Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Fitnah Pembawa Petaka


__ADS_3

Cahaya mentari pagi yang menerobos melewati celah ventilasi kamar membuat Arini menggeliat dan terjaga dari lelapnya.


Setelah salat Subuh perempuan berusia dua puluh enam tahun itu memilih untuk memejamkan matanya kembali karena sejak semalam ia nyaris tak bisa tidur barang sekejap pun. Mual, muntah, disertai pusing di kepala membuat Arini harus bolak-balik menuju kamar mandi.


Melihat istrinya tertidur pulas dari bakda Subuh tadi Malik, sang suami memilih berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Usai sarapan Malik mengajak sang istri ke tempat bidan praktek terdekat. Karena lelaki itu mencurigai istrinya bukan sedang sakit biasa. Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah berada di depan rumah bidan desa.


Beberapa menit menunggu antrian terdengar nama Arini dipanggil dan dipersilakan memasuki ruang periksa. Bidan senior itu menanyakan apa saja keluhan yang dirasakan. Setelah mendengar semua keluhan yang diceritakan oleh Arini secara detail. Bu Bidan tersenyum tipis seraya bertanya, "Tanggal berapa waktu bulan kemarin dapet hari pertama haid terakhir?"


"Maaf, Bu, maksudnya gimana, ya? Kening Arini mengernyit pertanda belum paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bu bidan barusan.


"Terakhir si Neng dapet haid kapan? Tanggal berapa? Bu bidan mengulang pertanyaannya.


"Terakhir dapet haid tanggal 29 Juni, Bu, tanggal 5 Juli saya nikah." Arini menandaskan.


"Berarti seminggu sebelum acara akad nikah, ya, Neng, hari pertama haid terakhirnya?" tanya Bu bidan memastikan.


"Iya, Bu, betul. Bahkan waktu acara akad nikah itu saya masih dalam keadaan haid" jawab wanita berhijab hitam itu gamblang.


Bu bidan lalu menyuruh Arini menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan menampungnya menggunakan mangkuk. Serta meminta urine dibawa ke ruang periksa untuk ditespack menggunakan alat deteksi kehamilan.


Arini mematuhi semua intruksi dari Bu bidan. Walaupun hatinya sedikit merasa risih karena harus buang air kecil sambil ditampung menggunakan benda kecil itu.


"Maaf, Bu, ini urinenya mau diapain, ya?" tanya Arini tersenyum rikuh. Menyerahkan mangkuk kecil berisi air seni lalu diterima oleh Bu bidan dan meletakkannya di atas meja.


Tangan Bu bidan mengambil benda untuk tes kehamilan, setelah membuka bungkusnya lalu dicelupkan ke dalam mangkuk yang berisi urine. Beberapa menit kemudian terlihat garis dua berwarna merah dari benda kecil memanjang itu.


"Positif, Neng," ucap Bu bidan tersenyum ramah.


Mendengar penuturan Bu bidan perasaan Arini berkecamuk antara terkejut dan bahagia. Tidak menyangka sama sekali jika akan secepat itu ia dititipkan kepercayaan oleh Sang Maha Kuasa. Saat usia pernikahan memasuki ke lima minggu dirinya sudah dinyatakan positif hamil.

__ADS_1


Setelah dihitung dari HPHT(hari pertama haid terakhir) Bu bidan menyatakan kalau usia kehamilan Arini saat ini sudah enam Minggu. Yang seketika membuat Arini terkejut dan langsung berkomentar.


"Tapi, Bu, saya nikah tanggal 5 Juli bulan kemarin jadi baru lima mingguan, masa udah hamil enam Minggu?" sangkalnya penuh tanda tanya.


"Iya, Neng, karena usia kehamilan itu dihitung dari semenjak HPHT atau biasa disebut hari pertama haid terakhir. Bukan dihitung pas waktu melakukan hubungan intim atau hari pernikahan." Bu bidan menjelaskan dengan panjang lebar.


"Tapi, waktu hari pertama saya dapat haid tanggal 29 Juni, Bu, sedangkan saya nikah tanggal 5 Juli, gimana bisa dihitung udah hamil? Masa dalam keadaan haid dan belum akad nikah udah dihitung hamil?" protes Arini masih tetap kekeuh dengan pemikirannya.


"Iya, Neng, memang begitu cara menghitung usia kehamilan. Dari hari pertama haid terakhir bukan dari hari pernikahan." Bu bidan mengulang penjelasannya.


"Ibu kasih obat mual dan vitamin penambah darahnya yang harus diminum selama kehamilan, ya," sambung Bu bidan.


"Iya, Bu," jawab Arini pendek. Masih belum bisa menerima penjelasan dari Bu bidan tadi.


Setelah selesai Arini berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Bu bidan. Keluar dari ruang periksa langsung disambut oleh sang suami.


"Gimana, Dek, Adek kenapa kata Bu bidan?" tanyanya penasaran.


"Alhamdulillah." Malik bergumam.


