yang selama ini sudah membuatnya begitu terobsesi.


__ADS_2