Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Menggenggam Sunnah


__ADS_3

Menggenggam Sunnah


***


Ima memasuki rumah yang sempat ditinggalkannya selama beberapa hari saat dirinya melahirkan. Langkah kakinya berjalan perlahan memeriksa satu persatu ruangan yang sudah terlihat rapi dan bersih. Tiba di halaman belakang rumah dirinya terpana melihat jemuran pakaian sudah berjejer rapi dengan bau khas pewangi pakaian yang menguar menusuk indera penciumannya.


Tangan terampil sang suami begitu membuat Ima takjub dan menyeru syukur. Sudah bersedia mengurus dan melayaninya dengan sempurna. Walaupun kini posisi Ima jauh dari kedua orang tua dan sanak keluarga. Tapi dengan hadirnya satu sosok suami seperti Harun sudah mampu mengobati semua kegundahannya ketika harus melalui proses melahirkan sang buah hati dengan tidak dihadiri kedua orang tua.


Semua pakaian yang kemarin berlumuran darah nipas dilihatnya sudah wangi bersih terpampang di tali jemuran berjejer dengan deretan popok dan bedong bayi yang sudah dicuci bersih oleh tangan Harun. Harun Benar-benar merupakan sosok suami siaga buat Ima.


Dari ruang depan samar Ima mendengarkan suara bude Wati yang sedang mengintrogasi Harun yang sedang duduk di kursi ruang tamu sembari memangku bayi mungilnya.


"Kemarin ari-ari bayinya disimpan di mana, Run?" tanya bude Wati.


"Sudah saya kubur di kebun belakang."


"Kok, dikubur, sih, bukannya Bude kemarin sudah wanti-wanti menyuruhmu menyimpannya di dalam kendi ini, terus diberi empon-empon digantung di samping rumah," cerocos bude Wati sembari membawa kendi yang sudah disiapkannya sendiri.


"Maaf, Bude, saya lupa," jawab Harun malas menanggapi bude Wati yang pemikirannya masih kental dengan klenik dan mitos-mitos zaman dulu.


Harun lebih memilih menuju ruangan belakang setelah sebelumnya menyimpan bayinya di kasur. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih karena tenggorokannya terasa seret.


"Bude Wati kenapa, Mas?" tanya Ima saat mereka berpapasan di pintu menuju dapur.


"Menyuruh Mas melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat dan bisa merusak aqidah kita." Harun menjawab sembari meraih gelas beling di rak piring lalu menuangkan air putih ke dalamnya dari galon. Kemudian duduk di kursi pelastik yang berada di dapur. Setelah membaca Basmallah Harun kemudian meneguk air yang berada di gelas hingga tandas tak tersisa.

__ADS_1


"Yaudah, gak usah ditanggepin, daripada meributkan yang gak penting," hibur sang istri kemudian.


Sebenernya kehidupan Harun dan Ima sangat baik-baik saja jika tak dicampurtangan oleh perempuan setengah baya yang rumahnya terletak agak jauh dari rumah yang Ima dan Harun tempati.


Namun, entah kenapa dari mulai kehamilan sampai kini Ima lahiran Bude Wati seolah yang mengatur segala tindak tanduk Ima yang katanya gak boleh begini, begitu. Harusnya begini, begitu ketika seorang wanita sedang hamil.


Yang padahal menurut pemikiran Ima sendiri semua yang dilarang dan yang dianjurkan bude Wati itu hanya mitos belaka yang kebanyakan banyak sekali yang bertentangan dengan syariat Islam yang sebenarnya.


Ketika Ima memasuki usia kehamilannya yang ke tujuh bulan. Wanita bertubuh gempal itu setengah memaksa Harun dan Ima untuk tetap harus mengadakan acara tujuh bulanan. Padahal jangankan untuk biaya acara seperti itu untuk menutupi kebutuhan sehari-hari pun Harun masih suka keteteran dan kekurangan tiap bulannya. Beruntung Ima jiwanya seluas samudera sehingga selalu menerima dengan lapang dada ketika dihadapkan dengan kesulitan ekonomi dalam keluarga kecil yang masih seumur jagung.


Padahal Ima dan Harun sepakat untuk tidak melakukan acara-acara ritual dalam kehamilan yang memang tidak ada dalam tuntunannya. Walaupun seandainya mereka diberikan rezeki yang cukup dan lebih.


"Kalian berdua serius gak berniat mengadakan acara tujuh bulanan?" tanya bude Wati waktu itu dengan tatapan sinis.


"Iya, Bude," jawab Harun pendek.


"Kami sudah sangat bahagia dengan dianugerahi titipan dari Yang Maha Kuasa ini, tapi bukan berarti kita merayakannya dengan ritual yang menyalahi syariat agama, Bude," sangkal Harun kemudian merasa muak dengan tuntutan dari bude Wati yang sok ngatur kehidupan rumah tangganya.


