Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Rasa Syukur


__ADS_3

***


Dari kemarin sore Resty hanya berbaring di tempat tidur. Puncaknya malam tadi badannya terasa remuk redam disertai demam tinggi dan muntah-muntah hebat.


"Minum teh manis hangat dulu, ya, setelah ini sarapan." Sambil menyodorkan segelas teh manis Hanif berkata lembut kepada sang istri.


"Tapi mulutku terasa pahit sekali, Mas, takutnya muntah lagi nanti kalau diisi minuman atau makanan," tolak Resty ragu.


"Coba aja dulu, daripada perutnya kosong nanti malah tambah parah gimana?" ucap Hanif seraya tangan kekarnya membantu membangunkan sang istri dari tempat tidur.


Setelah sedikit dipaksa akhirnya Resty pun meminum beberapa teguk teh hangat yang dibuatkan suaminya itu.


"Gimana kalau Mas cari bubur ayam dulu di pangkalan untuk sarapan? Mas sama Diva nanti sarapan nasi goreng aja. Gak apa-apa kan, kalau Mas tinggal sebentar?" tanya Hanif minta persetujuan sang istri.


"Iya, terserah Mas saja," jawab Resty lirih.


"Tunggu sebentar ya, Sayang," ucapnya, seraya mencium ujung kepala wanita yang dicintainya itu lembut.


***


"Ayaah ... aku mau pup, teriak Diva dari ruang tengah yang dari tadi asyik dengan tontonan kartun favoritnya.


" Iya, buka dulu celananya .... !" jawab Hanif.


Beberapa menit kemudian terdengar lagi suara cempreng anak perempuannya itu dari arah kamar mandi.


"Udaah .... !"


"Ya, tunggu sebentar, ya." Hanif menunda pekerjaan yang sedang membilas cucian pakaian.


"Aku sekalian mandi, ya, Yah?" pinta bocah berusia 3 tahun itu kemudian.


Sedangkan Resty hanya bisa menguping pembicaraan antara ayah dan anak itu dari balik kamar tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena kepalanya berat sekali walau hanya dibawa bergerak sedikit saja.


Usai mencuci dan menjemur pakaian, Hanif kemudian langsung mencuci piring dan peralatan dapur.


Hari ini harusnya pria yang bekerja di sebuah sekolah swasta sebagai tenaga honorer itu harus berangkat kerja. Tapi, karena melihat kondisi sang istri seperti itu ia memilih minta izin demi mengurus istri yang sedang sakit serta Diva yang masih membutuhkan penjagaan.


Dari lubuk hati yang paling dalam Resty menyeru syukur yang tak terhingga kepada Sang Maha Agung dengan semua nikmat yang telah ia dapatkan. Karena ia sering mendengar curhatan dari teman-temannya jika mereka sedang sakit, suaminya tidak pernah mau menyentuh pekerjaan rumah hingga si istri sehat kembali. Sedangkan Resty sendiri tak pernah merasakan hal seperti itu karena Hanif, sang suami tanpa diminta selalu membantunya dalam situasi apapun.


Memasuki waktu Zuhur Hanif baru bisa beristirahat setelah semua pekerjaan rumah satu persatu diselesaikannya.


***


"Mama ... nanti Diva mau bawa mainan cetak-cetakkan ini ke pantai, ya? Biar nanti aku bisa main pasir di sana," celoteh Diva saat Resty sibuk menyiapkan makan siang.

__ADS_1


Sedangkan Diva sedang asyik dengan mainan masak-masakkan kesayangannya.


"Ya, nanti Diva bilang dulu sama Ayah kalau Diva mau main ke pantai, ya," jawab Resty sembari menata piring dan sendok di meja makan.


Tak lama kemudian, terdengar deru motor Hanif memasuki halaman.


"Horee ... Ayah pulang, Ayah pulang .... !" Diva melonjak kegirangan melihat ayahnya pulang.


"Ayah, besok pagi Diva mau ke pantai sambil bawa cetak-cetakkan ini, ya, Yah, boleh gak?" cerocosnya tak peduli ayahnya baru datang dalam kondisi capek.


"Boleh dong, Sayang ... besok, kan, hari minggu Ayah libur, jadi bisa main seharian bareng Diva sama Mama juga." Hanif mengiakan permintaan sang buah hati seraya menggendongnya dengan tas yang masih berada di punggung.


Resty menghampiri sang suami dan mencium punggung tangannya takzim.


"Ayah mau salat apa mau makan dulu?" tanyanya, memberikan pilihan.


"Langsung makan aja, tadi Ayah udah salat di musala tempat kerja sebelum pulang."


***


"Ayoo ... Yah! katanya pagi ini mau ke pantai, jadi gak?" Diva yang baru bangun tidur langsung menagih apa yang dijanjikan sang ayah kemarin.


"Coba tanya Mama dulu, boleh gak sekarang kita ke pantai? Kan, Mama kemarin habis sakit."


"Mama, jadi gak?" teriak Diva berlari menghampiri Resty yang sedang sibuk di dapur.


Sementara Resty sibuk dengan urusan dapur, Hanif mengajak mandi putrinya lalu memakaikan baju, dan menyiapkan peralatan lainnya yang akan dibawa. Setelah semua siap mereka pun berangkat ke tempat tujuan yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit perjalanan menggunakan roda dua.


