
Bayu menyodorkan sebuah map segi empat berwarna cokelat ke arah Rika seraya berkata, "Dek, tolong tandatangani ini," pinta laki-laki itu.
Rika menerimanya dengan keadaan hati yang tak menentu. Perlahan ditariknya secarik kertas berwarna putih dari dalam amplop besar itu. Beberapa menit bola matanya yang masih sembab mengamati setiap huruf dan kalimat yang tertera dalam kertas tersebut.
Kedua jemari tangannya mencengkeram kuat kertas putih itu lalu sebagian atasnya ditarik hingga terbelah dua menjadi sobekkan kecil, kemudian dilemparkan ke muka lelaki tak punya hati itu sambil menjerit histeris sebagai ungkapan isi hatinya yang luluh lantak. Rika pun berlari ke arah luar meninggalkan sang suami yang hanya bisa termangu seorang diri.
"Maafkan aku Rika, terpaksa harus melakukan semua ini," gumam laki-laki yang lebih menuruti kehendak ibunya itu.
***
Kini Rika sudah berada di rumah Hafiz, kakak laki-lakinya. Statusnya sudah resmi berpisah dengan Bayu. Dunianya seakan hancur. Semangat hidup yang ia rasakan seketika memudar. Hatinya dilanda nestapa yang mendalam.
Perempuan mana yang akan kuat jika dihadapkan dengan kondisi seperti Rika. Ia dicampakkan begitu saja setelah berusaha menguatkan jiwa dan raga selama membersamai laki-laki yang sangat dicintainya.
Bukan hanya itu, perasaannya semakin terkoyak ketika hak asuh putranya harus jatuh ke tangan Bayu. Itu semua karena ada andil permainan dari Bu Aida yang sengaja ingin memisahkan Rika dengan buah hatinya. Lengkap sudah luka hati yang harus Rika rasakan sebagai seorang istri juga sebagai seorang ibu yang tidak dapat hidup bersama dengan darah dagingnya sendiri.
Dengan uang ditangannya Bu Aida bisa melakukan apa pun yang ia mau sesuai dengan keinginan hatinya, termasuk membuat hancur hidup Rika.
"Bu, biar anak-anak hidup bersama Rika saja, Bu," saran Bayu tempo lalu ketika Bu Aida merekayasa agar hak asuh jatuh kepada anak laki-lakinya itu.
"Gak apa-apa Bayu. Biar Reza Ibu yang ngurus saja sebelum kamu menikah dengan Sandra." Bu Aida menyela perkataan Bayu
"Reza itu anak kamu Bayu, yang berarti di dalamnya masih ada aliran darah Ibu juga. Ibu tak sudi jika keturunan Ibu diurus dan hidup bersama dengan perempuan lemah seperti Rika. Mau jadi apa nanti masa depan anakmu jika dibesarkan dalam asuhan wanita macam mantan istrimu itu."
__ADS_1
Begitulah permainan Bu Aida yang berjalan mulus sesuai dengan harapannya sendiri yang mampu membuat keadaan Rika menjadi terpuruk dan mengguncang kejiwaannya.
Sudah berhari-hari Rika mengurung diri di dalam kamar. Hingga lupa untuk sekadar mengisi perutnya sendiri jika saja Shofia, istrinya Hafiz tidak telaten membawakan berbagai macam makanan untuk adik iparnya itu. Ketika Hafiz dan Shofia harus keluar rumah karena keperluan pekerjaan. Rika mengisi waktu seorang diri. Hal itulah sebenarnya yang membuat Hafiz khawatir. Takutnya adik perempuannya itu sampai melakukan hal yang diluar dugaan dan mengancam keselamatannya sendiri.
Rika merasakan hatinya kosong dan hampa. Menjalani hidup seperti tanpa tujuan karena kini orang-orang yang berharga dalam hidupnya sudah tidak bisa lagi berdampingan dan menghabiskan waktu setiap saat. Reza yang semestinya masih sangat membutuhkan dekapan hangat dan belaian penuh kasih dari dirinya harus ia tinggalkan begitu saja karena ulah sang ibu mertua.
