
"Mama ... Mama, kok, baru pulang, sih, aku kan, pengen main ke taman tadi sore bareng Mama," celoteh bocah laki-laki berusia 4 tahun ketika mata bulatnya menangkap sosok wanita muda berkaos lengan pendek dengan rambut dicepol seadanya memasuki pintu rumah.
Anak lelaki berambut legam menggemaskan itu bernama Frandana yang harus ditinggal seharian oleh sang ibu untuk bekerja di luar rumah.
"Dana, kan, bisa main ke taman sama Mbak Elis kalau lagi gak ada Mama," jawab Marlina, sang ibu sembari mencium gemas pipi sang buah hatinya. Wangi minyak telon menguar dari tubuh kecil berhidung bangir itu.
Jarum jam di dinding ruang tengah bercat putih bersih itu menunjukkan ke angka 7 malam. Rasa lelah yang mendera membuat Marlina ingin segera memasuki kamar lalu merebahkan tubuh di kasur yang empuk setelah sebelumnya membersihkan diri di kamar mandi.
"Sekarang Dana main atau nonton televisi ditemani Mbak Elis dulu, ya, Mama capek banget mau istirahat dulu," ujar Marlina berharap anak satu-satunya itu mengerti.
Anak laki-laki itu pun seketika menunduk. Menyembunyikan kilat matanya yang mulai memerah menahan tangis. Melangkah ke luar dari kamar sang ibu dengan membawa rasa kecewa di hati.
Marlina seorang single parents yang harus bekerja demi menghidupi diri dan anaknya di sebuah kota metropolitan tanpa sanak keluarga. Beruntung ia bisa mendapatkan mata pencaharian dengan gaji cukup lumayan besar sehingga mampu menyewa asisten rumah tangga sekaligus menjaga Dana ketika ia keluar rumah untuk mencari rupiah.
Baginya, the time is money. Waktu itu adalah uang. Yang harus bisa digunakan sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan di tengah kerasnya kehidupan.
Jangankan bisa menyempatkan diri untuk sekadar bercengkrama dan menemani sang anak bermain. Untuk salat lima waktu dan ibadah lainnya pun seakan tak ada waktu. Dua puluh empat jam selama satu hari satu malam terasa begitu sempit bagi wanita karir seperti Marlina.
Setelah ditinggal pergi begitu saja tanpa kata talak oleh pria yang pernah menjadi suaminya Marlina dituntut untuk menjadi wanita tangguh dan mandiri. Biar hanya Allah yang nanti memberi keadilan terhadap laki-laki yang sudah mentelantarkan anak dan istri tanpa nafkah selama bertahun lamanya.
***
Lengkingan nyaring dari alarm mengejutkan Marlina dari tidur lelapnya. Matanya menyipit melihat jarum jam beker yang bertengger di meja kamar yang sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Ia melonjak dari tempat tidur dan secepat kilat menyambar handuk dan berlari ke arah kamar mandi yang menyatu dengan kamar pribadinya itu.
__ADS_1
Satu jam lagi Marlina harus segera berangkat ke tempat kerja. Jika sampai terlambat barang satu menit pun maka dampratan dan cacian akan ia terima dari atasannya yang selalu menekankan kedisiplinan terhadap seluruh karyawannya.
Setelah menghabiskan nasi goreng bakso yang dibuat Elis. Marlina menitipkan uang belanja sekaligus uang jajan Dana selama sehari kepada asisten rumah tangganya yang sudah bekerja kurang lebih 3 tahun di rumahnya itu.
Hanya butuh sekitar dua puluh lima menit untuk tiba di kantornya. Marlina berjalan tergesa menuju ruangan yang berada di lantai 3 dengan menggunakan lift.
***
Mengisi waktu istirahat. Marlina memilih makan siang di kantin terdekat dengan Wina rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya yang sama-sama sudah memiliki satu anak. Bedanya Wina masih memiliki suami yang dengan suka rela mengasuh dan menjaga buah hatinya di rumah tanpa harus menyewa asisten rumah tangga dan baby sitter.
