
***
"Ma, aku mau berangkat ngaji. Teman-teman semuanya pada bawa uang jajan," ucap Fathan sambil memakai tas gendong di punggungnya lalu mengulurkan tangan kanan untuk mencium tangan sang ibu.
Bu Lastri, sang ibu yang sedang tidak memegang uang sepeser pun terlihat kebingunan. Ibu beranak dua itu pun mencoba mencari uang logam di kotak pensil, di saku celana dan baju, di sela-sela dompet berharap ada duit yang terselip. Tapi, Nihil.
Bu Lastri mencoba berbicara pada anak laki-laki yang saat ini masih berusia 6 tahun. Berusaha memberikan pengertian dengan keadaan yang sebenarnya.
"Gak apa-apa, Bu. Aku berangkat ngajinya gak usah bawa duit. Gak jajan juga gak apa-apa, yang penting mangkat ngaji," ungkapnya sambil tersenyum meyakinkan.
Mendengar pernyataannya hati Bu Lastri terasa berdesir perih. Tak terasa air mata mulai merembes membasahi pipinya. Walaupun berusaha sekuat mungkin agar tidak tumpah di hadapan anak sulungnya, tapi tetes bening itu luruh juga.
Sedangkan bocah polos itu memilih segera berlari ke luar rumah berbaur dengan teman-temannya dan segera berangkat ke tempat ngaji. Meninggalkan sang ibu yang masih sesenggukan sambil menelengkupkan dirinya di tempat tidur. Membayangkan sang anak yang hanya bisa melihat teman-temannya yang sedang menikmati aneka jajanan. Dada Bu Lastri terasa sesak.
Bukan sekali dua kali Bu Lastri mengalami hal serupa seperti ini. Berada di titik nadir paling terendah sehingga tidak memegang rupiah sepeser pun di saat anaknya minta jajan. Bukan karena dirinya tak ingin bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi, ada bayi yang baru berusia 5 bulan yang masih membutuhkan kehadirannya.
***
Sepulang ngaji Fathan meminta izin untuk pergi main. Ketika berkumpul bersama beberapa temannya ada pedagang jajanan keliling melintas dan berhenti tepat di depan mereka. Yang lain langsung berkerumun untuk membelinya sedangkan Fathan hanya duduk dan mengawasi dari kejauhan.
Seorang kakek mendekatinya lalu bertanya dengan tatapan iba.
"Nak, kenapa kamu gak ikut jajan bareng temanmu yang lain?"
"Saya gak punya uang, Kek," jawabnya polos.
Sang kakek kemudian merogoh saku bajunya lalu mengulurkan selembar duit kertas sepuluh ribuan.
"Sana beli!" titahnya kemudian.
__ADS_1
Ada gelenyar nyeri di dalam dada sang ibu ketika mendengar cerita anak pertamanya itu.
"Alhamdulillah. Fathan bilang terima kasih sama Kakek itu?" tanyanya menahan rasa antara nelangsa dan haru.
"Kenapa Ibu nangis?" tanya Fathan saat melihat air mata sang ibu menitik.
"Sabar, ya, Nak ... Semoga suatu saat kita dicukupkan rezekinya oleh Sang Maha Pengatur Hidup."
Bu Lastri mendekap tubuh mungil buah hatinya dengan erat.
Rumah tangga Bu Lastri dengan sang suami sudah hampir 8 tahun. Kata orang-orang jika sudah melewati 5 tahun pernikahan biasanya perekonomian akan membaik. Tapi, ternyata Sang Maha Kuasa masih memberikan ujian melalui keadaan ekonomi dalam rumah tangga pasangan itu.
Sebisa mungkin Bu Lastri mencoba untuk bertahan dan bersabar dengan kondisi yang saat ini harus dijalaninya. Kesulitan ekonomi tak membuatnya sampai menggadaikan keimanan yang sudah terpatri kuat di sanubari. Perempuan tangguh itu berusaha untuk terus melipatgandakan kesabarannya.
Sesuai dengan perintah Al-Qur'an yang artinya:
***
"Mama, nanti aku buka puasa minumnya pake apa?" tanya Fathan yang sedang belajar berpuasa di usianya yang mulai beranjak 7 tahun saat ini.
Beberapa menit sang ibu hanya mampu terdiam berusaha mencari jawaban yang tepat untuk anak seusianya.
"Ayah sama Ibu nanti minumnya pake air putih anget aja biar lebih sehat, Fathan juga, ya?" ujar Bu Lastri sekaligus bertanya kepada bujang kecilnya yang sudah duduk di kelas satu SD itu.
"Tapi, Bu, aku minumnya nanti pengen sama susu," tawarnya kemudian.
Sang ibu pun pun kembali terdiam.