"Kata siapa acara tujuh bulanan menyalahi aturan agama? Lah, wong di dalamnya merupakan suatu rasa syukur kita kepada Allah, kita bisa berbagi sedikit rezeki kepada orang sekitar dan tetangga terdekat," timpal bude Wati tak mau kalah.


"Enggak, Bude, sependek pengetahuan saya, acara tujuh bulanan itu awalnya berasal dari budaya agama Hindu yang sama sekali tidak pernah dianjurkan dalam agama Islam itu sendiri. Selama ini yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang di sekeliling kita hanya cuman ikut-ikutan saja. Karena mungkin diantara kita banyak yang belum tahu sejarahnya." Ima ikut menimpali panjang lebar mengeluarkan unek-unek yang ada dalam benaknya.


"Susah, ya, ngomong sama kalian berdua yang selalu ngeyel kalau dikasih tahu orang tua!" sungut bude Wati merasa tak berhasil mengarahkan, tepatnya mengikuti kemauannya tadi.


"Ibu dan Bapakmu akan merasa kecewa dan sedih, Harun. Kalau sampai tahu kelakuanmu saat ini sudah berani menentang ritual yang sudah mendarah daging dalam keluarga besar kita. Harusnya sebagai kepala keluarga kamu mampu menjaga warisan leluhurmu yang sudah dijunjung tinggi dari zaman ke zaman." Bude Wati seolah menyayangkan sikap dan ucapan Harun yang menurutnya sudah menyimpang dari budaya kejawen yang sudah sangat mengental dalam ruang lingkup yang berada di daerahnya itu.

__ADS_1


Namun, Harun sudah tidak mempedulikan lagi dirinya sudah dicap sebagai orang yang berbeda dari kebanyakan orang. Yang penting niatnya saat ini ia berusaha akan selalu mengarahkan dan membimbing keluarga kecilnya menuju jalan yang lurus. Seperti yang sering ia dengar dari ustaz yang ia ikuti di kajian.


Walaupun kadang Ima dan Harun harus sering mendengar celotehan yang tak mengenakkan ditujukan kepada mereka berdua secara langsung ataupun tidak.


Ima dan Harun hanya menanggapi setiap ada orang yang mencibir mereka dengan senyuman. Karena mereka berpikir, tho, hidup mereka selama ini tak pernah merepotkan orang lain. Mereka hanya ingin hidup berdampingan dengan orang sekitar dengan penuh kedamaian dan ketenangan saling menghormati setiap pilihan hidup yang dijalankan tanpa merasa diri sendiri yang paling merasa benar.


Walaupun terkadang sangat mengganggu kesehatan jiwa dan raga terutama bagi Ima pasca melahirkan malah sering mendapatkan omongan yang kadang memojokkannya dari orang sekitar.


***


Mengetahui Ima sudah lahiran satu persatu para tetangga mendatangi kediaman Ima. Ada yang sekadar menengok dan menanyakan kabar ada juga yang sedikit membawakan makanan dan cemilan untuk ibu yang baru melahirkan.


Ima menyambutnya dengan ramah dan senyum bahagia menerima setiap tamu yang datang menjenguknya.


"Nanti malam Pak Harun suruh nyalain api unggun di depan atau samping rumah, ya, Ma" saran Bu Saroh di sela-sela obrolannya.


"Buat apa, Bu? Bukannya sudah terang benderang karena sudah dipasang lampu di teras dan samping rumah juga," sela Ima tak mengerti dengan apa yang dimaksud tetangganya.


"Masyarakat di sini biasanya kalau istri habis lahiran suaminya melakukan itu. Tujuannya agar si bayi tidak diganggu makhluk halus dan yang lainnya. Untuk jaga-jaga gitu." Bu Sumi mencoba menjelaskan saran dari Bu Saroh barusan.


Usai mendengar penuturan dari ibu-ibu kemudian Ima berusaha memberikan pandangan jika saran yang barusan ditujukkan kepadanya ialah hal yang sama sekali tidak ada contoh dan tuntutan dari Rasulullah SAW. Sebagaimana yang tertera dalam ayat Al-Qur'an:


 “Dan apa yang diberikan Rasulullah SAW  kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS. Al Hasyr: 7).


"Kalau kita melakukan tindakan yang diluar ajaran syariat agama kita sendiri itu sangat berbahaya karena bisa merusak aqidah," pungkas Ima panjang lebar.

__ADS_1


Mendengar ulasan dari pemilik rumah Bu Saroh dan Bu Sumi saling berpandangan satu sama lain sembari mengendikkan bahu dengan bibir mencebik.


__ADS_2