***


"Tahu gak ibu-ibu si Arini itu, kan, belum lama nikah masa dia sekarang udah langsung hamil aja. Jangan-jangan dia hamil duluan, ya?" bisik Bi Imah kepada ibu-ibu yang lain ketika memilih sayuran di warung Bu Karti.


"Jangan su'udzon Bi Imah. Nanti kalau ndak bener jatuhnya fitnah, lho," sangkal Bi Saroh mengingatkan tetangganya yang terkenal biang gosip di kampung tersebut.


"Fitnah gimana? Buktinya si Arini kemarin nikahnya mendadak gitu. Masa, baru lamaran dapat seminggu langsung akad. Udah gitu acara nikahannya cuman sederhana lagi. Gak ada pesta resepsi besar-besaran seperti yang lain. Apa itu kalau bukan karena hamil duluan," ujar Bi Imah berasumsi sendiri tanpa tahu kebenarannya. Sementara tangannya sibuk memilih cabe merah yang akan ia beli lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik bening.


Ibu-ibu yang lain pun ikut mengangguk-anggukkan kepala seakan mengiakan dengan semua yang diucapkan Bi Imah barusan. Hanya Bi Saroh dan pemilik warung yang meragukan penuturan Bi Imah karena khawatir itu hanya sekadar praduga dan asumsi Bi Imah sendiri.


Bu Karti, pemilik warung berusaha mengingat kan Bi Imah agar tidak sembarangan menuduh orang lain berzina karena itu termasuk dosa besar.

__ADS_1


"Jangan hanya karena menilai dari luarnya saja sehingga dengan mudah menebar fitnah keji. Ingat, lho, Bi Imah. Orang yang berani dengan terang-terangan menuduh zina itu akan dilaknat oleh Allah baik di dunia dan di akhirat kelak. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:


, إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ "


Yang artinya:


"Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuata zina), mereka dilaknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar (Qs. An-Nur : 23)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan” Ditanyakan kepada Beliau, Apakah itu? Beliau bersabda, berbuat syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan pertempuran dan menuduh wanita baik-baik yang lengah lagi beriman berbuat zina," (HR Muslim).


"Udah, lah, saya pulang saja," ucap Bi Imah ngeloyor pergi dengan menenteng sayuran dan beberapa potong tempe usai mendengar penuturan pemilik warung yang panjang lebar tadi.


"Itu belanjaannya gak dibayar dulu, Bi Imah?" tanya Bi Siti yang sedari tadi hanya menyimak saja.


"Ngutang dulu, saya lupa tadi gak bawa duit," jawab Bi Imah tanpa menoleh.


Ibu-ibu yang berada di situ hanya menggeleng -gelengkan kepala saja melihat tingkah Bi Imah yang selalu semangat kumpul di tempat ramai hanya untuk menyalurkan hobi ngesosipnya itu. Hatinya akan bersorak gembira tatkala lawan bicara mengiakan dan ikut terpengaruh oleh berita yang dibawanya. Wanita bertubuh gempal itu akan bangga merasa dirinya yang paling tahu segalanya.


***


Desas-desus yang awalnya keluar dari mulut Bi Imah itu pun dengan cepat menyebar hampir ke pelosok desa hingga kemudian Arini sendiri pun mendengar dan menyadari jika dirinya sedang menjadi bahan gunjingan orang-orang di sekitarnya. Hingga dirinya merasa tidak nyaman dan tidak habis pikir dengan orang-orang yang begitu tega menganggap Arini serendah itu.


Siang malam Arini terus memikirkan fitnah yang ditujukan kepada dirinya. Hingga terkadang pikirannya menjadi kacau karena merasa harga diri dan nama baiknya sudah tercoreng karena ulah segelintir orang yang memiliki lidah tajam.


"Gak usah terlalu dipikirkan, Dek. Yang penting kita tidak merasa dengan seperti yang dituduhkan orang-orang itu. Jangan pernah merasa takut dipandang buruk oleh manusia." Malik, sang suami berusaha menenangkan keadaan hati sang istri yang sedang dilanda gundah.


***


Beberapa bulan kemudian kabar duka yang berasal dari keluarga Bi Imah menyelimuti kampung tempat tinggal Arini. Hari itu semua warga digemparkan dengan meninggalnya menantu Bi Imah karena jatuh dari pohon kelapa sehingga kepalanya hancur menimpa batu yang berada persis di bawahnya.


Hanya berselang tiga Minggu setelah insiden mengerikan itu. Toko pakaian milik Bi Imah pun hangus dilalap si jago merah hingga tinggal menyisakan puing-puing bangunan yang sudah menghitam diakibatkan ganasnya kobaran api.

__ADS_1


Seandainya Bi Imah bersedia untuk introspeksi diri dan menyadari jika semua musibah yang datang bertubi-tubi dan menerpa keluarganya itu bisa saja suatu teguran dari Sang Maha Kuasa pasti dirinya akan bisa mengambil pembelajaran agar lebih hati-hati lagi dalam bersikap dan menjaga lidahnya dengan tidak menyebar fitnah dan isyu yang membuat orang lain terluka karena perbuatannya.


__ADS_2