
Suara jaros(bel) pondok menggema ke seluruh penjuru asrama. Membangunkan seluruh santri dari buaian mimpi indahnya. Begitu pun dengan Nisa, terjaga karena mendengar lengkingan alarm yang selalu berbunyi untuk menandai pergantian setiap kegiatan.
Setelah mengumpulkan kesadarannya, Nisa mulai beranjak mengambil gayung yang berisi peralatan mandi. Dengan mengalungkan handuk di leher Nisa mulai menuruni anak tangga menuju kamar mandi yang terletak di lantai dasar bagian belakang bangunan asrama.
Usai membersihkan badan sekaligus berwudhu Nisa bergegas kembali menuju hujroh(kamar). Mengenakan mukena bersiap menuju musala untuk menjalankan jama'ah salat Subuh. Jika sampai terlambat beberapa menit saja, maka ia akan mendapat hukuman berdiri di depan kelas yang menghadap ke arah asrama banin(laki-laki).
Turun dari musala, Nisa bersama temannya kembali ke kamar hanya untuk mengambil kitab kuning lalu kemudian menuju kelas masing-masing mengikuti kegiatan idhofah bersama ustaz pendamping. Kurang lebih empat puluh lima menit bel kembali terdengar melengking. Pertanda waktu ngaji pagi berakhir.
Waktu ini biasa diisi oleh para santri dengan berbagai kesibukan masing-masing. Ada yang melaksanakan piket kebersihan, mandi, antri mengambil sarapan, dan kesibukkan lainnya.
Bel mulai menggema semua santri harus sudah siap dengan seragam rapi dan berhamburan ke lapangan, depan kelas atau tempat lainnya untuk mengikuti muhadatsah beberapa menit sebelum kegiatan belajar formal dimulai.
"Ma hadza? Hadza kolamun." ("Apa ini? Ini pulpen.")
"Ma hadzihi?" Hadzihi qurrosatun." ("Apa ini? Ini buku tulis.")
"Aina hujrotuki? Hujrotii amamal maydani." (Di mana kamarmu? Kamarku di depan lapangan.")
Suara gemuruh para santri baru sudah terdengar nyaring di area lapangan di depan asrama putri. Mereka mulai diperkenalkan dengan kosakata dan kalimat baru dalam bahasa arab atau bahasa inggris oleh kakak pengurus bagian bahasa sesuai tugasnya.
"Man ismuki?" ("Siapa namamu?")
"Ismii Fatimah." ("Namaku Fatimah.")
"Min aina qoryatuki?" ("Dari mana asalmu?")
"Qoryatii min Tangerang." ("Kota asalku dari Tangerang.")
Kegiatan muhadatsah wajib diikuti oleh seluruh santri tanpa terkecuali. Untuk santri baru kelas 1 Mts atau kelas 1 MA experiment mereka akan diberi kosa kata dan kalimat baru dari bahasa arab atau bahasa inggris untuk pengenalan dasar. Sedangkan anak lama mereka akan melakukan percakapan bersama lawan bicaranya mengunakan dua bahasa tersebut.
Dari kegiatan muhadatsah ini kadang Nisa mendapatkan teman baru dari pasangannya berbincang dalam dua bahasa asing itu. Kadang dari adik kelas atau kakak kelasnya sendiri. Karena jumlah santri yang ribuan sehingga Nisa tak bisa mengenalnya satu persatu kecuali melalui muhadatsah ini.
Seperti saat ini ia mengenal sosok kakak kelas asal Bandung yang ia sendiri merasa nyaman saat tadi larut dalam percakapan. Karena kakak kelasnya bernama Kak Lilis yang berasal dari kelas experimen itu selain ramah juga baik sekali tutur bahasanya. Dan itu membuat Nisa merasa senang dengan kakak kelas yang baru dikenalnya itu.
__ADS_1
Seluruh santri harus selalu mengikuti setiap kegiatan yang diadakan di pondok tanpa terkecuali. Kalau ada yang sengaja tanpa izin tidak mengikutinya maka akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan pelanggarannya dari masing-masing bagian pengurus.
Usai mengikuti muhadatsah secara umum atau berbaur dengan adik atau kakak kelas. Seluruh santri mulai berbondong-bondong menuju kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar sampai nanti waktu menjelang salat Zuhur. Semua berjalan dengan tertib dan disiplin. Dengan koordinasi antara para kakak mudzabir/mudzabiroh (pengurus) dengan para asatiz di lingkungan pondok.
Bel kembali terdengar pertanda jam pertama akan segera dimulai di kelas masing-masing. Nisa bersama teman sekelasnya sudah duduk rapih menanti materi yang akan mereka terima dari guru sesuai jadwal yang ditentukan.
Dua jam pelajaran berturut-turut sudah berlalu. Tibalah waktunya jam istirahat pertama tiba. Waktu yang hanya lima belas menit itu pun digunakan oleh para santri. Ada yang ikut berjejal di depan kantin memburu jajanan, ada yang tidur di kolong meja kelas, ada juga yang memanfaatkan waktu singkat itu untuk melaksanakan salat sunah duha di kamar asrama.