Sebagian waktu Rika dihabiskan dengan menangis dan terus menangis hingga air matanya kering. Bila ia sudah merasa lelah menguras air mata ibu muda beranak satu itu pun akan terlelap dengan perasaan yang kosong. Daya ingat dan konsentrasi dalam berpikirnya pun sudah mulai menurun dan terganggu. Wanita itu sering merasakan di bagian dahinya seperti ada benda yang menghalangi sehingga membuatnya merasa tak nyaman dan sangat terganggu. Sehingga Rika sering menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri berharap perasaan yang sedang mengganggu di bagian kening itu menghilang.
Setiap kali Rika berusaha mencari hiburan atau sekadar untuk membuat hatinya bahagia dengan cara menonton acar televisi misalkan, perempuan itu pun sudah tak mampu lagi mencernanya. Ia hanya berpura-pura seperti orang yang sedang menyibukkan diri dengan kegiatan menyaksikan acara di layar kaca itu, padahal, yang ia rasakan sendiri pikirannya tak mampu mengikuti setiap tayangan yang berada di hadapannya. Tatapan Rika tetap kosong dan nyalang. Rika sangat merasa tersiksa dengan kondisinya saat ini. Ia seolah sangat sulit untuk menemukan jati dirinya kembali.
Saat ini keadaan jiwa Rika benar-benar terguncang hebat. Ia sudah tak mampu lagi mengenali dirinya sendiri. Rambutnya dibiarkan terjuntai berantakan tanpa pernah disisir rapi. Raut mukanya semakin terlihat kusam dan gelap karena hampir tak pernah tersentuh air.
"Mas, aku merasa khawatir dengan keadaan Rika sekarang," ungkap Shofia kepada Hafiz ketika pasangan itu sedang duduk di sofa ruang tengah. Sedangkan Rika seperti biasa masih terus mengasingkan diri di dalam kamar.
"Iya, nanti Mas coba akan mencari info terlebih dulu alamat psikolog yang terdekat di daerah sini." Hafiz menanggapi ucapan sang istri.
Obrolan antara Hafiz dan Shofia terjeda ketika mereka berdua dikejutkan oleh suara tangis histeris dari arah kamar Rika. Yang seketika membuat hati kedua pasangan suami istri itu merasa terenyuh.
***
Setelah menjalani terapi dan bolak balik ke poli jiwa keadaan Rika jauh lebih membaik. Wanita itu perlahan bisa hidup normal kembali.
Shofia, sang kakak ipar pun tak pernah bosan mengajak Rika ke tempat kajian yang diadakan seminggu sekali.
__ADS_1
Hati Rika semakin terbuka tatkala dirinya mendengar ulasan dari sang ustaz yang seperti kebetulan sedang mengingatkannya.
Ustaz Syafiq membacakan potongan surat Az-Zumar ayat: 53 yang artinya berbunyi :
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi maha penyayang."
Semangat hidup Rika pun kembali meningkat usai mendengar ulasan dari ustaz pembawa materi pada kajian.
Perempuan itu berniat untuk bangkit dari keterpurukkan dan tidak mau jadi orang yang merugi karena berputus asa dengan cobaan yang harus dijalaninya. Ia ingin menghabiskan sisa umurnya dengan hal yang positif serta lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa dengan memperbanyak ibadah yang tentu lebih bisa menenangkan jiwanya yang mudah rapuh itu.
***
"Mama .... !" pekikan dari asal suara yang sudah tak asing lagi di telinga Rika membuat wanita itu terkejut. Dilihatnya anak laki-laki berusia 10 tahun itu kini sedang berlari ke arahnya.
Di belakangnya Bayu berjalan ragu seperti sungkan untuk bertemu dengan mantan istrinya.
"Mama, Nenek sudah meninggal sebulan yang lalu. Sekarang aku mau tinggal bareng Mama aja."
Rika mendekap sang buah hati dengan erat seolah enggan melepaskannya kembali. Air matanya tumpah seketika merasakan suasana hati antara harau dan bahagia bisa berjumpa dengan putra tercinta.
***
End.
__ADS_1