
Menjaga Hati
***
Hasby mengendari sepada motornya dengan kecepatan sedang. Di perempatan jalan tak lupa ia berhenti sejenak di rumah makan sederhana untuk membeli ikan dan sayur mateng. Setelah itu ia tergesa untuk meneruskan perjalanan pulang menuju rumah.
Ninda, sang istri menyambutnya dengan senyum semringah. Mencium punggung tangan suami dengan penuh takzim lalu mengambil jinjingan yang ditenteng oleh Hasby dan menuangkannya ke dalam piring dan mangkuk bersih. Menu sederhana berupa mendoan tempe yang masih hangat, peyek udang dan oseng kangkung menemani menu makan siang kedua pasangan muda itu.
"Mas istirahat dulu, ya, Dek, di kamar," pamit Hasby kemudian usai menyelesaikan suapan terakhir dan meminum air putih hingga tandas yang tadi disediakan sang istri.
"Iya, Mas." Ninda menjawab seraya membereskan dan mengelap meja lalu membawa piring kotor ke ruang belakang untuk sekalian langsung dicuci mumpung sang buah hati yang masih berusia 11 bulan masih tertidur pulas.
Sementara di dalam kamar, Hasby yang tadi hendak beristirahat tidur siang tak kunjung memejamkan mata. Pikirannya masih terus mengembara mengingat pertemuan tak terduga dengan gadis masa lalunya itu.
Wulan Sari yang dulu sempat mengisi ruang hati Hasby kini datang kembali setelah ia memiliki Ninda, sebagai istri sahnya.
Kejadian masa lalu kembali terputar dalam rekaman memori lelaki berdarah jawa itu. Ketika Hasby mengunjungi tempat tinggal Wulan bersama kdua orang tua dan keluarganya yang lain. Rumah Wulan yang berjarak jauh tak menyurutkan Hasby menunaikan niatnya untuk segera melamar sang gadis pujaan.
Kedatangannya disambut dengan hangat oleh semua kelurga besar Wulan. Hingga perbincangan mulai terasa menegangkan ketika ayah Wulan mulai berbicara nyerempet ke arah tentang lamaran mereka.
Pak Rinto, ayah Wulan mengutarakan isi hatinya yang sangat merasa keberatan ketika Hasby mengutarakan niatnya untuk melamar dan menikahi Wulan dalam waktu dekat.
Bukan tanpa alasan Pak Rinto melakukan hal seperti itu. Itu semua karena ia merasa tak setuju ketika Hasby terlihat tidak menyanggupi untuk memberikan mahar dan biaya pernikahan putrinya dengan jumlah yang sesuai dengan yang dipintanya kala itu.
__ADS_1
"Saya di sini sebagai tokoh masyarakat, teman-teman dan keluarga besar saya sangat banyak, tak enak hati jika menikahkan putri pertama saya kalau hanya sekedar akad saja," begitu ucap pria berkumis lebat itu.
Sedangkan Hasby terkendala dengan biaya. Pria itu hanya bisa tertunduk pasrah ketika mendengar tuntutan dari Pak Rinto.
Hasby kembali ke rumah dengan hampa. Perasaan hatinya lebur bersama semua mimpi dan harapan indah yang sempat ia rajut berdua bersama gadis impiannya.
Hasby merasa nasib sedang mempermainkan hidupnya. Dunia sedang tidak berpihak kepada lelaki malang itu. Ketika harta, tahta dan kedudukan tak ditangannya seakan semua angan hanya menjadi fatamorgana yang sangat mustahil untuk ia dapatkan.
"Jadi orang itu harus bisa meragap diri, tho, Le, kita ini siapa? kamu anak dari keluarga buruh tani yang bisa mengenyam bangku kuliah pun hanya mengandalkan dari beasiswa. Harusnya berpikir seribu kali untuk menentukkan pilihan hidup. Apalagi ini bersangkutan dengan masalah hati. Berat, Le," ucap sang ibu sembari mengelus lembut punggung anak lelakinya yang sedang kandas meraih mimpi.
Dihadapkan dengan kenyataan yang di luar keinginan, membuat Hasby menjadi terpuruk.