Di tengah menikmati santap siangnya. Ponsel Marlina yang berada di dalam tas berdering nyaring. Dilihatnya nama Papa sedang memanggil.
Setelah mengucap salam dan bertanya kabar kepada ayahnya yang tinggal jauh di kampung sana Marlina kemudian menanyakan keadaan sang ibu yang belakangan ini sudah mulai sakit-sakitan karena menderita diabetes kronis.
Hati Marlina berdesir perih mendengar ucapan sang ayah barusan. Satu sisi dirinya ingin mengurus sang ibu yang sudah berusia uzur dan membantu meringankan beban sang ayah di kampung halaman.
Namun, di sisi lain Marlina merasa berat jika harus melepas begitu saja pekerjaan yang sudah ia geluti bertahun-tahun hingga dirinya mampu bertahan hidup bersama sang buah hati tanpa bergantung kepada siapapun.
Dengan gajinya yang lumayan itu Marlina sedikit demi sedikit bisa menabung hingga bisa membeli rumah sekaligus perabotannya dari mulai televisi, kulkas, sofa, mesin cuci dan yang lainnya dengan hasil keringatnya sendiri. Sedangkan jika ia balik ke kampung itu tandanya Marlina harus memulai kehidupannya dari nol lagi.
Mencari pekerjaan di kampung yang sesuai dengan kemampuannya sangatlah sulit untuk seorang Marlina yang sudah terbiasa hidup enak dan bergelimang kemewahan. Setiap keinginan dengan mudah bisa ia raih walau harus menghabiskan sebagian waktunya di balik meja tempat kerja.
"Lin, sampai kapan kamu hidup hanya berdua dengan Dana. Papa ingin kamu segera mendapatkan jodoh agar Dana memiliki sosok ayah seperti temannya yang lain." Perkataan sang papa membuyarkan lamunan Marlina.
__ADS_1
"I ... Iya, Pah. Nanti Lina pikirkan lagi," jawab Marlina tergagap. Kemudian berpamitan untuk mengakhiri panggilan telepon dari papanya karena waktu istirahat akan habis dalam beberapa menit ke depan.
***
"Gaji kamu akan saya naikkan tiga kali lipat jika kamu menerima lamaran saya dan bersedia mengikuti keyakinan saya setelah kita sudah jadi menikah nanti. Atau kamu tidak usah bekerja lagi dan akan jadi nyonya besar di rumah saya," tutur Bos Kevin, atasan Marlina pada suatu malam ketika dirinya diajak makan bareng.
Mendapatkan tawaran menggiurkan itu membuat hati Marlina yang imannya setipis bawang hampir membuatnya terbuai. Jika saja Wina, sahabatnya tidak mengingatkan. Ketika Marlina meminta pendapat dari rekan kerjanya itu.
"Jangan sampai kita rela menukar aqidah hanya demi materi yang sebenarnya itu tipu daya semata," ucap Wina berusaha memberikan peringatan kepada Marlina yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu.
Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Az-Zumar ayat:65).
Wina mengutip salah satu ayat Al-quran berharap Marlina tidak terlena dengan iming-iming dari bos Kevin yang berbeda agama dan meminta Marlina untuk bersedia menjadi istrinya.
***
Untuk menghindari kemungkinan yang bisa membahayakan diri dan keimanannya kini Marlina memilih untuk pulang kembali ke kampung halaman tercinta. Meninggalkan pekerjaan yang sudah sangat dicintai karena seolah sudah mendarah daging dalam dirinya. Dengan tekad yang kuat ia mampu melepaskan. Menyelamatkan hati agar tak goyah dengan kilau kehidupan yang fana.
"Lina, kamu tambah ayu dan menawan dengan balutan gamis dan hijab lebar seperti ini," ungkap sang ibu melihat penampilan anak perempuannya sudah berubah status delapan puluh derajat dari sebelumnya yang terbiasa memakai celana jeans dan kaos ketat berlengan pendek.
__ADS_1
"Ayo, Mah, kita berangkat tarawih sekarang bareng nenek dan kakek!" ajak Dana bersemangat menarik lengan Marlina menuju masjid yang terletak beberapa ratus meter dari rumah orang tuanya.