Hanif menggelar tikar yang dibawa dari rumah. Mereka pun mulai sarapan pagi di alam bebas ditemani deburan ombak dan hangatnya sinar mentari pagi.


Setelah puas bermain pasir dan air laut Resty mengajak pulang sang buah hati dan suaminya karena matahari sudah mulai meninggi.


Sesampai di rumah Resty langsung disambut Mbak Minem, tukang sayur langganan di depan rumah untuk belanja harian, setelah memilih beberapa sayuran dan lauk secukupnya Resty mulai berjibaku dengan alat dapur untuk menyiapkan makan siang nanti.


Sedangkan Hanif langsung merendam pakaian kotor lalu mencucinya tanpa diminta oleh sang istri. Sementara Diva tengah asik bersepeda ria di halaman depan.


"Mas, berasnya habis ternyata yang untuk masak sekarang, kemarin aku lupa bilang," ucap Resty kepada suaminya yang sedang beristirahat sambil mendengarkan pengajian MTA (Majelis Tafsir Al-Qur'an) dari siaran radio.


"Iya, nanti Mas beli dulu ke warung," ujarnya seraya berdiri lalu menyambar kunci motor di meja.


"Oya, Mas, sekalian beli bawang merah dan garam juga, ya, tadi aku lupa beli di bakul sayur," pinta Resty sekalian.


"Iya, masih ada yang mau dibeli lagi gak?" tanya Hanif memastikan.


"Udah cukup itu saja, Mas"

__ADS_1


***


Keesokan harinya seperti biasa Resty ikut bergabung bersama ibu-ibu yang lain saat bakul sayur keliling mangkal di depan rumah.


Tiba-tiba Bu Sumi berbicara dengan suara nyaring yang ditujukan kepada Resty.


"Eh, Mama Diva tumben belanja di sini, emang gak nyuruh suaminya belanja bawang ke warung lagi, ya?" sindirnya melirik sinis ke arah Resty.


"Biasanya juga saya belanja di sini, kok, Bu. Iya, kan, Bi Minem?" jawab Resty seraya bertanya pada bakul sayur langganannya.


Bi Minem menganggukan kepala sembari tersenyum ramah mengiakan pertanyaan Resty.


"Kemarin, kok, saya lihat Ayahnya Diva beli bawang di warung depan," sangkal Bu Sumi ketus.


Setelah membayar semua belanjaan, Resty buru-buru berpamitan. Diiringi tatapan aneh dari ibu-ibu lainnya.


Sesampai di rumah, sambil memasak Resty terus memikirkan ucapan Bu Sumi tadi yang seolah memojokannya di depan ibu-ibu yang lain.


***


"Mas, aku minta maaf kalau selama ini sudah berbuat salah dan mempermalukanmu," ungkap Resty kepada Hanif membuka obrolan sebelum beranjak tidur.


Hanif menautkan kedua alis tebalnya seraya bertanya, "Maksud Mama? Kenapa, kok, tiba-tiba minta maaf?"


"Tadi siang waktu belanja sayur, Bu Sumi negur aku gara-gara Mas kemarin beli beras dan bawang di warung." Resty mengutarakan unek-unek yang dari siang dipendamnya.


Hanif meraih telapak tangan sang istri lalu menggenggamnya erat. "Terus Adek sedih dengan ucapan Bu Sumi tadi?" Mata teduhnya menatap sang istri lekat.


"Iya, Mas, aku kepikiran terus sampai sekarang."


"Mas ini seorang suami. Apa yang salah jika suami membantu istrinya sendiri. Lagi pula ketika seorang suami pergi ke warung membeli beras dan bawang itu bukan suatu aib untuk suami, kok." Lelaki bertubuh tegap itu mengungkapkan pendapatnya panjang lebar.


"Tapi ... Mas, aku malu .... "


Tangan kekarnya meraih kepala sang istri pelan menuju dada bidangnya.


"Mulai dari sekarang gak perlu dengerin dan tanggapin omongan orang selama sikap kita tidak pernah merugikan dan mengganggu orang itu sendiri," tuturnya bijaksana.


Mendengar penuturan dari lelakinya itu hati Resty merasa tentram. Selama ini sikap, dan tutur kata yang begitu bersahaja dari sosok suami seperti Hanif cukup membuatnya merasa wanita paling beruntung di dunia karena memiliki pasangan yang selalu siaga menjaga jiwa dan raganya.


Kini Resty menyadari. Tak ada lagi alasan untuk terus mengeluh dan selalu merasa paling menderita karena hanya omongan orang lain yang tidak suka padanya. Karena di sisi lain Allah sudah memberikan nikmat yang luar biasa kepadanya dengan memiliki suami yang pandai memuliakan istri.


Resty tak ingin kegelisahan hatinya terus berkepanjangan hanya karena mendengar komentar yang kurang baik dari orang lain yang justru membuatnya menjadi kufur nikmat. Nauzubillahimindzalik. Resty pernah mendengar dan membaca dalam sebuah ayat Al-Qur'an yang artinya:


“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku,” (QS Al-Baqarah: 152).

__ADS_1


Kini Resty menyadari hidup dengan rasa syukur jauh lebih baik dan bahagia. Wanita itu belajar menulikan telinga dari ucapan negatif orang-orang sekitar yang hanya mengganggu kesehatan mental dirinya.


__ADS_2