Luka hatinya tak mampu ia redam walau hati nurani meyakini semua yang sedang terjadi dalam dirinya tak luput dari takdir Sang Maha Pengatur Hidup.
"Maaf, Mas, aku gak sanggup menentang permintaan Bapak, yang menginginkanku untuk bisa menggelar acara nikahan yang layak seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Bisa mengadakan pesta resepsi dengan mengundang banyak tamu," ungkap Wulan saat itu ketika Hasby menghubunginya via telepon.
Perasaan Wulan pun ikut terluka dengan keputusan sepihak dari sang ayah yang lebih memikirkan ego dan gengsi hanya karena merasa khawatir harga diri dan wibawanya akan terjatuh dan turun derajat ketika menikahkan anak gadisnya sekadar menggelar akad dengan acara sangat sederhana.
Padahal Wulan sudah siap untuk mengarungi bahtera kehidupan berdua dengan pria yang sudah menjerat hatinya itu. Gadis cantik itu sudah tak memprioritaskan masalah materi untuk mengukur kebahagiaan dalam hidupnya. Ia berpikir, masalah rezeki akan mengikuti setelah mereka nanti berada dalam tautan cinta yang halal. Sebuah ikatan suci pernikahan.
Dua insan yang saling memendam rasa itu pun mau tidak mau harus menyerah. Mengubur dalam-dalam semua impian yang sempat menghiasi hidupnya.
Dengan kejadian pahit yang menghampiri dirinya saat itu Hasby jadi bisa banyak mengambil hikmah dan pelajaran. Ternyata tak semua keinginan bisa diraih dengan mudah ketika ketentuan-Nya lebih berkuasa dari siapapun.
__ADS_1
***
Ingatan Hasby buyar ketika terdengar suara pintu kamar didorong dan dibuka dari arah luar oleh seseorang. Sosok Ninda tersembul dari balik pintu dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajah teduhnya.
"Mas sudah bangun?" tanya wanita berambut legam itu saat mendapati sang suami sedang berbaring di tempat tidur dalam keadaan mata terbuka.
"Emh, i, iya ... Mas udah bangun dari tadi, kok," jawab Hasby tergagap menutupi keadaan hatinya yang sempat melayang karena efek pertemuannya tadi di luar dengan Wulan, gadis masa lalunya.
Pria itu lupa jika kini sudah memiliki pendamping yang begitu baik, sabar dan sangat pengertian dengan keadaan dirinya dalam kondisi apapun. Ninda sosok wanita yang menerima Hasby apa adanya tanpa tuntutan di luar kemampuan pria itu.
***
"Kamu yakin mau mengkhianati Ninda, istri yang sudah memberikanmu anak. Hanya demi Wulan, gadis masa lalumu itu?" tanya Rifal, rekan kerjanya Hasby di sela waktu istirahat.
"Tapi perasaanku ke Wulan masih sama seperti dulu gak berubah," timpal Hasby meyakinkan. Kemudian menyeruput teh hangat di depannya.
"Jangan gegabah, kawan! Pikirkan lagi sebelum kamu menyesal di kemudian hari jika sampai kehilangan berlian demi batu krikil di jalanan. Ninda sekarang lebih berhak atas dirimu karena ia sudah berstatus istri sah." Rifal berusaha mengingatkan sahabatnya itu agar tidak salah jalan.
"Bukan hanya itu. Kita juga harus lebih takut dengan ancaman dan resiko ketika dihadapkan dengan godaan seperti ini. Karena dalam ayat Al Qur'an mengatakan.
“Allah tidak akan memberi hidayah terhadap tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS. Yusuf: 52)" pungkas Rifal bersungguh-sungguh.
Jantung Hasby mendadak berdebar mendengar teguran dari sahabatnya barusan. Apalagi saat ayat suci itu dibacakan cukup mampu menjadi tamparan keras untuk pria itu. Pikirkannya seketika teringat Ninda di rumah yang selalu menanti kepulangan dan menyambutnya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Mulai saat itu ia berjanji pada diri sendiri akan melupakan dan mengubur dalam-dalam semua kenangan tentang masa lalu dengan perempuan yang sama sekali tidak ada ikatan dengannya.