
Sudah tujuh hari lelaki berusia dewasa itu terlihat murung tak bergairah. Kegiatan di lingkungan kampus pun ia ikutin dengan setengah hati. Seakan tak ada gairah untuk meniti kehidupan apalagi menyongsong masa depan yang indah. Yang jauh-jauh hari sebelumnya sudah ia rencanakan.
Namun, rencana dan angan tidak bisa menjadi nyata ketika takdir berkata lain.
Haidar harus belajar ikhlas menerima takdir dan kenyataan yang menimpanya. Gadis yang selama ini ia titipkan kepercayaan nyatanya kini pergi dari kehidupannya dan lebih memilih bersama pria yang lebih memberikan kepastian. Haidar baru menyadari keberadaan Nina sangat berpengaruh dalam hidupnya, setelah gadis itu dihalalkan oleh lelaki lain.
Awalnya Haidar begitu yakin jika Nina akan selalu menolak setiap pinangan yang datang dan selalu menunggunya sampai ia nanti lulus diwisuda.
Ingatan Haidar kembali menerawang mengingat pertemuannya dua Minggu lalu yang ternyata terakhir kalinya mereka bertemu.
Siang itu Haidar mengajak Nina untuk bertemu di alun-alun kota Menes. Ia berniat akan mengambil buku novel yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih milik temannya yang ia pinjamkan kepada Nina.
Untuk menghindari fitnah Nina mengajak sahabatnya, Lyra. Agar menemaninya saat bertemu dengan Haidar.
Suasana alun-alun Menes cukup lumayan ramai. Sepanjang pinggir lapangan dikelilingi penuh oleh para penjual makanan dan minuman yang berjejer memadati bahu jalan. Puncak keramaian biasanya menjelang sore dan malam hari orang-orang pada datang silih berganti dari berbagai pelosok sekitar daerah Menes dan sekitarnya.
Tidak ada percakapan yang panjang dan serius saat Nina bertemu dengan Haidar. Seolah tidak ada apa-apa diantara mereka. Karena saat itu tidak ada keberanian dalam hati Nina untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Jika dalam waktu dekat ia akan dilamar oleh lelaki lain.
Nina masih memperlihatkan sikap seolah semuanya baik-baik saja. Setelah perempuan itu menyerahkan buku novel yang sempat ia pinjam dan selesai membacanya hingga tamat. Ia malah sibuk ngobrol dengan Lyra tanpa mempedulikan kehadiran Haidar yang berdiri di sampingnya.
Sebelum mereka berpisah Haidar sempat memberikan Nina uang berwarna biru untuk sekadar membeli es dan bakso berdua bersama Lyra. Sedangkan Haidar sendiri memilih langsung pulang ke tempat kotsan tanpa menemani Nina dan Lyra saat memesan dua mangkok bakso makanan favorit mereka.
"Nin, Lo gak ajak Kak Haidar buat makan bakso bareng kita dulu, gitu? tanya Lyra.
"Enggak, lah," jawab Nina pendek.
***
Beberapa waktu yang lalu pun Haidar tak menyadari jika ternyata Nina sudah mulai kenal dengan Nizam.
Siang itu setelah salat Zuhur, karena tidak ada jadwal ngampus. Haidar bermaksud menghubungi Nina melalui telepon genggam. Hampir lima kali panggilan ia lakukan ke nomor ponsel Nina. Tapi, tak kunjung dijawab. Haidar tidak mengetahui jika hari itu adalah hari pertama Nina bertemu dengan Nizam.
Saat itu di waktu bersamaan Nina terlihat kebingungan kala melihat nama Haidar tertera di layar ponsel memanggilnya sampai beberapa kali panggilan. Hati kecil Nina ingin sekali menerima panggilan telepon itu.
__ADS_1
Namun, Nina tidak enak hati karena di hadapannya ada Nizam yang sedang asyik ngobrol dengan kedua orang tuanya. Wanita itu pun memilih mengabaikan panggilan telepon dari Haidar.
***
Baru saja Haidar hendak memejamkan mata. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara dering ponsel yang berbunyi nyaring persis di samping telinganya.
Dalam hati ia berharap Nina menelpon balik dirinya. Setelah dilihat siapa yang sedang memanggil, ternyata dugaannya meleset jauh. Karena yang Haidar lihat nama yang tertera di layar kaca ponselnya yaitu Vita. Yang tak lain sepupunya sendiri. Karena penasaran khawatir ada kabar dari keluarganya Haidar pun langsung menekan tombol jawab dan langsung tersambung.
"Halo ... Vit, ada apa, kok, tumben nelepon Aa?"
"Aa Haidar sekarang lagi di mana? Lagi di rumah Teh Nina apa di mana?" cecar Vita.
"Aa sekarang lagi di kostan gak sedang pergi kemana-mana. Emang ada Vit, kok, kedengarannya panik begitu?"
"Aa gak tahu, gitu, kalau sekarang di rumah Teh Nina ada siapa?"
"Enggak, emang kenapa? ada siapa gitu?"
"Tadi Vita telepon ke nomornya Teh Nina. Tapi, yang ngangkat suara lelaki, suaranya mirip dengan Kak Nizam."