"Iya, nanti Fathan boleh, kok, minum buka puasanya pake susu. Tapi, nunggu besok kalau Ayah udah berangkat kerja dan dapet uang." Wanita itu mencoba memberikan pengertian.
__ADS_1
Karena hari ini hingga Minggu besok Pak Agus, ayahnya Fathan sedang libur. Dan akan berangkat kerja pada hari Senin mendatang.
Fathan tidak menjawab. Ia berjalan ke arah kamar dan mengurung diri. Bu Lastri pun melanjutkan pekerjaannya di dapur yang sedang mengupas ubi untuk buka puasa hari ini.
Bu Lastri menjeda aktivitasnya yang mulai mencuci ubi ketika mendengar suara nit .. nit dari arah depan. Untuk memastikannya perempuan itu melangkah menuju teras yang masih berlantaikan tanah. Betul saja. Suara itu memang berasal dari KWH rumahnya sendiri yang ternyata menandakan pulsa listrik akan segera habis. Bu Lastri hanya mampu menghela napas panjang. Seolah ingin sedikit melonggarkan sesak di bagian dadanya.
Kini, pikiran ibu itu beralih ke dalam dompet yang hanya ada selembar uang kertas dengan nominal dua puluh ribu yang rencananya akan ia belikan beras untuk stok 3 sampai 4 hari ke depan.
Karena pikiran yang buntu. Dengan terpaksa ia menuju ke rumah Mbak Lusi untuk mencari pinjaman agar dirinya bisa membeli token listrik sekaligus membelikan si sulung susu sasetan.
"Yang cari kerja cuman satu belah pihak begitu. Mana bisa maju dan sukses. Makanya kerja dong, jadi istri jangan hanya bisanya mengandalkan pemasukan dari suami aja. Biar anak bisa jajan," cibir Mbak Lusi, kakak perempuan dari suaminya itu.
Sekilas memang betul adanya dengan yang diucapkan oleh kakak iparnya itu. Tapi, entah karena penyampaiannya yang seolah meledek hingga membuat hati Bu Lastri terasa bagai diiris belati.
Dalam hatinya ingin sekali ia menjawab ucapan Bu Lusi yang pedas itu. 'Aku juga pengen kerja dan bisa menghasilkan uang, tapi bagaimana dengan kedua anakku yang masih kecil-kecil ini. Mereka masih butuh aku.'
Sedangkan kondisi badannya juga tidak normal seperti kebanyakan orang. Bu Lastri yang sedari kecil memiliki riwayat asma apabila kecapekan sedikit langsung sesak. Kena debu atau asap sedikit dadanya terasa berat. Mental wanita itu merasa terpuruk dengan tekanan yang selalu ia terima dari berbagai arah dari orang-orang yang tak bisa memahami kondisinya
Selama ini ia bisa menerima keadaan rumah tangganya yang belum mampu seperti orang-orang di luaran sana. Tidak menyalahkan suami yang bekerja sebagai kuli bangunan yang pendapatannya tidak lebih dari satu juta dalam satu bulan.
Namun, yang membuat Bu Lastri tidak tahan ucapan yang memojokkan bahkan menyalahkan karena dirinya hanya seorang istri pengangguran yang tak becus menghasilkan rupiah untuk membantu pemasukan suami.
"Aku, tuh, ya, dulu saat hidup kekurangan seperti kamu. Tak pernah menyusahkan keluarga yang lain. Tak pernah meminta bantuan kepada saudara atau orang tua. Semua kesusahan aku telan sendiri tanpa ada yang tahu. Tidak seperti kamu. Yang sebentar -sebentar ngeluh gak punya beras. Dikit-dikit bilang gak punya duit." Begitu jawaban dari Bu Lusi saat Bu Lastri menceritakan keadaan keluarganya yang sedang diuji dengan himpitan ekonomi. Awalnya Bu Lastri mengungkapkan isi hatinya seperti itu untuk bisa mengurangi sedikit beban dan bisa mendapatkan dukungan dari bagian keluarganya itu. Tapi, justru malah hinaan, cercaan yang harus ia telan.
***
Seiring berjalan waktu. Kini kehidupan Bu Lastri semakin membaik setelah anak-anaknya beranjak remaja Bu Lastri bisa bekerja sesuai dengan bakatnya yaitu menjahit baju dan menerima pesanan catering dari orang sekitar maupun dari tempat jauh. Sudah memilik karyawan yang membantunya menjahit dan memasak dalam skala besar.
Biar pengalaman pahit kegetiran hidupnya ia simpan dan untuk pembelajaran agar dirinya tidak merendahkan dan memojokkan orang lain apalagi keluarganya sendiri ketika ditimpa kesusahan.
__ADS_1