Begitu pun dengan Nisa bersama beberapa temannya langsung menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu kemudian kembali ke kamar untuk menjalankan salat sunah dua raka'at. Dalam sujud panjangnya Nisa melangitkan do'a mengadukan semua harapan dan mimpinya kepada Sang Maha Pencipta.
Setelah merapikan mukena dan mengenakan hijabnya kembali Nisa bersama kedua temannya mulai menuruni anak tangga untuk kembali ke kelas mereka.
"Mampir ke kamar Yoyoh dulu, yuk!" ajak Nisa kepada Kokom dan Rohiyah. Karena tadi Yoyoh sempat berkata untuk berangkat bareng menuju kelas.
Sambil menunggu Yoyoh yang masih mengenakan jilbabnya. Nisa bersama kedua temannya disuguhi biskuit romha kacang yang baru dibuka kemasannya. Sambil ngobrol ringan dan berhaha hihi ria mereka menikmati cemilan biskuit. Tak terasa Nisa sudah menghabiskan satu baris biskuit yang tadi dikeluarin Yoyoh dari dalam lemarinya.
Saat sedang mengunyah biskuit tiba-tiba Nisa berteriak histeris mengejutkan semua teman-temannya yang sedang berkerumun di dalam kamar.
"Astghfirullahhaladzim. Ana, kan, hari ini lagi puasa qodo, gimana ini sudah habis biskuit sebaris," teriak Nisa yang disambut gelak tawa Yoyoh bersama temannya yang lain.
Suara tawa dari teman-temannya belum juga reda mengingat kelakuan konyol Nisa yang pelupa.
"Tapi, ana belum sempat minum, bagaimana ini. Gak enak banget rasanya di tenggorokan kek ada yang nyangkut," ucap Nisa uring-uringan.
"Udah nikmatin aja. Itu juga lumayan dapet biskuit sebaris untuk ganjal perut," ujar Yoyoh sambil cekikikan.
Nisa pun akhirnya Memilih untuk meneruskan puasanya karena tadi ia benar-benar lupa. Tidak ingat sama sekali kalau sedang punya niat. Walaupun harus merasakan tidak nyaman di tenggorokan karena ia tadi tidak sempat minum. Nisa hanya berkumur membersihkan sisa biskuit yang masih memenuhi mulut.
"Anggap aja itu rezeki tak terduga, Nis, biar gak terlalu kerasa lapar," ledek Yoyoh kemudian.
"Ente, sih, pake acara ngeluarin makanan segala, ana kan, jadi khilaf." Nisa masih bersungut-sungut.
"Lah, ana juga meneketehe kalau ente lagi puasa, Nisaa .... !" sangkal Yoyoh masih cekikikan menertawakan ulah Nisa barusan.
__ADS_1
Bel pertanda pelajaran ketiga pun menggema ke seluruh penjuru asrama. Nisa bersama temannya lari berhamburan menuju kelas yang letaknya berada di area kawasan santri putra tepat berhadapan dengan bangunan ruang guru.
***
"Ente lagi nulis apa, Sarah?" tanya Nisa ketika mendapati teman sekelasnya itu sedang menulis di secarik kertas lalu dilipat hingga berukuran kecil kemudian diselipkan ke kantong baju seragam.
"Owh, enggak, kok, tadi ana cuman nulis iseng aja," jawab Sarah tergagap.
Bersama teman yang lainnya kemudian Nisa berjalan memasuki ruang kelas karena imtihan atau ujian pondok akan segera dimulai. Lima menit kemudian masuklah seorang ustaz muda dengan membawa map berisi soal yang akan dibagikan kepada seluruh santri.
Ruangan berukuran besar itu mendadak hening. Semua peserta ujian sedang menekuri lembar soal masing-masing. Hingga kemudian terdengar suara gaduh dari arah pojok belakang.
"Ada apa?" tanya ustaz Mubarok lembut dan ramah.
"Ini ustaz, Sarah bawa kertas contekkan," jawab salah satu santri yang duduk persis di samping Sarah.
Kemudian ustaz Mubarok mendekat ke arah meja Sarah.
"Benar kamu nyontek, Sarah? Sini, kasihkan saya kertasnya!' Tangan ustaz Mubarok terulur ke arah Sarah
Dengan muka memerah karena menahan malu kemudian Sarah menyerahkan secarik kertas yang ternyata lembar jawaban yang sudah ia salin.
Mengetahui ada salah satu muridnya yang membawa contekkan ustaz Mubarok sedikit memberi nasihat kepada Sarah. Bahwa nilai-nilai kejujuran itu sangat penting.
Contohnya, jangan sampai membohongi diri sendiri dengan cara mencontek. Karena perbuatan tersebut termasuk kepada perbuatan yang tidak terpuji dan sangat bertolakbelakang dengan sifat jujur yang seharusnya dimiliki oleh semua orang apalagi seorang santri yang pasti akan membawa kepada kebaikan bagi orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran.Sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan.
Sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sesungguhnya jujur itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga,” (H.R. Bukhari.
Sedangkan dalam ayat Al-Qur'an dikatakan yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (bersaksi atau jujur tentang kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," (QS. Al-Maidah [5]: 8)
__ADS_1
Usai mendengar teguran dari sang ustaz, Sarah meminta ma'af dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.