"Ya, mana Vita tahu."
Haidar terdiam sesaat. Pikirannya mulai menerka-nerka sendiri. Apakah benar lelaki yang bernama Nizam yang dulu sempat menjadi calon suami sepupunya itu kini serius akan memilih dan meminang Nina.
Haidar baru sadar, tadi ia sempat menghubungi Nina tapi tak sekali pun gadis itu menjawab panggilan telepon darinya. Mungkinkah benar apa yang dikatakan Vita kalau saat ini sedang ada tamu istimewa di rumahnya Nina?
"Yasudah, nanti malam Aa telepon Teh Nina lagi untuk memastikan," ungkap Haidar kepada Vita, sebelum menutup sambungan telepon.
***
"Haidar ... gue gak nyangka banget, sih, sama lo! Pandai sekali Lo menyembunyikan masalah besar seperti ini seorang diri." Ucapan Amir yang tiba-tiba membuat Haidar terkesiap dari lamunan panjangnya.
Amir adalah salah satu teman kostnya yang paling dekat dan akrab dengan Haidar. Beberapa bulan yang lalu nasib Amir pun hampir sama dengan temannya itu. Harus rela dan ikhlas ditinggal nikah oleh perempuan yang ia dambakan. Dengan alasan yang sama karena mereka yang masih bersetatus mahasiswa dan belum mapan serta tak bisa mengabulkan permintaan kekasihnya untuk segera menikahinya.
__ADS_1
Kini nasib mengenaskan itu pun sedang menimpa Haidar sahabatnya sendiri.
"Lo, ditinggal nikah, kan, sama Nina?" selidik Amir.
"Apaan, sih, Lo, sok tahu, ah!"
"Tinggal bilang iya, doang juga, masih ditutup-tutupin aja. Hey ... kemarin Nina, tuh sempat nelpon gue, nanyain kabar dan memastikan keadaan lo di sini, khawatir lo depresi atau mati gantung diri. Kan, horor kalau sampai masuk berita koran pagi ada seorang mahasiswa mati bunuh diri akibat ditinggal kawin," ledek Amir sambil tergelak menertawakan nasib ngenes yang sedang menimpa sahabatnya.
"Berisik, Lo, Mir, keluar sono!" usir Haidar dengan mata melotot.
"Udah, lah, jangan lama-lama patah hatinya. Gue aja dulu kuat kok, waktu ditinggal nikah sama Sani. Buktinya sampai sekarang gue masih idup, iya, kan?" Amir masih terus menggoda Haidar.
"Makanya kalau belum siap nikah, jangan suka PHP-in anak orang. Biar gak kena batunya kek gini," pungkas Amir belum berhenti berkomentar.
"Udah belum ente tausiyahnya?" sela Haidar.
" Ye ... dibilangin, malah begitu. Ya udah, ane cabut."
Pikiran Haidar mulai menerawang kembali, setelah memastikan Amir sudah menjauh dari area kamar. Yang jadi pikirannya saat ini yaitu memikirkan nasib Vita, sepupunya sendiri. Khawatir tidak bisa menguasai diri dan belum bisa menerima kenyataan kalau ternyata pria yang diidamkan malah berpindah ke lain hati yang tak lain orang yang sempat akan menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
***
Di luar dugaan Haidar ketika dirinya pulang ke rumah uwanya. Ia diminta untuk menikahi Vita dengan harapan gadis itu bisa melupakan Nizam. Haidar diliputi kebimbangan. Mana mungkin lelaki itu menikah dengan perempuan yang selama ini sudah ia anggap sebagai adek kandungnya sendiri?
Namun, sisi hati lain pria itu pun tak bisa menolak karena sejak duduk di bangku SMP pria tampan itu sudah tinggal di rumah sang uwa setelah kepergian kedua orang tuanya karena mengalami kecelakaan beruntun saat hendak pergi ke luar kota. Haidar merasa berhutang budi kepada keluarga uwanya.
"Sejak kapa Vita mengurung diri terus di dalam kamar, Wa?" tanya Haidar. Raut mukanya menyiratkan kekhawatiran.
"Sudah hampir dua Minggu ini, semenjak Vita mengetahui kalau Nizam sudah menikah dengan gadis lain," jawab Wa Sumiyah.
"Uwa khawatir Vita melakukan hal-hal yang tak diinginkan. Selama dua Minggu ini Vita gak mau makan," sambung wanita berusia setengah abad itu menatap sendu ke arah Haidar.
Haidar tak menyangka jika jodohnya begitu dekat yaitu adik sepupu sendiri. Andai saja pria itu tahu jalan takdirnya akan seperti ini mungkin ia tidak akan pernah membuka hati untuk wanita lain yang belum tentu jadi jodohnya.
__ADS_1
Beberapa waktu setelah ditinggal Nina, lelaki itu sempat merasa khawatir tidak bisa menemukan gadis yang mau menerima dirinya. Padahal sudah sangat jelas dalam ayat Al-Qur'an diterangkan.
Artinya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.(QS: Asy-Syura ayat:11)